Tanah Retak
Oleh: Andi Jamaluddin, AR.AK.
BADIK OMBAK MEMBELAH PESISIR
: MASIH ADA CAHAYA MATAHARI
berpuluh tahun ; kuredam
bisik angin, menyisir
pesisir. ombak berdesah
hilang buih
senandung jadi buih
bagi rasa
adakah neraca ; bakal
menimbang dermaga
ketika menjadi persinggahan
sementara laut, jauh
dari jembatan
di sini, pula bermula
kita tepikan jejak
merapikan butir ombak
yang terberai di landai
hilang suara pagi. entah
bertepi di muara :
kepak daun-daun
badik ombak
berkilau, diketajaman sayatan
kau kibaskan digelisah angin
luka perih. terhempas
tercabik ;
angin kian liar, jauh
dari layar perahu
biarlah di sini, aku menakar palung
masa lalu. pesisir berombak
masih menyimpan ribuan rahasia
cahaya matahari
//ajarak/12.09.19/20.04/pgt.tanbu//
TANAH RETAK
tanah retak. kering
menanti hujan turun, berderai
basahi ladang
; daun-daun hingga pucuk
jatuh dan terbang, berserak
satu satu, rapuhkan rantingnya.
kehilangan mata angin
di sini pun, sudah tak cukup lagi
air mata menumpah
membasahi akar-akar
hanya asap yang menyebarkan
perihnya. sesakkan dada
sementara nini datu semakin menjelang
memanggul perih peradaban
; bakal ke mana lagi
anak cucu hari esok
tanah retak. lepas pandang
pepohonan berkubang bara
selepas subuh kabut. jauh
cahaya, matahari harapan
//ajarak/21.09.19/04.12/pgt.tanbu//
SUNGAI YANG MERINDUKAN KOTA
lelaki renta itu
sudah puluhan tahun
mengayuh sendiri getek using
menyusuri pesisir sungai,
dan tebing arus air
yang kian deras menepikan nurani
lanting-lanting tempat bertambat
belum menampakkan wajah, menawarkan
buah dan sayur. sebab pembeli
sudah pulang
lelaki renta itu
berteduh sejenak, menyandarkan
punggung sepelepah tangkai nipah
angin berdebur, terus melintas
mengantar bayang-bayang kota
yang hampir mengkandaskan rindu
tatkala air sungai
surutkan kepedulian
lelaki renta itu
masih menyimpan rapat
helai-helai napasnya
pada geladak
matanya yang rabun asap
masih sangat tajam menatap, ke depan
rindu tentang kota
yang tak lupa lagi kemasylahatan
//ajarak/23.09.19/21.45/pgt.tanbu//
Andi Jamaluddin, AR. AK. Lahiran di Tanah Bumbu. Meski usianya sudah setengah abad lebih, terus membimbing dan mendorong anak-anaknya yang tergabung di Komunitas Bagang Sastra Tanah Bumbu untuk terus berkarya, baik dalam bentuk puisi, cerpen, naskah drama, dan essai tanpa mengenal waktu dan status mereka, mempelopori dan mengayomi serta selalu mendampingi pada kegiatan seni di luar daerah. Sekarang tinggal di Desa Batuah Kec. Kusan Hilir, Pagatan, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalsel.
Foto oleh TH Pohan