Topbar widget area empty.
  • Beranda  /
  • Opini   /
  • Peran Budaya Baca dalam Pembentukan Karakter
Peran Budaya Baca dalam Pembentukan Karakter 17342717_762993103866426_4145403465493974932_n Tampilan penuh

Peran Budaya Baca dalam Pembentukan Karakter

Pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti, pikiran, dan tubuh anak. Bagian-bagian itu tidak boleh dipisahkan agar kita dapat memajukan kesempurnaan hidup anak-anak kita. (Ki Hajar Dewantara)

Latar Belakang

Dalam konteks internasional terdapat Uji Literasi Membaca untuk mengukur aspek memahami, menggunakan, dan merefleksikan hasil membaca dalam bentuk tulisan. Dalam Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) 2011 International Results in Reading, Indonesia menduduki peringkat ke-45 dari 48 negara peserta dengan skor 428 dari skor rata-rata 500 (IEA-the International Association for the Evaluation of Educational Achievement, 2012). Sementara itu, uji literasi membaca dalam Programme for International Student Assessment (PISA) 2009 menunjukkan peserta didik Indonesia berada pada peringkat ke-57 dengan skor 396 (skor rata-rata OECD 493), sedangkan PISA 2012 menunjukkan peserta didik Indonesia berada pada peringkat ke-64 dengan skor 396 (skor ratarata OECD 496) (OECD, 2013). Sebanyak 65 negara berpartisipasi dalam PISA 2009 dan 2012. Data PIRLS dan PISA, khususnya dalam keterampilan memahami bacaan, menunjukkan bahwa kompetensi peserta didik Indonesia tergolong rendah.

Rendahnya keterampilan tersebut membuktikan bahwa proses pendidikan belum mengembangkan kompetensi dan minat peserta didik terhadap pengetahuan. Praktik pendidikan yang dilaksanakan di sekolah selama ini juga memperlihatkan bahwa sekolah belum berfungsi sebagai organisasi pembelajaran yang menjadikan semua warganya sebagai pembelajar sepanjang hayat. Untuk mengembangkan sekolah sebagai organisasi pembelajaran, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengembangkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS).

Gerakan Literasi Sekolah memperkuat gerakan penumbuhan budi pekerti sebagaimana dituangkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015. Salah satu kegiatan di dalam gerakan tersebut adalah “Kegiatan 15 menit membaca buku nonpelajaran sebelum waktu belajar dimulai”. Kegiatan ini dilaksanakan untuk menumbuhkan minat baca peserta didik serta meningkatkan keterampilan membaca agar pengetahuan dapat dikuasai secara lebih baik. Materi baca berisi nilai-nilai budi pekerti, berupa kearifan lokal, nasional, dan global yang disampaikan sesuai tahap perkembangan peserta didik.

Berdasarkan hasil kajian dan pengalaman empiris diketahui bahwa membaca merupakan salah satu rahasia sukses siswa dari negara maju.

Terobosan penting ini hendaknya melibatkan semua pemangku kepentingan di bidang pendidikan, mulai dari tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota, hingga satuan pendidikan. Pelibatan orang tua peserta didik dan masyarakat juga menjadi komponen penting dalam GLS. Berdasarkan hasil kajian dan pengalaman empiris diketahui bahwa membaca merupakan salah satu rahasia sukses siswa dari negara maju tersebut. Kemampuan berliterasi peserta didik berkaitan erat dengan tuntutan keterampilan membaca yang berujung pada kemampuan memahami informasi secara analitis, kritis, dan reflektif. Akan tetapi, pembelajaran di sekolah saat ini belum mampu mewujudkan hal tersebut. Kebiasaan membaca siswa SMA belum sepenuhnya tumbuh menjadi budaya. Oleh karena itu, kebiasaan membaca harus ditumbuhkembangkan di sekolah sebagai bagian dari pendidikan di SMA.

Gerakan Literasi Sekolah dikembangkan berdasarkan sembilan agenda prioritas (Nawacita) yang terkait dengan tugas dan fungsi Kemendikbud, khususnya Nawacita nomor 5, 6, 8, dan 9. Butir Nawacita yang dimaksudkan adalah (5) meningkatkan kualitas hidup manusia dan masyarakat Indonesia; (6) meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional sehingga bangsa Indonesia bisa maju dan bangkit bersama bangsa-bangsa Asia lainnya; (8) melakukan revolusi karakter bangsa; (9) memperteguh kebinekaan dan memperkuat restorasi sosial Indonesia. Empat butir Nawacita tersebut terkait erat dengan komponen literasi sebagai modal pembentukan sumber daya manusia yang berkualitas, produktif dan berdaya saing, berkarakter, serta nasionalis.

Gerakan Literasi Sekolah yang merupakan sebuah upaya yang dilakukan secara menyeluruh untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan public memiliki tujuan:

  • Menumbuhkembangkan budi pekerti peserta didik melalui pembudayaan ekosistem sekolah yang diwujudkan dalam Gerakan Literasi Sekolah agar mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat.
  • Keterampilan membaca berperan penting dalam kehidupan kita karena pengetahuan diperoleh melalui membaca. Oleh karena itu, keterampilan ini harus dikuasai peserta didik dengan baik sejak dini.

