• Beranda  /
  • Opini   /
  • Problematika dan Solusi Pendidikan Menuju Labuhanbatu Berkemajuan 2020
Problematika dan Solusi Pendidikan Menuju Labuhanbatu Berkemajuan 2020 Forum Group Diskusi (FGD), Kesbang Linmas Labuhanbatu Tampilan penuh

Problematika dan Solusi Pendidikan Menuju Labuhanbatu Berkemajuan 2020

Pendahuluan

Maju dan berkembangnya suatu daerah bukan ditentukan oleh kesuburan atau luasnya suatu daerah tersebut. Kalau itu parameternya sudah tentu Papua dan Kalimantan adalah daerah yang paling maju di Indonesia, kenyataannya dua daerah tersebut adalah merupakan daerah tertinggal. Namun yang menjadi faktor penentu majunya suatu daerah adalah seberapa banyak masyarakatnya yang terdidik.
Jepang maju bukan karena subur atau luas daerahnya, apalagi setelah Amerika dan sekutunya menjatuhkan bom atom di Nagasaki dan Hiroshima, namun yang membuat Jepang maju adalah pendidikan dan masyarakatnya yang terdidik. Singapura berpenduduk sedikit, sumber daya alamnya (SDA) juga sangat terbatas. Bahkan untuk memperluas daratannya, Singapura harus “mengeruk”  pasir dari Riau. Meski SDA Singapura terbatas, dengan SDM yang berkualitas, income percapita negara tersebut sangat tinggi di negara ASEAN dan Lembaga pendidikannya termasuk 100 top dunia.

Oleh karena itu sudah dapat dipastikan permasalahan di Labuhanbatu bukan karena tidak suburnya atau luasnya daerah, tapi permasalahnnya adalah ada di dunia pendidikan. Ada apa dengan dunia pendidikan di Labuhanbatu? Problematika apa yang sedang dialaminya? Dan bagaimana kondisinya saat sekarang ini? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang harus dicermati, diobservasi, kalau perlu membuat penelitan khusus kemudian setelah menemukan akar permasalahannya, barulah diupayakan solusi dari permasalahan tersebut.

Pendidikan adalah lembaga pembentuk Sumber Daya Manusia (SDM), sesungguhnya kualitas SDM dapat dibentuk melalui dunia pendidikan. Kualitas SDM itu sangat berkaitan erat dengan kualitas pendidikannya. Makanya kalau pendidikannya tidak berkualitas sudah barang tentu SDM nya juga tidak berkualitas. Dengan demikian tema “Problematika Pendidikan di Labuhanbatu dan Solusinya menuju Labuhanbatu berkemajuan 2020” adalah menjadi bagian sangat penting dan menarik untuk dikupas dan dibahas. Apa lagi kalau dikaitkan dengan target 2020 yang semakin menjadi penasaran. Ada apa sebenarnya di tahun 2020. Untuk mengetahui apa yang terjadi di tahun 2020 adalah dengan cara memprediksi atau meramalkannya. Nah, cara yang paling efektif untuk memprediksi dan meramal masa yang akan datang adalah dengan cara melihat kondisi saat sekarang ini.

Berdasarkan kondisi sekarang ini sesuai dengan prediksi dan perencanaan yang sedang berjalan maka yang akan terjadi di tahun 2020 diantaranya adalah; kemajuan teknologi yang hampir maksimal. Dalam hal kemajuan teknologi minimal ada 4 poin yaitu :

  1. Tampilan holografis semakin dekat dengan realisasi
  2. Smart phone bisa mendeteksi pergerakan jari tanpa harus menyentuh layar lagi.
  3. Virtual Reality (Realiti Maya) yang lebih sempurna
  4. Internet yang benar-benar global.

