Topbar widget area empty.
  • Beranda  /
  • Ideas   /
  • Perkembangan Sinema Independen di Indonesia

Perkembangan Sinema Independen di Indonesia

Secara historis, sinema independen Indonesia dipercaya lahir pada tahun 1970-an ketika Institut Kesenian Jakarta (IKJ) berdiri. Pendirian IKJ diyakini sebagai titik awal dari munculnya sinema independen Indoensia karena segera saja banyak mahasiswa IKJ yang antusias untuk membuat film dengan biaya sendiri. Film yang diproduksi para sineas muda independen ini lalu disebut sebagai film pendek. Tercatat ada 125 fil lahir selama 1970-1971. Besarnya perhatian para film-enthusiast pada era tahun 1970-an diapresiasi dengan diselenggarakannya Festival Film Mini oleh Dewan Kesenian Jakarta sejak tahun 1974, di mana format film yang diterima hanyalah seluloid 8mm. Populernya penggunaan seluloid 8mm melahirkan komunitas bernama Sinema 8 dimotori Johan Teranggi dan Norma Benny. Komunitas ini menggunakan kamera 8 mm untuk membuat film dan secara simultan terus mengkampanyekan ke masyarakat bahwa seluloid 8mm dapat digunakan sebagai media ekspresi kesenian. Sayang Festival Film Mini tidak lagi diselenggarakan sejak tahun 1981 karena kekurangan dana.

 

Namun semangat produksi film pendek tidak berhenti sampai di sana. Sepanjang era ini muncul nama-nama yang sukses membuat film untuk konsumsi festival film internasional, salah satunya film Gatot Prakoso yang diundang untuk diputar pada Oberhausen International Film Festival; festival film pendek tertua di Jerman. Pada tahun 1984, sepulangnya Prakoso dari Jerman, berdiri Forum Film Pendek di Jakarta yang berisikan para seniman, praktisi film, mahasiswa dan penikmat film di berbagai kampus. Forum ini lahir untuk meneruskan gagasan Sinema 8 sebagai sebuah gerakan film di Indonesia. Meskipun forum ini hanya bertahan selama dua tahun, sinema alternatif yang diusung sejak generasi ini mampu berbicara dan eksis di dunia internasional, melalui festival film internasional. Sejak Forum Film Pendek terhenti pada tahun 1986, sayangnya, belum lahir lagi kelompok kecil yang menyatakan diri sebagai penggerak sinema independen.

 

Pada era pemerintahan Soeharto Kebijakan dan aturan perundang-undangan banyak menghambat industri film Indonesia terutama perkembangan sinema alternatif di luar industri film arus utama. Walaupun demikian, sinema independen Indonesia bukannya mati suri pada masa Orde Baru. Pegiat-pegiat film di luar film arus utama justru banyak lahir dan berprestasi pada festival-festival film internasional. Sinema independen Indonesia pada kurun waktu ini dapat dikatakan terwakili oleh film pinggiran yang malang melintang di festival-festival film internasional dan/atau ‘sinema ketiga’. Setelah generasi Gatot Prakosa, lahir nama-nama baru yang membawa semangat gerilya dalam pembuatan film seperti Garin Nugroho, Slamet Rahardjo, Nan Achnas, Asep Kusnidar, Eric Gunawan, dan lainnya.

 

Kejatuhan rezim Presiden Soeharto (1966-1998) pada Mei 1998 adalah yang memberikan angin perubahan padaindustri film Indonesia. Film-film yang diproduksi sineas muda Indonesia akhirnya memperoleh ruang ekspresi dan memberikan alternatif tontonan yang ‘baru’ bagi masyarakat. Kuldesak karya Riri Riza, Rizal Mantovani, Mira Lesmana dan Nan Achnas pada tahun 1998 adalah film generasi pertama, dari gelombang produksi film independen, yang didanai secara pribadi dan difilmkan dengan ‘gaya gerilya’ tanpa izin negara yang diperlukan. Kuldesak berhasil menghadirkan 130.000 penonton dari 10.000 penonton yang ditargetkan.

