Topbar widget area empty.
Anjing dan Anjing anjing 2 Tampilan penuh

Anjing dan Anjing

Oleh: A. Warits Rovi

 

Ketika baliho caleg, capres, cagub atau cabup dipajang di seluruh penjuru kota, anjing itu lahir, berbiak banyak, memenuhi jalan, pasar, kantor dan rumah-rumah, bahkan sebagian asik rebah di tempat-tempat ibadah. Anjing itu adalah generasi kesekian dari moyang pertamanya yang bermukim di dalam kepala Qabil—putra Adam—dan berhasil mencipta kepicikan pertama agar kebencian dan api dendam menyulut permusuhan di antara anak-anak Adam.

 

Sebagai generasi kesekian, anjing-anjing itu juga punya kebiasaan yang sama dengan moyangnya; lebih nyaman masuk ke dalam kepala orang-orang. Berak dan kencing semaunya. Menjilat-jilat sembari memindah liurnya yang bau ke sel otak orang yang ditempatinya. Hingga watak orang itu menyerupai dirinya; menyalak nyaring membelah hening demi memenuhi ambisi, menjulur lidah untuk mengelabui kawan atau lawan, bermata ganas, menatap mangsa dan menyergap apa yang dianggap mengenyangkan, berkuku tajam dengan daki hitam bau tahi, yang selalu sigap mencakar apa saja yang dianggap menentang dirinya.

 

Ketika orang yang ditempati sama persis dengan watak si anjing. Maka anjing itu merasa jadi pemenang. Ia loncat-loncat, bersorak bahagia, sembari ia kibaskan ekornya, ia gosok hidungnya, berguling-guling sambil bernyanyi sepanjang hari sepanjang malam, tanpa diketahui oleh orang yang kepalanya ia tempati itu.

 

Saat-saat kemenangan anjing semacam itu sangatlah langka, kecuali ketika baliho-baliho politikus dibentang di jalan-jalan, foto dan jargon politiknya dicetak di kaos dan stiker. Ketika orang-orang tersihir oleh kebutuhan dana dan politikus tersihir oleh kebutuhan suara. Di saat seperti itulah, anjing-anjing itu sangat mudah meraih kemenangan dan sangat gampang menjadikan orang-orang menjadi anjing-anjing lain yang membahayakan.

#

 

Kedip mata Sutara menyuluh kelam mata Maryam, ia selalu datang menjelang subuh atas dorongan anjing di kepalanya, ketika Maryam tengah sibuk, menata sayur dagangannya ke dalam gerobak kayu. Sebatang kretek terbenam di sudut bibirnya yang hitam menguar bau nikotin. Dan asap yang memburai, jadi tirai tipis di jazirah wajahnya, mengepul lenggang ke lembap lantai pasar yang dibalut embun.

 

“Kasihan kamu, Yam!. Sejak dini hari, ketika wanita lain masih merasakan hangat pelukan suaminya, kau malah mandi peluh, mondar-mandir mengusung sayur,” celetuk Sutara diiringi isapan kretek yang suaranya terpelanting ke dinding malam.

 

Maryam hanya menoleh. Sekadar tersenyum, tanpa kata apa pun. Lantas ia sibuk kembali dengan tangan yang tak jeda berayun, memilah dan menumpuk sayur. Menggunung di atas gerobak. Warna lampu terperam dalam peluh yang tertampung di dahinya.

 

“Coba kalau kita punya pemimpin bagus, pasti rakyat akan sejahtera. Kamu tidak akan seperti ini lagi,” Sutara mulai pasang kail. Ia membuang puntung ke lantai. Diinjaknya perlahan dengan kaki kanan yang sedikit diputar.

“Jika kau mau, kusarankan pada pemilu yang akan datang kaupilih Pak Bobon. Dia sangat merakyat dan lebih suka berjuang ketimbang uang,” suara Sutara baur dengan hiruk-pikuk para kuli.

“Aku tahu siapa Pak Bobon. Dia pernah dipenjara karena pernah menyunat dana desa. Biar aku akan memilih apa yang terbisik dari hati nuraniku, selain Pak Bobon,” tegas Maryam menjawab, seraya ia seka peluh di keningnya.

“Hahaha! Cerdas kau, Yam. Jika seluruh rakyat negeri ini sama sepertimu, pasti akan tersaring pemimpin yang bersih,”  Sutara merapikan jaket.

 

Maryam hanya tersenyum, tangannya masih sibuk menaruh sayur ke atas gerobak.

