Topbar widget area empty.
  • Beranda  /
  • Opini   /
  • Mengoptimalkan Potensi Anak dengan Gangguan Perkembangan Autis

Mengoptimalkan Potensi Anak dengan Gangguan Perkembangan Autis

Setiap anak dilahirkan dalam keadaan unik dan istimewa. Unik karena dari berjuta-juta manusia tidak satupun yang sama persis, bahkan anak yang kembar identik sekalipun mempunyai perbedaan. Dengan keunikan ini manusia mempunyai ciri khas dan karakteristik sendiri yang membentuk kepribadian yang meliputi seluruh tingkah laku dan gerak-gerik manusia. Keunikan manusia harus dijaga dan dipelihara yang menjadi identitas melekat dalam diri seseorang, kalau ini hilang maka manusia menjadi kehilangan ciri khas dan identitasnya. Oleh karena itu kita harus menghargai keunikan individu dan mengoptimalkannya menjadi keistimewaan.

 

Keistimewaan manusia bukanlah menjadi manusia super yang tidak mempunyai kelemahan, justeru keistimewaan manusia itu terletak pada saat manusia sadar akan dirinya sebagai makhluk yang mempunyai banyak kekurangan, makhluk yang sangat bergantung dan tidak mungkin bisa hidup sendiri. Namun pada saat manusia menyadari akan kelemahannya manusia akan terus berusaha untuk menutupi kekurangannya dengan berbagai kelebihan yang dimilikinya, walau tahu kekurangannya namun tetap fokus dengan kelebihannya dengan sendirinya kekurangan akan meredup.

 

Salah satu keunikan manusia yang merupakan kekurangannya adalah keterbatasan manusia. Semua manusia mempunyai keterbatasan, terbatas dengan waktu dan tempat karena tidak mungkin pada saat seseorang berada di suatu tempat kemudian dia juga dalam waktu yang sama sedang berada di tempat lain. Keterbatasan materi, keterbatasan penglihatan, dan pendengaran ini menunjukkan bahwa manusia memang tidak akan terlepas dari keterbatasan. Maka dari itu orang yang hebat adalah bukan orang yang terbebas dari keterbatasannya tetapi orang yang hebat adalah orang yang tidak terbelenggu dengan keterbatasannya, kemudian menjadi terbebas dan merdeka sehingga mampu menembus batas ruang dan waktu.

 

Karena setiap anak adalah unik dan istimewa, maka begitu juga dengan anak autis adalah unik dan istimewa. Anak autis mempunyai keunikan sendiri yang tidak dimiliki oleh anak-anak lain yang seusia dengannya. Salah satu keunikan itu adalah ketika anak-anak seusianya sedang asyik bermain dengan teman-teman sebaya seperti kejar-kejaran, memperebutkan mainan, main bola serta kegiatan dan aktivitas lainnya. Maka berbeda dengan anak-anak autis mereka tidak tertarik melakukan interaksi dengan teman sebaya, anak-anak autis lebih tertarik dengan benda-benda mati dan cenderung menarik diri dari kegitan dan aktivitas sosial.

 

Mereka mempunyai keterbatasan melakukan komunikasi dua arah, sehingga anak-anak autis lebih suka membeo atau mengulang kembali perkataan. Intinya anak-anak autis mempunyai keterbatasan dan mempunyai kemampuan yang berbeda dalam melakukan aktivitas sosial. Salah satu kegiatan yang paling dibenci anak autis adalah bertatap mata, anak autis selalu menghindar bila terjadi kontak mata terutama dengan orang dewasa, merasa tidak nyaman bahkan seolah-olah pada saat bertatap mata dengan orang dewasa anak autis merasa sedang menatap monster yang menakutkan.

 

Anak autis juga merasa tidak nyaman dan menghindar bila disentuh dan dipeluk, seolah-olah mereka bila disentuh dan dipeluk seperti sedang dipukuli dengan kayu. Anak autis sendiri mempunyai keunikan masing-masing, ada yang sukanya melihat dan menatap kipas angin dalam waktu yang lama, ada yang asyik memainkan roda mobil-mobilan dengan posisi rodanya di atas dan pada saat memainkannya biasanya anak dalam posisi menungging. Ada yang asyik memutar-mutar jarinya, menggerak-gerakkan jari-jarinya, sebagian yang lain asyik memandangi bagian sudut dinding dalam waktu yang lama. Bahkan ada juga yang mempunyai keunikan yang ekstrim sperti: memukul kepala dan perutnya sendiri tanpa henti-henti, ada yang mengantukkan kepalanya ke dinding dan kelantai bila marah, menggigit tangannya hingga kapalan, dan meyerang orang lain seperti menggigit, memukul, menendang, melempar dan meludahi. Itu semua merupakan keunikan dan kekurangan anak autis, lantas apakah mereka mempunyai kelebihan.

 

Tentu setiap anak mempunyai kelebihan, hanya saja kelebihan itu baru sekedar menjadi potensi yang terpendam dan belum dapat diaktualisasikan. Tidak seperti anak-anak pada umumnya yang mempunyai bakat dan kelebihan yang mudah digali dan dikembangkan. Namun pada anak autis potensi dan bakat sering berada di bagian dasar paling dalam. Ibarat tambang emas, ada emas yang berada di lapisan atas, hanyut di sungai-sungai, ada juga emas yang tersimpan jauh di dalam perut bumi sehingga untuk mengeluarkannya perlu upaya dan usaha yang besar. Begitu juga dengan kelebihan dan bakat anak autis, sering sekali tersimpan jauh di dalam dasar dirinya sehingga tidak mudah untuk menggali dan mengembangkannya. Inilah yang menyebabkan kita mengalami kesulitan dalam menelusuri bakat anak autis, namun demikian dengan upaya dan usaha yang sungguh-sungguh bukan tidak mungkin anak autis akan menjadi anak yang hebat.

