Membaca untuk Masa Depan Abdi Mulia Lubis Tampilan penuh

Membaca untuk Masa Depan

Membaca sebagai pintu untuk membuka perspektif baru dan menambah wawasan-wawasan yang membangun intelenjensi yang lebih tinggi. Membaca juga sebuah aktifitas untuk meningkat kan analisa serta mempertajam pikiran. Immanuel Kant, seumur hidup tidak pernah keluar dari batas kota tempat tinggal dia, namun ketajaman pikiran dia sebagai seorang filsafat sanggup menembus  batas-batas Negara dan benua, serta batas-batas zaman. Itu semua di pengaruhi dan juga di sebabkan proses kecintaan nya kepada membaca, dengan membaca dunia bisa di jelejahi dengan imajinasi rasional.

Membaca memberi keyakinan bahwa minoritas bukan merupakan ukuran kelemahan, dan mayoritas bukan ukuran kekuatan. Seperti ada anggapan bahwa “Sungai  yang kau arungi sekarang tidak akan sama dengan sungai yang kamu arungi nanti, kendati sungai itu adalah sungai itu-itu juga, karena, segala sesuatunya pada sungai itu pasti sudah berubah”. Dalam setiap kebingungan, otak membuka sebuah jalan yang sempit agar melebar dan menyempit kembali. Inilah proses yang meningkatkan intelektual seorang pembaca.

Membaca, Mengantarkan kesadaran manusia ke tingkat yang lebih tinggi dalam memahami apa yang terlihat oleh mata, yang terdengar oleh telinga, dan segala yang dapat di raba. Mengungkapkan berbagai kesan batin dalam derajat yang ekstrim. Dan mengungkapkan makna yang lebih dari apa yang dapat di tampung oleh kata dalam penggunaan kesehariaannya. maka kesemua faedah dalam membaca tersebut mengantarkan manusia menuju pengetahuan baru.

Peningkatan harkat dan martabat bangsa, serta keberagaman tidak hanya di lihat dari sector infrastruktur, kemajuan teknologi dan perekonomian namun kesemua itu dibangun dan di lihat dari budaya baca bangsa nya. Apa arti sebuah bacaan ? dan Sudah menjadi kewajiban  bersama untuk membangun budaya baca.

Bertahan dalam Proses

Membaca perseorangan mungkin bisa bertahan hidup tanpa menjadi seorang pembaca, tanpa membiasakan diri untuk membaca, tanpa berbudaya baca. Namun sebuah “demokrasi” hanya akan berkembang, apalagi “survive”, di suatu masyarakat yang para warganya adalah pembaca, adalah individu-individu yang merasa perlu untuk membaca, bukan sekadar pendengar dan gemar berbicara

Individu otonom adalah seseorang yang tidak berjiwa bebek, mampu berpikir dan bertindak sendiri. Dia adalah seorang warga yang, berkat kekuatan nalar dan semangatnya yang kritis, baru bertindak setelah merenung, mengkaji, dan membahas. Bila tidak demikian, dia bukan seorang individu demoratis yang tergolong pada suatu masyarakat demokratis.

Seorang individu yang berkualitas seperti ini harus ada, harus di usahakan supaya eksis, demi menegakkan kebebasan di masyarakat yang maunya demokratis dan agar demokrasi politik tidak melenceng dari kemurniannya, dalam arti demokrasi opini tidak tergeserkan oleh demokrasi kepentingan partai. Dan modal bagi pembentukan individu otonom ini adalah kebiasaan membaca serta kehadiran hal-hal yang sangat erat terkait dengan ini, yaitu bacaan pada umumnya atau buku pada khusunya dan perpustakaan.

Dengan begini, jelas kiranya betapa arti konstruktif dari kegiatan membaca baru tampil setelah ia dikaitkan dengan kegiatan menulis. Artinya, fakta tahu membaca memang bukan apa-apa bila tidak ada tulisan yang tersedia untuk dibaca. Tanpa tulisan kita tidak mewarisi dan tidak mewariskan apa-apa yang bernilai dan jauh jangkauaan temporalnya. Manusia yang tidak memedulikan bacaan akan selalu ketinggalan buah pikiran yang terbaik dan terbaru, tersisih dari perluasan pengalaman dan kehidupan yang terbuka di mana terdapat yang hidup dan yang mati, di mana datang kembali yang sudah lama tiada, di mana muncul yang belum pernah di ketahui.

Mengantarkan Kesadaran Makna

Jadi, sebagai pembacalah manusia memanusiakan dirinya, memenuhi panggilannya, melindungi dirinya dari absurdity dan kenihilan yang terselubung. Maka, buku adalah sebutan lain dari proses pemanusiaan manusia. Dengan perkataan lain, manusia yang membaca menjadi saksi suatu peradaban bernilai tinggi, yang disuguhi ketinggian tersebut dan diundang untuk menempa kpribadian di ketinggian itu. Ketinggian tadi bukanlah sekedar berupa akumulasi pengetahuan tetapi lebih banyak berupa kunci pengenalan diri dan dunia, yang di terima untuk di pikirkan, yang dipilih untuk dicernakan, yang dicernakan guna di hayati.

Kemudian buku-buku ini dikumpulkan dan ditata menjadi perpustakaan, sejalan dan seiring dengan perkembangan kebiasaan, bahkan, kebutuhan kebutuhan membaca, yang di pupuk oleh proses pembelajaran di rumah (pendidikan informal/keluarga) dan di sekolah (pendidikan formal). Kehadiran perpustakaan umum yang berjalan seiring dengan kebiasaan membaca rakyat pasti punya arti positif bagi pembentukan individu otonom dan, melalui kehadiran tipe ideal dari demokrasi ini, bagi kekukuhan unsur konvergen dalam pola pikir masyarakat. Maka tak mengherankan kiranya kalau Thomas Jefferson sampai mengatakan, I cannot live without books. Sebagaimana diketahui dia adalah penulis The Declaration of independence Negara Amerika Serikat dan pendiri perpustakaan nasional Negara tersebut, yaitu The Library of Congress.



Abdi Mulia Lubis
(Mahasiswa Universitas Negeri Medan)

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 5 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*

Tinggalkan komentar

5 × tiga =