Topbar widget area empty.
Togar Ingin Melancong Ke Taman Ria Taman Ria Tampilan penuh

Togar Ingin Melancong Ke Taman Ria

Oleh: Sawaluddin Sembiring

 

Sudah empat hari ini Togar merengek pada mamaknya agar diajak melancong ke taman ria. Sudah banyak teman-temanya yang pergi ke sana bersama ayah dan mamak mereka. Tapi Togar? Harus rela menyimpan rasa iri mendengar celotehan teman-temanya, tentang betapa asyiknya taman ria itu.

 

“Kau pasti betah di sana, Togar.” Kata temanya yang satu.

 

“Di sana banyak lampu warna-warni, suara musik, juga aneka permainan yang sangat menyenangkan.” Pungkas temannya yang satu lagi.

 

“Aku saja sampai dua kali naik komedi putar bersama ayahku, sungguh membuat lupa diri.” Tambah temannya yang lain.

 

“Terlebih, di sana banyak penjual yang menjual gula kapas. Kau tentu menyukainya, kan?”

 

Panas telinganya mendengar semua cerita itu. Ia merasa teman-temanya sengaja menceritakan perihal itu padanya, agar ia merasa iri dan bersedih. Sebab mamaknya tak mampu mengajaknya pergi ke taman ria.

 

Semenjak bapaknya masuk penjara bulan lalu, mamak harus mencuci pakaian tetangga lebih dari dua tempat. Terkadang seharian dia tidak pulang. Apa pun dikerjakannya, asal ada uang tambahan. Belum lagi cibiran-cibiran orang terhadap suaminya yang tak tau diri. Malu memang kalau mengingat perangai bapak si Togar itu. Selain doyan mabuk, dia malah berselingkuh dengan istri orang. Bukan kepalang memang, gaji kulinya habis untuk perempuan itu. Dia rela, asal bisa bersenggama dengan perempuan itu. Sampai akhirnya suami perempuan itu mengetahui dan mereka berkelahi hebat. Habis kepala suami perempuan itu dipukulnya dengan botol minuman. Bukan untung, malah buntung. Perempuan selingkuhan itu jelas membela suaminya. Ibu Togar hanya pasrah, bahkan terharu saat suaminya memohon ampun di penjara. Berharap istrinya itu tak minta cerai. Sungguh dramatis.

 

“Padahal perempuan itu gembrot, jelek, cantik juga mamak,” umpat Togar, sewaktu dibawa menjenguk ayahnya di penjara. Tau apa yang dibisikkan ayahnya, ketika ibu pergi membeli minuman di kantin penjara?

 

“Karena perempuan itu lebih menggairahkan saat duduk di selangkanganku!”

 

Sial. Penyesalan lelaki itu hanya tipu muslihat aku pikir, seandainya ia tidak dipenjara–mungkin akan dicarinya perempuan lain untuk teman nafsu bejatnya.

 

Togar bersembunyi dikolong tempat tidur. Dia masih merajuk pada mamaknya karena belum mengiyakan atau pun menjanjikan akan membawanya ke taman ria.

 

“Mamak belum punya uang, Togar.” Kalimat itulah yang menjadi penegasan yang keluar dari mulut mamaknya. Namun sepertinya Togar tidak peduli dengan keluhan itu. Buktinya ia masih merajuk dan tidak mau makan.

 

Dari pintu masuk, suara mamak menjerit-jerit memanggili namanya. Ada raut kemarahan di wajahnya. Dia geram sekali pada bocah sembilan tahun itu. Tadi, dia bertemu dengan Aini dan ibunya di warung. Aini itu teman sekelas Togar. Dia bilang, bocah itu sudah tiga hari tidak masuk sekolah. Jika esok masih tak masuk, bapak guru akan datang ke rumah. Mendengar aduan itu, ibu menjadi marah dan malu. Terlebih Aini mengatakannya di hadapan banyak tetangga yang belanja di warung itu. Tergopoh-gopoh dia berjalan pulang, ingin segera menemui anaknya. Memberinya peringatan.

 

Mamak terus mengomel sambil sesekali meneriaki namanya. Togar diam saja di bawah kolong tempat tidur. Hampir habis kesabaran mamak, sampai akhinya dia mencium bau kentut bocah itu keluar dari dalam kamar. Kentut bocah itu memang sangat bau dan tak jarang ia mengeluarkannya saat sedang makan. Hingga mamak melemparkan piring kaleng berisi nasi dan lauk pauk ke wajahnya.

 

“Biadab. Kau semakin tak sopan pada mamakmu!”

 

Dengan cepat mamak masuk ke dalam kamar. Dia berjongkok, kemudian menarik kaki Togar dari kolong tempat tidur. Bocah itu mulai mengatur siasat, dia merengek. Memohon ampun. Sama seperti yang dilakukan bapaknya. Buah jatuh tak jauh dari pokonya, cetak biru sekali anak ini. Pikir mamaknya.

