Topbar widget area empty.

Julia Pulang ke Rumah Ibu

Oleh: Sawaluddin Sembiring

 

Julia begitu sibuk mengemasi pakaiannya ke dalam koper. Besok, dia akan pulang ke rumah ibu. Rumah yang telah ditinggalnya selama dua tahun ini. Belakangan, hubungan ibu dan anak itu tidak berjalan harmonis. Banyak pendapat yang tidak sejalan, namun pilihan yang membuat Julia memutuskan untuk pergi bersama Kardo. Lelaki berseragam loreng yang menikahinya dua tahun lalu. Kini Julia sedang mengandung, usia kandunganya pun tak lagi muda. Hampir Sembilan bulan. Besok, lelaki bertubuh gagah itu akan pergi ke Cimahi selama enam bulan, melanjutkan pendidikan militernya. Tinggallah perempuan berlesung pipi satu itu sendiri di rumah. Sungguh tak tenang Kardo meninggalkan istrinya sendirian di rumah. Hampir semalaman mereka berbicara, mencari jalan keluar yang terbaik.

 

Julia menolak keras ketika mendengar keinginan suaminya, yang meminta dia untuk pulang ke rumah ibu. Langsung saja kenangan terakhir sebelum mereka berpisah menghantui dirinya. Bagaimana bisa dia pulang dalam keadaan hamil besar seperti itu, sedang ibu saja menolak keras pernikahannya dengan Kardo.

 

“Bagaimana jika ibu malah mengusirku?” kegelisahan Julia terlihat begitu jelas. Bukan tak mau, ada rindu juga yang tersembunyi dibalik keegoisannya. Dipandanginya dengan lekat wajah Kardo, dia berharap lelaki itu membatalkan niatnya.

“Aku percaya, setiap perempuan memiliki naluri keibuan yang begitu kuat. Yakinlah, ibu tidak akan mengusirmu,” Kardo mencoba meyakinkan istrinya, agar kekhawatiranya segera terselesaikan.

Hampir selesai semua pakaian yang akan dibawanya ke rumah ibu masuk ke dalam koper. Ditutupnya dengan rapat, sambil berharap semua akan baik-baik saja. Dari luar terdengar suara motor GL Pro berhenti di halaman rumah yang banyak ditumbuhi bunga kertas beraneka warna. Kardo turun dari motornya, dia terlihat semakin berwibawa dengan seragam militernya. Julia menghela napas, segera dia keluar dari kamar, menemui suaminya. Air wajahnya sedikit keruh saat menyambut kepulangan Kardo, lelaki itu paham jika istrinya masih ragu dengan keputusan yang mereka sepakati kemarin malam.

“Semuanya akan baik-baik saja,” peluknya. Begitu hangat. Dekapan Kardo selalu berhasil membuat perempuan itu tenang dan nyaman.

***

 

Sudah hampir tiga puluh menit Julia duduk di peron itu. Kereta api yang akan membawanya dari kota Pematang Siantar menuju Medan akan tiba tiga puluh menit lagi. Kardo sudah tidak terlihat di stasiun, tadi selepas membeli tiket kereta api, lelaki itu segera pergi. Komandan ingin bertemu dengannya segera, sehingga meninggalkan Julia sendiri di stasiun. Hatinya begitu berat, rasanya tak ingin melepaskan pegangan tangan Kardo. Namun keadaan memaksa, mereka harus berpisah sejenak.

 

“Seperti biasa, biarkan aku yang menelponmu nanti. Tunggu kata halo dariku, ya” ucap Kardo sambil menyimpul senyum.

“Kita akan kembali pulang, kan?”

“Setiap langkah yang meninggalkan rumahnya, pasti akan kembali pulang. Seperti dirimu hari ini Julia, kau memunguti langkahmu lagi, untuk pulang ke rumah ibu,” kata lelaki itu sambil memeluk istrinya. Julia menangis dalam pelukan itu.

“Sampaikan salamku untuk ibu ya,” bisik lelaki itu. Pelukan mereka terlepas, Julia melambaikan tangan, menatap tubuh Kardo yang semakin ditelan keramaian. Tangisnya masih terus pecah, dia pergi atau pun pulang dengan membawa sejuta rindu.

 

Klakson kereta api menyadarkan lamunan Julia, bersiap dia untuk segera naik ke gerbong. Ramai orang yang akan pergi ke Medan, perlahan dia menaiki anak tangga besi yang cukup tinggi itu. Beruntung seorang ibu membantunya naik, membawakan barang bawaannya. Sungguh, dia terbayang wajah ibu, ingin rasanya dia memeluk ibu itu. Mewakili ibunya untuk menuntaskan rindu dan maaf yang lama terpendam.

 

Kereta api mulai meninggalkan stasiun. Begitu juga dengan Julia, ini kali pertema dia meninggalkan kota bunga ini. Sungguh, pulang ke rumah ibu adalah hal yang selalu dirindukannya. Namun tak pernah ada keberanian, jika rindu, dia melepaskanya lewat selembar foto yang dibawanya sebelum meninggalkan rumah. Kereta terus melaju, semakin jauh meninggalkan stasiun. Di perjalanan, ingatannya akan ibu hadir tanpa diminta. Ada satu adegan di masa lalu yang sampai kini masih diingatnya. Tentang lesung pipi yang selalu mendapat pujian dari suaminya. Sungguh, ini bukanlah sebuah lesung pipi. Melainkan bekas luka akibat terjatuh dari atas pohon. Ketika itu usia Julia masih sangat kecil, sekitar enam tahunan. Seperti anak seusianya, Julia juga sedikit nakal. Selalu melarikan diri setiap kali ibu memintanya untuk tidur siang. Tidur siang sangat membosankan, bermain sangat menyenangkan. Berulangkali ibu memperingatinya agar tidak selalu memanjat pohon jambu biji yang ada di pinggir parit di depan rumah. Memang pohon itu tidak terlalu tinggi, namun Julia kecil sangat suka berayun-ayun di batang pohonnya. Malang, batang pohon itu patah, setelah puluhan kali diayun-ayunkan.

