Lubang yang Telanjur Menganga lubang yang menganga - Terkait Tampilan penuh

Lubang yang Telanjur Menganga

Sebuah Cerpen karya Zakiyah

 

 

Minggu pagi di Kampung Cisandung masih sama. Ibu-ibu berdaster dengan rambut digelung atau berciput mengerumuni gerobak Mang Iya – tukang sayur yang biasa berkeliling di kampung itu.

 

“Masa ikan asinnya mahal banget, Mang,” protes salah seorang ibu muda. “Jengkol juga mahal.”

“Makan sama garam aja, Bu Nina,” celetuk Ratih.

“Garam juga mahal.”

“Makan angin aja biar gratis,” kata Ratih sekenanya, disambut cekikikan ibu-ibu lain yang sedang memilih dan memilah sayur dan lauk apa yang akan dimasak pagi ini.

Nina mencibir. “Mang, itung berapaeun?”

 

Mang Iya yang sedang geleng-geleng kepala melihat tingkah ibu-ibu, segera memasukkan belanjaan Nina ke kresek sambil menghitungnya. “Dua puluh ribu.”

“Besok, ya,” kata Nina sembari mengambil alih kresek dari tangan Mang Iya.

“Yah, kasbon lagi,” keluh Mang Iya. Dia pun mengambil buku catatan utang dan menuliskannya.

“Si Mamang, tibang dua puluh ribu, juga. Uangnya mau dibayarin dulu ke si Tante, jadi besok saya bayar ke Mang Iya. Tong hariwang atuh[1]. Pasti dibayar,” katanya sambil berlalu.

 

Satu per satu ibu-ibu itu menghitung barang belanjaannya. Sebagian besar dari mereka pergi dan beralasan akan membayar esok hari. Persis seperti alasan Nina. Mau bayar dulu ke si Tante.

 

Setiap pagi, Mang Iya berkeliling kampung mendorong gerobak sayurnya. Untung yang didapat dari berjualan sayur tak seberapa. Jadi kalau ada yang mengutang, malulah dia pada istri karena pulang tak membawa nafkah yang cukup untuk keperluan sehari-hari. Mang Iya melepas dudukuy-nya dan mengipasi wajah yang sudah terasa panas, padahal matahari saja belum betul-betul menampakkan sinarnya. Mang Iya kembali mengenakan dudukuy-nya lalu mendorong gerobak untuk berkeliling kampung lagi.

 

Dengan langkah yang berusaha ditegapkan, pria tua itu mendorong gerobak yang hampir tandas isinya. Dagangannya selalu laris. Mang Iya adalah pria yang paling ditunggu-tunggu kedatangannya oleh ibu-ibu – selain suaminya sendiri. Sayuran yang dibawanya selalu segar dan bagus, kumplit, terlebih harganya juga murah. Yang terpenting lagi, bisa kasbon.

 

Mang Iya mendorong gerobak melewati gang sempit, menuju rumah-rumah lain yang penghuninya sedang menunggu kedatangan Mang Iya. Dan tibalah Mang Iya di depan warung Neng Rina, warung kecil yang menjual aneka gorengan, mi rebus, dan kopi seduh. Biasanya warung Neng Rina menjadi tempat nongkrong para tukang ojek kala menunggu penumpang.

 

Mang Iya meminggirkan gerobaknya, lalu duduk di bangku panjang – di samping seorang perempuan paruh baya.

 

Neng Rina tersenyum manis dari dalam warung. “Mau kopi, Mang?” tanyanya sambil meniriskan pisang goreng di serok. Mang Iya menggeleng dan bilang dia hanya mau ikut duduk sebentar. Kaki Mang Iya pernah cedera karena terjatuh dari motor. Kadang terasa sakit jika berjalan terlalu lama.

 

Mang Iya memerhatikan perempuan di sampingnya. Gayanya seperti orang kota. Pakaiannya necis, gaun panjang berwarna merah dengan manik-manik di lengannya, sepatu hitam mengilat yang Mang Iya taksir harganya pasti mahal dan belinya di luar negeri. Rambut panjangnya yang berwarna coklat, tergerai sepunggung dan dihiasi jepit kecil di dekat telinga. Mang Iya merasa pernah melihat perempuan itu tapi dia tak berhasil mengingat.

 

Mang Iya mengerjap saat perempuan itu menoleh ke arahnya. Perempuan itu tersenyum dan mengangguk – memberi hormat.

Saha[2], Neng?” tanya Mang Iya pada Neng Rina.

Yang ditanya malah terkikik. “Masa gak kenal, Mang?”