Selanjutnya adalah kebangkitan ekonomi Indonesia yang menurut Blomberg, Economic Intelligence Unit (EIU) Indonesia bakal menguasai perekonomian global pada tahun 2050 dengan urutan Cina, Amerika Serikat, India, Meksiko, dan Indonesia (Kompas.com 24/6/2015) negara dengan penduduk besar mempunyai potensi berkembang dan unik, hal ini dikarenakan besarnya pasar domestik yang dimiliki. Dan yang terpenting adalah ada prediksi kebangkitan Islam itu berawal dari Indonesia. Yang bisa dilakukan hari ini adalah mempersiapkan SDM untuk mengelolah kekayaan SDA sehingga kondisi daerah Labuhanbatu sesuai dengan prediksi di atas, salah satunya adalah melalui pendidikan.

Latar Belakang Masalah

Salah satu cermin dunia pendidikan itu adalah kondisi lingkungan dan masyarakatnya, jadi kalau mau lihat pendidikannya lihatlah gambaran masyarakatnya, secara kasat mata dengan penglihatan orang awam yang terjadi di Labuhanbatu saat sekarang ini adalah jumlah kendaraan bermotor yang semakin meningkat, pertumbuhan super market yang menjamur, menjamurnya pusat kuliner, pembangunan ruko yang pesat. Ini semua menunjukkan geliat pertumbuhan ekomomi yang baik ditengah-tengah melesunya harga sawit dan karet. Namun ditengah-tengah geliat ekonomi itu ada yang mengkhawatirkan yaitu, kenapa semua toko buku di Rantauprapat itu tutup dan mengalami kebangkrutan? Inilah yang perlu dikaji mendalam, apakah hal ini ada kaitanya dengan lesunya dunia pendidikan di Labuhanbatu, atau karena hanya sekedar faktor bisnis saja. Hematnya dan seharusnya hal itu pasti ada hubungannya dengan dunia pendidikan di Labuhanbatu ini menjadi permasalahan pertama.

Permasalahan kedua, kurangnya minat membaca. Wajar saja kalau beberapa toko buku di Rantauprapat itu tutup. Bagaimana tidak tutup, sepi pengunjung dan tidak ada pembeli. Ini semua menunjukkan karena minat membaca dan belajar di Labuhanbatu sangat rendah. Kalangan pelajar sangat suka mendengarkan musik, menonton film, main games, media sosial, balap liar, itu semua menjadi hobi populer. Sangat jarang pelajar hobinya membaca buku atau belajar. Ada yang pergi ke sekolah tidak membawa buku dan alat tulis, yang dibawa adalah tas sandang kosong tanpa isi, kalau ada isinya hanya buku tulis satu buah untuk semua pelajaran, ini terjadi di Labuhanbatu. Jadi budaya sekolah sudah baik namun budaya belajar masih sangat memprihatinkan.

Permasalahan ketiga, yang masih terjadi di dunia pendidikan Labuhanbatu adalah bullying, diskriminasi, pengucilan dan pengkerdilan. Ada banyak kasus bullying yang terjadi di sekolah dan ini tampaknya menjadi suatu penyakit juga. Bullying di sekolah sering dilakukan oleh senior terhadap juniornya, siswa yang kuat terhadap siswa yang lemah, biasanya motif pemalakan. Bullying sering juga dilakukan oleh kelompok kepada individu atau kelompok dengan kelompok yang lain. Masalah diskriminasi juga sering terjadi selalu ada murid yang termajinalkan bahkan ini sering dilakukan oleh guru tanpa disadari mengunggulkan anak kelas IPA dibandingkan Anak kelas IPS, membandingkan antara keduanya, serta memperlakukan keduanya secara berbeda akan menimbulkan kasta perbedaan yang memicu marjinalisasi, pengucilan, dan pengerdilan anak IPS. Akhirnya anak IPS mencari bentuk perhatian dan menyalurkan energi kepada keburukan dan kenakalan.

