Kesetanan Setan edit - Terkait Tampilan penuh

Kesetanan

Oleh: Sawaluddin Sembiring

 

 

Di malam sebelum kematian ayah, Malik kembali mengalami mimpi buruk. Mimpi yang membuatnya resah dan penuh tanda tanya. Ia mendapati dirinya berada di sebuah belantara yang sangat gelap, bahkan kedua matanya tak mampu menembus kegelapan itu. Sayup-sayup telinganya mendengar erangan, erangan yang mirip seperti suara perempuan kesurupan. Napasnya tersengal-sengal,  ia mencoba memerhatikan sekitar. Menjaga diri, siapa tau suara-suara itu sudah begitu dekat. Air wajahnya keruh, ia sangat ketakutan. Entah bagaimana ia bisa sampai pada tempat yang tak dikenalnya ini, padahal tadi ia sedang berada di dalam kamar hotel kelas bawah bersama pelacur yang ditemuinya di pinggir jalan. Semuanya begitu cepat terjadi, tubuhnya terkulai lelah di ranjang sampai tertidur. Ketika terbangun, hotel itu telah berubah menjadi hutan. Entah siapa yang membuangnya, apa mungkin pelacur kelas teri itu?

 

Suara-suara erangan tadi telah menjadi bisikan. Bisikan yang memekik, membuat telinganya terasa sakit. Ia berlari, mencoba menyelamatkan diri. Di belakangnya, terdengar suara kaki yang mulai mengikuti dengan cepat. Malik menoleh kebelakang, dilihatnya sesosok makhluk  bermata merah yang dari mulutnya mengeluarkan air liur terus menerus. Begitu ketakutanya ia, semakin kencang juga larinya. Sosok tadi terus mengejar, bahkan hampir menangkapnya.

 

Ia merasa sangat lelah, kakinya tak sanggup lagi berlari. Malik terjatuh, membiarkan makhluk itu duduk di punggungnya. makhluk itu mencakar punggungnya, Malik menjerit kesakitan. Tubuhnya meronta, minta tolong. Tapi tidak ada satu orang pun yang menolongnya. Perih sekali, seperti ratusan pisau yang menyayat punggungnya. Malik berbalik, mencoba melawan, namun makhluk bermata merah tadi terlihat semakin membara, dia tidak memperdulikan ketakutan lelaki itu. Dia terus mencabik tubuh Malik hingga membuatnya berteriak-teriak. Makhluk itu seperti sedang menagih dosa yang belum dipenuhi olehnya, semacam perjanjian. Tapi entah apa. Apa mungkin ini adalah ulah ayah yang menjadi penyembah setan demi membawa ibu pulang ke rumah lagi? Memang kematian ibu member pukulan hebat untuk ayah. Bahkan dia melupakan segala hal. Tak berapa lama, makhluk itu mengambil suaranya, mencekik leher, kemudian masuk ke dalam mulutnya. Membiarkan tubuh Malik  menegang seperti patung.

 

Mimpi itu berulang kali datang dalam mimpinya, menggangu tidurnya. Bahkan pernah ia tak tidur bermalam malam. Yang dilakukannya hanya mencoret dinding, mendengar ayah menyanyi lagu keroncong. Serta menikmati bau dupa yang begitu menyengat. Pernah ia menceritakan perihal mimpi itu kepada ayah, namun semua ceritanya dianggap sebagai angin lalu. Bahkan wajahnya selalu diludahi ayah setiap kali bercerita perihal mimpi buruk itu. Kata ayah, Malik hanyalah anak sial, jadi pantas mendapatkan mimpi buruk itu.

