Dialog Subuh
Puisi-puisi Imam Khoironi dan Sawaluddin Sembiring
AKU LUPA MENGURAS KENANGAN
Oleh: Imam Khoironi
setelah berakhirnya air matamu
kurasa tak ada lagi yang tersisa,
selain aroma wangi dari daun kemangi
yang kaukunyah di tepian malam
saat aku menemanimu makan di warung kota
di kota ini kutaburi jutaan kemunafikan
dari mulai pagi di awan, hingga sore di pelataran
rambutmu rajin menyibakkan masa lalu
padahal garis-garis kerinduanmu, sudah
dari sejak awal pertemuan, kugunting
hampir di setiap pertemuan kita, kauselalu bercerita,
dalam segala ruang dan waktu, kenanganmu menggenang
sebab aku lupa, untuk mengurasnya
April 2019
MUKTAMAR RINDU
Oleh: Imam Khoironi
Pada masa laluku, ada sebuah ruangan
yang begitu asing bagi tubuhku
di sana serpihan rinduku bersemayam
mungkin juga bersama rindumu
sebagaimana puisi yang kaubaca dan fahami
jika aku akan mati,
maka, kusediakan ruangan
yang tubuh kita tak akan mampu
masuk, dan membersihkan rindu itu
dan pasti, rindu akan menyukai tempat itu
karena ada rindumu
dan rinduku, lestari
hingga ragaku terbungkus kain putih
tetap abadi.
April 2019
AKU, KAU DAN SESUATU YANG LAIN
Oleh: Imam Khoironi
Semesra apapun kau mencumbuiku
Kau tak akan mengerti siapa aku
Sedalam apapun kau tatap mataku
Kau takkan mengerti diriku
Sepekat apapun kau menggenggam tanganku
Kau takkan mengerti aku
Sesering apapun kau mendoa ke Tuhan
Menyebut namaku di tiap malammu
Kau masih akan abu-abu tentangku
Selebat apapun wiridmu memanggil namaku
Kau sama sekali takkan mengerti diriku
Namun, jika kau ingin tahu aku
Kau harus mau bercermin
Menatap matamu lebih lama
Menyusuri jalanmu lebih jauh
Mendalami hati dan rindumu lebih dalam
Mendoakan dirimu lebih malam
Maka kuyakin, Tuhan akan memberi tahumu
Perihal: “kau adalah apa yang kausebut namanya dalam doa dan wiridmu”
Maka berhentilah merindu pada yang lain
Lampung, April 2019
Imam Khoironi. Lahir dan tinggal di desa Cintamulya, Lampung Selatan, pada bulan Februari tahun 2000. Bekerja sebagai editor di Seniman Publisher dan Mandiri Jaya Lampung. Beberapa tulisannya tersiar di beberapa media: Simalaba.com, Radar Cirebon, dan Medan Pos. Menjadi kontributor dalam beberapa buku Antologi bersama, Antologi Cerpen Ukiran Nafas (Rumah Fiksi/Manggu), Antologi Puisi Maha Kata (Rumah Fiksi/Manggu), dan Pelupuk Rindu (Seniman Publisher/2019), A Voice: Guittar (Ellunar Publisher/2019), Lipatan Tak Sempurna (Penerbit MJTA/2019), Derit Pamit (Mandala Penerbit/2019), dll. Ia bisa ditemukan di Facebook : Imam Imron Khoirooney dan Youtube channel: Imron Aksa.
SEMALAM
Oleh: Sawaluddin Sembiring
Semalam, tak banyak yang kita ceritakan. Ketika datang, lalu bertatap muka. Membiarkan kedua kaki terasa pegal. Tak ada bahasa di antara kita, diam dan merasa rumit. Kita hadirkan kebiruan hati, agar tak ada kalimat aku yang paling tersakiti. Tangismu pecah dan itu tak kau pungkiri. Aku tak menangis, namun perasaanku lebur. Kau biarkan dua muara itu mengalir hingga bibirmu, telaga dari segala ungkap. Kau biarkan matamu yang memerah, menatapku penuh keadilan. Aku terlalu lemah, bahkan tak mampu memberimu sebuah keyakinan.
Semalam, yang berbicara hanya alam. Hembusan angin, guguran dedaunan, juga suara gemuruh. Kau? Masih menikamku dengan tatapanmu. Tatapan yang dulu pernah kumiliki. Tatapan yang selalu memberiku arti ketika melewati malam bersama di atas ranjang. Mata yang selalu menyala, mata yang selalu mengatakan aku cinta, sangat mencinta. Mata yang membakar, membakar aku dalam lautan berahi. Dari matamu kau selalu berkata jujur, sekalipun lisanmu telah hilang rasa untuk bercerita. Semalam, untuk pertama kali kita akhiri tatapan itu tanpa permisi. Kau memunggungiku, lalu merundukan kepala. Aku tak punya lagi alasan untuk memintamu tetap. Aku tak punya alasan, dan itu kebodohanku.
ZIARAH
Oleh: Sawaluddin Sembiring
Ada napas yang terjaga di sini
di antara ribuan orang yang berbaring
mendengar doa juga zikir
dari para penziarah yang datang menjenguk
kematian
DIALOG SUBUH
Oleh: Sawaluddin Sembiring
Biarlah yang riuh menjadi diam
Biarlah yang ramai menjadi sunyi
Biarlah jawab lahirkan tanya
Biarlah hati meraba rasa
Lepaslah jiwa pada dialog subuh
Biarlah diksi doa dibungkus sutra para malaikat
Biarlah….