Wirid Hujan
Oleh: Saiful Bahri
Tuhan, ini hujan untuk siapa?
ini malam
mengajarkan aku wirid rindu
tepat di tempat gerimis salat
Tuhan, ini hujan untuk siapa?
jarum gerimis mengirim luka
pada daun-daun kenangan
duduk membaca surat halimun
teriakkan di kebun kata kesepian
hujan tak tahu apa, tahu-tahunya
daun diajak, menerjemahkan
turunnya gigil sederas bayangan
Tuhan, ini gerimis untuk siapa?
puisi ini tak pernah mengeluh,
batu duduk meratap khusuk
aku diajak daun tuk melamun
:melamun mata embun
Sumenep, 16 Januari 2019
Ijtihad Hujan
Kedinginan dan kesunyian
Makin hari makin bersemi
Ijtihad jarum tempo hujan
Yang senantiasa tandang
Rebah diam di pusar daun
Terdengar di jalan ikhtiar
Ijtihad hujan tengah bertempur
Melawan halimun, petir, seperti
aku, melawan jejak dan tujuan
demi kita kata kota kesetiaan
Sumenep, 16 Jan 2019
Dinamika Lirik Rasa
apapun kehidupan
mesti ada jarak lamunan
seperti sujud rukuk tahiyyat
menyihir daun diam di kebun
apapun keheningan
mesti ada lirik khayalan
sepeti bulan tanpa kawan
persis rasa tanpa cinta
apapun kesendirian
mesti ada kebisingan
riang riuh hingga Subuh
dinamika,
seramai puisi dalam sepi
ketiganya adalah rasa dan
dinamika di rahim kata
keabadinnya adalah aku
sebagai hujan di musimnya
bersujud,
menggguyur mata absurd
2019
Saiful Bahri, kelahiran Sumenep-Madura, O5 Februari 1995 adalah tanggal lahirnya. Ia mengabdi di Madrasah Al-Huda. Mahasiswa aktif di STAIM Terate Sumenep. Selain menulis, ia juga seorang aktivis di kajian sastra dan teater “Kosong” Bungduwak. Perkumpulan dispensasi Gat’s (Gapura Timur Solidarity) adalah organisasinya yang digeluti saat ini, ada pula Fok@da (Forum komunikasi alumni Al-Huda), sekaligus perkumpulan (Pemuda Purnama) dan pengasuh di grup (Kampus Literasi). Disela kesibukannya ia belajar menulis Puisi, Cerpen,
Photo by pexels.com