Topbar widget area empty.
Resensi Buku: Cinta Seorang Santriwati Cover Cahaya Cinta Pesantren (Tinta Media) Tampilan penuh

Resensi Buku: Cinta Seorang Santriwati

Judul : Cahaya Cinta Pesantren
Penulis : Ira Madan
Penerbit : Tinta Medina, Cet. 1, 2014
Tebal : xx + 292 hlm

Rantauprapat – Cahaya Cinta Pesantren menambah khazanah pustaka islam popular Indonesia. Sebuah novel yang bercerita dengan detail tentang kehidupan di Pondok Pesantren Al-Amanah, sebuah pesantren ternama yang terletak di Sumatera Utara. Bila Negeri Lima Menara karya Ahmad Fuadi menceritakan kehidupan santriawan, novel ini bercerita kehidupan santriawati.

MarShila Silalahi sebagai tokoh utama adalah seorang anak yang cerdas. Sebagaimana halnya remaja yang mencari jati diri, ia memiliki sedikit kenalan yang menurutnya hanya berbeda sangat tipis dengan kreatif. Tingkah Shila dan kawan-kawannya yang ‘kreatif’ menjadikan novel ini menarik.

Penggunaan bahasa dan istilah Arab cukup banyak dalam novel ini sehingga penulis merasa perlu menuliskan catatan kaki untuk menjelaskannya. Sebuah upaya yang baik untuk memberi warna lain ditengah derasnya istilah dan bahasa Inggris yang membanjiri literasi kita. Pemakaian bahasa dan istilah Arab cukup proporsional sekaligus membawa pembaca masuk ke dalam pondok pesantren.

Kisah ketertarikan santriawati terhadap santriawan menjadi hal yang harus terkendali secara santun dan ketat karena terlarang dan mengakibatkan hukuman yang berat. Shila dan tiga sahabatnya: Icut, Aisyah dan Manda merasakan rasa yang sama. Bahkan Shila dan Manda bersaing pada orang yang sama.

Jadwal harian dan minggguan yang ketat di pesantren membutuhkan perjuangan berat bagi Shila dan santriawati. Kondisi kesehatan Shila yang kurang baik membuatnya sering sakit dan harus dirawat. Niat ingin membahagiakan Ayah dan Mamak membuatnya giat belajar yang menghasilkan buah prestasi hingga ikut Pelatihan Study in Japan selama dua minggu di negeri sakura. Kelak inilah yang mengantarkannya mendapatkan beasiswa di sebuah universitas disana.

Novel ini ditutup dengan happy dan sad secara cepat dan dramatis. Pemilihan ending ini mengundang pertanyaan akan penting tidaknya sebuah akhir dibanding proses. Sesuai dengan judulnya, Pesantren lah yang menjadi cinta sang santriawati dan selepas pendidikan pondok menjadi tidak diperhatikan lagi.



Sebuah novel inspiratif yang layak dikoleksi para kaum remaja khususnya putri dan juga masyarakat yang ingin mengetahui kehidupan pesantren dari seorang penulis muda yang tidak lain alumnus pondok pesantren ternama di Jawa Timur.

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 5 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*

Tinggalkan komentar

empat × 4 =