Topbar widget area empty.

LELAKI YANG MATI DIMAKAN ANJING

Oleh: Sawaluddin Sembiring

 

Hampir subuh, Ido meninggalkan diskotik murahan yang selalu didatanginya bersama teman-teman. Sebuah diskotik yang ada di tengah pasar, berada di antara deretan ruko-ruko kusam sepanjang pasar. Di sana, tempat segala transaksi terjadi. Tubuh lelaki kurus itu sempoyongan, jalannya tidak stabil, mulutnya juga tak berhenti menceracau. Tak ada yang ditakuti lelaki itu, semua orang dicaci maki. Tak peduli tua atau pun muda, pukul rata dibuatnya.

 

Siapa yang tidak mengenal Ido, pemuda dua puluh tujuh tahun yang pernah membakar rumah orang tuanya. Ayahnya sampai meninggal terkena stroke karena tingkah gilanya. Hari-hari dihabiskannya dengan tidur, saat malam dia keluar bagai kelelawar. Entah sudah berapa banyak perempuan yang ditidurinya, namun menikah pun belum juga. Para tetangga sering mencibir tingkah Ido. Mereka hampir mengusir lelaki brengsek itu keluar dari kampung, agar tidak memberi contoh pada anak-anak dan pemuda kampung. Keras sekali pembelaan ibunya, bahkan ia rela mengiba pada pak Burhan, selaku kepala lingkungan, agar anaknya tidak diusir.

 

“Saya sudah renta, mungkin esok hari mati. Setiap malam merasakan sakit di sana dan sini. Siapa yang akan jadi teman saya, jika saya sekarat tengah malam?” Katanya sambil bercucuran air mata. Tak heran jika para warga menjadi iba dan Ido hanya diberi peringatan, larangan keras. Dia tidak diperbolehkan berkeliaran di kampung. Ibu segera mengiyakan perjanjian itu, karena memang anaknya jarang sekali berkeliaran, apa lagi lelaki itu menghabiskan siang dengan tidur berjam-jam, malam hari ia tenggelam dalam hingar bingar kemaksiatan.

 

Semenjak peristiwa pembakaran rumah yang hanya menghanguskan dapur, sanak saudara Ido tidak lagi peduli dengan kondisi hidup mereka. Terlebih ketika ayahnya meninggal. Keluarga besar bersikeras untuk memenjarakan Ido, lagi-lagi ibu mencegahnya. Dengan alasan yang sama, dengan tangisan yang sama. Sayang betul ibu dengan Ido itu. Mungkin karena kasih sayang yang berlebihan lah Ido menjadi semena-mena. Meminta ini- itu. Malas bekerja. Bahkan menjadi preman yang terkenal di kampung. Sungguh tragis. Padahal, kedua orang tua Ido berharap anaknya menjadi penghafal Alquran. Segala usaha sudah diberikan kepada Ido, namun anak itu sungguh bebal. Tidak ada satu ayat pun yang nyangkut dikepalanya. Lelaki itu jauh sekali dari kata ketaatan dalam beragama.

 

Ido tak pernah ke mesjid, apa lagi membaca Al-quran. Ketika Ramadhan saja dia asyik menyantap mie instan yang dibelinya di warung di depan rumah. Sungguh ironis memang. Capek ibu memperingatinya, lelah ibu memintanya untuk bertaubat. Ada saja alasan yang keluar dari mulut anak itu.

 

“Taubat itu gampang. Hari ini mau mati, baru besoknya bertaubat,” katanya dengan kasar pada ibu.

 

Ido begitu arogan, tak terarah. Mungkin dia melupakan satu hal, jika Tuhan punya apapun yang bisa membuatnya tak berdaya. Bisa saja Tuhan mengambil nyawanya seketika, tanpa menunggunya bertaubat. Sungguh, Ido melupakan semua itu. Dipikirnya manusia muda akan hidup sampai tua, kematian hanya untuk manusia tua.

 

Beberapa anjing mengaung tidak jelas. Ido terus berjalan. Sesekali muntah di got, kepalanya terasa pusing. Rumahnya masih jauh, sedang dia sudah sangat mabuk. Tidak hanya meminum alkohol, Ido juga menelan beberapa pil yang kemudian membuat lelaki itu terlihat seperti anjing. Lidahnya menjulur keluar, badannya bergoyang-goyang, orang-orang bersorak karenanya. Entah apa yang diminumnya. Ketika dosis obat itu hilang, Ido kembali menegak minuman keras.