 

“Jadi kamu tidak akan pilih Pak Bobon?” tanya Sutara sambil berdiri. Matanya mendelik tajam.

 

Maryam menggeleng tegas. Sutara pergi begitu saja meninggalkan Maryam. Lintasi kerumunan orang-orang. Menuju utara. Menembus kelam yang hampir subuh. Anjing di kepalanya tak henti menyalak. Memprovokasi Sutara dengan kata-kata pedas.

 

“Kamu ini sudah menjadi anjing sepertiku. Ayo, jangan patah semangat!. Ajaklah orang lain menjadi anjing seperti kita. Besok malam kembalilah kepada Maryam. Kasih ia uang, separuh saja dari target yang kauminta kepada Pak Bobon,” lolong anjing di kepala Sutara membuat langkahnya terhenti, bersandar tiang listrik. Ia berpikir sambil menatap sisa bulan sabit tanggal tua.

“Kau berjanji kepada Pak Bobon untuk mencari pendukung. Saratnya satu orang akan kauberi uang seratus ribu. Pak Bobon menyetujui itu. Dan ia berani mengeluarkan uang puluhan juta untukmu agar kau mencari orang yang bisa mendulang suara untuk Pak Bobon. Tapi kamu kan anjing. Jadi, potonglah uang itu separuh untuk masuk kantong pribadimu. Orang-orang cukup beri lima puluh ribu rupiah saja, kecuali orang-orang tertentu bila godaan lima puluh ribu tak mempan,” saran anjing di kepala Sutara dengan salak suara yang nyaring. Membuat Sutara tersenyum. Dan dengan uang hasil potongan dari seluruh nominal yang diberikan Pak Bobon itu, akhirnya pagi itu ia mantap melangkah ke tempat esek-esek untuk “jajan”. Ia tak perlu banyak berpikir lagi tentang dosa, sebab ia telah merasa jadi anjing. Sebagaimana anjing lain yang kerap menyalak dalam kepalanya.

#

 

Maryam menjajakan sayurnya ke pedusunan. Mengayuh sepeda lintasi jalan yang meliuk-liuk, turun dan menanjak, berparam kerikil dan embun pagi. Baliho dan stiker caleg bertebaran di pinggir jalan. Sejenak bila Maryam membacanya, seolah nasib rakyat seperti dirinya akan berubah lebih cerah.

 

Ia terus mengayuh sepeda dari rumah ke rumah. Sedikit demi sedikit tumpukan sayur di gerobaknya melorot ke bawah, semakin sedikit. Sementara peluhnya semakin derai menjilat tonjokan tulang pipinya yang tirus. Matahari semakin meninggi.

 

Tak terduga, di tikungan kesekian, ia bertemu Kiai Hamid, dan bercerita banyak tentang  apa yang dilakukan Sutara saat dirinya mengulak sayur sebelum subuh. Kiai Hamid memuji tindakan Maryam yang berani menolak untuk memilih calon pemimpin yang tercela.

 

Anjing di kepala Maryam, mengendap lalu rebah tak bertenaga. Kecuali hanya menjulur lidah dan napasnya tersengal. Matanya redup. Sia-sia ia menyalak ke hati Maryam. Sedang anjing di kepala Kiai Hamid semakin kurus dan nyaris mati, sesaat setelah beberapa hari yang lalu Kiai Hamid berani menolak bantuan salah satu caleg yang bernilai puluhan juta rupiah.

#

 

Anjing di kepala Pak Bobon sering terdiam. Matanya disorot jauh ke kaki langit, beranjak kencing dan berak, atau tiduran sambil memainkan bola matanya ke sana kemari. Ia tengah memikirkan cara berspekulasi yang baik agar kursi legislatif bisa diraih dan modal cepat kembali, membawa keuntungan yang sangat besar.

 

Ya, Pak Bobon selama ini memang mengadakan kontrak dengan salah satu pengusaha. Dana yang dipakai untuk meraih kursi berasal dari pengusaha itu. Tapi si pengusaha memesan dua lokasi wisata kepada Pak Bobon, agar jika kursi legeslatif diraih, ia bisa membuat peraturan yang bisa melicinkan pengusaha itu untuk menguasai dua kawasan wisata di daerah tersebut.