Permasalahan keempat, stagnasi kreativitas di dunia sekolah. Anak-anak lebih menjadi seperti robot-robot yang minim kecerdasan emosi dan minim kreativitas. Anak-anak sulit untuk berbagi, sulit untuk bersabar, tidak punya budaya antri, sulit memahami perasaan orang lain, dan juga sangat mudah tersinggung. Anak-anak akan menjadi sangat banyak tuntuan, menjadi sangat konsumtif dengan sesuatu yang negatif terhadap perkembangan mental dan jati dirinya. Sekolah-sekolah membangun pagar yang tinggi, gedung yang tinggi, suasana menjadi kotak-kotak dan hilanglah nuansa estetika. Hal ini menjadikan sekolah tidak menyatu dengan masyarakat, seolah-olah dunia pendidikan bermusuhan dengan dunia realitas masyarakat. Anak-anak sangat minim prestasi, karyanya banyak dari hasil mencontek dan menjiplak serta membeli. Yang jelas stagnasi kreativitas ini sangat berbahaya, ini akan menyebabkan anak tidak dapat menyalurkan energi dengan positif dan akhirnya disalurkan kepada hobi populer yang negatif.

Permasalahan kelima, adanya hobi populer negatif seperti: pergaulan bebas, pornografi dan pornoaksi, narkoba, geng dan kelompok teman sebaya, serta berkembangnya aliran musik idiologis seperti Punk dan Black Metal Indonesia (BMI). Data dari LPPA Labuhanbatu pada tahun 2015 terdapat kasus anak pelajar putus sekolah karena hamil, itu yang terdeteksi dan melapor yang tidak datanya lebih besar daripada yang diperkirakan. Ada orang tua yang memergoki anaknya berzinah dirumahnya sendiri, namun orang tuanya tidak melakukan tindakan kontstruktif namun malah berjanji akan menikahkannya setelah tamat sekolah. Kafe-kafe menyewakan bilik dan gubuk mesum bebas untuk kalangan pelajar, kemudian menjamurlah praktek prostitusi atas nama cinta dan sukarela. Anak-anak bebas mengakses pornografi, bertukar vidio porno, bahkan ada yang mereka perankan sendiri kemudian direkam dan disebar luaskan. Narkoba menjadi barang yang tak asing ditengah pelajar, berawal dari merokok, kemudian mencoba mengkonsumsi narkoba dan akhirnya ketergantungan. Karena keterbatasan ekonomi akhirnya jadi pengedar, tentu yang menjadi targer dan marketnya adalah teman-temannya di sekolah, sehingga barang haram ini sudah tidak asing lagi di kalangan pelajar Labuhanbatu. Geng dan kelompok teman sebaya juga berkembang ke arah negatif, mereka sering mengadakan perkumpulan balap liar, mabuk dan konsumsi narkoba bareng yang berlanjut pada pergaulan bebas hubugnan intim. Ada banyak grup di medsos yang merupakan perkumpulan anak-anak berenergi lebih kearah negatif.

Permasalahan keenam. Terkikisnya budaya kearifan lokal, anak-anak gayanya sudah seperti artis dan model. Tampak sangat modis dan gaul, tampak wah dan megah, tapi sangat rapuh dan kering ruhiyah dan budaya kearifan lokal. Di Labuhanbatu ada pembunuhan karena motif asmara, ada kasus bunuh diri pelajar karena asmara, minim budaya dan kreasi lokal. Karena minimnya budaya kearifan lokal sehingga Labuhanbatu menjadi incaran kapitalis untuk memasarkan produknya, termasuk fashion, musik, narkoba, life style dan yang lainnya.

Permasalahan ketujuh adalah hilangnya jati diri dan konsep diri anak-anak. Anak-anak menjadi tidak bangga dengan dirinya sendiri, mereka lebih sening membuat flasebo atau fals kepribadian dengan meniru gaya model yang sedang poluler. Dari cara berpakaian, gaya rambut, berbicara dan bahasa yang tidak mencerminkan anak pelajar lagi. Kalau ditanya kenapa mereka mengikuti model seperti itu jawabanya simpel biar gaul biar ngetren, mereka tidak tahu jawaban yang mendasar. Kalau ditanya tentang mimpi mereka untuk masa depannya menjadi linglung dan menjawab ya mengalir saja dan mengikuti perkembangan zaman. Kalau kita tanyakan kepada mereka tentang cita-cita mereka selalu menjawab dengan 5 cita-cita populer yaitu polisi, tentara, dokter, guru, dan PNS, yang dengan itu menunjukkan mereka belum punya jadi diri dan belum terbuka wawasannya. Mereka sering galau dan gusar, suka mengganggu dan menjahili temannya, perilakunya tidak terarah, mudah tersinggung dan mudah marah, tidak punya motivasi belajar dan motivasi hidup itu semua karena mereka tidak punya konsep diri. Pada saat mereka tidak punya jati diri mereka menjadi tidak tahu arah, berjalan sesuka hati tanpa tujuan dan arah yang sering membuat mereka menjadi tersesat kedalam dunia hitam yang merusak diri mereka.