 

Habis anak itu dicubiti mamaknya, mulut bocah itu pun tak henti-hentinya memohon agar tidak lagi dicubiti dan ditempeleng. Tapi mamak seperti kesetanan. Dia terus menghajar anaknya. Hingga suara gaduh di rumah itu menjadi tontonan tetangga yang mengumpat. Bukan mengasihani. Kesal dan kecewa. Dirinya banting tulang demi membayar uang sekolah Togar, tapi anak itu malah malas sekolah. Semua ini hanya karena taman ria, ia merajuk tak karuan.

 

Setelah puas menghajar anaknya, mamak menyuruh bocah itu mandi. Lalu masuk ke dalam kamar. Sedang dia mulai memasak di dapur. Tak macam-macam. Hanya rebusan daun singkong, sambal belacan, juga sepiring kecil ikan asin kepala batu. Hanya itu yang mampu dibelinya. Bahkan beras yang ditanaknya pun beras dengan kualitas jelek. Habis, daripada tak makan. Pikirnya. Itulah sebabnya kenapa dia tak juga menuruti keinginan anaknya. Bukan tak iba hatinya, bukan tak menangis dia. Tapi keadaan harus dimenangkan. Bukan untuk dikeluhkan.

 

Hampir magrib. Mamak menyuruh Togar keluar kamar. Anak itu terlihat sedang membaca buku pelajaranya sambil berbaring di tempat tidur. Takut-takut ia keluar kamar. Duduk di ruang tengah dekat kamarnya. Di atas tikar pandan itu, mamak telah menghidang makan malam mereka. Di rumah itu, makan malam dimulai sejak pukul enam. Tidak seperti kebanyakan orang yang makan malam sekitar pukul delapan malam. Menurut pikiran turun temurun di keluarga mamak, malam itu waktu untuk istirahat. Bukan untuk makan.

 

Dengan telaten, tangan mamak mengisi piring Togar dengan nasi dan lauk pauknya. Anak itu diam saja. Mamak pun tak peduli. Dia mulai menyantap makanannya, melahapnya dengan penuh keberkatan.

 

“Jangan kau merajuk. Kau tau kan tak ada uang kita untuk melancong. Bapak pun dipenjara, hutang kita pun banyak. Jadi bagaimana pula aku hendak membawamu ke taman ria itu?” Keluh mamaknya. Togar diam saja. Dia mencoba menikmati makananya.

 

“Mamak dengar tadi di rumah majikan. Bisa kau melancong ke taman ria itu gratis,” beritahu mamaknya. Seperti memberi angin segar. Mata Togar pun menyala. Diliriknya wajah mamaknya.

 

“Besok lusa kau kan mulai ujian. Jangan bolos sekolah kau. Aini cerita semua sama mamak. Kalau kau ranking, bisa gratis ke taman ria itu.” Mamaknya memberitahu. Berita itu telah menyebar kemana-mana. Para pelancong cukup membawa foto copy rapor terakhir. Hanya saja tahun ini berlaku sampai rangking lima saja. Padahal dulu hingga rangking sepuluh besar. Wajah Togar merunduk kembali. Bagaimana pula dia akan mendapat rangking, sedang sekolah saja jarang mendengar penjelasan guru.

 

“Kalau tak dapatmu rangking itu. Minimal lima besar. Kau lupakan saja lah taman ria itu.”

 

Menangis Togar mendengar perkataan itu. Sudah kebayang, bagimana malangnya ia nanti. Bahkan, mungkin, ia lah satu-satunya anak yang tak akan pernah melancong ke taman ria.

 

Sejak percakapan sore itu, diupayakan otaknya untuk melahap semua pelajaran yang diberikan gurunya. Dicatatnya semua pelajaran, supaya dapat diserapnya dengan cermat. Dibacanya semua buku pelajaran. Bermainnya pun berkurang. Ujian kenaikan kelas tinggal dua hari lagi. Bayang-banyang taman ria terus mengusiknya. Bahkan sampai terbawa mimpi.

***

 

Mamak mangkir dari pekerjaanya hari ini. Jam delapan pagi nanti, orang tua murid harus berkumpul di sekolah. Menemani anaknya mengambil rapor yang akan dibagikan oleh wali kelas mereka. Tak lupa, sebelum pergi–mamak membuatkan segelas teh manis dan roti yang dibelinya pada abang-abang yang lewat di depan rumah. Mamak sudah siap. Bergaya dengan baju blus merah muda dan rok span berwana senada. Rambutnya dibiarkan tergerai, hanya diberinya bando hitam yang sudah mulai berkarat.