#

 

Silir angin dini hari menjarum kulit. Sutara sudah menghabiskan dua batang kretek di pasar sayur. Ia rebah dan berselimut sarung. Wajahnya terus menatap Maryam yang mulai sibuk memilah sayur dan mengangkatnya ke atas gerobak. Anjing di kepala Sutara terus menari dan menyalak nyaring. Membuat bibir Sutara tak henti membujuk Maryam. Sudah ia sebutkan sejumlah nominal uang agar Maryam bersedia menyoblos Pak Bobon, tapi Maryam tetap menggelengkan kepala.

 

“Kalau dua ratus ribu, apa kamu mau?” Sutara bangkit dan beranjak ke dekat Maryam. Sejenak hening, keduanya tak bicara. Suara salawat menjelang subuh terdengar di kejauhan. Menyela riuh suara para kuli.

“Bagaimana? Mau?”

 

Maryam menoleh, sembari kedipkan mata. Senyumnya selembut daun seledri. Dan pelan ia mengangguk dua kali.

Sutara tertawa, bau kretek menguar dari mulutnya. Anjing di kepalanya melompat girang. Menggerakkan ekornya dengan indah. Sedang Anjing di kepala Maryam mulai bisa berjoget. Menyalak keras dan menjilat-jilat bulunya dengan riang. Hari menjelang subuh, anjing-anjiing bernyanyi kepada langit yang lembap.

 

Sedang setelah subuh berlalu. Anjing-anjing itu berkeliar di jalan-jalan, di warung kopi, di teras-teras rumah. Semua merasuk ke dalam kepala orang-orang. Kencing dan berak  semaunya. Membujuk orang-orang takluk kepada uang. Cerdik menipu orang-orang, sehingga mereka lupa, bahwa suaranya di pemilu adalah masa depannya. Mereka rela menjual masa depannya demi uang seratus sampai dua ratus ribu, yang bisa habis hanya dalam kurun waktu satu sampai dua hari. Anjing-anjing itu gembira, menyalak keras ke datar langit, sebab hampir semua orang-orang bisa diajak menjadi anjing-anjing lain yang tak berbulu.

#

 

Di jalan-jalan sudah tak ada baliho caleg. Tinggal pancang bambu bertukar senyap dengan suhu, tinggal stiker caleg yang melusuh di atas pintu-pintu. Dan semua perangkat pemilu telah lama diarsip di rak-rak lemari yang terkunci dan di folder-folder rahasia.

 

Paras anjing di kepala Pak Bobon mulai tak diliputi perasaan cemas. Tubuhnya mulai gemuk. Sepasang matanya terlihat bening, sering putar pandangan sambil menjulur lidah hingga liurnya melumasi bulu dadanya yang licin. Ekornya selalu diangkat bergoyang-goyang. Terlebih saat anjing itu melompat-lompat riang. Seriang Pak Bobon yang duduk berselonjor kaki di atas meja. Senyumnya abadi terkembang sejak ia diputuskan jadi salah satu kontestan politik yang berhak maju ke gedung dewan.

 



Pun demikian anjing di kepala Sutara dan di kepala Maryam. Lipatan dagingnya kian menumpuk. Tak henti menyalak sepanjang waktu. Melompat girang. Asah mata beningnya ke langit malam. Menjilat-menjilat liar. Semua anjing yang bertugas menebar keburukan merayakan pesta kemenangan.

 

Anjing-anjing itu lompat penuhi jalan lengang, berbaris hendak pulang, tapi sesekali menoleh ke belakang. Satu sahabatnya, seekor anjing yang mendekam di kepala Kiai Hamid mati sia-sia tak berhasil menebar bujukan. Sejenak mata anjing-anjing itu menatap iba. Tapi kemudian melanjut langkah. Menyalak keras dan bergoyang-goyang. Sepanjang jalan. Jalan yang kelak akan dilewati Pak Bobon, Maryam dan Sutara. Jalan kecil menuju neraka.

Gaptim, 03.18

 

A. Warits Rovi. Lahir di Sumenep Madura 20 Juli 1988. Karya-karyanya berupa cerpen, puisi, esai dan artikel dimuat di berbagai media Nasional dan lokal. Juara II Lomba Cipta Puisi tingkat nasional FAM 2015. Juara II Lomba Cipta Cerpen Remaja tingkat nasional FAM 2016. Juara I Lomba Cpta Puisi Hari Bumi FAM 2017. Ia juga Guru Bahasa Indonesia di MTs Al-Huda II Gapura. Berdomisili di PP. Al-Huda Gapura Timur Gapura Sumenep Madura. email: waritsrovi@gmail.com.

Tag:
Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 5 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*