Topbar widget area empty.
Aroma Karsa aroma-karsa-2 Tampilan penuh

Aroma Karsa

Setelah menuntaskan Intelegensi Embun Pagi yang merupakan karya penutup dari heksalogi Supernova; Ksatria, Putri, Bintang Jatuh, Akar, Petir, Partikel, dan Gelombang para penggemar Dee, nama pena Dewi Lestari sang penulis menyisakan sejumlah tanya. Akankah ada karya selanjutnya yang layak mengisi rak-rak buku mereka. Pertanyaan dan mungkin keraguan ini juga saya rasakan mengingat beberapa penulis besar novel sequel yang sukses merebut jutaan pembaca seperti kehilangan kedigdayaannya pada karya-karya berikutnya. Apalagi Dee sempat kedodoran di sequel-sequel terakhirnya dan mendapat banyak kritik dari penggemarnya.

 

Tulisan ini mungkin bukan seperti resensi atau lebih tepat sebagai catatan atas rasa yang saya hirup  dari Aroma Karsa. Kita mulai dari catatan akhir dari Dee di situs pribadinya yang menjelaskan proses riset dan kreatif dari Aroma Karsa.

 

Riset merupakan bagian yang selalu ada di hampir semua karya saya. Namun, baru pada Aroma Karsa, saya mencoba mendokumentasikan prosesnya sebaik mungkin. Hasilnya di luar dugaan. Niat sederhana yang tadinya hanya sekadar dokumentasi untuk konsumsi pribadi, akhirnya menjadi materi edukasi bagi pembaca tentang proses kreatif yang dilalui penulis untuk melahirkan karya.

 

Aroma Karsa bermula dari cerita bersambung di Digital Tribe Aroma Karsa, sebuah grup tertutup di Facebook yang bisa dinikmati khusus pelanggan setiap dua kali seminggu.  Ketiadaan proses percetakan memberikan versi digital Aroma Karsa keleluasaan revisi, bahkan improvisasi. Para pembaca berkesempatan memberi perhatian yang lebih mendetail kepada isi cerita dan penulis berkesempatan memonitor respons pembaca dari dekat, mengetahui bagian mana yang menimbulkan reaksi kuat, karakter dan dialog mana yang paling berkesan, termasuk menerima input teknis maupun koreksi editorial.

 

Dee menegaskan bahwa versi digital dan versi cetak Aroma Karsa merupakan komplementer, bukan kompetitor. Relasi yang tepat bagi keduanya adalah “dan”, bukan “atau”. Cerbung Aroma Karsa bukan semata-mata produk digital seperti membeli buku elektronik di Kindle atau Google Playbook, melainkan pengalaman membaca yang tidak akan terulang dua kali. Sebuah kisah diikuti secara kolektif, diwadahi dalam komunitas tertutup, di mana para pembaca bisa berinteraksi satu sama lain dan berkomunikasi dengan saya secara intens selama dua bulan. Belum tentu dua kali saya bisa mewujudkan karya yang pas untuk format seperti ini. Aroma Karsa bisa jadi yang pertama dan terakhir.

 

 

Bagaimana dengan ceritanya?

 

Novel ini berkisah tentang sebuah lontar kuno ditemukan disebuah Keraton yang tersimpan rapat, Lontar yang menceritakan Puspa Karsa yang mungkin juga sebuah dongeng tentang sebuah tanaman yang tersembunyi di tempat rahasia. Lontar yang melontarkan hidup sang penemunya ke titik puncak kejayaan industri kecantikan di negeri ini. Kejayaan yang meninggalkan obsesi. Raras sang penerus dinasti berupaya terus memburu Puspa Karsa, bunga sakti yang konon mampu mengendalikan kehendak dan cuma bisa diidentifikasikan melalui aroma.

 

Di tangan Dee, tidak ada kata kebetulan. Semua adalah program dan project dari sebuah misi visi yang dirancang matang sebagaimana riset dan proses kreatif yang dilakukannya hingga harus menemui seorang pembalab nasional, yang karakternya dimunculkan dalam sesosok tokoh dalam novel ini. Beragam aroma parfum, tumbuhan dan bangkai membingkai kisah pencarian.  Tanaya Suma, anak tunggal Raras diharap menjadi mitra dan penerus obsesinya.

 

Banyak misteri dan kejutan yang Dee tawarkan dalam novel ini yang tidak ingin saya sampaikan agar Anda merasakannya dengan total. Anda akan larut atau mungkin tersadar, apa iya?  Ya, ini adalah fiksi. Sesuatu yang belum sampai dan merangsang imajinasi kita.

 

Sebagai penutup saya hanya mengatakan buku ini sangat layak berada di rak buku Anda. Kita mungkin meragukan apakah novel ini akan menjadi film yang baik atau berakhir menjadi toko Parfum sebagaimana Filosofi Kopi.



 

Tatang Pohan, Redaktur Apajake

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 5 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*