Permasalahan-permasalahan yang sudah dituangkan di atas hanyalah sebagian saja dari permasalahan dunia pendidikan di Labuhanbatu. Masih banyak masalah lain yang tidak sempat dibahas dalam tulisan ini, tapi paling tidak yang di atas sudah mewakili dari problematika yang terjadi di dunia pendidikan sekarang ini yang kalau kita kategorikan menjadi dua permasalahan saja yang pertama adalah masalah di Sumber Dayanya baik sumber daya manusia maupun sumber daya alamnya dan yang kedua adalah masalah sistemnya. Namun demikian fokus dari penulisan ini adalah bukan pada masalahnya tetapi lebih mengedepankan kepada solusi penyelesaian yang diharapkan menjadi dasar pemikiran, menjadi referensi buat lembaga pendidikan baik pemerintah maupun nonpemerintah.

SOLUSI DAN PENYELESAIAN

Masalah di dunia pendidikan itu sudah seperti benang yang kusut yang sudah sangat sulit untuk diuraikan kembali. Namun demikian bukan tidak mungkin dengan upaya dan penanganan yang tepat, cepat, dan cermat akan membuahkan hasil yang optimal. Kalau coba menyelesaikan permasalahannya satu persatu sesuai dengan permasalahan yang ada itu sudah tentu akan menghabiskan waktu dan materi yang banyak, belum lagi masalah efisiensi dan ketepatan penanganannya yang sering sekali menjadi jauh api daripada panggang. Maka dari itu perlu penanganan berdasarkan analisa akar masalah yang dapat menjadi domino efek bagi permasalahan-permasalahan yang lainnya. Untuk itu perlu penelitian yang lebih mendalam yang melibatkan berbagai unsur dan elemen masyarakat.

Pada pembahasan kali ini, yang menjadi tawaran dan pilihan utama dalam menyelesaikan masalah pendidikan di Labuhanbatu adalah:

  1. Pendidikan Alternatif dan
  2. Pendidikan Berbasis Talent Mapping

Dua hal ini yang menjadi poin penting dan mencoba menguraikan benang kusut pendidikan menjadi benang yang dapat menyulam dan akhirnya terbentuklah pakaian yang indah dan nyaman. Hal ini didasarkan atas 2 permasalahan terakhir yang menjadi fokus dari penulisan ini yaitu: terkikisnya budaya kearifan lokal dan hilangnya jati diri dan konsep diri anak pelajar. Ini juga tidak bermaksud mengesampingkan permasalahan dan penyelesaian yang lainnya. Karena kedua hal ini sangat berkaitan erat dengan masalah yang lain maka solusinya diharapkan mampu mengakar dan menjadi efek domino di dunia pendidikan.

Pendidikan Alternatif

Dunia pendidikan sekarang ini, dalam kacamata humanistik dan transpersonal sudah seperti dunia museum usang yang tidak pernah dirawat. Dunia pendidikan dipenuhi dengan kekerasan, bullying, dan agresifitas, terakhir peristiwa yang terjadi baru-baru ini penyerangan anak SD kepada SD lainnya di Jawa Tengh. Guru-guru stress karena muridnya nakal-nakal, sehingga perilaku yang muncul adalah marah dan membentak. Semua proses pendidikan dijalankan karena hukuman bukan karena kesadaran akan pentingnya disiplin itu sendiri. Murid-murid tidak ada motivasi belajar, karena sering dibentak dan dihukum menjadi tertekan dan akhirnya juga stress, lengkaplah sudah dunia pendidikan guru stress ketemu dengan murid stress. Produk akhirnya adalah individu-individu yang stress. Pendidikan alternatif tidak bermaksud menyaingi pendidikan formal, tapi ini bisa menjadi alternatif jitu menangani peroblematika pendidikan yang sudah mengalami klimaks, titik jenuh. Perlu nuansa baru, perlu pendekatan baru yang lebih mengakar dan berbasis kearifan lokal.

