Topbar widget area empty.

Ludah Kiai Karnawi

Oleh: Norrahman Alif

 

“Alhamdulillah, berkat ludah Kiai Karnawi yang disemburkan ke dalam gelas air putih yang saya bawa dari rumah. Tiba-tiba satu hari kemudian anak saya sembuh, setelah sebelumnya saya usap keningnya dengan menggunakan air suwuk itu, kemudian saya suruh meminumnya sampai tandas.”

 

Menjelang seminggu sesudah warga mendengar kabar kesaksian Karto, dari perkataannya sewaktu bercakap-cakap di warung kopi dua hari lalu itu. Tiba kini terjadi pada Seh, seorang perempuan tua yang sudah lumpuh puluhan tahun akibat penyakit stroke, tiba-tiba ia sembuh total jua berkat ludah Kiai Karnawi yang ia minta lima hari lalu di warung pinggir jalan dekat rumahnya.

 

Akibat semua keajaiban itulah Kiai Karnawi tersebut terkenal dengan semburan ludahnya. Namun ia bukan asli kampung Parse. Ia hanyalah pendatang lama di kampung tersebut. Dan, setiap pasien yang berani bertanya dari mana asalnya, tak satupun kata-kata keluar dari mulutnya perihal kejelasan identitas dirinya yang sebenarnya itu.

 

Kiai Karnawi sendiri tak memiliki tempat yang jelas di kampung Parse ini. Sebab tidur dan jaganya dalam sehari-hari ia habiskan di warung-warung pos ronda di sepanjang jalan perkampungan. Ia tak pernah mandi, tak pernah ganti baju dan celana, dan bahkan dua tahun lebih baju dan celananya tak pernah ia cuci.

 

Jadi setiap para pasien yang ingin meminta ludahnya yang mujarab itu: harus rela demi sebuah kesembuhan, mencium bauh pesing dan apek yang keluar dari pakaian tubuh Kiai Karnawi tersebut.

 

Namun, anehnya Kiai Karnawi tak pernah terlihat sakit selama dua tahun lebih menetap di kampung Parse–dan malah yang hidupnya sehat, makannya teratur, mandinya rutin tiga kali dalam sehari dan olahraganya tiga hari dalam seminggu–masih saja terserang ragam penyakit yang membahayakan hidupnya. Seperti kehidupan para pasien yang selalu Kiai Karnawi sapa itu.

 

Mungkin itulah kelebihan yang diberikan Tuhan untuk Kiai Kyarnawi ini. Bahkan Kiai Karnawi tak pernah meragukan bila-bila rasa haus dan lapar menjerit yang menjerat hidupnya. Sebab selalu saja ada anugerah dari Tuhan berupa nasi jagung dan segelas air putih, melalui pelantara orang-orang kampung yang merasa hidupnya sudah tertolong berkat semburan ludahnya yang mustajab itu.

***

 

Pada suatu malam sesudah azan Isya berkumandang dari masjid Kiai Busahma yang letaknya tidak jauh dari rumah warga. Tiba terlihat satu mobil Avanza telah masuk kemudian berhenti di halaman rumah kepala desa. Kemudian satu orang lelaki yang kira-kira sudah berusia 75 tahunan, turun dengan membuka pintu depan mobilnya. Lalu berjalan lagi ke pintu belakang mobil dengan tangan membuka pintu belakangnya lagi. Tiba keluarlah seorang perempuan dan satu anak berusia 5 tahunan.

 

Namun para tamu di kediaman kepala desa itu, yang sedang duduk di kusris kayu yang melingkari meja panjang tersebut, hanya melihat dengan mulut berbisik penuh tanya: “Siapa itu ya,? Tampaknya orang jauh.”

 

Lalu tiba Kusnandar, sebagai kepala desa di kampung Parse ini, bangkit dari tempat duduknya dengan pandangan menatap tamu yang tampaknya asing di matanya. Kemudian berjalan Kusnandar ke halaman menyambangi para tamu yang kelihatannya satu keluarga tersebut.

