Topbar widget area empty.
Terbunuhnya Seorang Mantan Intel Foto Jeli Manalu Tampilan penuh

Terbunuhnya Seorang Mantan Intel

Setiba di pondok beraroma tuak1 yang berasap, ia membaca kalimat sindiran di bak belakang sebuah truk. Jika hidup kerap dibayang-bayangi oleh kematian, mungkin kau punya utang dendam yang belum terbayarkan.

 

Ia tercekat lalu duduk, lalu seperti biasa. Melalui cermin bermuka ganda yang selalu ia bawa setiap akan ke luar rumah, ia mengamat-amati segala kemungkinan yang mengarah kepadanya.

 

Sebenarnya ia agak jengkel hari ini. Anjing hitam yang biasa patuh tiba-tiba nakal sekali. Ia mengeluarkan susu serta madu dari lemari pendingin. Nanti biar lebih mudah memindainya ke dalam gelas. Sementara di kamar mandi selain untuk mandi, ia juga bercukur, memotong kuku dan membuang hajat.

 

Empat puluh menit kemudian, ia kaget mendapati anjing yang juga kaget. Susu dan madu berceceran di mulut si Mopi. Ia gusar hingga menampar pipi anjing itu. Ia tonjok juga telinga anjing, dan bagian kepala anjing. Malah sempat ia masukkan ke ember besar bertutup. Tapi sebagaimana namanya anjing, anjing itu berhasil ke luar lantas menjilati kaki sang tuan. Sang tuan terharu. Ia merasa tak enak tersebab kasar kepada hewan yang telah ia anggap sebagai malaikat pelindung itu.

 

Ia kemudian menciumi moncong si Mopi, bergenit-genit dengan kupingnya, selanjutnya memandikan anjing itu. Setelah itu mereka pergi.

 

“Kau sudah lama tak makan panggang, ‘kan, Mopi?” tanya lelaki itu, yang kemudian menambah laju kendaraan.

 

Cerita ini bukanlah hubungan antara anjing dan tuannya. Tetapi ini ada hubungannya dengan anjing. Ia seorang polisi keparat. Namanya Karman Sijogi Jogi S. Biasa dipanggil Karman. Empat tahun lalu, akibat ulahnya, seorang pemilik usaha percetakan melompat ke sumur sedalam sepuluh meter seusai mendapat kabar kalau suaminya mati terbakar di rumah warna putih.

 

Ia tergiur pada bisnis togel. Bukan untuk menjadi bandar togel tetapi penyedia kupon togel. Ia pun mencari sebuah percetakan yang menurutnya tiada seorang pun tahu. Hahaha! Bagaimana mungkin tak seorang akan tahu sedang ia sendiri sudah tahu?

 

Beginilah kisah itu dimulai dengan percakapan yang mubazir.

 

“Yang mana mau dilukis, Namboru2?”

“Coba yang di kamar anakku dulu. Nanti kalau cocok, baru kita lanjut.”

“Bang! Bisa tak sekalian, Abang buatkan karikatur Slank ini?” si remaja pria tiba-tiba datang.

“Oh, bisa, Dek.”

“Sama lirik-liriknya, ya, Bang. Virus.”

Bah! Mantap kali,” kata perempuan itu, “kalau gitu, Ito3 lukis aja semua dinding rumah ini. Ruang tengah, kamarku, kamar anak gadisku, dapur, dan ruang percetakan.”

Percetakan?

“Namboru punya percetakan?” Karman mengajukan pertanyaan yang sudah ia ketahui kebenarannya itu.

“Ya. Ito hias dulu secantik mungkin. Mana tau dengan di-kekgituin, rejeki bisa datang. Udah krisis kali ini. Pesanan sepi. Amang boru-mu4 udah cari orderan ke luar kota.”

 

Karman mengulum tawa di balik katup tangan yang ada batuk palsu di dalamnya. Dan ia tak boleh kelihatan terburu-buru.

 

Mula-mula, ia membersihkan dinding ruang cetak. Ketika perempuan itu meninggalkannya sendiri, ia beraksi. Ia melihat ada banyak peralatan di situ. Ia senang. Ia meremas-remas tangan, dan seketika ber-yes!

 

Ia cerdik. Nanti ia juga akan seperti bunglon. Lukisan-lukisan itu, ia buat sedemikan rupa. Untuk memenangkan hati orang lain, berilah ia gula-gula. Ini jimat yang tak pernah ia ragukan keampuhannya.

 

Singkat cerita, terbentuklah kerja sama tersembunyi itu. Ia katakan kepada perempuan yang tanpa didampingi sang suami ini, kalau ia seorang intel. Bahwa sepenuhnya, ia menjamin keamanan terhadap kemungkinan adanya gangguan sekecil apapun.

 

Perempuan yang terkadang bisa dikategorikan lugu itu langsung saja menyetujui. Padahal sudah sering ia dengar kabar bahwa intel sama dengan pengintai. Penuh intrik dan banyak akal. Dikelilingi keterselubungan. Orang-orang macam itu penipu unggul. Bayangkan saja, seorang mata-mata bisa menyamar jadi pedagang es lilin, penjual rujak keliling sampai pandai lukis dinding.