Kalau diamati saat sekarang ini justeru penanaman nilai generasi muda itu banyak berasal dari luar sekolah, dari televisi, media sosial, musik, masyarakat dan yang lainnya. Kenapa nialai-nilai dari luar sekolah itu lebih mudah diterima oleh para pelajar. Karena itu lebih menyenangkan dan mereka menyukainya sehingga tanpa mereka sadari nilai-nilai itu tertanam dalam diri mereka. Padahal nilai-nilai itu lebih banyak negatifnya ketimbang positifnya, lebih banyak buruknya ketimbang baiknya. Untuk itu pendidikan alternatif mencoba mengarahkan nilai-nilai negatif dan menggantinya dengan nilai-nilai yang positif. Pendidikan alternatif mempunyai pengertian yang beragam yang itu juga meliputi pendidikan formal dan non formal. Kalau pendidikan formal yang bersifat khusus seperti SMA Taruna, itu juga bisa dikategorikan pendidikan alternatif. Tapi dalam penekanan ini adalah lebih menekankan pendidikan alternatif formal dengan metode altenatif seperti pendekatan sekolah alam atau, pendidikan alternatif non formal yang berbasis portofolio yang akan dilanjutkan pembahasannya dalam penyelesaian yang kedua yaitu talent mapping.

Pendidikan Berbasis Talent Mapping

Arti dari talent maping adalah memetakan anak berdasarkan potensi dan bakat. Kemudian mengembangkan potensi dan bakat sesuai dengan kebutuhan saat sekarang ini dan masa yang akan datang. Ini sejalan dengan kurikulum K 13 yang akan diterapkan pada tahun 2017 ini. Pendidikan berbasis talent mapping menjadikan anak unik sesuai dengan potensi dan bakatnya. Kalau anak hebatnya di bidang bahasa, maka anak akan dikembangkan diberikan stimulasi yang optimal dibidang bahasanya, kalau dia ada kekurangan dibidang matematika biarlah hal itu mengalir apa adanya yang penting tetap fokus pada kelebihannya. Dan pada saatnya nanti ketika anak hebat dan berprestasi di bidang bahasa maka secara otomatis kekurangannya akan meredup sendiri dan tertutupi oleh kelebihannya di bidang bahasa. Kalau anak tidak bisa matematika dan bisanya bermain musik biarkan ia melatih dan mengoptimalkan bakat musiknya, jangan malah dikursuskan matematika apalagi dipaksa untuk bisa menjadi ahli di bidang matematika, ini akan membunuh karakternya. Kalau karakternya terbunuh maka penyalurannya adalah bakat populer.

Talent mapping berupaya mengoptimalkan keunikan dan keistimewaannya, manusia diberikan potensi yang merupakan anugerah Allah, berupa kemampuan yang Allah berikan kepada seluruh manusia yang dalam perjalanannya potensi itu perlu diasah dan dikembangkan agar potensi itu menjadi teraktualisasi. Potensi bersifat umum, dan setiap orang mempunyai potensi yang sama tidak ada perbedaan antara yang satu dengan yang lainnya. Setiap orang berpotensi untuk menjadi baik sebagaimana juga setiap orang berpotensi untuk menjadi jahat, karena sebenarnya baik kebaikan maupun kejahatan bersumber dari satu energi yang sama dengan wujud yang berbeda. Seseorang yang tidak berada pada kutub kebaikan sudah barang tentu dia berada pada kutub kejahatan, sebaliknya seseorang yang tidak berada pada kutub kejahatan sudah barang tentu dia berada pada kutub kebaikan, ini adalah sudah menjadi semacam sunatullah yang harus kita pahami.