 

Dengan langkah sombong lelaki itu berjalan mendahului anak serta istrinya yang mengekor dibelakangnya tersebut. Kemudin mereka berucap salam sebelum naik ke tangga halaman rumah pak kades.

 

“Assalamualaikum…! dengan serentak Kusnandar serta para tamunya itu menjawab dengan tubuh telah berdiri semua, “Waalaikum salam!”

 

Setelah Kusnandar mempersilahkan mereka bertiga duduk di kursi-kursi yang masih kosong itu. kemudian  ia bertanya:  “Maaf, sampean-sampean ini dari mana? “ tampa basa-basi, si istri pun lalu menimpalinya: “Kami dari Jakarta pak,“ mendengar jawaban dari tamu baru itu, para tamu Kusnandar terjekut sambil melirik perempuan tersebut yang sedang melirik rendah pada yang meliriknya itu juga.

 

Berselang beberapa detik setelah semua diam, baru kemudian suaminya itu angkat bicara: “Sebelumnya saya minta maaf telah mengganggu ketenangan pak kades serta para tamu sekalian, perkenalkan nama saya Krisbudiman dan ini istri saya Budiarti (sambil menunjuk istrinya disampingnya), tujuan saya ke sini ingin bertemu seorang kiai pak, saya dengar-dengar dari kawan saya di Jakarta, katanya ada seorang kiai yang mampu menyembuhkan segala penyakit hanya dengan ludahnya.”

 

Setelah panjang lebar Krisbudiman menjelaskan tujuannya dihadapan Kusnandar serta para tamunya itu. semua tamunya hanya bersuara lirih sambil mengangguk-anggukkan kelapa: “Ooo, emmm!”

 

Lalu Kusnandar tiba berujar kemudian setelah usai menyulut rokoknya itu:  “Jadi, tujuan kalian ke kampung ini untuk berobat, iya, iya! Kiai yang bapak sebut itu namanya Kiai Karnawi, kiai itu memang terkenal pak di kampung sini, terkenal dengan ludahnya yang mujarab itu.”

 

Kendati mengangguk-nganggukkan kepala para tamu yang dari Jakarta itu, kemudian Krisbudiman bertanya pada Kusnandar lagi: “Jadi, bisa tidak pak Kusnandar mengantarkan saya ke rumah beliau?”

 

Tiba para tamu-tamunya itu tertawa cekikikan mendengar ucapan orang Jakarta itu, lalu berujar lagi Kusnandar: “Pak, beliau tidak memiliki rumah, sebab rumah beliau adalah warung-warung pinggir jalan, dan halaman beliau adalah jalan itu sendiri.”

 

Akan tetapi para tamu dari Jakarta itu merasa bingung sendiri ketika mendengar sil-silah kehidupan kiai yang mereka tuju untuk dimintai doa itu. Lalu Krisbudiman menanggapinya lagi dengan lagak masih tak percaya pada ucapan Kusnandar.

 

“Apa bapak tidak bercanda yang dikatakan tadi, masak kiai tidak memiliki rumah, ah! Bapak ini bisa melucu juga ternyata.”

 

Semua tiba para tamu itu tertawa lagi labih keras, memecah kesunyian malam yang hampir larut di kediaman pak kedes itu. Lalu seorang tamu yang selalu menemui Kiai Karnawi itu menimpali rasa penasaran seorang tamu dari Jakarta tersebut.

 

“Pak kades tidak bercanda pak, Kiai Karnawi memang tidak mempunyai rumah, apalagi istri! Ia adalah seorang pendatang lama di kampung Parse ini pak.”  “Baik-baik pak saya percaya, lalu mari antarkan saya ke tempat Kiai Karnawi itu sekarang, saya sudah penasaran padanya.”

 

Namun sebelum Kusnandar menerima ajakan orang Jakarta itu, ia melihat jam lebih dahulu di dinding rumahya yang sudah menunjukkan jam 11: 34 WIB, lalu Kusnandar berseru pada tamu jauhnya lagi:  “Ini sudah malam pak, besok saja saya antarkan ke tempat Kiai Karnawi, kasian juga pada anak bapak yang sudah tidur dipangkuan istri bapak  itu.”

