Topbar widget area empty.
  • Beranda  /
  • Opini   /
  • Catatan Kecil Perjalanan Gerakan Membaca
Catatan Kecil Perjalanan Gerakan Membaca Tatang Hidayat Pohan Tampilan penuh

Catatan Kecil Perjalanan Gerakan Membaca

Gerakan Labuhanbatu Membaca (GLM) adalah sebuah gerakan yang bertujuan untuk meningkatkan budaya baca di Kabupaten Labuhanbatu. Tanggal 17 Maret 2012 pada sebuah perguruan tinggi swasta di Rantauprapat gerakan ini diinisiasi oleh sekelompok orang dengan latar belakang pendidikan dan organisasi yang beragam. Keprihatinan akan minimnya minat baca dan kesadaran untuk meningkatkannya membuat mereka menyatukan gerak.

Diskusi Buku adalah kegiatan utama yang dilakukan GLM. Kegiatan ini dilakukan dari kampus ke kampus dengan menghadirkan berbagai nara sumber sebagai pemateri atau pembedah. Mereka adalah orang-orang yang dianggap mampu membaca secara terstruktur, sistematis dan analitik sehingga dapat memahami sebuah buku dengan baik. Mahasiswa yang mayoritas hadir tidak hanya sebagai peserta tetapi juga sebagai moderator dan pemateri.

Setelah diskusi buku dari kampus ke kampus, GLM memasuki ruang-ruang publik seperti kafe dan perpustakaan. Tujuannya adalah agar semakin luas masyarakat yang dapat terlibat dan harapannya semakin banyak tersadarkan untuk bergerak bersama meningkatkan minat baca.

Gerakan Labuhanbatu memasuki tahap lanjut ketika mencoba memasuki segmen anak usia dini dengan kegiatan mendongeng. Mendongeng adalah cara persuasif dan interaktif untuk mengajak anak mencintai dunia literasi. Respon cukup baik hingga menyelenggarakan workshop mendongeng. Perjalanan panjang mendongeng akhirnya melahirkan Kampung Dongeng Labuhanbatu sebagai bagian dari Kampung Dongeng Indonesia pimpinan Kak Awam Prakoso.

Gerakan Membaca sejatinya adalah gerakan literasi. Literasi berasal dari bahasa Latin littera (huruf) yang pengertiannya melibatkan penguasaan sistem-sistem tulisan dan konvensi-konvensi yang menyertainya. Literasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah kesanggupan membaca dan menulis. Ya, membaca dan menulis. Karena itu GLM kemudian menyelenggarakan workshop kepenulisan bersama Forum Lingkar Pena Sumatera Utara.

Aktivitas menulis adalah aktivitas membaca tiga kali, demikian kata pepatah China. Dibutuhkan upaya yang lebih agar seseorang dapat menulis. Bahan bacaan yang baik dan variatif adalah amunisi utama untuk menghasilkan tulisan yang baik dan bergizi. Kegiatan kepenulisan ini semakin hari semakin meningkat hingga akhirnya Forum Lingkar Pena hadir di Labuhanbatu.

Empat tahun belumlah perjalanan yang panjang. Masih banyak kekurangan dan upaya yang belum dikerjakan. Bagaimana GLM menyusun langkah ke depan untuk percepatan gerakan membaca?

Menuju Kabupaten Literasi

Saya mencoba mengutip definisi Kern tentang literasi secara komprehensif, literasi adalah penggunaan praktik-praktik situasi sosial, dan historis, serta kultural dalam menciptakan dan menginterpretasikan makna melalui teks. Literasi memerlukan setidaknya sebuah kepekaan yang tak terucap tentang hubungan-hubungan antara konvensi-konvensi tekstual dan konteks penggunaannya serta idealnya kemampuan untuk berefleksi secara kritis tentang hubungan itu. Karena peka dengan maksud/tujuan, literasi itu bersifat dinamis –tidak statis– dan dapat bervariasi di antara dan di dalam komunitas dan kultur diskursus/wacana. Literasi memerlukan serangkaian kemampuan kognitif, pengetahuan bahasa tulis dan lisan, pengetahuan tentang genre dan pengetahuan kultural.

Gerakan Membaca idealnya memang dilaksanakan dan dikoordinasi oleh Pemerintah mengingat begitu kompleksnya permasalahan. Presiden Jokowi mendeklarasikan Indonesia Membaca pada tahun 2016 setelah sebelumnya Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan menginisiasi Indonesia Membaca bersama seluruh elemen pegiat literasi Indonesia.

Bagaimana dengan Labuhanbatu? Beberapa waktu lalu ada diskusi menarik Dewan Pendidikan Kabupaten Labuhanbatu dan USAID Prioritas Sumatera Utara tentang wacana Kota/Kabupaten Literasi. Kota/Kabupaten Literasi adalah gerakan untuk menjadikan sebuah kota/kabupaten menjadi sebuah daerah yang masyarakatnya memiliki budaya literasi membaca dan menulis setara dengan bangsa-bangsa maju lainnya. Hadir juga Koordinator USAID Prioritas Serdang Bedagai yang berbagi pengalaman tentang Serdang Bedagai yang sedang mempersiapkan diri sebagai Kabupaten Literasi.

Gerakan Kota/Kabupaten Literasi bertujuan untuk menjadikan masyarakat memiliki komunitas yang memiliki budaya membaca dan menulis yang tinggi yang dimulia dengan menerapkan program membaca yang sistematik, terstrukstur, massif dan berkelanjutan baik di sekolah (TK, SD, SLTP, SLTA) maupun Perguruan Tinggi (PTS dan PTN) maupun di masyarakat umum yang akan diinisiasi dan dikoordinir oleh pemerintah. Pemda akan mendorong warganya untuk melakukan kegiatan literasi membaca dan menulis secara aktif sebagai kegiatan sehari-hari. Gerakan ini adalah gerakan budaya bagi peningkatan mutu bangsa secara keseluruhan.