Antara potensi dan bakat ada kesamaan dan perbedaannya, persamaannya adalah sama-sama bawaan dari sejak lahir. Sedangkan perbedaannya adalah, kalau potensi bersifat umum dan setiap individu mempunyai kesamaan. Bakat bisanya adalah ciri khas yang unik dan spesial yang dimiliki individu yang merupakan bawaan dari sejak lahir. Jadi bakat adalah sebuah potensi, tapi belum tentu potensi itu merupakan bakat dari seseorang. Namun demikan potensi dan bakat merupakan energi yang terpendam yang belum muncul keatas permukaan.

Lantas apa itu bakat?

Bakat adalah potensi yang berupa kelebihan seseorang, unik dan khas yang dimiliki individu yang membedakan dirinya dengan orang lain, berhubung bakat adalah ciri khas individu yang unik maka setiap orang mempunyai bakat yang berbeda. Contoh :

  • Stephani Handoyo, Anak DS yang meraih mendali emas kejuaraan renang di olimpiade spesial 2011 di Athena, pembawa obor Olimpiade 2012 London. Rekor Muri Piano
  • Dimas Hokka, Usia 13 tahun sudah menjadi dosen dan peraih rekor muri dalam berhitung lebih cepat daripada kalkulator pada saat kelas 6 SD
  • Kolonel Herlan Sander, pendiri KFC memulai kisah suksesnya pada usia senja yaitu ketika beliau usia 66 tahun.

Jadi apa urgensi memahami dan mengenali bakat?

Karena bakat adalah emas yang terpendam dalam diri seseorang, bila kita tidak menggalinya atau tidak mengenalinya maka kita tidak akan pernah tahu harta yang paling berharga yang kita miliki, yang telah Allah berikan kepada kita. Karena bakat adalah anugerah Allah maka sudah sepantasnya kita mensyukurinya dengan mengoptimalkan serta mengasahnya. Bila tidak berarti kita tidak bersyukur dengan anugerah Allah tersebut. Bakat yang terpendam dalam diri seseorang sama dengan emas yang terpendam dalam batu gunung. Bila kita tidak mengetahui batu itu mengandungi emas maka harga emas sama dengan harga batu gunung. Tetapi jikalau kita tahu batu gunung itu mengandung emas, kemudian kita pisahkan antara batu dan emas maka harga emas 1 gr kurang lebih Rp 500.000. Bagaimana kalau 1 kg. Jadi kalau kita mau bersyukur dan menghargai diri setara dengan emas bahkan lebih dari sekedar emas maka kenali dan galilah bakat itu.

Lalu bagaimana menggali dan mengembangkan bakat?

Cara yang pertama adalah Tanya Ahli. Muncul pertanyaan siapa ahlinya, jawabannya sangat relatif. Bisa orang pintar yang ahli di bidang tertentu, seperti seni, menari dan menyanyi, olah raga, bisa juga psikolog dan lain-lain. Contohnya adalah audisi Indonesia idol. Persoalan yang muncul selanjutnya adalah apakah semua orang mempunyai kesempatan yang sama, dan ini sangat dipengaruhi perspektif dan keahlian masing-masing.

Yang kedua mencoba, mencoba, dan terus mencoba, ingat yang paling penting terus mencoba dan jangan berhenti mencoba sampai berhasil. Terus pertanyaannya sampai kapan terus mencoba dan kapan berhasilnya?

Caran yang ketiga adalah mengenali diri sendiri, karena dalam mengenali diri sendiri sesungguhnya kita mengenali Tuhan sang pencipta, karena di dalam diri kita terdapat tanda-tanda kekuasaannya. Terus pertanyaannya adalah bagaiman caranya, ini bisa dilakukan dengan kelebihan dan kekurangan yang ada dalam diri kita, persoalannya apakah kita benar-benar tahu dengan baik kelebihan dan kekurangan diri kita. Ini menjadi tanda tanya besar, tapi jangan khawatir setelah sesi ini saya dan panitia akan memberi tahu cara paling efektif untuk mengenal diri sendiri dan menggali bakat, yang simple, praktis, mudah dan efesien.

