Topbar widget area empty.

Perjalanan Di Tanah Bertuan, Negeri Tanpa Bayangan

Catatan Perjalanan

Oleh: Juanda  Pranggana

 

 

Jumat (21/09) saya, jurnalis apajake, memulai perjalanan ke Pasaman dari kota Rantauprapat. Perjalanan dengan bus ini terhenti sejenak di Kota Padang Sidempuan. Tepat pukul 06.30 (22/09) tiba di Taman Equator Pasaman disambut sejuk udara Tanah Bonjol. Beberapa panitia teknis acara tampak sedang mempersiapkan pentas untuk acara puncak Hari Puisi Indonesia 2018 di Pasaman, yang juga bersamaan dengan penyambutan moment Titik Nol Kulminasi Matahari.

 

Dari Taman Equator saya yang berbarengan dengan Koordinator Malam Puisi Rantauprapat yang juga Ketua Forum Lingkar Pena Labuhanbatu, saudara Hisyam Budi Siagian, dijemput menuju Ladang Raso. Ladang Raso adalah sebuah kantong baca yang dibangun oleh Ketua Panitia HPI Pasaman sdr. Arbi Tanjung yang terletak di Jorong Languang, Nagari limo koto, Kecamatan Bonjol, Kabupaten Pasaman, Sumatra Barat.

 

Di Ladang Raso, kami menemukan ketenangan dan kehangatan dalam penyambutan oleh tuan rumah. Ladang raso terletak di tengah-tengah sawah dan kolam ikan, duduk di gubuk baca Ladang Raso kami menemukan kenyamanan yang luar biasa. Ladang Raso dipenuhi dengan buku-buku sarat pengetahuan, sastra dan referensi kehidupan.

 

Kami bertemu dengan teman-teman penyair lainnya, yang sudah datang lebih dahulu, hal yang luar biasa dan menjadi keutamaan tersendiri dari moment Hari Puisi Indonesia adalah bertemu dengan seniman, penyair, pemuisi dan orang-orang kreatif ini. Nama-nama yang sempat diingat oleh kami antara lain: Julaiha S (Medan), Ayu Harahap (Medan), Pebrina Lasambouw (Medan), Eva Sari (Binjai), Tantowi Panggabean/Bang Gabe (Padang Sidempuan), Siti Maulid Dina (Medan), Sunaryo JW (Padang Sidempuan), Hendry Azhary (Padang Sidempuan), Ubai Dillah Al Anshori (Pematang Siantar), Jhonson Effendi (Palembang), Prasetio Ramadhan (Padang Panjang), Gober (Riau), Muhammad Restu Ramadhan (Padang Panjang), Dita Febrianti (Padang Panjang), Nur Halimah (Padang Panjang), Fajrur Ramadhan (Padang Panjang), Kunti Masrohanti (Pekanbaru, Riau), Ismi Rajki Qayra (Bayang), Annisa Meitartawardani (Bayang), Lusi Afrima Nengsih (Bayang), Lili Arnita (Bukit Tinggi), Yeyen Kiram (Padang Taman Budaya), dan Fajri Alkahfi (Padang Panjang).

 

 

Penyambutan yang sangat berkesan. Setelah sarapan, kami langsung menuju lokasi acara, kembali ke Taman Equator. Cerita punya cerita, informasi yang kami kumpulkan bahwa sebelumnya telah ada beberapa rangkaian acara dalam perayaan Hari Puisi Indonesia 2018 di Pasaman, yaitu : Nonton Bareng Film Dokumenter “Dari Pasaman Kami Berkisah Puisi dan Cagar Budaya”, Lomba Mewarnai Lukisan Cagar Budaya (TK/SD), Parade Puisi Tiga Jam (seluruh lapisan masyarakat), Satu Kata Untuk Puisi Pasaman (pengunjung menulis satu kata untuk puisi Pasaman).