Apa saja program-program yang akan dilakukan oleh Kota/Kabupaten Literasi. Menurut Satria Dharma, seorang konsultan Budaya Literasi, program itu adalah:

  1. Program Pembudayaan Membaca
    Mewajibkan semua sekolah mengalokasikan waktu membaca khusus bagi semua guru dan siswanya sesuai dengan Permendikbud 23/2015. Membaca buku-buku non pelajaran minimal 15 menit setiap hari sebelum jam pelajaran dengan beberapa kegiatan seperti Memmbaca Terbimbing dan Membaca Mandiri.
  2. Program Wajib Baca Karya Sastra
    Mewajibkan siswa membaca sejumlah karya sastra tertentu selama siswa berada di jenjang SLTP dan SLTA. Setiap sekolah memiliki target jumlah buku yang harus dibaca siswa dalam setahun.
  3. Perpustakaan Kelas
    Setiap sekolah didorong untuk membangun Sudut Baca atau Perpustakaan Kelas di setiap kelas. Mendekatkan buku ke anak setiap hari adalah strategu paling efektif untuk membuat anak menjadi suka membaca.
  4. Program Tantangan Membaca (Reading Challenge)
    Mendorong siswa membaca sejumlah buku selama waktu tertentu. Siswa yang berhasil membaca sejumlah buku tertentu akan mendapat penghargaan dari setiap kepala daerah berupa sertifikat yang ditandantangani Walikota/Bupati.
  5. Satu Siswa Satu Buku (Sasisabu)
    Dalam program ini sekolah meminta partisipasi orang tua untuk menyumbangkan satu buku untuk setiap anaknya yang bersekolah. Dengan program ini maka orang tua akan sadar bahwa membaca adalah kegiatan utama di sekolah dan diharapkan agar kegiatan ini juga dilanjutkan di rumah.
  6. Program Wajib Menulis
    Dinas Pendidikan perlu mewajibkan sekolah untuk melakukan program Lomba Menulis dengan tema-tema tertentu secara berkala (setiap 3 atau 6 bulan sekali) untuk menjamin bahwa setiap siswa akan menulis minimal 4 topik selama setahun.
  7. Satu Sekolah Satu Karya (Sasesakar)
    Program yang mewajibkan bagi setiap sekolah untuk menerbitkan Buku Hasil Karya Terbaik siswanya. Buku ini adalah kumpulan tulisan pemenang lomba menulis yang diselenggarakan setiap semester di sekolah.
  8. Membagikan Buku Bacaan Gratis kepada 1000 Sekolah
    Pemda membagikan buku bacaan bagia sekolah minimal 300 buah buku dengan 100 judul (setiap judul 3 eksemplar). Pemda dapat melibatkan perusahaan untuk memiliki CSR yang membantu Gerakan Literasi Sekolah ini.
  9. Menerbitkan Majalah Siswa
    Majalah atau tabloid siswa yang semua pengerjaan dan manajemennya dikelola oleh siswa itu sendiri.
  10. Jumpa Penulis
    Dengan mendatangkan sosok penulis ke sekolah maka siswa akan terinspirasi untuk mengikuti jejaknya untuk menulis.
  11. Penghargaan Literasi
    Pemberian penghargaan kepada individu maupun kelompok yang dianggap memiliki kontribusi dan peranan penting dalam memajukan pembudayaan baca di setiap daerah.
  12. Mahasiswa Penggerak Literasi
    Mahasiswa perguruan tinggi di setiap daerah yang akan membantu sebagai relawan dalam menggerakkan kegiatan literasi di sekolah-sekolah selama waktu tertentu.

Kabupaten Literasi adalah upaya lanjuta yang harus dilakukan Pemkab Labuhanbatu agar minat baca dan menulis tumbuh dan berkembang. Hal ini sangat memungkinkan karena tahapan dan program tersebut telah dirintis seperti Deklarasi Gerakan Membaca yang dinisiasi USAID Prioritas bersama Pemkab Labuhanbatu pada tahun 2015. Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah juga cukup aktif melaksanakan kegiatan literasi ke berbagai sekolah dan desa di Labuhanbatu.

Peran serta masyarakat dalam gerakan literasi juga telah muncul seperti Komite Sastra Indonesia (KSI) Pos Labuhanbatu, Malam Puisi Rantauprapat (MPR), Taman Bacaan Masyakarakat (TBM), Perpustakaan Rumah Ibadah dan lain-lain.

Sebagai penutup saya ingin menegaskan Gerakan Labuhanbatu Membaca yang kini berusia empat tahun hanyalah sebuah forum kecil berskala lokal bagi kegiatan literasi. Kita butuh forum dan gerakan besar untuk mewujudkan Labuhanbatu Kabupaten Literasi seperti Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB) yang digagas Perpustakaan Nasional RI, IKAPI, Organisasi Profesi dan Pemerhati di bidang minat baca. Demikian juga Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) merupakan forum dari seluruh Taman Bacaan Masyarakat yang ada di Indonesia. Kehadiran forum ini amat penting agar peran serta masyarakat semakin terstruktur, sistematik dan massif dalam gerakan literasi.



Tatang Hidayat, Pegiat Gerakan Labuhanbatu Membaca

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 5 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*

Tinggalkan komentar

15 − sebelas =