Topbar widget area empty.
Perempuan Perantau Perempuan Perantau Tampilan penuh

Perempuan Perantau

Oleh Riki Utomi

 

Kau benar-benar tidak mengerti mengapa selalu teringat perempuan itu. Perempuan yang selalu kau temui ketika di sekolah. Sosok ibu beranak satu yang ketika ke sekolah tampak sering  membawa anaknya yang masih berusia empat tahun. Anak yang tidak mirip dengannya, tapi tetap tak kalah manis dengannya. Anak itu yang kadang membuatmu ingin selalu mencubit pipinya. Namun bukan anaknya yang menjadi perhatian besarmu. Tapi ibunya.

 

Kadang kau berpikir, entah mengapa selalu terkenang ibunya? Ya, perempuan muda itu memang sebaya denganmu. Berwajah oval dan berpipi berisi. Bermata indah dipadu kacamata gagang hitam berdiameter bulat-lebar. Berambut lurus dan berdagu lancip. Berjilbab cerah dengan style elegan masa kini. Berlengan berisi dan putih—tapi tidak tampak gemuk, pun badannya, menurutmu selalu tampak stabil. Ia semampai dan—yang paling selalu riang tatkala melihatnya—ketika berjalan tampak begitu anggun sebagai sosok perempuan; melenggang tangannya bagai penari zapin dengan lenggok pinggul yang tampak bergetar-guncang.

 

Tapi lebih dari itu sebenarnya yang kau suka dari sosok perempuan itu. Terlebih pada pribadinya. Dia hadir di sekolah itu sebagai guru bimbingan konseling. Meski kadang tampak santai dan selalu riang gembira di dalam majelis, sebenarnya ia memiliki tanggungjawab tugas yang sangat berat. Adakalanya raut wajahnya berubah terenyuh, akibat dari menangani masalah siswa yang sungguh berat atau kadangkala hal-hal lain (barangkali keluarga?) yang membuatnya tampak terpuruk dan tak bergairah ketika berjalan di koridor sekolah.

 

Namun ia bukan perempuan sembarangan menurutmu. Lihatlah, ketika ia berbicara. Nyaris setiap kalimat yang terlontar adalah berupa makna yang dapat melekat di hati. Kalimat-kalimat itu mengalir laju seperti air. Ketika kau berhadapan dengannya akan terasa sejuk dan bermakna yang membuatmu tidak sia-sia berada di dekatnya. Di sisi lain, ia selalu menyelipkan nasihat agama sambil mengutip bacaan-bacaan ayat suci Al Quran. Sungguh membuat hatimu bergetar dan sejuk.

***

 

Apakah yang lebih membuat kita bahagia ketika menemukan sahabat? Kau selalu menjawab: sikap. Menurutmu hal itu adalah paling mendasar dari sosok sahabat adalah mereka orang yang berpegang teguh pada agamanya. Maka perempuan itu menurutmu sebagai sosok yang teguh pendirian kepada Allah.

 

Kadang ketika mengobrol dengannya, ia larut dalam menjelasan agama, nyaris seperti berdakwah. Kau juga tahu, kini ia telah beralih kepada obat-obat herbal. Menurutnya obat herbal sangat ampuh, selain efisien tidak mengakibatkan efek kimiawi dalam tubuh, begitu menurutnya selalu. Kau pun kadang memesan beberapa jenis obat itu kepadanya ketika sakit perutmu oleh sebab maag tak dapat ditahan lagi.

 

Dalam WA mu ia langsung menjelaskan dengan rinci dan detail segala manfaat obat-obat itu. Sampai pada cara pemakaian dan khasiat lain yang berguna bagi kesehatan tubuh. Dengan bahasa yang lancar, mengalir, dan memikat, ia pun mengakhiri “jangan lupa baca bismilah, Pak.” Atau “Yang penting kita yakin, Pak.” Yang ucapan itu tidak akan pernah kau lupakan. Sangat berpengaruh dan membuat hati kita tenang.

 

Benar-benar dapat memberikan semangat hidup yang hampir hancur. Bukankah seperti itu juga bila seorang dokter ketika menangani pasiennya? Nyaris tidak ada menakut-nakuti bukan? Bahkan hanya dengan senyum, sang pasien akan merasa senang dan dapat sembuh. Begitulah. Maka begitulah ketika kau berhadapan dengannya. Terasa pancaran aura wajah yang menyentuh, masuk ke tubuh, bergulung-gulung ke raga, menyangga, dan menyebar ke aliran darah menjadi cerah dan bersih. Seperti vaksin yang memberikan energi tambahan yang dapat memperdayakan tubuh menjadi vit kembali—begitulah ketika bersama dengannya.