Kembali kepada topik bahasan, bakat adalah kemampuan bawaan berupa potensi yang masih perlu dikembangkan atau dilatih untuk mencapai suatu kecakapan. Contohnya: Ikan berbakat berenang, untuk bisa berenang ikan perlu air dan berlatih agar dapat melawan arus. Kucing berbakat menangkap tikus, untuk menjadi mahir dan handal kucing dari kecil berlatih menangkap tikus. Kuda sangat berbakat berlari, agar menjadi kuda yang handal dalam berlari dari kecil setiap hari kuda harus berlatih.

Bakat juga perlu dibentuk dan diasah setiap saat sehingga bakat menjadi terlatih. Nah untuk melatih bakat inilah perlu dukungan dari minat, karena minat sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan maka lingkungan dan minat harus diarahkan  untuk mendukung bakat bukan melawan bakat.

Kenapa lingkungan dan minat harus mendukung bakat?

Karena bakat tanpa lingkungan dan minat sama saja tidak ada. Contohnya kalau kita mempunyai bibit yang unggul kemudian bibit unggul itu tidak kita tanam, maka bukankah berarti bibit unggul itu sama saja tidak ada. Atau kita tanam, tetapi menanamnya di tempat yang tandus kemudian tidak dirawat, maka bibit unggul juga akan mati, bila keadaannya seperti itu berarti bakat dianggap tidak ada, maka dari itu lingkungan dan minat sangat penting dalam menumbuh kembangkan potensi dan bakat yang kita miliki.

Apa sih minat itu?

Minat itu ketertarikan seseorang terhadap sesuatu yang lebih dipengaruhi oleh faktor lingkungan sehingga minat seseorang sering berubah tergantung dengan situasi dan kondisi yang membentuknya. Contohnya minat seseorang terhadap bola akan meningkat pada saat ajang Piala Dunia bola sedang berlangsung, tetapi pada saat pergulatan itu sudah selesai minat itu menjadi menurun.

Darimanakah energi dasar minat itu bersumber?

Ketertarikan seseorang terhadap sesuatu itu atau yang sering kita sebut dengan minat sebenarnya bersumber dari tiga potensi dasar manusia yaitu hati nurani, akal pikiran, dan Nafsu syahwat. Dari ketiga potensi inilah energi minat muncul dalam diri seseorang. Contohnya hati nurani selalu mengarahkan minat seseorang kepada kebaikan, sementara nafsyu syahwat mengarahkan kepada keburukan, dan akal pikiran menjadi penyeimbang dari keduanya.

Bagaimana cara mengarahkan minat agar sesuai dengan bakat?

Pertama kenali bakat terlebih dahulu. Kedua jadikanlah bakat sebagai minat, sehingga perhatian dan fokus hanya kepada bakat yang merupakan ciri khas dan keunikan individu. Ketiga modifikasi lingkungan agar minat yang sesuai dengan bakat muncul, kemudian berlatih dan terus berlatih sehingga tiada hari tanpa berlatih.

Contoh Susi Susanti, Peraih mendali emas bulu tangkis pertama Indonesia di ajang Olimpiade Barcelona, Spanyol tahun 1992, serta juara empat kali All England (1991, 1992, 1993, 1994) ia berlatih sejak duduk di bangku SMP, enam hari dalam seminggu, dari pukul 07.00-11.00. Kemudian latihan disambung lagi pukul 15.00-19.00. Rutinitas ini dilakukan selama bertahun-tahun , di saat anak-anak lain seusianya masih sibuk bermain-main dengan dunia remaja mereka.

Ketiga hal inilah yang menurut saya menjadi jawaban dari pertanyaan, kenapa Dimas Hokka dapat meraih suksesnya pada usia yang sangat belia, sementara itu Kolonel Sander pada usia yang cukup senja namun demikian itu tidak jadi masalah. Mau kapan pun kesuksesan itu datang, yang jelas keduanya telah sukses dan menjadi inspirasi banyak orang.