 

Di suatu malam Malik pernah melihat ayah sedang bertekuk lutut pada sebuah benda yang tak pernah diperlihatkan kepadanya. Di sana ayah seperti sedang mengeluh, ia terlibat percakapan yang penuh teka-teki.  Bahkan tak jarang rumah ini dipenuhi dengan kembang tujuh rupa, juga bunga macan kera. Terutama ketika malam jumat, ayah memperbanyak  sesajennya. Entah untuk apa. Seperti malam ini, musik keroncong di kamar ayah masih terdengar mengalun. Sebuah lagu yang selalu diputarnya hampir setiap waktu. Di wajahmu kulihat  bulan. Katanya itu lagu kesukaan ibu, lagu yang selalu mereka dengarkan sebelum sarapan dan tidur di malam harinya. Malik adalah lelaki yang penakut, dari kecil ayah sudah membiasakannya untuk takut akan semua hal. Belum lagi dia harus rela menjadi lampiasan kemarahan sang ayah. Malik telah kenyang akan pukulan yang datang tanpa alasan kuat. Sejak saat itu, ia selalu dihantui mimpi buruk yang diciptakan ayahnya.

 

Ditinggalkannya ranjang kusut itu, ia ingin ke kamar ayah. Meminta lelaki tambun itu mematikan tape, karena suara tapenya yang begitu kuat mengusik para tetangga yang sedang beristirahat. Pintu kamar ayah tidak tertutup rapat, terlihat cahaya temaram menyembul keluar. Malik mengintip. Di dalam kamar, ayah sedang berdansa seorang diri. Bahkan bibirnya berbisik-bisik tidak jelas. Dia memulai percakapan yang absurd, entah dengan siapa. Dahi Malik berkerut menyaksikan itu, walau sejatinya ini bukanlah kali pertama ayah bersikap aneh. Di bawah kolong tempat tidur juga terlihat sepiring sesaji dan dua batang dupa yang sudah terbakar separuh. Ayah tak pernah berubah, hampir setiap malam ia melakukan hal gila ini. Malik pernah   menanyai perihal ini pada ayah. Katanya, biar ibu selalu datang menemuinya di kamar. Lalu tidur bersama, bercinta seperti muda dulu. Sungguh ironis, jawaban yang tidak masuk akal. Tapi peryataannya itu semakin menguatkan Malik, jika ayahnya memang penyembah setan demi mendatangkan ibu ke pelukannya. Bisa saja Malik adalah calon tumbal yang dijanjikan ayah, maka dari itu Malik selalu didatangi setan yang dipuja itu dalam mimpinya.

 

Malik membuka lebar pintu kamar ayah. Dan itu membuatnya tercekat. Lelaki itu berdiri memunggungi Malik.

 

“Ini sudah malam, Tidurlah, Yah”  kata Malik dengan ragu. Ia takut ayahnya akan marah, lalu memukulinya.

 

Ayah tidak menjawab. Malik masih menunggu. Malik menjadi semakin resah. Dikumpulkannya segenap keberanian untuk menekan ayah. Menyadarkannya akan suatu hal.

 

“Ayah, ibu sudah mati. Berhentilah menganggap ibu sedang berdansa dengan ayah! Tidakkah ayah lihat itu setan?”

 

Ketika itu ayah segera membalikkan tubuhnya. Dia menatap culas ke arah anaknya. Malik sudah bersiap menerima pukulan dari sang ayah. Namun tidak seperti dugaannya. Ayah malah terlihat meringis, memegangi perutnya. Tak lama, dari mulut ayah mengeluarkan lendir dan nanah. Juga bau busuk yang sangat membuat perut mual. Ayah merogoh kerongkongannya, ditariknya sesuatu dari sana, ada paku yang mengganjal di lehernya. Kedua matanya melotot, Malik hanya mematung memandangi ayahnya yang sedang kesakitan. Bibir ayah bergerak-gerak, dia mengucapkan sesuatu yang tidak jelas. Suaranya sudah habis. Sebuah jiwa melayang-layang, menghampirinya. Kemudian masuk ke dalam mulut ayah, sampai tubuhnya menjadi kaku.

