Topbar widget area empty.
Bahagia Tak Mesti Dengan Manusia Illsutrasi Tampilan penuh

Bahagia Tak Mesti Dengan Manusia

Rusmiyatum menatap awan di kolong langit. Kadang menyerupai wajah manusia. Kadang seperti kawanan biri-biri, lalu seperti pasukan berkuda menabur kelopak-kelopak mawar. Ingin sekali ia temukan wajah suaminya. Lelaki gagah yang tak pernah habis ia rindui itu, pergi dalam hangat dekapnya, sehabis dipagut ular sendok yang sedang beranak.

 

Ketika memiringkan leher ke arah bunga-bunga rumput yang diterbangkan angin, pikirannya membaca kalimat: bahagia tak mesti dengan manusia.

 

Sudah sebulan ini Rusmiyatum bertengkar dengan putrinya. Putri kesayangan yang ia timang-timang dulu, kini sering memarahinya.

 

Mak tu tunak aja di rumah. Makan roti, bikin teh manis. Ngapain pergi-pergi?”

 

Rusmiyatum tak peduli. Ia sibuk merapikan plastik, botol-botol bekas, sandal-sandal busuk, dan apa saja ia susun di pojokan. Ia bahkan tersenyum menghitung lembaran uang dalam dompet serut yang ia selipkan di belahan baju dalamannya.

 

“Ha! Itu duit, Mak dapat dari mana? Mak minta-minta dengan orang?”

Mak dikasih, bukan minta-minta.”

“Dikasih dengan minta-minta apa beda, Mak? Mak gitu tampangnya. Jorok, anyir, tentulah orang ngira kalau Mak tu pengemis.”

“Aku tak ada ngemis!”

“Sini, biar kubuang semua. Mak tak tau, ini semua berkuman. Mak ingin bikin orang serumah ni berpenyakitan?” Renni, sang anak, merampas benda-benda itu dari perlindungan Rusmiyatum.

“Tak usah kau buang! Nanti aku yang buang!”

“Aku sudah tak percaya dengan, Mak. Kemarin juga Mak ngomong gitu. Tapi apa? Sudah menggunung kotoran di rumah ni. Aku malu, Mak. Aku malu ditegor-tegor yang punya toko. Mak serak-serakin barang busuk. Entah apa yang Mak cari? Sumpah!”

“Aku mau cari kesenangan!”

“Kesenangan macam mana lagi yang ingin Mak cari?”

 

Suaminya telah pergi. Satu per satu anaknya meninggalkan rumah dan bersekutu dengan pasangan masing-masing. Yang terakhir, putri bungsunya yang amat pengertian itu justru dipinang lelaki berkebangsaan Malaysia.

 

Sejak saat itu, ia dipaksa Renni, anak perempuannya yang memiliki toko emas, agar tinggal bersama saja. Renni punya lima anak. Yang paling tua, parlente gitu-lah. Rambut dan seleranya terhadap pakaian, ala artis Korea. Rusmiyatun bagai tak pernah ada dianggapnya. Rusmiyatum sering terkejut ketika dengan tiba-tiba, cucu yang tak tahu sopan santun itu membunyikan klakson berkali-kali, agar dirinya segera menyingkir. Anak kedua, sama cerewetnya dengan Renni. Ketiga, gadis yang amat pemalas dan suka meletakkan pakaian dalam di sembarang tempat. Keempat, pemurung dan mudah menangis. Sedang yang terakhir, yang seharusnya paling cantik itu, autis.

 

Di rumah itu hobinya beda-beda. Satu memasang musik, satunya memasang TV, lalu main game, main bola, dan main pesawat-pesawatan. Hunian itu tak ubahnya seperti ‘Matahari Departemen Store’ lantai paling atas: selamat datang di surga kebisingan—timezone.

 

Tak ada ketenangan seperti dulu, di ladang sawit yang tak banyak apa-apa namun hati berselimut cinta. Hanya ikan asin, daun pucuk ubi, dan cabai giling tanpa minyak. Kadang hanya membakar lele, belut atau ikan-ikan kecil yang terperangkap dalam bubu.

 

Tapi semenjak suaminya digigit kobra, hidup seolah tak guna. Rumah sakit sangat jauh ke kota kabupaten. Dukun juga tak ada. Dalam perasaan kalut, ia kesakitan menyaksikan suami yang kesakitan.

 

Rusmiyatum membawa tubuh suaminya yang berat ke luar kebun. Namun hingga langit keemas-emasan, tanda-tanda kendaraan akan lewat tak kunjung ada.

 

“Tum,” kata suaminya, “ayo pulang. Abang sudah ngantuk.”

“Iya, Bang. Sebentar lagi.”

Sewaktu Rusmiyatum teringat akan air, telinganya pun menangkap air.

“Tunggu di sini, Bang.”

 

Rusmiyatum bergerak cepat ke arah yang gemericik. Tak ia pedulikan kaki perih tergores semak. Ia patahkan sehelai daun talas lalu dibentuk jadi kerucut.

“Bang, ini, minumlah,” tangan kirinya berusaha membuka bibir suaminya, “ayo, Bang. Buka mulutmu.”

 

Mulut kering itu tak kunjung membuka. Rusmiyatum kian kacau. Ia berteriak berharap ada yang mendengar. Ketika tangan suaminya melepas pelukan, jantungnya berdebar. Ia tumpahkan seluruh air ke wajah suaminya hingga berkali-kali meniupkan udara ke mulut lelaki itu.

 

Ketika pipi kuning yang ia tampar-tampar itu hanya pasrah, ia mulai sadar. Sesuatu telah terjadi. Ia tak langsung menangis. Mungkin ia tak tahu lagi bagaimana caranya menangis. Rusmiyatum runtuh. Dan tubuh yang sudah tak sadarkan diri itu diberitakan oleh sahut-sahutan anjing.

