Dzikir Malam Purnama
Puisi Maulana Hanif
MATAKU MATA KEMARAU
Suara angin menderu kencang di atas gunung kidul
Burung – burung camar menyeruak hinggap di punggungku
Memecah gerimis dalam kegelapan malam
Di gunung ini
Aku merajut mimpi
Melukis wajah senja
Memahat batu-batu karang
Yang tergiur bersama gemuruh ombak di laut sana
Kemudian
Rambutku runtuh
Mataku susuk
Kakiku bengkak
Melihat bulan menangis di ranting kemarau
TANDUK MAJENG
Sketsa malam menusuk cahaya rembulan
Rintik hujan membelah tanah
Membakar laut menjadi doa
Di sini pulau garam
Tempat sapi kerapan datang telanjang
Menyetubuhi tanah-tanah yang retak
Berubah menjadi kepingan emas, logam dan berlian
Di sini pulau garam
Tempat para petani tenggelam dalam badai
Berbantal ombak berselimut angin
Menyirami tanamannya dengan darah dan segumpal nanah
DZIKIR MALAM PURNAMA
Purnama bertengger di matamu
Ibarat sawung galih yang berdzikir tentang senja
Dan kelopak harum bunga
Purnama di matamu
Adalah kerinduan para nelayan
Yang sedang menjala ikan di penghujung malam
Purnama oh purnama…
Getir tubuhku meleleh menyeruak entah kemana
Saat dirimu tenggelam dalam kesunyian
Purnama, aku menyanyikan tentang kehilangan
Tangisan anak rantau
Jeritan para sufi, musnah…!
Purnama ku rangkul dirimu dalam sajak kematian.
DZIKIR NELAYAN
Burung camar datang telanjang
Membakar laut
Menghunjam langit
Seakan tak ada guna untuk hidup
Bongkahan perahu menyeruduk kaki karang
Para nelayan membakar dupa
Bertasbih dengan air mata
Berbaring di atas kasur yang kusut
Kini lautku seperti kabut asap dalam tempurung
Tak ada kehidupan lagi di sini
Hanya isak tangis anak kecil
Dan bekas telapak kaki yang nyaris menggigil
Oh , kemana roh kudusku
Datanglah kemari, telah kusajikan secangkir kopi dari darahku yang anyir
PANEN DARAH
Dari darahmu yang anyir
Telah lahir pendobrak kebenaran
Dan penghancur kemungkaran
Darahmu laksana petir dalam getir tubuhku
Menyeruak ke punggung laut
Mengikis jiwa-jiwa pemabuk
Dari darahmu yang anyir
Sapi-sapi bergegas setubuhi tanah-tanah
Menyeruduk penguasa tak bertuhan dan beragama
Dari darahmu yang anyir
Adalah hasil cocok tanam para petani
Dan wajah burung bertasbih
Serta ibu memasak hati
Kini darahmu ibarat kopi yang kuseduh dalam sepi.
Maulana Hanif, lahir di Sumenep, Madura 07 September 1996, ia merupakan alumni Pondok Pesantren Annuqayah Lubangsa Utara. Dan sekarang masih tercatat sebagai Mahasiswa Filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Beberapa puisinya terkumpul dalam antologi “Suluk Santri Nusantara”.