Kumpulan Puisi Perjalanan Aishah Basar Cover buku Surat Buat Emak Tampilan penuh

Kumpulan Puisi Perjalanan Aishah Basar

Judul : Surat buat Emak
Penulis : Aishah Basar
Penerbit : Atap Buku, Cet. 1, Januari 2016
Tebal : x + 56 hlm

 

Membuat sebuah buku kumpulan puisi adalah impian setiap penyair. Aishah Basar, penyair kelahiran Rantauprapat, Sumatera Utara adalah seorang perempuan yang serius menulis sejak mahasiswa di IKIP Medan (sekarang Unimed) yang karyanya dimuat di berbagai media cetak yang ada di Medan serta beberapa daerah di Sumatera Utara hingga Jakarta. Ini adalah buku kumpulan puisi tunggal pertama yang sudah lama diimpikannya.

 

Surat buat Emak yang menjadi judul kumpulan puisi ini diambil dari sebuah judul puisi yang ada dalam kumpulan ini (hal. 47). Puisi yang dibuat tahun 2004 ini bercerita tentang kerinduannya pada Emak di kampung dan juga pada kisah indah masa kanaknya. Namun kerinduan itu harus ditunda karena cita-cita masih terluka dan kalau pulang hanya sesaat dan akan pergi lagi hingga mungkin tak pernah kembali.

“…Aku akan pulang/bawa cita-cita yang terluka/ini tanah belum merdeka/tentu emak saksikan juga/maka jangan nangis, Mak/jika aku pergi lagi dan kelak/tak pernah sampai kembali.”

Kumpulan puisi yang berisikan 45 puisi terpilih dari ratusan puisi yang ditulisnya dari kurun waktu 1998 sampai dengan tahun 2015.  Penulis memilih dan memilah berdasarkan jenis, genre atau tema yang sama agar tidak berdesakan dalam satu kumpulan. Sebuah sikap yang bijak dan memberikan yang terbaik bagi pembaca. Hal ini cukup penting mengingat pasar buku puisi sangat sepi peminat dan berharap hadirnya dapat meramaikan pasar dan melepas dahaga peminat puisi.

 

Secara keseluruhan puisi yang hadir menyajikan pilihan kata yang bernas dan dengan estetika yang menenangkan. Dengan lembut penulis menegur kita yang selalu berteriak keadilan dengan menertibkan kedua tangan kita (hal. 43) atau menyebut penguasa sebagai guru yang selalu menyembunyikan fakta-fakta (hal. 22) atau tentang penghianatan dimana ia ditinggal dalam persahabatan dan perjuangan (hal. 14).

 

Sekalipun puisi ini sebahagian besar dibuat di masa lalu namun sebahagian besar tetap relevan permasalahan saat ini seperti Perempuan yang Terluka (hal. 35) dan Tarian Luka (hal. 52) dimana kini kita masih merasakan duka akibat kekerasan terhadap perempuan yang jumlah kian hari kian banyak. Demikian juga anak-anak yang dulu kaya imaji dalam dongeng pengantar tidur (hal. 26) namun kini sepi dan asing. Juga anak-anak yang harus ke jalan, kebun  dan jermal mencari hidup (hal. 37). Bahkan kini keadaannya semakin miris karena menjadi korban kekerasan, pelecahan seksual, perkosaan hingga pembunuhan.

Sebuah buku puisi yang layak menghiasi dinding rumah dan mengisi ruang hati di tengah minimnya buku puisi di rak-rak toko buku kita. Sebuah kebanggaan juga bagi masyarakat Labuhanbatu yang memiliki seorang putri tidak hanya penulis namun seniman multi talenta dan juga seorang guru. Semoga bisa membakar semangat pesastra di Sumatera Utara sebagaimana harapnya saat peluncuran buku ini di Medan.



(Tatang Pohan, apajake.com)

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 5 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*

Tinggalkan komentar

5 × empat =