 

Seminggu kemudian atas saran keluarga, kebun itu akhirnya dijual dan digantikan dengan membuka toko pakaian. Usahanya ini sukses. Dari situlah Rusmiyatum memberangkatkan ketiga putrinya hingga menjadi orang-orang sukses. Setidaknya menurutnya.

 

Ketika sudah renta dan hanya tinggal seorang diri, toko pakaian pun dijual. Ia akhirnya tinggal bersama anak perempuan sulungnya yang berdagang emas itu.

 

Tak ada yang kurang di rumah Renni. Makanan enak-enak. Minuman beragam. Tapi dalam keramaian serta kemewahan ini, ia justru merasa kesepian.

 

Jika ia menatapi semut yang berlarian, Renni langsung menyuruhnya mandi.

 

“Ini baju, ini celana, ini kolor, ini BH. Handuk digantung sehabis dipakai. Sampo ke rambut, odol ke sikat gigi, sabun ke badan.”

 

Rusmiyatum jengkel. Walau sudah ubanan, ia merasa daya ingatnya masih sempurna.

 

Di lain waktu ketika perasaannya baik, ia akan melantunkan tembang lawas. Ia ambil posisi paling nyaman. Teras belakang yang di sampingnya berdiri sebatang sawit berumur tiga tahun. Lagu kesukaannya: kolam susu dan bunga mawar.

 

Lagu-lagu itu mengingatkannya akan ranjang papan dengan atap rumbia di tahun-tahun pertama berumahtangga. Ia dan suaminya sering bernyanyi sambil berpegangan tangan sebelum tidur. Pada bagian-bagian tertentu, ia akan tetap di nada ‘sopran’ sedang suaminya itu akan ke ‘tenor’. Sewaktu remaja, mereka pernah tergabung dalam sebuah kelompok bernyanyi. Dari situlah perkenalan mereka dimulai hingga akhirnya saling menyukai.

 

Mata abunya berkaca-kaca. Suaranya jadi parau. Sebuah kenangan berhasil merasuki dirinya. Ia bahkan tak sadar kalau tangannya sudah memeluk batang sawit seolah batang sawit itu adalah lelakinya.

 

Tiba-tiba, cucu yang autis menghampirinya. Tanpa ba-bi-bu, anak itu menjambak uban lalu mendorong tubuh ringkihnya.

 

Lalu cucu kedua yang sama cerewetnya dengan Renni, acap kali membuatnya tersinggung, “Nek, gelasnya tak usah diletakkan terlampau ke tepi. Nanti pecah. Sehabis dipakai, masukin ke ember hitam, bukan ember hijau. Ember hitam. Bukan hijau.”

 

Rusmiyatum merasa kalau hidupnya tak ada beda dengan burung di sangkar. Ia ingin bebas. Ia ingin lepas seperti burung-burung di hutan. Tak perlu cemas. Tak perlu mengkhawatiri dunia dengan kerumitan yang ternyata cuma fana.

 

Sejak itulah ia sering kabur melalui pintu belakang. Tanpa derit. Tanpa berisik sandal. Di jalanan, ia bertemu kucing, tikus, kecoa, kodok, nyamuk, capung, sesekali kupu-kupu dan yang paling sering lalat dan anjing. Dan ia bahagia.

 

Rusmiyatum mulai bergumul dan menunjukkan kasih mesra kepada daun-daun, baju-baju bekas, piring-piring pecah, gelas retak, kipas-kipas rusak, sedotan, kertas koran yang remuk, dan lain-lain. Barang-barang itu ia kumpul lalu bawa pulang.

 

Akan tetapi romantisme ngutip-ngutip itu tak berjalan lama. Suatu malam, Renni mendapat laporan kalau ada perempuan renta yang membuat resah para pemilik toko. Popok-popok serta pembalut berhamburan ke halaman. Lalat mengerubung, dan itu membuat para pembeli dan calon pembeli membekap hidung disertai mimik yang tak lagi betah.

 

Rusmiyatum akhirnya mendapat pengawalan ketat. Setiap pintu dipasang kunci tambahan. Ia sedih dan bercucuran air mata. Sehabis memandangi wajah suaminya di dalam foto, sesuatu bekerja di dalam kepalanya. Semua orang terlena dengan kesibukan sendiri-sendiri. Ia pun membuka jendela, lalu turun pelan-pelan.

 

Bersama angin yang lembab, ia berlari-lari kecil melalui kebun mawar. Ia tak peduli pada harum dan warna bunga itu. Ia juga tak berkeinginan untuk memetiknya. Ia hanya ingin bertemu kekasihnya. Lelaki yang tak lagi bisa terlihat namun selalu ada di sanubari. Ia menghapus air hangat yang menetes ke rahangnya.



 

“Jemput aku,” katanya, perih.

 

Rusmiyatum mensejajarkan badannya ke makam dengan nisan bertuliskan, Karim bin Fuadi.

 

Ia bernyanyi-nyanyi lembut tentang kolam susu, tentang bunga mawar. Matanya berat, dan semakin berat sampai kelompak matanya tertutup. Di bawah langit keungun-unguan itu, ia melihat dua sosok bersayap. Satu memikul suaminya, satunya lagi menjulurkan tali ke arah tangannya. Kelopak-kelopak mawar turun pun dari cakrawala.

 

Riau, Mei 2016

Ditulis oleh Jeli Manalu

lahir di Padangsidempuan, 2 oktober 1983, Tinggal di Rengat-Riau. Penikmat sastra dan giat menulis cerpen

Tinggalkan komentar

8 + 15 =