 

Namun Krisbudiman tetap ngotot memaksa agar diantarkan malam itu juga, sampai-sampai ia memohon-mohon pada Kusnandar: “Ayolah pak, antarkan saya ke tempat Kiai Karnawi sekarang, saya jauh-jauh hanya untuk bertemu dengannya, soalnya ada sesuatu yang ingin saya minta darinya.”

 

Lama Kusnandar merenung pada akhirnya ia memutuskan untuk mengantar Krisbudiman, walau terpaksa meninggalkan sisa para tamunya di rumahnya. Namun hanya mereka berdua yang berangkat, sedangkan istrinya dibiarkan menunggu di rumah pak kades tersebut, dengan ditemani istrinya Kusnandar yang ia bangunkan dari dalam rumahnya semenit yang lalu.

 

Kemudian berangkatlah mereka berdua dengan mengendarai sepeda motor milik Kusnandar sendiri. Setelah beberapa menit kemudian baru mereka menemukan Kiai Karnawi di warung pinggir jalan yang berdekatan dengan kuburan tua.

 

Ternyata Kiai karnawi itu sedang duduk bersila menghadap ke selatan sambli menghisap sepatang rokoknya sendirian. Sesampainya di sana, Kusnandar serta Krisbudiman tiba turun dari motornya di depan warung itu, dengan Kusnandar kemudian mengucap salam:

“Assalamuaikum!”  kemudian jawab Kiai Karnawi secukupnya, tanpa menatap mereka berdua: “Waalaikum-salam.”

“Kiai, ada temen saya dari Jakarta yang ingin bertemu dengan Anda,” tiba berujar Kusnandar dari belakang tubuh Karnawi yang sedang bersila itu. Namun Kiai Karnawi tetap tak melihat kehadiran mereka, kendati tersenyum mendengar perkataan Kusnandar. Setelah beberapa menit kemudian baru Kiai Karnawi angkat bicara sambil melirik muka Krisbudiman yang sedang duduk disampingnya.

“Saya tahu apa tujuan orang itu datang ke saya, Kusnandar! Temanmu itu menginginkan saya agar memulihkan bisnisnya yang sedang bangkrut di Jakarta sana.”

 

Mendengar perkataan Kiai Karnawi yang tiba menebak  isi tujuan Kribudiman ini ternyata benar. “Kiai kok tahu tujuan sana ke sini? Iya kiai, saya memang mengalami kebangrutan dalam berbisnis, dan kerugian yang saya tanggung sangatlah besar, maka saya minta tolong agar bisnis saya pulih kembali seperti sediakala, tolonglah kiai, saya mohon!” ucap Krisbudiman dengan suara memelas di dekat tubuh Kiai Karnawi.

 

Namun, Kiai Karnawi hanya tersenyum-senyum mendengar rengekan pormohon dari seorang yang ternyata pembisnis itu, lalu ia berujar lagi dengan suara sangat lirih: “Heee… pemuda Jakarta, tinggalkanlah bisnismu yang menjijikkan itu. Sebelum hidupmu di koyak-koyak kematian yang kan datang sebentar lagi.”

 

Kusnandar tiba mengerutkan kulit dahinya yang tertarik ke atas itu, sembari sepasang matanya terbelalak mendengar ucapan remang-remang Kiai Karnawi yang menyeramkan. Akan tetapi Krisbudiman hanya mengigit bibir bawahnya, dengan tubuh tiba bergetar, mendengar sepenggal perkataan kiai itu yang menafsir bisnisnya yang ternyata benar, karena tak ada yang lebih menjiikkan dari seorang pembisnis anak, Krisbudiman itu kaya raya akibat menjual anak-anaknya yang dihasilkan dari persetubuhan dengan istrinya sendiri.