 

Kini, di hadapan Ido, duduk dua ekor anjing liar dengan lidah yang menjulur keluar. Mata mereka merah, terlihat mengancam. Ido hanya bisa tersenyum.  Dia duduk di antara kedua ekor anjing tadi. Tertawa-tawa, seakan ada seorang komedian yang sedang melawak di hadapannya. Tawanya memecah keheningan, dia kehilangan dirinya. Kedua anjing itu masih setia menemani, duduk sambil mengawasi.

 

“Anjing bodoh, mana tuanmu? Kenapa kau memilih aku jadi tuanmu?” Katanya dengan asal.

“Kau mau apa dariku? Kau mau aku menciummu?” Ceracaunya semakin tidak jelas. Ido tertawa kembali, kemudian muntah lagi. Segala yang dimakannya keluar dari perut, sakit sekali. Matanya berair, mulutnya berlumur ludah, dia terlihat seperti hewan buas. Diambilnya sesuatu dari saku celana, bungkus pil tadi. Ditelannya dua butir. Kemudian, ada tiga anjing di tengah jalan.

 

Ido mengaung, mengerang, seperti seekor anjing yang hendak berkelahi. Dua anjing yang sedaritadi duduk di hadapannya mulai mengantisipasi. Mereka mundur, takut kalau-kalau Ido menyerang. Kedua anjing itu mengatur siasat, mengelilingi tubuh Ido. Ido menggonggong. Kedua anjing itu pun membalas gonggongannya.

 

Di rumah, ibu menunggu dengan resah. Sudah lima kali dia terbangun dari tidurnya, Ido belum juga pulang. Ke mana anak itu, biasanya di atas jam tiga sudah pulang. Perasaan ibu mulai cemas. Sebrutal apapun anaknya, ia masih saja mengkhawatirnkannya. Ibu duduk termenung di ruang makan, menunggu suara anaknya memanggil untuk membukakan pintu. Biasanya Ido akan berteriak. Apa lagi jika ibu lama membuka pintu. Para tetangga akan memakinya, karena merasa terganggu.

 

“Seperti apa sih ibu tidur, sampai harus diteriaki dulu baru bangun?” Katanya dengan ketus. Namun ketabahan ibu lah yang terkadang membuat orang-orang menjadi salut. Beliau sangat sabar dalam menghadapi Ido. Semua perhiasannya dijual untuk memberi makan anak yang pemalas itu. Tukang mabuk, tukang main perempuan. Segala sesuatu yang buruk seakan ada pada dirinya.

 

Sebentar lagi azan subuh berkumandang. Wajah ibu sudah basah akan air wudhu. Ido belum juga kembali. Reaksi pil yang diminumnya mulai hilang. Tidak ada lagi suara lolongan anjing, yang ada hanya sepi dan pekat. Kedua anjing tadi masih setia menemani Ido. Mereka kembali duduk, Ido pun duduk dengan tubuh yang gemetar. Mendadak dia terjebak pada sebuah ingatan lalu, membawanya pada suatu peristiwa kelam. Tentang kebiadaban dirinya.

 

Siang itu, seorang ibu datang ke rumah Ido. Membawa anak gadisnya yang terus-terusan menangis. Ibu itu terlihat sangat emosional ketika bertemu dengan ayah dan ibu. Bahkan isakan tangis perempuan tadi semakin membuat ibunya menjadi kalut.

 

“Ido telah menghamili anak saya,” kata ibu itu dengan dada yang terasa begitu sesak. Kaget ayah mendengar pengakuan itu. Begitu pula dengan ibu. Mereka tak dapat berkata, hanya diam dan mendengarkan segala cerita dari ibu gadis itu. Selepas mereka pulang, Ibu dan ayah meminta penjelasan dari Ido kembali, namun lelaki itu membantah habis-habisan. Dia mengelak dari segala tuduhan.

“Anaknya itu pelacur, Bu. Dia itu perempuan murahan di diskotik tempat aku bekerja.”

“Tapi anak orang sudah hamil karena kamu,” kata ayah dengan sangat marah. Ido tidak terima, dia bertengkar hebat dengan ayahnya. Segala sesuatu terjadi dengan begitu hebat, sampai akhirnya lelaki itu menyiram bensin kesekeliling dapur, kemudian membakarnya. Dia sangat marah, tidak terima dengan perlakuan ayah padanya. Ibu hanya bisa menangis, mengerang-ngerang minta tolong. Untung saja para tetangga cepat menelpon pemadam kebakaran, serta membantu memadamkan api. Sehingga api tidak menyambar ke rumah tetangga.

 

Tekanan darah ayah naik dengan cepat, dia tak sanggup dan terjadilah stroke itu. Hanya tiga hari ayah di rumah sakit, kemudian Tuhan memanggilnya. Tidak ada penyesalan, juga tidak ada kata maaf. Hanya saja, sebelum meninggal, ayah mengatakan sesuatu, “Sebelum dia direjam dirinya sendiri, maka selama itu kematian datang menjemputnya dengan tragis. Suruhlah dia bertaubat!” Kata ayah terbata-bata.