 

Orang-orang mulai ramai mendatangi rumah Malik. Bertakjiah, membaca Yasin. Ayah sudah mati dan Malik hanya mampu diam di sudut ruangan. Beberapa pelayat sedang berbisik, perihal kematian ayah. Mereka membenarkan praduga, jika selama ini ayah bersekutu dengan setan. Mereka memang jarang sekali bergabung dengan warga lingkungan, bahkan rumahnya selalu tertutup dan gelap. Tak terlihat tanda-tanda kehidupan. Terlebih malam ini, tentang kematian yang aneh. Mereka menganggap itu sebagai karma yang harus diterima, karena telah mengorbankan istrinya untuk menjadi tumbal. Malik sedikit resah, ibu tidak mati karena dijadikan tumbal. Tapi ibu mati karena Tuhan sayang kepada ibu.

***

 

Di ruang makan, Malik sedang memandangi kursi sebelah tempat biasa ayah menyantap sarapan nasi goreng yang dibuat seadanya. Dihadapannya sudah tersaji sepiring nasi goreng yang hampir gosong, lengkap dengan telur dadar dan irisan tomat yang sudah layu. Lama lelaki bercambang itu menatap kursi kosong di sebelahnya. Ia juga masih meletakkan sepiring nasi goreng yang sama di hadapan kursi kosong tadi. Kata orang-orang, sebelum empat puluh hari arwah seseorang yang sudah mati masih tinggal di rumah. Apa lagi kepergian ayah menemui Tuhan baru dua hari lalu. Jadi tak ada salahnya seorang anak ingin membahagiakan ayahnya.

 

Seperti biasa, Malik memutar lagu lawas yang menjadi kesukaan ayahnya. Di wajahmu kulihat bulan, berhasil memecah kesunyian yang terperangkap pada ruang hampa. Kosong. Setiap pagi musik itu yang membangunkan Malik dari tidur, karena memang ayah selalu mengeraskan volume tape agar terdengar ke setiap sudut rumah dan sesekali ia juga ikut bernyanyi.

 

“Di wajahmu kulihat bulan, yang mengintai di sudut kerlingan. Sadarkah tuan kau ditatap insan, yang haus akan belaian,” kali ini Malik yang menyanyikan penggalan lagu itu, untuk ayahnya.

 

Lelaki itu menghela napas, menata perasaan yang begitu kacau. Dipegangnya ujung sendok, ia mulai menyantap makanannya. Mulutnya mengunyah dengan lambat, suara gigi yang beradu menambah bunyi berisik yang ikut andil dalam memecah kesunyian. Sambil makan, dipandanginya pintu utama rumah ini, pintu yang setiap hari ditutup oleh ayah. Tak hanya pintu, tetapi juga jendela beserta tirainya. Tak dibiarkannya kehangatan matahari membelai dengan arogan. Malik terus mengunyah, bahkan mengecap. Semakin mengecap. Itu adalah hal yang tak disukai ayah.

 

“Kau bukan babi, makanlah dengan cara manusia. Jangan jadi biadap!”

 

Mulut lelaki itu berhenti mengunyah, ketika mengingat semua kalimat ayah yang masih mengaung di telinga. Seolah lelaki tambun itu benar-benar duduk di sebelahnya, menatap ia dengan begitu marah. Wajah lelaki itu memerah, dia merasa ingin berteriak. Ketakutan datang dengan begitu cepat, menyiksa dirinya. Malik masih ingat betul, ketika ia mengabaikan kemarahan ayah hanya karena makan sambil mengecap. Ayah menegurnya, tak hanya sekali. Tapi sampai lima kali. Namun Malik kecil tidak menghiraukan. Dia marah, seperti setan yang mengamuk. Ayah menarik kerah baju Malik kecil, kedua tangannya juga diikat. Ayah membawa Malik ke dalam gudang.

 

“Julurkan lidahmu,” pintanya dengan nada kemarahan. Malik kecil terlihat tersedu-sedu, menahan isakan tangis. Kedua mata ayah seperti ingin keluar ketika menatapnya. Malik sangat ketakutan.

“Keluarkan lidahmu,” pintanya sambil memegang Malik. Anak itu masih diam dan mengunci bibirnya. Hilang sudah kesabaran ayah, dia memaksa anaknya untuk membuka mulut. Menarik lidahnya, melilitnya dengan karet gelang. Kemudian mulut Malik ditutup lakban hitam, anak itu sungguh tidak berdaya.

