Topbar widget area empty.
KOTA YANG TAK PERLU KAU KUNJUNGI Kota yang Tampilan penuh

KOTA YANG TAK PERLU KAU KUNJUNGI

Puisi-puisi  Rizka Nur Laily Muallifa dan Sam Sembiring

 

 

TRANSAKSI DALAM ARTI SEMPIT

Oleh: Rizka Nur Laily Muallifa

 

malam itu, kita bertukar buku

lupa

di saku celanaku, ada gula-gula yang lindu

 

Sala, 2019

 

 

KEADAAN SEDANG RAMAI

Oleh: Rizka Nur Laily Muallifa

 

kita,

sepasang dingin

sembunyi di balik daun mangga

 

dan di pelataran putih itu

kubungkus kelebat angin

seperti membungkus matamu

yang menggagalkan pejam abu-abu

 

Sala, 2019

 

 

KOTA YANG TAK PERLU KAU KUNJUNGI

Oleh: Rizka Nur Laily Muallifa

 

di kota yang tak perlu kau kunjungi

sejarah bergantian ambruk

menimpa jalanan

tak peduli sebagian orang

menyayangkan dan terus melakukan kajian

demi kajian

obrolan demi obrolan

memperkarakan keelokan tinggalan raja masa

sebagai lanskap kota

 

di kota yang tak perlu kau kunjungi

kita tak bisa bicara tentang udara

dan liuk-liuk angin di ketinggian

aroma daun teh yang berkatup biru

 

di kota yang tak perlu kau kunjungi

kita tak sempat memesan mi gelas

dan bercakap-cakap seperti sepasang asing

 

di kota yang tak perlu kau kunjungi

sungguh, segala cemas tak mudah dikremasi

 

Sala, 2019

 

Rizka Nur Laily Muallifa. Pembaca tak tahan godaan. Dalam masa-masa riang pasca menerbitkan puisi bersama beberapa kawan. Buku puisi itu Menghidupi Kematian (2018). Tulisannya pernah tersiar di Koran Tempo, Kedaulatan Rakyat, Solopos, Koran Madura, Radar Bojonegoro, detik.com, alif.id, basabasi.co, locita.co, langgar.co, dan lain sebagainya.

 

 

 

KITA DAN KEBISINGAN

Oleh: Sawaluddin Sembiring

 

Bibir-bibir yang berserak
Mengeluarkan diksi-diksi yang diikat majas
Ruko-ruko di sepanjang jalan membisu
Melampiaskan pandang pada langit
Sedang waktu meninggalkan kalimat-kalimat yang mati suri
Kita dan kebisingan
Adalah cara kerja sepasang kaki
Cara hidup dua lubang hidung
Kita dan kebisingan
Adalah rumah tempat pulang

: mengumpulkan penat

 

 

AKU TAK LAGI MERDEKA

Oleh: Sawaluddin Sembiring

 

Aku duduk diam di tubuh yang kau  sahkan
Kaki ini bergetar, kalah hebat dari sebuah perasaan yang penuh berahi
Tak lagi merdeka
Sesak dadaku
Oh tanahku…
Napas kematian seolah mencekik leher
Mati lah sudah
Aku tak lagi merdeka

 

 



RASA

Oleh: Sawaluddin Sembiring

 

Ibu seperti laut

Tempat segala rasa pulang

: berpulang

 

Sawaluddin Sembiring. Aktif di Forum Lingkar Pena Medan. Bisa ditemui di akun instagramnya @sam_sembiring

Ditulis oleh Sawaluddin Sembiring

Lelaki berdarah Karo-Aceh ini begitu tergila-gilanya akan laut, Kota tua, juga hujan. Bergiat di Forum Lingkar Pena Medan dan mendirikan BRAYANBENGKELFILMS untuk mengajak anak muda berkarya positif dengan kamera ponsel.