Mang Iya memerhatikan perempuan di sampingnya lagi dan menggeleng. “Siapa? Orang sini?”

Perempuan yang diperhatikan pun terkikik. “Mamang, ih. Masa lupa sama saya?”

Kening Mang Iya yang keriput berkerut. Berusaha mengingat lagi. “Siapa? Mamang mah udah tua. Udah susah ingat gampang lupa.”

“Siti, Mang. Siti Nurhayati anaknya Bapak Koswara.”

Mang Iya membulatkan mulutnya sambil mengangkat telunjuk. Potongan-potongan ingatan tentang Siti pun bermunculan. “Siti. Beda sekarang mah. Pangling Mamang. Terakhir ketemu Siti masih sekolah.”

Siti tersenyum. “Apa kabar, Mang?”

“Baik, baik. Duh, cantik sekali, ya, Neng Siti. Kayak artis Korea.”

“Dih, si Mamang tahu juga artis Korea,” sambar Neng Rina. “Emang Siti ini baru pulang dari Korea, makanya jadi mirip artis Korea.”

Siti tertawa kecil. “Kalian bisa aja.”

“Eh, jadi gimana tadi tuh?” tanya Neng Rina, disambut oleh penjelasan Siti tentang sesuatu. Keseriusan mereka membuat Mang Iya penasaran dan ikut nimbrung. Neng Rina manggut-manggut di akhir penjelasan Siti.

“Mang Iya, Siti ini kan baru pulang dari Korea. Di sana tuh, dia kerja di restoran sambil bisnis. Dan sekarang udah sukses. Keliatan tuh dari penampilannya juga beda, ya sama saya,” Neng Rina terkikik sebentar, lalu melanjutkan. “Terus katanya dia mau nawarin ke orang sini buat pinjem modal. Gak pakai bunga. Cicilannya dua minggu sekali. Saya pikir lumayan, lho, Mang. Dari pada orang sini berurusan melulu sama si Tante.”

“Wah, lumayan atuh, ya,” komentar Mang Iya.

“Pinjaman tanpa agunan. Cuma kasih fotokopi KTP,” terang Neng Rina lagi.

“Biasanya kalau si Tante minta foto 2×3. Nah, Siti nanti foto orangnya di HP langsung. Jadi gak usah keluar biaya cetak foto.” Mang Iya manggut-manggut mendengar penjelasan Neng Rina yang sudah seperti juru bicara Siti.

“Saya niatnya mau bantu warga sini buat buka usaha. Kalau ada yang kepentok modal, saya bisa kasih pinjam modal. Biar ibu-ibu di kampung ini punya penghasilan tambahan tanpa harus kerja ninggalin rumah,” tambah Siti. “Lagian saya juga, kan, orang sini. Ya, bantu saudara sekampung gitu.”

“Bagus, tuh, Neng. Niat yang mulia. Tapi orang sini sudah telanjur pada minjem ke si Tante.”

“Tante itu siapa?”

 

Siti melihat Neng Rina bicara tanpa suara, namun dia bisa membaca gerak bibirnya yang mengatakan, “Rentenir.”

***

 

Neng Rina bersungut-sungut. Sepagi ini ada orang mengetuk pintu rumahnya hanya untuk meminjam uang dua puluh ribu.

 

“Buat bayar si Tante, besok diganti.” Nina. Orang itu Nina. Dan kalimat itu menjadi santapan telinga Neng Rina setiap pagi.

“Saya lagi gak pegang uang, Bu. Kalau ada pun, ini untuk saya belanja ke pasar.”

“Dua puluh ribu aja, Neng. Masa gak ada. Gak percaya banget besok diganti.”

 

Apa katanya? Tak percaya? Ya jelas. Siapa yang mau percaya pada orang yang sudah mengatakan hal sama berpuluh-puluh kali tapi diingkari. Neng Rina pernah memberikan pinjaman pada Nina, percaya saja besoknya akan diganti. Namun sampai sebulan, uang dua puluh ribu itu hanya kembali setengahnya. Dan dia meminta lagi kepercayaan. Hah, mimpi, batin Neng Rina.

 

Kebiasaan gali lubang tutup lubang yang sudah mengakar sehingga sulit dihilangkan. Kadang Neng Rina harus mengurung diri di rumah sepulang dari warungnya, hanya karena malas meladeni orang seperti Nina. Neng Rina bangun pagi setiap hari, pergi ke pasar dan membuat adonan bakwan, pisang goreng, dan lain-lain. Berjualan di warung dari pagi sampai sore. Lelah yang dirasa kadang tak sebanding dengan keuntungan. Lalu, orang itu dengan entengnya meminjam uang yang susah payah Neng Rina dapatkan dari berjualan seharian. Sebagai manusia biasa, tentu saja Neng Rina merasa kesal.