“Jangan meniru binatang, jika kau tak ingin diperlakukan seperti binatang!”

 

Malik masih ingat betul kejadian itu, bahkan dia menyimpan luka itu terlalu dalam. Ayah memang berbeda, dia tak suka dengan apa yang orang suka. Dia tak suka dengan apa yang menurutnya sangat mengganggu. Malik, terjebak pada dimensi dimana ia tak punya punggung untuk pembelaan. Ibu.

 

Sejak berusia sepuluh tahun, ibu telah meninggal. Sekitar sepuluh tahun lalu dan selama itu Malik kehilangan kasih sayang seorang perempuan. Ibu meninggal saat melahirkan anak keduanya yang juga ikut meninggal, Kata nenek, ibu kehabisan banyak darah. Bahkan plasentanya hancur hingga Tuhan membawa ibu bersamaNya. Ayah seperti tak menerima, kerap sekali dia melampiaskan ke marahannya pada Malik. Sejak saat itu, ayah memutuskan untuk tinggal di rumah yang diwariskan kakek. Sebuah rumah bergaya Belanda yang hanya ada dua belas rumah, berada dalam sebuah lingkaran lingkungan yang sudah tidak terurus. Mereka menamai tempat ini dengan sebutan jalan bundar. Di rumah ini Malik dibesarkan dengan cara ayah. Semua hal dilakukannya sendiri. Awalnya ayah begitu kerepotan dan sangat kesal pada Tuhan, karena menggariskan takdir yang begitu kejam. Namun berjalannya waktu ia mampu mengendalikan keadaan sampai meninggal dua hari lalu.

 

Ia merasa sedang melepaskan ikatan yang selama ini meliliti tubuhnya. Hingga lelaki tambun tadi menghembuskan napas terakhir, bahkan sebelum meninggal lelaki itu menatap Malik dengan tatapan yang begitu mengerikan.

 



Malik tak menyelesaikan sarapannya, tiba-tiba saja dadanya terasa begitu sesak. Dia begitu muak dengan keadaan yang sedang terjadi saat ini. Betapa tidak, sampai sedewasa ini ia juga sering mendapat siksaan dari almarhum ayahnya. Bahkan kaki kirinya pernah patah dibuat ayah. Lelaki itu memukulkan kursi kayu pada kaki kiri anaknya, hanya karena  sang anak masuk ke rumah dengan kaki  yang penuh lumpur. Rasanya segala luka itu berteriak penuh kebebasan. Ayah sudah mati, dan tubuhnya lepas dari segala rantai penyiksaan. Ditolaknya kursi makan itu hingga berdecit tak karuan. Ia membuka semua tirai jendela, membuka pintu, membiarkan bias cahaya menerobos ke dalam rumah. Seketika rumah terlihat begitu terang, cahaya matahari berebut masuk dengan girang. Sudah lama Malik merindukan hal semacam ini, namun ayah tak pernah mengijinkannya. Lelaki itu seperti setan yang takut dengan cahaya matahari, mirip adegan di dalam sebuah film horor.

 

“Gelap adalah ketenangan, ketika mati pun kau akan diselimuti kegelapan,” terang ayah waktu itu.

 

Malik menemui kebebasannya. Ia akan begitu bebas mengunyah makanan sambil mengecap, dia juga akan bebas membuka semua pintu dan jendela setiap paginya. Dia akan bebas melakukan apa saja yang tak disukai ayah. Tak akan ada lagi yang memarahinya, tak akan ada lagi yang memukulinya. Lelaki itu tertawa terbahak bahak, dia berlari-lari kecil di dalam rumah. Malik terlihat seperti anak kecil. Begitu bahagianya Malik, sekalipun Tuhan tau jika dia adalah penyembah setan demi membunuh ayahnya.

Ditulis oleh Sawaluddin Sembiring

Lelaki berdarah Karo-Aceh ini begitu tergila-gilanya akan laut, Kota tua, juga hujan. Bergiat di Forum Lingkar Pena Medan dan mendirikan BRAYANBENGKELFILMS untuk mengajak anak muda berkarya positif dengan kamera ponsel.