SEBELUM RINDU MEWARNAI LANGIT HATIMU sukma2 - Terkait Tampilan penuh

SEBELUM RINDU MEWARNAI LANGIT HATIMU

Puisi-puisi Budi Setiawan dan TM Reza Fahlevi

 

SURAT CINTA BUAT RINDU

Oleh: Budi Setiawan

 

Hai, rindu apa kabarmu?

Aku yang telah jauh dari tanah Kedu

Masihkah engkau mengingatku?

 

Dulu, di gendongan ayah

Engkau sering menggodaku, membujuk dan erayu aku

Jadi petani saja seperti ibu Sri

Tiap pagi mencari jejak matahari

Ditemani biji-biji padi di ladang nenek moyang

Lalu, hujan memelukmu

Memanggil-manggil namamu rindu

Seperti cinta yang betah berjaga di hatiku.

 

Kini,

Aku tak tahu lagi harus sapa apa

Karena aku pun tak tahu kapan suratku bakal kau eja

Sekedar lembar pengganti jumpa

 

Mungkin saat kau baca

Aku tengah berada di “Malaysia”

Bukan sebagai wisatawan atau wartawan amatiran

Tapi, tenaga kerja ilegal di sana

Aku sedang sembahyang air mata

Untuk mengenangmu, di tanah Kedu

Mengenang ayah dan ibu bagi segala rindu

 

Jangan kau tanya

Mengapa aku ingin menulis buatmu sepucuk surat cinta

Seperti saat pertama rasaku menggelora

Mendengarmu fasih berbahasa jawa

Percayalah,

Hatiku ini terbuat dari kokok ayam cemani di tanah kedu

Yang kau dengar setiap hari sehabis sembahyang puisi

 

Dan,

Bolehkah sejenak kita melupakan jarak

Karena aku akan pulang, meski sekedar sebagai bayangan

Aku ingin mengajakmu kondangan ke Parakan

Mengenakan batik  Temanggungan

Yang tawarkan kehangatan dan kerinduan

 

Lalu, aku akan membawamu ke makam Ki Ageng Makukuhan

Menghayati setiap hati

Orang-orang yang kesepian di kuburan

 

Atau kau ingin ke pasar kembang

Menikmati jajanan leluhur yang manis

Sembari menikmati Kopi robusta-arabika dan lintingan tembakau srintil

 

Di tanah Kedu

Kita akan bahagia

Menyaksikan kuda lumping, topeng ireng, kubro Siswo, Dan warokan

 

Sungguh,

Aku akan pulang, meski sekedar sebagai bayangan

Mengunjungimu, di tanah Kedu

Yang akan tetap menjadi sumber kehidupan

Bagi segala rindu

 

Bersama ayah dan ibu

Dan juga kenangan

Yang melekat hangat seperti hati

Gunung Sumbing Sindoro itu

 

 

SEBELUM RINDU MEWARNAI LANGIT HATIMU

Oleh: Budi Setiawan

 

Sebelum rindu mewarnai langit hatimu yang pucat,

Biarkanlah bayangan cinta bermunajat,

bertasbih dan bersholawat

menyusuri sungai-sungai terdalam

melewati laut-laut yang paling curam.

Di mana kau akan temukan sebuah jalan

Pulang yang kemudian ingin sekali

kau tenggelamkan,

pada sauh bibirmu,

bibir hitam-karam itu.

Bibir yang terkikis gelombang pasir

meruntuhkan lukamu

Yang berlari meninggalkan

Nuh diatas perahu hanyut tertelan tulah ragu.

hatimu lebam-tenggelam di dasar samudera,

ikan kesepian yang kau jala pun tak pernah luput dari maut

dan kau harus pulang di mana keajrihanmu ingin sekali

mengajak bercumbu di buhul ingatanmu.

 

Sementara

Peta air matamu tak sanggup

lagi menyigi, mana air mana api.

Hanya amanat sepi,

yang senantiasa bersemayam di memar pipi.

 

Rindumu kini hanyalah debu revolusi

yang terbakar di bibir kenangan

Sejak buah terlarang itu ranum dan

Engkau yang sengaja menjatuhkan diri

bersimpuh mencium dua puluh tujuh kali

sajadah waktu  yang tak lagi mengenal

di mana rindumu kini mengasingkan  diri

Yang tersisa tinggallah

Segumpal air mata yang pecah

Lalu

Terdengar

Gemeretak belulang

Kehilangan runtuh

Ketika kesedihan melahirkan kita kembali

menjadi bukan siapa-siapa di hadapan sang ilahi

 

 

RINDU YANG HAUS BIBIRMU

Oleh: Budi Setiawan

 

Telah aku tanggalkan tujuh kali

mengelilingi bukit terjanji demi

keajrihan rindumu yang sedang teruji.