Justru pertanyaannya adalah bagaimana dengan kita, anak-anak kita apakah kita dan anak-anak kita sudah melangkah ke depan untuk meraih sukses, atau malah mundur ke belakang karena takut dihantui oleh bayangan kita saat melangkah. Mengenal bakat berarti mengenal diri sendiri dan mengenal diri sendiri berarti mengenal Sang Pencipta, karena di dalam diri itu banyak tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Sang Pencipta



Diharapkan dengan pendidikan alternatif penilaian dan evaluasnyai tidak terfokus pada ranah kognitif saja tetapi menjadi lebih luas termasuk hal-hal yang menjadi ciri khas dan keunikan individu yang merupakan potensinya harus diapresiasi dan dikembangkan menjadi kelebihan dan prestasi. Jadi setiap anak adalah juara dan hebat berdasarkan potensi dan keunikan yang dimiliki individu, ada anak juara dalam bidang sains, ada anak hebat dan juara dalam bidang sosial, dan ada juga anak hebat dalam bidang olah raga dan lain-lain. Karena itu potensi anak tidak boleh disama ratakan menjadi kemampuan yang rata-rata, kalau ini terjadi berarti kita telah membunuh potensi anak didik kita sebelum potensi itu berkembang dan menjadi hebat. Pendidikan alternatif harus menggali potensi terpendam yang ada pada setiap peserta didik, potensi terpendam itu sama seperti bakat yang terpendam, selama tidak dilatih dan diasah atau diaktualisasikan, bakat itu sama saja dengan emas yang ada dalam batu gunung. Emas dalam batu gunung yang tidak bernilai, apabila digali dan dipisahkan dari batu gunung, emas menjadi sangat bernilai, apalagi kalau sudah jadi perhiasan yang menghiasi jari manis pada saat hari momentum spesial seperti hari pernikahan maka nilainya menjadi sangat spesial dan tidak ternilai dari segi materinya. Begitu juga dengan bakat yang merupakan potensi terpendam dalam diri seseorang, kalau bakat terus digali dan dilatih maka akan banyak bermunculan orang orang seperti B.J Habibi, Almarhumah Gayatri ( gadis remaja yang menguasai 7 bahasa, hafal Qur’an dan duta anak), dan banyak yang lainnya yang merupakan anak-anak berbakat.

Penutup

Yang membuat Kolonel Sander hebat adalah bukan karena ia seorang kolonel, tapi karena bakat yang terpendam dan mulai diasah pada saat beliau pensiun dan baru di usia 60 tahun ia menemukan bakatnya dan menjadi terkenal. Yang menjadikan Tomas Alfa Edison hebat adalah karena ia dikeluarkan dari pendidikan formalnya kemudian dengan penuh kasih sayang dan kesabaran ibunya mendidiknya sampai menjadi penemu yang hebat. Yang menjadikan Honda hebat adalah karena dia drop out dari kuliahnya, yang menjadikan Steve Job dan hampir rata-rata pengusaha adalah karena tidak mempunyai pendidikan formal yang baik. Lantas apakah kita tidak mau mencoba mencetak generasi seperti mereka dengan mengubah pendidikan kita sekarang  lebih menyenangkan seperti senangnya seseorang pada saat bertamasya, senangnya seseorang bermain dalam air, senangnya seseorang bermain dengan hobinya. Kalau mau maka jawabannya adalah menerapkan pendidikan berbasis talent mapping bisa menjadi jawaban dan solusinya serta pendidikan alternatif menjadi alternatif sistem pendidikannya.

Junaidi, S.Psi, M.Soc. Sc-Dosen UNIVA labuhan batu, Guru BK SMPIT Arrozaq, Konsultan Psikologi Anak dan Remaja, dan Terapis anak berkebutuhan khusus.

(Dipresentasikan pada Forum Group Diskusi (FGD), Kesbang Linmas Labuhanbatu, 28 Nopember 2016 dengan judul Problematika Pendidikan di Labuhanbatu dan Solusinya Menuju Labuhanbatu Berkemajuan Menyongsong Tahun 2020)

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 5 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*

Tinggalkan komentar

5 × 5 =