 

Sabtu, (22/09) adalah puncak acara Peringatan Hari Puisi Indonesia 2018 di Pasaman, berlokasi di Titik Nol Dunia. Diawali dengan seremonial dari Pemkab Pasaman, lalu pembacaan puisi oleh beberapa penyair Nasional yang hadir. Tepat pada pukul 12 menit ke 11 detik ke 56, kami menyaksikan bersama titik kulminasi matahari yang berada pada Nol Derajat. Euforia langka, karena hanya di Pasaman ini kita bisa merasakan fenomena kulmunasi matahari, sehingga tanah ini mendapat julukan Negeri Tanpa Bayangan.

 

 

Memanfaatkan moment langka, ditengah-tengah puisi yang dibacakan Kunni Masrohanti, penyair asal Kepulauan Riau yang juga ketua Komunitas Seni Rumah Sunting menyerahkan buku puisi 999 karya seluruh penyair Riau, serta buku antologi puisi hasil HPI Riau Agustus lalu “KUNANTI DI KAMPAR KIRI” kepada Bupati Pasaman.

 

 

Selesai acara seremonial, seluruh penyair dijamu makan siang bersama oleh Pemkab Pasaman, lokasi makan bersama pun dilaksanakan di Museum Tuanku Imam Bonjol. Setelah perhelatan makan bersama selesai kami langsung dibawa menuju rumah kelahiran dan tempat tinggal Pahlawan Nasional Tuanku Imam Bonjol di Jorong Tanjuang Bungo, Nagari Ganggo Hilia.

 

 

Di kediaman Tuanku Imam Bonjol kami bertemu dengan Uni Aluih yang merupakan generasi ke-7 dari Tuanku, Uni sedikit bercerita tentang silsilah dan gambaran kehidupan sehari-hari Tuanku, kami benar-benar hanyut dan berasa seperti sedang bersama Tuanku Imam Bonjol. Tidak menyianyiakan kesempatan saat di rumah tuanku, kamipun bergantian membaca puisi tepat di pelataran rumah Tuanku, para penyair dengan semangat membacakan puisi-puisi terbaiknya ditemani rintik hujan menyambut sore.

 

 

Setelah puas berpuisi di rumah Tuanku, kami pun melanjutkan perjalanan ke tokoh bersejarah lainnya, Pasaman punya seorang dokter yang ternyata adalah dokter spesialis bedah jantung pertama di Indonesia, dokter Achmad Muchtar namanya yang tinggal tak jauh dari kediaman Tuanku Imam Bonjol, tepatnya di Jorong Pasar. Dikisahkan oleh Hendra Bonjo (Ketua Bikers Pasaman) sang dokter tewas dibunuh penjajah Jepang karena menolak memberikan obat untuk melemahkan pejuang Indonesia.

 

 

Berdekatan dengan rumah sang dokter, kami diajak untuk melihat beberapa peninggalan Tuanku Imam Bonjol yang ada di kampung tersebut, salah satunya adalah meriam yang dulunya dilempar oleh Tuanku dari Benteng Bukik Ta Jadi. Meriam ini juga dijaga oleh salah satu cicit Tuanku, hanya meriam ini yang menolak untuk dipindahkan disaat meriam lainnya dengan mudah diangkat dan dipindahkan ke museum sejarah.

 

 

Ada juga batu bekas tapak tangan Tuanku Imam Bonjol, dikisahkan batu tersebut menolak jatuh ke bawah untuk memukul mundur pasukan penjajah, sehingga tuanku mendorong sampai berbekas telapak tangannya. Perjalanan sore itu diakhiri dengan guyur hujan, hingga kami kembali ke tempat rehat untuk mempersiapkan perjalanan berikutnya esok hari.

 

Minggu (23/09) pukul 09.00 kami dan rombongan bergerak menuju tempat wisata sejarah dan budaya di tanah Pasaman. Tujuan pertama adalah Surau Batu dan Surau Tinggi di Nagari Koto Kaciak, Kec.  Bonjol, Surau ini dibangun oleh Syekh Maulana Ibrahim Al Khalidi, orang pertama yang menyebarkan Syiar Islam di tanah Pasaman dan juga sebagai orang yang selalu diminta nasehatnya oleh Tuanku Imam Bonjol jika ingin memutuskan suatu perkara. Wisata budaya dan sejarah sembari wisata reliji, di surau ini kami sekaligus berziarah dimakan tuan Syekh, dan juga menyaksikan sebuah tiang penyangga dalam Surau Batu yang menjadi salah satu peninggalan Tuan Syekh.