***

 

Sejatinya ia adalah sosok perantau. Kau benar-benar yakin bahwa dialah yang benar-benar sebagai PERANTAU. Yang benar-benar jauh dari keluarga dan hidup di negeri orang lain, tanpa siapa-siapa. Kau tahu persis dari latar budayanya yang kuat sebagai cerminan manusia tangguh. Cerminan manusia keras dan penuh pendirian, hingga menyangga dengan prinsip hidup yang—boleh jadi—tidak semua orang mampu menghadapi. Tidak semua perempuan mampu menghadapi perantauan seperti itu. Lihatlah, bukankah ia hanya berdua dengan buah hatinya? Bukankah segala sesuatu selalu diselesaikannya dengan tenaga dan pikiran sendiri? Bukankah segala kemelut dihadapinya dengan bijak dan bertaji? Itulah sosok perempuan perantau sejati.

 

Di sekolah itu, jejak auranya masih tertinggal, masih terlintas di koridor kelas, membekas ke majelis dan bergaung di malam pekat. Kelak, suatu saat ketika—barangkali—ia tidak berada lagi disini, kau akan kehilangan seorang sahabat terbaik. Sahabat yang membuat hidup lebih berharga dan perlu disyukuri. Sahabat yang mampu memberi mimpi-mimpi masa depan bernilai tinggi. Juga sahabat yang dapat memberi jalan lapang bahwa masih ada seribu jalan untuk dilalui; meski hidup berada dalam keterpurukan.

 

Kau mengaku itu bukan berlebihan, bukan pula lebai dalam menilai. Tapi suatu sikapmu yang mencoba memberi arti pada kehidupan orang lain, dalam hal ini seseorang yang kau anggap berpengaruh dalam hidupmu. Pengaruh? Tentu saja, ucapmu pasti. Kau langsung menjelaskan bahwa pengaruh darinya sangat banyak. Salah satunya, dewasa. Tidakkah ia sebagai sosok keibuan yang mengagumkan? Lihatlah, betapa sejuk ketika ia mendidik anak. Pengaruh itu tertuang dalam latarnya sebagai orang yang bergelut dalam ilmu-ilmu kejiwaan.

 

Ah, sudahlah. Kau pasti tak mampu benar menguraikan latarbelakang ilmu rumit itu yang memang sama sekali tidak begitu kau tahu. Tapi yang terpenting, dari semua yang ada padanya adalah sikap teguh pendirian sebagai seorang perempuan perantau. Sebagai sosok manusia yang mampu tegak kokoh di jalan yang telah ia tempuh sendiri dengan segala peluh dan resah, gundah dan gelisah, kadang jatuh dan lemah, atau hitam dan merah. Semua itu selalu terpancar dari wajahnya yang teduh. Dari gemulainya ia berjalan.

 

Suatu saat kelak, sulit kembali kau mencari sosok seperti dirinya. Seperti mencari audisi aktor-aktor terbaik dalam memenuhi karakter utama pada sebuah film. Dari lima puluhan hanya satu yang didapatkan. Hanya orang yang berpendirian teguh seperti dirinya, yang akan tahu benar arti hidup. Yang tahu benar pahit dan manis, asam getir dan pedas meranggas. Yang paham benar bagaimana bersyukur walau hanya setitik.

 

Adakalanya, hidup itu berputar dan tentu kau yakin sekali hal itu pasti berpihak padanya. Suatu saat ia akan bahagia. Melimpahkan air mata di pangkuan orang-orang tercintanya. Memeluk hangat keluarga yang bergeming muka-muka dalam mata yang berkaca-kaca. Ah, lihatlah, kacamatanya itu wahai perempuan perantau yang gemulai, selalu menjadi khas kekuatannya dalam bentuk ungkap tersendiri.

 

Bilakah hal itu berpihak? Tentu masih bergelut dalam waktu-waktu lain yang siapapun tidak mampu mengetahui, kecuali Allah yang Maha Kuasa. Seperti yang selalu diajarkannya kepadamu untuk selalu bersyukur dan merendahkan diri kepada-Nya, sambil menjalani kehidupan ini apa adanya. (*)

 

Selatpanjang, 2018



untuk Novitri Andriani

 

 

Riki Utomi lahir Pekanbaru 19 Mei 1984. Sejumlah puisinya baru-baru ini termaktub dalam antologi Jazirah: Jejak Hang Tuah dalam Puisi, Puisi untuk Lombok, 999: Sehimpun Puisi Penyair Riau, Brantas: Beduk dan Takbir Syawal, Jejak Cinta di Bumi Raflesia. Buku fiksinya yang telah terbit Mata Empat (2013), Sebuah Wajah di Roti Panggang (2015), Mata Kaca (2017), dan kumpulan esai Menuju ke Arus Sastra (2017), kini tengah menyiapkan kumpulan puisi Amuk Selat dan buku non fiksi Belajar Sastra Itu Asyik. Tinggal di Selatpanjang.

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 5 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*