 

Tak lama Kiai Karnawi melanjutkan lagi pembicaraannya dengan suara agak keras, setelah menatap Krisbudiman hanya diam dengan kelapa menunduk ketakutan. “Namun perlu kau ketahui sekali lagi pemuda, tinggalkanlah dunia bisnismu! Sebab usaimu tidak lama lagi akan dicabut Tuhan! Paling dua hari lagi.”

 

Tiba Krisbudiman serta Kusnandar disamping kiai itu terperanjat mendengar ucapan Kiai Karnawi, yang baru dengan terang-terangan menebak  kematian orang Jakarta itu.

 

Setelah lama membisu Krisbudiman: memikirkan ucapan Kiai Karnawi yang menakutkan. Barulah orang Jakarta itu berucap dengan kata-kata terbalut emosi, mencoba menantang kehebatan Kiai Karnawi tersebut.

 

“Kiai… janganlah mendahului kuasa Tuhan, itu hukumnya dosa-loh! Jika memang benar usia saya tinggal dua hari! dari mana anda tahu, ha’ ha!?”

 

Akan tetapi Kiai Karnawi tak bergeming ketika ditanya oleh Krisbudiman dengan nada suara garang. Namun kiai itu hanya baru berkata ketika usai menghela nafasnya yang berbunyi lirih: “Sudah, pulanglah kau ke Jakarta, persiapkan segala keperluanmu untuk menyiapkan datangnya ajal menjemputnya.”

 

Tanpa pamit tiba dengan tergesah dan hati penuh amarah pada sikap Kiai Karnawi, Krisbudiman langsung beranjak dari warung itu untuk segera pulang ke Jakarta dengan mulut sambil misuh-misuh kiai tersebut. Sedangkan Kusnandar sebelum pulang, tetap pamit seperti biasa yang ia lakukan setiap menjumpai Kiai Karnawi.

 

Keesokan harinya, Krisbudiman serta anak dan istrinya itu pamit pulang pada istri serta kepada Kusnandar itu sendiri di kediamannya. Mereka pulang tanpa membawa ludah Kiai Karnawi, yang sebelumnya Krisbudiman yakin bahwa ludah mujarab itu akan memulihkan bisnisnya yang bangkrut. Namun mereka  malah membawa kabar kematian ke Jakarta yang akan menimpa diri Krisbudiman sendiri, yang akan datang dua hari lagi, kata ucapan Kiai Karnawi malam itu.



***

 

Namun ternyata setelah hari kematian yang dikatakan Kiai Karnawi itu tinggal dua hari–dan kini kematian Krisbudiman sudah sampai pada hari yang telah ditentukan oleh kiai terssebut. Ternyata parkataan Kiai Karnawi menjadi pukulan telak bagi hidup Krisbudiman, ia mati pada malam harinya saat memaksa istrinya untuk melayani nafsu jalangnya demi melancarkan bisnisnya lagi, serta jua demi melampiaskan kemarahannya pada sikap Kiai Karnawi dua hari lalu.

 

Sedangkan Kiai Karnawi sendiri jua hilang dari kampung Parse, mungkin akan hilang selamanya, tepat pada hari kematian Krisbudiman yang ia tebak sendiri itu. Padahal, Kusnandar sedang sangat membutuhkannya pada saat itu. Sebab ada salah satu tamunya yang jauh-jauh datang dari Jakarta hanya untuk meminta kemustajaban ludahnya untuk memenangkan pemilihan presiden 2019 mendatang.*

 

Jurang Ara, 2018

 

Norrahman Alif lahir di Jurang Ara, Sumenep-Madura. Menulis puisi dan cerpen di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta ( LSKY ). Beberapa karya saya bisa dinikmati di: Media Indonesia, Tempo, Republika, Kedaulatan Rakyat,  Pikiran Rakyat, Suara Merdeka, Solopos, Minggu Pagi, Radar Surabaya, Merapi, Magelang Ekspres, Bangka Pos, Radar Cirbon, Koran Madura, Majalah Simalaba, Analisa, Rakyat Sultra, Banjarmasin Post, Padang Ekspres, Lampung Post, dll. Email: ainurrahman684@mail.com Akun fb: Norrahman Alif

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 5 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*