 

 

Lanjut kami menyusuri jalan Pasaman yang asri, bersih dan menenangkan, kami menuju Cagar Budaya Candi Tanjung Medan, ditengah perjalanan, untuk memecahkan hening dan jenuh, kami mebacakan puisi diperjalanan, tak peduli terombang ambing oleh kelokan jalan Pasaman, para penyair semangat dan berlomba untuk membacakan puisinya, hingga tiba di tujuan Candi Tanjung Medan. Tak banyak yang kami gali di Candi Tanjung Medan, sembari beristirahat makan siang dibalik teduh bukit, kami juga ditemani angin dan kicau dahan kelapa di sekeliling area candi.

 

 

Dari Candi Tanjung Medan kami ke Kampung Tua Sungai Jantan di Panti. Alkisah kampung ini adalah kampung pertama di Pasaman, saat ini hanya masih ada kurang lebih 11 (sebelas) bangunan yang tegak berdiri.

 

 

Perjalanan berikutnya adalah kunjungan literasi ke Rumah Lentera, tepatnya berada di Nagari Panti, kami disambut hangat ditengah rintik hujan oleh pemilik Rumah Lentera sdr. Kurnia Hadinata, beliau adalah seorang penggiat literasi di Pasaman, yang mengisahkan bahwa pada awalnya dirinya adalah seorang Seniman Seni Rupa, namun waktu dan ruang menghantarkannya hatinya akan kecintaan kepada Dunia Literasi yang akhirnya ia putuskan untuk membangun dunia Literasinya sendiri untuk menjadi penerang terhadap generasi Pasaman berikutnya.

 

 

Curahan semangat, motivasi dan inspirasi dalam berkreasi di dunia Literasi mengalir deras di Rumah Lentera ini, seluruh pengunjung terkagum-kagum dan seakan berada di surganya sendiri saat berada disini. Beberapa segmen oleh para pemuisi dimanfaatkan untuk membacakan puisi-puisi andalannya, hingga berdiskusi dan bertukar karya. Suasana yang sejatinya tak dapat digambarkan oleh apapun. Semangat dan rasa cinta terhadap dunia Literasi semakin tumbuh di Rumah Lentera ini. Hingga akhirnya kami harus dikembalikan oleh waktu yang kian redup, dan kami pun meninggalkan Nagari Panti, kembali ke kampung Bonjol, menuju ke Ladang Raso.

 

Ditengah jalan, saya bersama Kordinator Malam Puisi Rantauprapat harus kembali ke kota asal. Rombongan lainnya melanjutkan perjalan ke Ladang Raso, agenda berikutnya adalah evaluasi dan penguatan silaturahmi di tengah sawah dan kolam Jorong Languang, Nagari Limo Koto, Bonjol.

 

 

Sudah dipastikan para penggiat Literasi yang berkumpul disana akan disambut sehangat-hangatnya oleh tuan rumah, Arbi Tanjung. Keakraban yang luar biasa melebihi bertemu keluarga nun jauh disana, bahkan rasa untuk berpisah pun tak sanggup diungkapkan dengan kata-kata.



 

Terimakasih diungkapkan yang sedalam dalamnya untuk seluruh penggiat Literasi yang berhadir pada Hari Puisi Indonesia 2018 di Pasaman. Kami, apajake, memberikan apresiasi yang sebesar-besarnya, terkhusus kepada Arbi Tanjung beserta Tim yang luar biasa: Irma, Dandi, Kevin, Mila, Widya, Hamdhani, Resi, Azhary, Bihaqi, Rini, Deyola dan lainnya yang tak sempat disebut namanya satu persatu.

 

 

Sebuah Perjalanan yang Luar Biasa di Tanah Bertuan, Negeri Tanpa Bayangan.

Hari Puisi Indonesia 2018 Pasaman, Menakjubkan!

Juanda Pranggana
Ditulis oleh Juanda Pranggana
    ( 1 Followers )
    X

    Follow Juanda Pranggana

    E-mail :*