 

Anak autis biasanya mempunyai skill unik dan istimewa yang justru tidak dimiliki anak-anak pada umumnya. Biasanya kelebihannya meliputi hal-hal berikut ini seperti bermain musik, banyak anak autis yang mempunyai kemampuan bermain musik yang luar biasa. Bahkan kemampuannya itu tanpa melalui proses belajar dengan guru, ia hanya otodidak dan dengan sendirinya kemampuan itu berkembang seolah-olah kemampuan itu terilhami atau terberi begitu saja. Banyak juga diantara anak-anak autis yang ahli matematika, bisa membaca tanpa proses mengeja, mengenal huruf dan angka dengan cara yang unik seperti melalui iklan dan papan reklame.

 

Cara berpikir anak autis memang sering mengalami lompatan, dan lintasan-lintasan berpikirnya begitu cepat sehingga sering sekali kita tidak dapat mengikuti cara berpikirnya. Makanya anak autis sering sekali menyukai iklan dan reklame, karena iklan dan reklame adalah tayangan berdurasi pendek yang menyampaikan pesan tersendiri. Begitu juga dengan cara berfikirnya anak autis sering sekali berupa lintasan-lintasan dan lompatan yang mengandung pesan dan arti yang singkat. Nah, disinilah peranan kita sebagai orang dewasa untuk membantu menerjemahkan lintasan dan lompatan berpikir menjadi utuh dan mempunyai arti yang sempurna.

 

Anak autis juga sering mempunyai kelebihan dan keistimewaan dalam hal menggambar dan mewarnai, imajenasinya melampaui batas-batas yang normal. Intinya anak autis mempunyai banyak kelebihan dan keistimewaan, tinggal bagaimana usaha kita mengoptimalkan  dan membantu mengembangkan bakat dan keistimewaannya. Kalau kita sudah mampu mengoptimalkan dan mengembangkan kelebihannya dengan sendirinya kekurangannya akan meredup dan anak akan mulai percaya diri.

 

 

Bagaimana cara mengetahui bakat dan keistimewaan anak agar optimal mengembangkannya

 

Pertama yang harus kita lakukan adalah memahami anak autis tersebut melalui serangkaian pengamatan atau observasi, assesment, dan diagnosa masalahnya. Sering sekali anak-anak autis disertai dengan hilangnya konsep diri, gangguan emosi, gangguan perkembangan motorik, gangguan berbicara, dan juga gangguan perilaku. Kalau ini yang terjadi langkah awal yang harus dilakukan adalah membantu anak untuk mengatasi gangguan perkembangannya, dengan diberikan stimulasi yang optimal.

 

Ada baiknya fokus dengan masalahnya sampai anak mengalami perubahan dan perkembangan yang baik. Contohnya anak autis dengan simptom menggigit dan mengantukkan kepala ke tembok. Kita harus menganalisa apa penyebab, kondisi yang bagaimana, serta berapa banyak dalam satu hari anak menggigit atau mengantukkan kepala. Misalkan anak akan menggigit dan mengantukkan kepala pada saat anak marah dan tidak nyaman, padahal menurut kita kondisi dan keadaannya hanya sepele atau biasa, contohnya hanya karena tidak mau disuruh memberikan salam anak langsung mengantukkan kepala, maka sudah dapat dipastikan ini yang terganggu adalah emosinya. Dengan demikian kita fokus membantu anak untuk mengatasi emosinya, kalau emosinya sudah dapat disalurkan dengan baik dan benar maka secara otomatis perilaku mengantukkan kepala ketembok dengan sendirinya akan hilang.

 

Kedua, setelah memahami masalah dan kita dapat membantunya keluar dari masalah maka kita perlu menanamkan konsep diri yang positif kepada anak, ini bisa dilakukan dengan memberikan motivasi, mendongeng, mensetting perilaku adaptif, membantu anak mengatasi masalah dengan bimbingan langsung dan lain-lain. Pada saat anak mulai terbentuk konsep diri yang positif biasanya tampak dari perilakunya yang sudah mulai terarah. Maka tahapan ketiga adalah menggali kelebihan dan bakatnya, terus dibantu dan didampingi untuk mengembangkannya sehingga bisa menjadi optimal, contohnya anak yang mempunyai kelebihan menggambar terus kita latih dan asah kemampuan menggambarnya.

 

Tahapan terakhirnya adalah bersosialisasi, dengan cara mengikutkan anak pada lomba-lomba menggambar khusus anak yang berkebutuhan khusus. InsyaAllah kalau sudah sampai tahap ini bukan anak saja yang terbangun konsep diri positifnya tapi kita sebagai orang tua juga menjadi bangga terhadap anak kita.



 

Junaidi,S.Psi.,M.Soc.Sc, Guru BK SMP-IT Arrozaq Rantauprapat, Terapist Anak Berkebutuhan Khusus dan Konsultan Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja

 

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

Tinggalkan komentar

sembilanbelas + 14 =