 

Lama-lama Karman mirip binatang yang hanya akan muncul ketika cahaya samar-samar. Adakalanya ia menelepon pukul tiga lalu muncul pukul empat. Begitulah kegiatan berlangsung hingga kurang lebih dua tahun dan sampai dipucuk keberhasilan.

“Diam semua, diam! Jangan ada yang bergerak!”

 

Sekitar pukul dua puluh satu, terjadilah peristiwa dramatis. Si perempuan mencoba menghubungi Karman tapi Karman hanyalah nama. Ia menghilang layaknya tokoh penjahat di novel-novel fiksi. Suaminya yang saat itu baru kembali, dan sedang di kamar menonton televisi, berusaha lari dari dapur, meloncat dari jendela, lalu naik ke atap seng.

 

Manusia jangkung yang otot-ototnya gempal membuat takut penghuni rumah. Mereka mengobrak-abrik kamar rahasia itu. Kertas-kertas berhamburan. Tinta dan peralatan berserakan. Suaminya ditangkap di atap seng lalu dimasukkan ke sebuah mobil untuk dihadapkan kepada ‘Bos’.

 

Uang lima puluh juta yang terkumpul dari hasil meminjam sudah disampaikan untuk menebus sang suami. Tapi itu hanya 1/3 dari yang seharusnya. Dan kematianlah yang pantas untuk itu. Dan Karman tahu akan berita itu, tapi ia tak mau terlalu tahu.

Nasi di piring dan air di gelas, Karman letakkan di lantai. Keduanya dipercicipkan kepada anjing jantan seolah anjing itu adalah seorang kepala koki. Jika anjing itu baik-baik saja, artinya, ia juga akan baik-baik saja.

 

“Ayo, kita nyanyi, Lae5!” sahut lelaki kurus yang mengenakan topi di sebelah meja Karman.

Karman hanya menggangguk, dan tak mau banyak tingkah. Sejak kejadian itu, ia tidak terlalu berminat menambah kenalan apalagi terhadap orang-orang yang tergolong agresif.

Aku gak mau menjadi setan yang menakutimu

Aku gak mau menjadi iblis yang menyesatkanmu

Yang aku mau kau mencoba

Tuk mengenal aku…

 

Karman merasakan virus lagu itu seperti binatang pengerat yang mencari tempat tinggal di jantungnya. Ia mematahkan rokok yang baru saja dibakar. Sedang si Mopi berbaring di bawah kursi dan mulutnya bergerak-gerak ke betis Karman. Karman tahu kalau anjing itu gelisah. Ia ambil cermin. Ia melihat-lihat. Aman. Ia menyantap hidangan. Ia berpeluh menikmati daging panggang lezat bercampur cabai rawit giling.

 

Lelaki kurus tadi meletakkan topi dengan kasar hingga topi itu mengenai jari kiri Karman. Karman tersinggung namun tidak berani memperlihatkannya. Selanjutnya, badan gitar memukul siku Karman. Ia masih kuat menahan diri. Dan saksikanlah adegan si lelaki kurus menumpahkan tuak seember ke kepala Karman.

 

Karman kesakitan menahan amarah yang tidak mungkin ia lepaskan. Kedai itu terlampau ramai. Bisa remuk-remuk tubuhnya. Bisa juga langsung dicincang lalu disusun ke besi pemanggangan. Betapa sedapnya!

 

“Kau tengok dulu mukakku ini baik-baik,” teriak lelaki kurus dengan angkuh.

“Kau masih ingat? Kau masih ingat Bapakku mati karenamu, dan Mamakku juga mati, Keparat? Ayo, silakan marah. Lawan aku, lawan! Dasar pengecut! Babi-anjing-musang-cacing-semua yang jorok-jorok, kaulah itu!”

 



Lalu Karman merasa ngeri melihat malaikat pelindungnya itu menggelepar-gelepar dengan mulut penuh busa serta mata yang ingin ke luar. Karman jadi terbayang hari-hari di belakang. Karman jadi melamun pada susu dan madu tadi pagi. Apa anjing memiliki firasat? Peduli amat dengan anjing. Lihat saja si Karman yang mulai mengeluhkan panas di kerongkongan serta kepala yang menggasing.

“Ayo, pukul aku, pukul! Biar kau tak menyesal. Sebentar lagi kau pasti mati.”

 

Sewaktu tahu Karman memesan makanan, tanpa sepengetahuan pemilik kedai, lelaki kurus itu memasukkan “hiasan” ke dalam sambal dan menaburkannya juga ke atas daging berlemak. Daging panggang garnish racun tikus.

 

Rengat, Mei 2016 

Catatan:

  1. Arak
  2. Bibi
  3. Sebutan kekerabatan antara pria dan wanita
  4. Paman
  5. Sebutan kekerabatan sesama pria
Tag:
Ditulis oleh Jeli Manalu

lahir di Padangsidempuan, 2 oktober 1983, Tinggal di Rengat-Riau. Penikmat sastra dan giat menulis cerpen

Tinggalkan komentar

1 × 4 =