 

 

Festival Film Independen  

 

Setelah Festival Film Mini berhenti diselenggarakan pada tahun 1981, untuk beberapa waktu belum ada festival film yang diselenggarakan untuk mangapresiasi sineas independen Indonesia. Barulah pada 1999, tepat setelah momentum Kuldesak, diselenggarakan berbagai festival film independen sebagai ruang bagi sineas muda yang ingin mempertontonkan karyanya. Tujuan lain dari festival film ini adalah memberikan kesempatan bagi para pembuat film independen untuk membentuk jaringan yang lebih luas. Lebih jauh agi, memenangkan kompetisi pada sebuah film independen terkadang menjadi langkah awal nagi sineas muda pendatang baru untuk dapat menembus industri film arus utama.

 

Mulai tahun 1999, diadakanlah Festivall film Video Independen (FFVII) yang kemudian berganti nama menjadi Festival Film Pendek Konfiden pada tahun 2006. Festival film yang diinisiasi oleh Yayasan Konfiden ini adalah festival film yang diselenggarakan gratis dan mendedikasikan programnya untuk apresiasi film independen lokal (yang sebagian besar memiliki durasi pendek) dari berbagai kota di seluruh jawa. Festival ini diselenggarakan tahun 1999, 2000, 2001, 2002, 2006, 2007, 2008. 2009, dan 2010. Namun mulai tahun 2010, Yayasan Konfiden memusatkan perhatian pada bidang database dan pengarsipan. Bermula dari koleksi film pendek dalam Videotek Konfiden, pengarsipan lalu berkembang ke situs web Film Indonesia.

 

Pada tahun yang sama, 1999, JiFFest (Jakarta International Film Festival) digelar untuk pertama kalinya. JiFFest merupakan festival film berbayar yang menitikberatkan pada pemutaran film-film internasional yang tidak hanya dari Hollywood, tetapi juga negara asing lainnya, seperti Iran, Prancis, Belanda dan Jerman. JiFFest memfokuskan programnya untuk membuka akses masyarakat terhadap film-film alternatif. Diselenggarakan oleh Yayasan Masyarakat Mandiri Film Indonesia (MMFI), penyelenggaraan JiFFest tidak pernah absen dari tahun 1999 hingg 2010. Sayang, pada tahun 2011, JiFFest urung dilaksanakan karena masalah dana. Pembatalannya disebabkan berhentinya dana hibah dari donor asing yang selama ini menjadi komponen utama pendanaan festival tersebut.

 

Masih pada tahun yang sama, diselenggarakan pula Europe on Screen oelh Pusat Budaya Eropa, Lembaga Eropa dan Kedutaan Besar Eropa. Festival ini pada awalnya diselenggarakan dengan nama European Film Festival (1999 dan 2003), dengan menjadi bagian dari JiFFest (2004, 2005 dan 2006). Kemudian festival tersebut menggunakan nama Europe on Screen sejak 2007 dengan diselenggarakan secara mandiri. Berbeda dengan Festival Film Pendek Konfiden dan JiFFest yang diselenggarakan di Jakarta, Europe on Screen mengadakan roadshow pemutaran film-film terpilih di Medan, Bandung, Yogyakarta, Surabaya dan Denpasar. Festival ini diselenggarakan setiap tahun dan hingga kini masih berlangsung.

 

Festival lainnya OK. Video – Jakarta International Video Festival (sekarang bernama OK. Video: Jakarta International Video Festival) yang diselenggarakan oleh Ruang Rupa di Jakarta sejak tahun 2003. OK. Video membuka ruang bagi karya-karya yang membahas fenomena sosial dan budaya di Indonesia dan mancanegara dalam format festival dengan tema spesifik. Festival ini diselenggarakan setiap dua tahun dan masih berlangsung hingga kini.

 

Jika festival-festival di atas tidak mengkhususkan pada genre tertentu, terdapat pula beberapa festival yang secara khusus mengklaim festivalnya sebagai ruang pamer bagi genre film tertentu. Festival film itu antara lain:

  1. Festival Film Animasi Indonesia (FFAI) merupakan festival film khusus animasi bertaraf internasional yang resmi diselenggarakan pada tahun 2001. direktur dari festival ini sejak dari 2001 dipegang oelh Gatot Prakosa. FFAI digelar dua tahun sekali dan masih berlangsung hingga kini.
  2. Q! Film Festival Jakarta merupakan festival yang mengangkat dan mengkampanyekan wacana lesbian, gay, bisexual, dan transgender (LGBT). Diselenggarakan oleh Q-Munity, festival ini diklaim sebagai festival film-film LGBT terbesar di Asia. Walaupun seringkali festival ini diselenggarakan secara tertutup, karena sering menuai kontroversi. Q! Film Festival berhasil diselenggarakan setiap tahun sejak 2002 dan masih berlangsung hingga sekarang.
  3. Festival Film Dokumenter (FFD) Yogyakarta adalah festival film pertama di Indonesia dan di Asia Tenggara, yang khusus menangani film dokumenter. Diselenggarakan oleh Komunitas Dokumenter setiap tahun sejak 2002 hingga kini masih berlangsung.
  4. HelloFest Jakarta, festival film animasi yang digagas oleh Hello Motion Academy — sebuah sekolah singkat membuat animasi,  sejak tahun 2004 dan masih berlangsung hingga sekarang. HelloFest lalu berkembang menjadi hajat terbesar penggemar animasi dan cosplay.
  5. iNAFF (Indonesia International Fantastic Film Festival) pertama kali diperkenalkan tahun 2007 dengan nama ScreamfestIndo. Berganti nama menjadi iNAFF pada tahun 2008, festival ini mengkhususkan diri pada film-film dengan genre fantastic (horror, thriller, sci fi, anime, fantasy). Kegiatan iNAFF mendapat dukungan penuh dari brand rokok, diselenggarakan setiap tahun (meskipun sempat berhenti tahun 2011) dan menggandeng BlitzMegaplex di Bandung dan Jakarta sebagai ruang pamer film-filmnya.
  6. Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF), sebuah festival film internasional yang diselenggarakan oleh JAFF bekerjasama dengan NET-PAC (Networking for The Promotion of Asian Cinema); sebuah lembaga film yang dibentuk oleh pelaku-peaku film dari berbagai negara di Asia dan berpusat di Srilanka yang bertujuan untuk mempromosikan serta mengembangkan perfilman di Asia. JAFF diselenggarakan setiap tahun sejak tahun 2006 dan masih berlangsung hingga sekarang. Festival ini menyebut dirinya sebagai satu-satunya festival film di Indonesia yang memfokuskan diri pada perkembangan sinema Asia serta mendapat dukungan dari yayasan dari kelompok perusahaan rokok.

 

Selain festival-festival di atas yang berskala internasional, terdapat festival-festival berskala nasional yang diselenggarakan oleh komunitas film lokal di kota-kota tertentu, antara lain:

  1. Festival Film Purbalingga
  2. Festival Film Solo
  3. Malang Film Festival
  4. Bali Documentary Film Festival
  5. Festival Film Cianjur
  6. Golden Lens-International Documentary Film Festival
  7. Festival Film Pelajar

 

Festival-festival ini biasanya menggelar kompetisi film (kebanyakan merupakan film dokumenter atau film pendek) di tingkat pelajar dan mahasiwa, mengadakan pemutaran film, dan lokakrya pembuatan film. Meskipun kadang-kadang penyelenggaraan festival film lokal ini tidak konsisten, penyelenggaraan berbagai festival ini telah menciptakan suasana yang mendukung bagi komunitas film dan kegiatan utama mereka, dengan penekanan pada produksi film dan pemutaran tersebut. Setidaknya sineas pemula merasa memiliki ruang pamer untuk mempertunjukkan karya mereka melalui penyelenggaraan festival-festival film.

 

Festival film yang bermunculan sejak tahun 1999 hingga sekarang menjadi tolak ukur dari semakin berkembangnya bentuk sinema independen Indonesia. Jika sebelum reformasi sinema independen diwakili oleh film pinggiran yang berjaya di festival film internasional, kini sinema independen Indonesia telah mampu membangun ruangnya sendiri untuk menyatakan diri pada masyarakat luas. Secara keseluruhan, ada beberapa manfaat yang datang dari kehadiran festival film.



  1. Tempat di mana khalayak umum dapat melihat film alternatif yang berbeda dari jenis referensi film yang biasanya ditonton di bioskop maupun televisi.
  2. Festival film memperkaya kegaraman film Indonesia dan membantu munculnya pembuat film baru.
  3. Memberikan ruang bagi para pembuat film lokal untuk mengekspresikan diri dalam perspektif dan bahasa mereka sendiri; yang menambah kekayaan bentuk, gaya, dan bahasa film Indonesia.

 

(Diringkas dari Mendefinisikan Ulang Film Indie: Dekripsi Perkembangan Sinema Independen Indonesia oleh Idola P. Putri yang dimuat dalam Jurnal Komunikasi Indonesia Vol II No. 2 Oktober 2013).

Foto: Onny Kresnawan

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 5 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*