Log masuk

empat × satu =

IBUKU RAJIN MENCUCI MASA LALU ibu - Terkait Tampilan penuh

IBUKU RAJIN MENCUCI MASA LALU

Puisi-puisi Andi Jamaluddin & Erwin Setia 

 

KUTITIPKAN MUARA LAUT

Oleh: Andi Jamaluddin

 

Di teluk waktu
Kutitipkan muara laut
Maka kayuhlah gelombang
Sejauh angan
yang membentangkan cahaya
Sejajarkan arah angin
dengan kemudimu
bukan pada sehaluan
derasnya arus bayang-bayang

 

Bukankah kau adalah noktah layar
Yang dibentang oleh daratan
Ketika cadik menoreh luka
Menjadi kerlip warna

 

Biarkan aku, di sini saja
Duduk menatap warna langit
Di senyum anak negeri

 

//ajarak/25.03.18/22.26/pgt.tanbu//

 

 

KUINGIN

Oleh: Andi Jamaluddin

 

selalu ingin, ku
berada di antaramu
tapi tak bisa
lepuh kaki
ada kram
menggelayut
entah, kapan
ada terapi
penawar
antara humamu
dan ladangku

 

//ajarak/30.03.18/22.34/pgt.tanbu//

 

  

MENARILAH : WAHAI

Oleh: Andi Jamaluddin

 

menarilah engkau segemulai tangan arus

yang meliuk di tikungan sungai

tinggalkan saja aku di tebingnya

merayap sendiri akar-akar terpendam

menampi keruh

karena hempas riak

 

menarilah : wahai, gemerincingkan harapan

yang membakar keringat alurnya cerita

dalam tungku langkah

sepanjang masih siang, ini

ketika senja, di kuala nanti

kita pasti bertemu lagi

pada kelelahanmu sendiri

 

//ajarak/11.01.18/12.26/pgt.tanbu//

 

Andi Jamaluddin, AR. AK. Lahiran di Tanah Bumbu. Meski usianya sudah setengah abad lebih, terus membimbing dan mendorong anak-anaknya yang tergabung di Komunitas Bagang Sastra Tanah Bumbu untuk terus berkarya, baik dalam bentuk puisi, cerpen, naskah drama, dan essai tanpa mengenal waktu dan status mereka, mempelopori dan mengayomi serta selalu mendampingi pada kegiatan seni di luar daerah. Terbukti mulai Tahun 2015 hingga sekarang cukup banyak menerbitkan karya-karya mereka. Sudah 3 tahun antologi puisinya tergabung di Negeri Poci. Selain itu, dia sendiri telah menerbitkan puluhan karya-karyanya dalam bentuk antologi, baik lokal maupun nasional. Berkali-kali pula menjadi pemenang lomba di tingkat nasional, bahkan pada Tahun 2012 menerima hadiah seni dari Geburnur Kalsel. dan Hadiah Seni Astaprana dari Kesultanan Banjar Tahun 2016. Sekarang tinggal di Desa Batuah Kec. Kusan Hilir, Pagatan, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalsel. Fb: Jarak Fajar.

 

 

 

IBUKU RAJIN MENCUCI MASA LALU

Oleh: Erwin Setia

 

ibuku rajin mencuci masa lalu di kamar belakang

dengan tirta paling suci dari pelupuk mata

“tak ada kenangan yang bisa dimusnahkan

tapi paling tidak tiap hal bisa dijinakkan,”

suara ibu seperti rintik gerimis terakhir

mudah terbenam bersama genangan-genangan yang sudah

 

ibuku menjemur masa lalu di halaman depan

“sebagaimana waktu membakar rindu, biar pula

waktu mengeringkan masa lalu yang pilu,”

suara ibu seperti angin di ujung subuh

mendesir lalu lenyap seperti tak pernah ada

 

Cibiru, 2018

 

 

BERKHALWAT DENGAN PUISI

Oleh: Erwin Setia

 

pada lembar penyair terakhir di muka bumi

kubaca satu bait serupa sabda suci:

 

jika seorang laki-laki berduaan dengan puisi

maka orang ketiganya adalah setan penjelma sepi

 

Cibiru, 2018

 

 

KECEMASAN DAN DIRIMU

Oleh: Erwin Setia

 

kecemasan menggenggammu seperti tangan ibu

pada satu penyeberangan di masa kecil,

namun ia tak hendak menyelamatkanmu dari apa-apa

dan tak pernah mendoakanmu masuk surga

 

kecemasan menggenggammu semakin erat

seolah ingin abadi melekatkan diri denganmu,



kau berontak dan mengamuk seperti banteng

tapi di ruang ini tidak kautemukan siapa-siapa

 

selain kecemasan dan sehelai jiwamu yang mengawang

di sini semuanya sudah lama mati.

 

Bandung, Maret 2019

 

Erwin Setia lahir tahun 1998. Penikmat puisi dan prosa. Kini menempuh pendidikan di Prodi Sejarah dan Peradaban Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media seperti Koran Tempo, Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Minggu Pagi, Solopos, Haluan, Koran Merapi, Padang Ekspres, dan Detik.com. Cerpennya terhimpun dalam Dosa di Hutan Terlarang (2018). Bisa dihubungi di Instagram @erwinsetia14 atau melalui surel: erwinsetia2018@gmail.com.

Ditulis oleh Sawaluddin Sembiring

Lelaki berdarah Karo-Aceh ini begitu tergila-gilanya akan laut, Kota tua, juga hujan. Bergiat di Forum Lingkar Pena Medan dan mendirikan BRAYANBENGKELFILMS untuk mengajak anak muda berkarya positif dengan kamera ponsel.