 

Ido tersadar dari lamunannya. Kepalanya terasa semakin pusing, pandangannya jadi kabur. Azan subuh berkumandang seantero kota. Telinga Ido mendengarnya, namun tak mampu berbuat apa pun. Kepalanya semakin pusing, tubuhnya lemah, ada sesuatu yang menghantam kepalanya dari belakang. Tubuhnya ambruk, kedua anjing tadi saling berpandangan.

 

Di dalam  ketidaksadarannya, suara azan subuh masih berkumandang. Masuk ke alam bawah sadar.  Rasanya Ido ingin sekali pergi ke mesjid di dekat rumah, shalat subuh berjamaah. Padahal sebelumnya mesjid seperti tempat yang tak mungkin disinggahinya. Entah bagaimana, dia tidak lagi berada di jalanan, namun  ada di dalam kamarnya. Segera dia bergegas, dibongkarnya lemari kayu yang sudah tak berpintu. Dicarinya kopiah dan kain sarung. Kemudian bergegas untuk mengambil  wudhu. Setelah berwudhu, lelaki itu pun bergegas  menuju mesjid dengan sepeda ontel peninggalan ayahnya.

 

Ido bergetar ketika menaiki sepeda itu, dulu, ayah memberi sepeda itu dengan sebuah perjanjian. Ido harus rajin ke mesjid. Tapi lelaki itu tak pernah mengabulkan keinginan ayah. Hari ini dia ingin bertaubat. Tubuhnya resah, rasa takut selalu menghantui. Ido terus mengkayuh sepedanya, supaya cepat sampai.

 

Azan subuh sudah selesai, namun Ido belum juga sampai ke mesjid. Basah sudah bajunya akan keringat. Lelah sudah kakinya mengkayuh pedal sepeda tiada henti. Lelaki itu tidak juga sampai ke mesjid. Padahal jarak antara rumah dan mesjid tidak begitu jauh. Mengapa sulit sekali untuk Ido sampai ke mesjid. Dia nelangsa, rasa takutnya semakin menjadi-jadi. Ido semakin mempercepat kayuhan sepedanya, dia ingin shalat berjamaah.

 

Tubuhnya semakin lelah, hingga terjatuh pada sebuah parit yang bau. Habis tubuhnya menjadi hitam pekat. Lumpur yang bau itu membalut tubuhnya tanpa ampun. Dia menangis, meratapi dosanya. Dipanggilnya Tuhan. Dipanggilnya ibu. Dipanggilnya ayah. Tidak ada satu orang pun yang menolongnya. Dia mencoba berteriak, namun suaranya tercekat. Dia ingin melangkah pergi, namun kakinya seperti tertanam pada bumi.

 

“Tolong.. tolong…” ucap hatinya. Ido mengingat sesuatu. Ini hanya mimpi, ini hanya mimpi.

“Aku harus bangun. Aku harus bangun.”

 

Sekuat tenaga lelaki itu mencoba bangun dari tidurnya. Dipaksanya kedua mata itu terbuka. Dia sudah tidak kuat dengan segala yang menimpa diri. Terus dia memaksa kedua matanya yang tak mau terbuka agar terbuka. Biar sadar dari mimpi buruk ini.

 

“Tuhan, ijinkan aku membuka mata untuk mengakhiri mimpi ini” katanya dengan wajah memelas.



 

Dicobanya sekali lagi. Dia berhasil. Hal pertama yang dilihatnya adalah kegelapan, juga bau busuk. Banyak binatang tanah yang mengigiti tubuhnya. Ido bangkit dari tidurnya, betapa terkejutnya dia ketika mendapati dirinya sudah terbungkus kain kafan yang kini ada di dalam tanah. Ido menangis, memegangi ujung kakinya yang sudah terikat tali kafan.

 

“Aku sudah mati,” katanya sambil terisak-isak. Kemudian dia berbaring kembali dan semuanya menjadi gelap.

 

Sedang di atas makamnya, dua ekor anjing di malam itu sedang mencoba mengorek gundukkan tanah merah penuh bunga itu. Mereka terburu-buru. Anjing-anjing itu ingin melanjutkan makan malam mereka, menghabisi sisa daging kemarin malam.

Ditulis oleh Sawaluddin Sembiring

Lelaki berdarah Karo-Aceh ini begitu tergila-gilanya akan laut, Kota tua, juga hujan. Bergiat di Forum Lingkar Pena Medan dan mendirikan BRAYANBENGKELFILMS untuk mengajak anak muda berkarya positif dengan kamera ponsel.