• Beranda  /
  • Profil   /
  • Samsudin Pendongeng; Bersepeda Jakarta-Medan
Samsudin Pendongeng; Bersepeda Jakarta-Medan Samsudin - Terkait Tampilan penuh

Samsudin Pendongeng; Bersepeda Jakarta-Medan

Pada suatu pagi di hari Minggu, 7 Agustus 2016, seorang lelaki tengah mendongeng di kerumunan anak saat Car Free Day di Simpang 6 Rantauprapat.  Dengan wayang kertas di tangan ia bercerita tentang satwa langka sumatera yang menjadi kebanggaan Indonesia. Samsudin adalah nama lelaki berusia 45 tahun asal Indramayu Jawa Barat yang melakukan Dongeng Keliling Jakarta-Sumatera dengan mengayuh sepeda.

Dongeng Keliling tentang Badak dan Habitatnya dalam rangka Hari Kemerdekaan terbagi dalam dua etafe. Etafe Pertama dimulai pada Jumat, 1 April hingga 22 April 2016 yang dimulai dari Kantor Kementerian Lingkungan Hidup Jakarta dan melintasi Kota Serang, Lampung, Kota Agung, Bengkulu dan berakhir di Jambi.

Etafe Kedua Jambi-Medan, 20 Juli s.d. 17 Agustus 2016, dilakukan di Zoological Society of London (ZSL) Telanaipura Jambi dan melintasi Kota Sorek, Pangkalan Kerinci, Pekanbaru, Rantauprapat, Aek Kanopan, Tebing Tinggi dan berakhir di Medan.

sam2

Samsudin kepada Apajake.com menceritakan tujuan perjalanan yaitu agar semakin banyak anak-anak yang ditemui dan saya ajak lewat dongeng mengenal lebih jauh tentang satwa langka, ekosistem, dan pemeliharaan hutan di Indonesia. Mengajak anak-anak untuk berani berbicara dan mengeluarkan pendapat serta belajar berpikir tentang sesuatu. Melihat seperti apa Indonesia dengan keragaman budaya, cara pandang masyarakat, lingkungan dan hutan yang ada. Perjalanan dari Jakarta ke Jambi di etape pertama saya masih bisa melihat hutan dan keindahan alam, beragam burung serta pantainya yang indah. Melihat juga kerusakan hutan, dominasi sawit, karet dan akasia.

Di Duri Riau, Samsudin mendengar tentang semakin menyempitnya hutan dan suaka margasatwa. Namun ada juga sebuah perusahaan PMA yang menyediakan sebahagian dari lahannya yang dibiarkan alami. Sebuah upaya riil untuk penyeimbangan. Para karyawan yang menyakiti binatang liar maka akan dipecat dan masyarakat juga akan diberi tindakan bila merusak lingkungan yang dibiarkan natural. Langkah ini harus diikuti perusahaan lainnya dan jangan hanya sekedar kampanye.

Deforestasi yang semakin luas akan berpengaruh pada hewan. Sering terjadi konflik gajah dan masyarakat. Perlu dipertanyakan komitmen pemerintah setempat yang melakukan pembiaran. Kita harus mengakomodir kehidupan binatang liar sesuai kebutuhan dan insting mereka. Pemerintah pusat dan DPR RI juga harus didorong untuk membuat regulasi.

Start etafe kedua, Jambi-Medan 20 Juli – 17 Agustus 2016 rencana awal di TVRI Jambi agar televisi ikut ambil bagian dalam upaya pelestarian dan juga budaya mendongeng. Selama ini televisi bertanggung jawab atas hilangnya jadi diri budaya bangsa dimana banyak tayangan yang kurang mendidik dan melakukan upaya pembodohan. Namun karena kesibukan TVRI Jambi akhirnya dilakukan di Zoological Society of London (ZSL), sebuah lembaga konservasi satwa liar berbasis kebun binatang yang berkantor pusat di London Inggris yang mempunyai visi dan misi mencapai serta mempromosikan pelestarian satwa liar Indonesia dan habitatnya.

Di Jambi Samsudin antara lain mendongeng di Al-Falah dan SDLB Telanaipura. Selain mendongeng di sekolah dan beberapa tempat yang sudah ditentukan oleh lembaga yang mendukungnya, beliau juga mendongeng di beberapa tempat secara spontan seperti di sebuah SD dekat perbatasan Jambi-Riau juga dua sekolah lainnya. Namun ada juga sekolah yang menolak dengan alasan banyaknya kegiatan dan dapat mengganggu pelajaran. Demikian juga di sebuah sekolah di Desa Serasam, Seberida, Indragiri Hulu yang tidak dapat mendongeng padahal beliau berharap dapat berjumpa dengan para transmigran yang banyak berasal Indramayu.

Aktivitas mendongeng dimulai sejak tahun 2012. Sebetulnya dimulai juga sejak mengajar namun tidak menggunakan media yang utuh untuk mendongeng. Sifatnya situasional seperti kelas rebut, dll sehingga anak-anak dapat ditangani. Kemudian fokus dan lebih utuh setelah keluar dari mengajar di sekolah. Dongeng dipilih karena dianggap teknik yang ampuh untuk mendorong anak menyampaikan pesan-pesan konservasi pada dirinya dan orangtua. Pesannya agar tugas-tugas anak-anak sebagai penerus jangan sampai dilalaikan. Sehingga perlu improvisasi dongeng dan pengandaian-pengandaian dapat disampaikan ke anak anak yang disesuaikan karakter masyarakatnya.

Perjalan Mendongeng Keliling Jakarta-Medan dilakukan dengan sepeda menurut beliau dengan pertimbangan:

  • Karena ada sepeda tua yang nganggur di rumah yang dibelinya secara bekasan dari saudara
  • Mengajak orang lain agar tidak bergantung pada kenderaan yang menggunakan fosil, lebih ramah lingkungan dan juga agar mau berolahraga.
  • Berkelilingnya lebih enak
  • Kampanye lebih efektif karena bersepeda tidak kencang
  • Orang yang bersepeda dengan jarak jauh cenderung menarik perhatian orang sehingga orang tahu maksud dan tujuan kampanyenya.

Bayangan jalanan di sumatera yang sepi dan tidak ramai seperti di Jawa hanya beliau temukan di etafe pertama. Namun etape kedua, Jambi-Medan ternyata ramai sehingga kurang nyaman bersepeda. Beliau ngeri dengan cara berlalu lintas para pengendara yang jauh dari menghargai hak-hak orang lain di jalan raya.

13920524_10210159905464309_7185753095114264481_o

Rantauprapat adalah kota pertama di Sumatera Utara yang dikunjungi untuk mendongeng. Melalui komunikasi spontan Pak Samsudin mendongeng di Car Free Day Rantauprapat (7 Agustus), PAUD-TK ABA Rantauprapat dan SDN 112145 Janji, Bilah Barat (8 Agustus). Anak-anak terhibur dan mendapat pembelajaran yang menyenangkan tentang satwa langka kebanggaan sumatera khususnya Badak Sumatera, Gajah Sumatera dan Harimau Sumatera. Disamping mendongeng beliau juga berdiskusi dengan sejumlah komunitas lingkungan, Oi, dan sepeda onthel di Rantauprapat.

13987423_10210162715054547_8904481586252680713_o



Red/TP

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

[wpw_follow_author_me author_id = "5"]