Di sini adakah mata-air-mata paling buas

Dari sungai yang kering di rahim sepi.

Selain gerak awang kaki cinta

mengilhami mukjizatnya kemudian

hatimu yang kau tanam beribu luka berseru:

di mana jejak kenangan kini harusku jilati,

ketika payudara ingatan tak lagi mampu

menampung surga dari keluh-kesah

Rindu yang haus bibirmu

Sementara engkau kirim seekor ular

Penyabar

di padang masyar- tempat maut  menghadang

jalan pulang sebuah kesepian.

Sedangkan aku hanyalah khafilah

yang terdampar dalam ketergesaan

sebuah pencarian

Sebelum Menemukan farjimu

menutup-mengembang

memporak-porandakan belulang  rindu yang yatim piatu itu.

 

 

Budi Setiawan tinggal di Temanggung Jawa Tengah, alumni Universitas Muhammadiyah Magelang jurusan Ekonomi Manajemen. Buku Puisinya berjudul Kerokan Email: budi199207@yahoo.com

 

 

 

NESTAPA MEROGOH SUKMA

Oleh: TM Reza Fahlevi

 

Tumpah ruah darah

memamah bangkai berjuntai

teronggok kayu tergugu

 

aku terpana menganga

cericit burung berdecit

jingga nestapa menduka lara

 

tepian telaga bergelora

puing kayu memburu

aku termangu membisu

 

Rumoh panyang, Aceh Barat Daya, 1 September 2018

 

 

BULIR ITU

Oleh: TM Reza Fahlevi

 

Bulir bening berguguran, menangisi malam-malam

berjuta rasa tercurah, nelangsa jiwa memuncak sukma

pilu itu kini padu, disebalik pohon randu

kuntum bunga mekar, disebalik jiwa yang gahar

 

temaram lampu itu bias, angin bertiup membawa tempias

luka itu kian meranggas, terasa kulit mengelupas

cuka disiram diatas luka tersayat, iris sembilu menambah pilu

dari kejauhan angin bertiup membawa pesan

jika dosamu menganak sungai,luas langit dan bumi tak bisa kau eja

jika jiwamu sempit, buka firman-Nya resapi maknanya

kembalilah, kau pasti diterima

 

Malam sendu, medio Maret 2019

 

 

MEMORABILIA

Oleh: TM Reza Fahlevi

 

Engkaukah itu, yang datang diam-diam



yang pergi tanpa kata, debar dada gelisah

ada hasrat membuncah, ada rindu tercurah

segaris senyum disebalik lelah

 

dulu, dulu sekali aku punya mimpi

di keremangan senja, kita duduk berdua

mencurahkan rasa, lalu perlahan

ku buka mushaf, kemudian ku tutup kembali

melafalkan terbata-bata, pelan kau membetulkan

hingga akhirnya mimpi itu nyata

 

senja jelang malam, kita berdua di rumah Tuhan

taman indah nan hijau, anak-anak riang bermain

banyak juga yang melakukan persis apa yang kubayangkan

pelan-pelan saja, mereka buka mushaf

segaris bibir nan menawan, melafalkan ayat-ayat Tuhan

 

Malam Syahdu, Maret 2019

 

TM Reza Fahlevi, Lahir di Tanjung pura, Langkat. Berdomisili di Medan. Aktif di FLP Medan dan berguru puisi di komunitas Liksitera (Bilik Puisi Sumatera) binaan kang Irfan hidayatullah (Bandung) dan Bang Ahmad Ijazi (Riau).puisinya di muat di situs sastra apajake.id dan buku kumpulan Antologi puisi Sajak Cindo besutan FLP Sumatera Selatan tahun 2018 dan masuk dalam 100 puisi terpilih buku Antologi puisi Binjai tahun 2019. Penulis bisa di hubungi di pos-el: rezha.alfarruq@gmail.com

Ditulis oleh Sawaluddin Sembiring

Lelaki berdarah Karo-Aceh ini begitu tergila-gilanya akan laut, Kota tua, juga hujan. Bergiat di Forum Lingkar Pena Medan dan mendirikan BRAYANBENGKELFILMS untuk mengajak anak muda berkarya positif dengan kamera ponsel.