 

Habis tubuhnya kecilnya penuh dengan lumpur dan noda darah di wajahnya. Ramai orang yang menolongnya, bergegas membawanya pada klinik yang tak begitu jauh dari rumah. Setelah bersih dari lumpur, terlihat ada luka yang lumayan besar di pipinya dan bekas luka itu lah yang akhirnya terlihat seperti lesung pipi. Ibu tak habis pikir, dia hanya diam saja melihat anak gadisnya sedemikian. Padahal ibu terkenal begitu judes, mungkin saat itu dia sudah kehabisan kata untuk memarahi anaknya.

***

 

Sudah tiba. Taksi yang membawanya dari stasiun pun baru saja pergi dengan cepat. Tinggallah Julia sendiri mematung di depan rumah bergaya Belanda. Rumah yang didapat almarhum ayahnya ketika bekerja. Lama dia mematung di depan rumah itu, membiarkan kenangan yang pernah ditinggalinya menyapa, rebutan memintanya untuk diceritakan. Ada rasa sesak di dadanya, tak sanggup dia ketika bertemu dengan ibu nanti. Apa yang akan dikatakannya, masih perlukah kalimat basa-basi untuk menyenangkan ibu? Atau malah semua akan terasa kaku, seperti tidak pernah terjadi sesuatu? Entahlah, menerka ini dan itu membuatnya semakin takut.

 

Tidak banyak yang berubah dari rumah ini. Di halaman rumah masih banyak bunga-bunga hias koleksi ibu, hanya saja halaman samping terlihat rumput liar yang cukup tinggi. Warna rumah juga masih sama saat dia pergi, bahkan aroma pertengkaran dengan ibu tempo itu tercium hangat. Diketuknya pintu kayu itu beberapa kali. Kemudian dia menunggu seseorang membuka pintu untuknya. Diam dia menanti, walau sedari tadi jantungnya berdebar tak karuan.

 

Satu menit, dua menit, hingga lima menit, pintu kayu itu tidak juga terbuka. Julia mengulangi ketukannya. Kali ini sedikit lebih keras. Berhasil, tak berapa lama pintu terbuka lebar. Di sana, berdiri adiknya. Lelaki itu menatap lekat ke wajah kakaknya. Dibelakang lelaki itu terlihat seorang perempuan yang duduk di kursi roda.

 

“Ibu,” ucap Julia pelan. Ingin segera dia masuk dan memeluk ibunya. Namun sang adik mencegahnya, ibu tak mau bertemu dengannya. Pecah air mata Julia, terjadi sudah ketakutannya.

“Ibu tak pernah berharap kamu pulang,” kata ibu dengan tegas. Adiknya hanya diam.

“Maafkan Julia, bu. Maafkan Jul,” isak perempuan itu. Namun ibu masih terlihat keras, tak dipandangnya wajah anaknya yang terlihat sembab karena pengaruh dari kehamilannya.

“Ibu sudah memaafkan, tapi tidak untuk pulang.”

“Ampuni Jul, bu. Ampunkanlah, bu”

“Kita sama-sama sudah menentukan pilihan hidup. Biarlah rumah ini sebatas lahirnya kenangan tentangmu, tapi tidak untuk mencipta kenangan baru bersamamu,”

“Begitu keraskah hati ibu, kini?” ungkapnya dalam tangis.

“Bukankah ini adalah pilihan, Julia? Seperti kau memilih meninggalkan agamamu, seperti kau memilih untuk menikah siri dengan suami orang, dan seperti itulah jarak antara kau dan ibu. Pergilah! Kau bukan anak ibu lagi,” usir ibu dengan begitu terbakar amarah.

 

Julia tidak percaya, jika kalimat menyakitkan itu mampu keluar dari mulut ibu. Remuk hatinya, menangis dia sejadinya.

 



“Tutuplah pintu itu,” pinta ibu pada adik Julia. Berat rasanya hati sang adik untuk memperlakukan kakaknya sedemikian, namun keputusan ibu adalah perintah. Julia memperlihatkan wajah yang sendu, tak ingin dia diperlakukan seperti itu. Ibu pergi dari depan pintu, membiarkan segala kenangan tentang anaknya. Pipinya basah, menangisi segala hal yang telah diputuskannya.

 

Belum benar tertutup rapat pintu kayu itu, Julia merasakan sakit yang amat sangat. Air ketubanya pecah sudah. Bayi di dalam perutnya segera keluar. Dari dalam, suara dering telepon menggema ke setiap sudut ruangan. Tidak ada yang mengangkat gagang telepon itu, mereka sedang sibuk, hingga lupa mengangkat gagang telpon yang sedang berdering itu. Yang terdengar hanya suara ambulans yang mengaung-ngaung.

 

Pertengahan Januari 2019

Ditulis oleh Sawaluddin Sembiring

Lelaki berdarah Karo-Aceh ini begitu tergila-gilanya akan laut, Kota tua, juga hujan. Bergiat di Forum Lingkar Pena Medan dan mendirikan BRAYANBENGKELFILMS untuk mengajak anak muda berkarya positif dengan kamera ponsel.