 

Di sekolah, teman-teman Togar sudah berkumpul di halaman sekolah. Jantungnya berdegup tak karuan. Ini hari yang menentukan langkahnya untuk ke taman ria. Jika harapan itu gagal pada angka di rapor, maka dengan terpaksa, impian ke taman ria harus dihilangkan. Sampai hati mamak, dipikirnya. Padahal uang masuk ke pusat permaianan yang ada di tengah kota itu tidak terlalu mahal. Tapi dia tetap saja mengatakan tidak punya uang. Kepala sekolah berdiri di sebuah podium yang biasa mereka lihat saat upacara bendera. Dia memberikan sepatah dua patah kata, sampai akhirnya para wali kelas menggiring orang tua masuk ke kelas anaknya masing-masing. Togar meremas tangan mamaknya kuat sekali. Dia terlihat takut dan gugup. Anak-anak duduk di sebelah orang tuanya.

 

Di dalam kelas, sama seperti yang dilakukan kepala sekolah tadi. Pak Fendi juga memberi ceramah mengenai perubahan nilai murid-muridnya dan sistem pembelajaran yang semakin diperbarui. Togar mulai bosan mendengar ocehan itu. Ia ingin tau hasilnya dan segera pulang. Menyiapkan diri untuk pergi ke taman ria. Itu pun kalau rapornya bernilai bagus. Satu-satu nama murid dipanggil ke depan. Pak Fendi memanggilnya secara berututan sesuai absen. Dia sama sekali tidak menyebutkan rankingnya. Itu semakin membuat Togar cemas dan khawatir. Terlebih namanya berada diurutan belakang. Dia sungguh tak sabar.

 

“Togar,” panggil pak Fendi. Ibu bangkit dari duduknya, Togar juga. Mereka mengambil rapor itu dari tangan wali kelas. Dia berpesan agar Togar semakin giat belajar di rumah.

 

Omongannya itu mengkhawatirkan. Jangan-jangan Togar tak mendapatkan ranking, maka dari itu dia dinasehati gurunya. Merah padam wajah Togar. Setiba di halaman sekolah, ia mencoba merebut rapor itu dari tangan mamaknya. Tapi perempuan itu menolak. Katanya nanti saja, setiba di rumah.

 

Setiba di rumah, mamak duduk dihadapannya. Dia tak sabar ingin tau hasilnya. Perlahan mamak membuka rapor kenaikan kelas itu. Diliriknya pelan. Kemudian mamak menangis. Togar menjadi semakin kebingungan. Tak sabar, dia merampas rapor itu dari tangan mamaknya. Tak disangka, dia mendapatkan rangking lima. Betapa tak sia-sianya ia belajar beberapa hari belakangan. Hasilnya sangat membuatnya senang. Togar meloncat-loncat kegirangan sambil meneriaki nama taman ria. Dia begitu senang.

 

Di taman ria, Togar dan ibunya mendapatkan fasilitas gratis. Hanya saja harus mengantri lama di loket pintu masuk untuk mendaftar masuk. Mereka juga mendapatkan dua teh kotak berasa mangga. Sedapnya. Togar terpesona, matanya tak henti-henti menatapi lampu warna-warni yang menyala. Benar apa yang dikatakan teman-temanya. Tempat ini sungguh membuatnya betah. Berbagai wahana permainan dinaiki Togar. Termasuk komedi putar, baling-baling, kapal-kapalan, sampai membeli gula kapas. Sungguh, betapa ini yang diharapkannya terjadi. Hilang sudah semua masalah di hatinya, dia benar-benar orang paling beruntung malam ini.

***

 

Liburan sekolah telah usai. Besok semua murid akan masuk sekolah seperti biasa. Togar tak membeli sepatu atau pun baju baru. Yang baru dipakainya hanya tas dan beberapa buku tulis tipis yang dibeli mamaknya di warung. Dia tidak sabar bertemu teman sekolahnya, ingin berbagi cerita perihal taman ria.



 

Sepulang sekolah, Togar mendatangi mamaknya di rumah majikannya. Dia ingin memberikan sesuatu pada mamaknya itu.

 

“Kenapa kau kemari Togar?” Tanya mamak dengan wajah kesal.

 

“Aku hanya ingin memberi ini mak. Pak Fendi yang memberikannya tadi, katanya terjatuh saat itu.” Togar menyerahkan sapu tangan mamaknya, dan itu membuat mamak mendelik. Dia begitu terkejut. Tapi Togar tak peduli, ia langsung pulang dan bermain. Sedangkan mamaknya tertegun, kalau seandainya dia tidak telanjang di depan wali kelasnya yang  duda itu, mungkin Togar tidak akan sebahagia itu. Impiannya melancong ke taman ria mungkin akan hilang. Mamak menghela napas dan mengelap keringatnya degan sapu tangan tadi. Sungguh ironi, pikirnya.

 

Photo by Anna-Louise from Pexels

Ditulis oleh Sawaluddin Sembiring

Lelaki berdarah Karo-Aceh ini begitu tergila-gilanya akan laut, Kota tua, juga hujan. Bergiat di Forum Lingkar Pena Medan dan mendirikan BRAYANBENGKELFILMS untuk mengajak anak muda berkarya positif dengan kamera ponsel.