 

“Dia yang ngutang, saya yang ngumpet. Kan lucu,” katanya pada Siti.

Siti tersenyum simpul. “Kemarin saya sudah bertemu Nina. Saya tawarkan pinjaman. Dia tertarik. Saya kasih syarat, uang yang dipinjamkan harus betul-betul dipakai usaha. Jadi nantinya bisa dipakai bayar cicilan.”

“Dia setuju?”

Siti mengangguk.

“Pinjam berapa?”

“Sepuluh juta.”

Neng Rina hampir tersedak mendengarnya padahal dia tak sedang minum. “Se-sepuluh juta? Gak salah? Banyak banget. Kalau dia gak bayar gimana?”

“Ya dosa dia,” jawab Siti dengan enteng. “Saya mau ibu-ibu di sini tuh diam di rumah, tapi punya penghasilan. Yah, seenggaknya kalau mau jajan atau beli lipstick gak usah melulu minta suami. Saya gak mau ada yang pergi lagi ke luar negeri cuma buat kerja, ninggalin suami dan anak.” Raut wajah Siti mendadak sendu. Neng Rina tahu apa yang dia maksud. Dia sedang membicarakan dirinya. Waktu Siti kecil, ibunya pergi merantau ke Arab Saudi menjadi TKI karena ayahnya yang hanya pekerja serabutan, terbilang memiliki gaya hidup yang agak tinggi. Dia merasa tak pernah cukup sehingga rela mengutang pada rentenir. Akibatnya, utang semakin menggunung sedangkan penghasilan sehari-hari hanya cukup untuk makan dan bayar sekolah. Pak Koswara meminjam kepada rentenir lain demi membayar utang pada rentenir yang satunya. Begitulah terus sampai ibunya Siti memutuskan untuk menjadi TKI agar bisa membayar utang.

“Gak cukup sampai ibu. Saya pun harus ikut-ikutan mencari uang buat bayar utang Bapak. Ya Alhamdulillah dapat pekerjaan yang layak dan enak di Korea. Tapi, sampai seusia ini saya jadi belum…,” Siti menggantung kalimatnya.

Mendapat jodoh, sambung Neng Rina dalam hati. Dulu sewaktu ibunya ke Arab Saudi, Bapaknya malah kawin lagi. Sampai ibunya stress dan sakit. Lalu meninggal di sana. Siti lah yang harus melanjutkan perjuangan ibunya karena bapaknya tak henti berurusan dengan rentenir.

 

Suasana hening yang tercipta di antara keduanya pecah saat ada ibu-ibu lewat sambil menggosipkan Nina.

“Yang bener?”

Tablet keluaran baru kayaknya, bagus banget.”

“Dapat uang dari mana si Bu Nina?”

 

Semakin ibu-ibu itu menjauh, suaranya semakin samar. Namun kalimat barusan sudah cukup terdengar dan terngiang di telinga Siti. Beli tablet? tanya Siti dalam hati. Waktu pinjam uang Nina bilang akan menggunakannya untuk modal berjualan bubur dan kue. Siti dan Neng Rina saling tatap. Nanar.

***

 

Tiga bulan setelah Nina meminjam uang dari Siti, kampung digegerkan dengan kabar bahwa Nina telah mendaftarkan diri untuk menjadi TKI. Entah ke mana negara tujuannya. Yang pasti dia membawa misi melunasi utang yang malah semakin menggunung. Urusan dengan si Tante belum selesai, dia tambah berurusan dengan yang lain. Uang dari Siti yang seharusnya bisa untuk membayar utang dan membuka usaha, entah ke mana terbangnya.

 



Hati Siti gerimis. Miris. Membayangkan lintah-lintah itu menyeret orang-orang – tak hanya Nina – ke dalam lingkaran setan yang tak ada habisnya.

Entah sampai kapan.

***

 

Zakiyah lahir di Bandung 12 April 1991. Sekarang tinggal di Cihampelas, Bandung Barat. Aktif menjadi pengajar di PAUD. Cerpennya “Udara” dan “Orang yang Tak Punya Wajah” menjuarai Lomba Menulis Cerpen Ekspresi Sastra Siliwangi di IKIP Siliwangi Bandung.

 

[1] Jangan khawatir

[2] Siapa

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

[wpw_follow_author_me author_id = "5"]