Gerakan Literasi Sekolah di SMA yang terbagi menjadi tiga tahap, yakni: pembiasaan, pengembangan, dan pembelajaran dengan ruang lingkup:

  1. lingkungan fisik sekolah (ketersediaan fasilitas, sarana prasarana literasi);
  2. lingkungan sosial dan afektif (dukungan dan partisipasi aktif semua warga sekolah) dalam melaksanakan kegiatan literasi SMA; dan
  3. lingkungan akademik (adanya program literasi yang nyata dan bisa dilaksanakan oleh seluruh warga sekolah)

Komponen Literasi

Ferguson (www.bibliotech.us/pdfs/InfoLit.pdf) menjabarkan bahwa komponen literasi informasi yang terdiri atas literasi dasar, literasi perpustakaan, literasi media, literasi teknologi, dan literasi visual.

  1. Literasi Dasar (Basic Literacy), yaitu kemampuan untuk mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan menghitung (counting) berkaitan dengan kemampuan analisis untuk memperhitungkan (calculating), mempersepsikan informasi (perceiving), mengomunikasikan, serta menggambarkan informasi (drawing) berdasarkan pemahaman dan pengambilan kesimpulan pribadi.
  2. Literasi Perpustakaan (Library Literacy), antara lain, memberikan pemahaman cara membedakan bacaan fiksi dan nonfiksi, memanfaatkan koleksi referensi dan periodikal, memahami Dewey Decimal System sebagai klasifikasi pengetahuan yang memudahkan dalam menggunakan perpustakaan, memahami penggunaan katalog dan pengindeksan, hingga memiliki pengetahuan dalam memahami informasi ketika sedang menyelesaikan sebuah tulisan, penelitian, pekerjaan, atau mengatasi masalah.
  3. Literasi Media (Media Literacy), yaitu kemampuan untuk mengetahui berbagai bentuk media yang berbeda, seperti media cetak, media elektronik (media radio, media televisi), media digital (media internet), dan memahami tujuan penggunaannya.
  4. Literasi Teknologi (Technology Literacy), yaitu kemampuan memahami kelengkapan yang mengikuti teknologi seperti peranti keras (hardware), peranti lunak (software), serta etika dan etiket dalam memanfaatkan teknologi. Berikutnya, kemampuan dalam memahami teknologi untuk mencetak, mempresentasikan, dan mengakses internet. Dalam praktiknya, juga pemahaman menggunakan komputer (Computer Literacy) yang di dalamnya mencakup menghidupkan dan mematikan komputer, menyimpan dan mengelola data, serta mengoperasikan program perangkat lunak. Sejalan dengan membanjirnya informasi karena perkembangan teknologi saat ini, diperlukan pemahaman yang baik dalam mengelola informasi yang dibutuhkan masyarakat.
  5. Literasi Visual (Visual Literacy), adalah pemahaman tingkat lanjut antara literasi media dan literasi teknologi, yang mengembangkan kemampuan dan kebutuhan belajar dengan memanfaatkan materi visual dan audiovisual secara kritis dan bermartabat. Tafsir terhadap materi visual yang tidak terbendung, baik dalam bentuk cetak, auditori, maupun digital (perpaduan ketiganya disebut teks multimodal), perlu dikelola dengan baik. Bagaimanapun di dalamnya banyak manipulasi dan hiburan yang benar-benar perlu disaring berdasarkan etika dan kepatutan.

Tahapan-tahapan Gerakan Literasi

Tahap Pembiasaan

Kegiatan literasi di tahap pembiasaan, yakni membaca dalam hati. Secara umum, kegiatan membaca ini memiliki tujuan, antara lain:

  1. meningkatkan rasa cinta baca di luar jam pelajaran;
  2. meningkatkan kemampuan memahami bacaan;
  3. meningkatkan rasa percaya diri sebagai pembaca yang baik; dan
  4. menumbuhkembangkan penggunaan berbagai sumber bacaan.

Kegiatan membaca ini didukung oleh penumbuhan iklim literasi sekolah yang baik. Dalam tahap pembiasaan, iklim literasi sekolah diarahkan pada pengadaan dan pengembangan lingkungan fisik, seperti:

  1. buku-buku nonpelajaran (novel, kumpulan cerpen, buku ilmiah populer, majalah, komik, dsb.);
  2. sudut baca kelas untuk tempat koleksi bahan bacaan; dan
  3. poster-poster tentang motivasi pentingnya membaca.

Jenis-jenis kegiatan Tahap Pembiasaan

  1. Membaca Selama 15 Menit setiap hari
  2. Membaca Buku dengan Memanfaatkan Peran Perpustakaan
  3. Membaca terpandu (Guided Reading)
  4. Membaca Mandiri (Independent Reading)

Tahap Pengembangan

Tujuan Kegiatan Literasi di Tahap Pengembangan Sebagai tindak lanjut dari kegiatan di tahap pembiasaan, kegiatan 15 menit membaca di tahap pengembangan diperkuat oleh berbagai kegiatan tindak lanjut yang bertujuan untuk:

  1. mengasah kemampuan peserta didik dalam menanggapi buku pengayaan secara lisan dan tulisan;
  2. membangun interaksi antarpeserta didik dan antara peserta didik dengan guru tentang buku yang dibaca;
  3. mengasah kemampuan peserta didik untuk berpikir kritis, analitis, kreatif, dan inovatif; dan
  4. mendorong peserta didik untuk selalu mencari keterkaitan antara buku yang dibaca dengan diri sendiri dan lingkungan sekitarnya.
Jenis-jenis Kegiatan Tahap Pengembangan

Ada berbagai kegiatan tindak lanjut yang dapat dilakukan guru setelah kegiatan 15 menit membaca. Dalam tahap pengembangan ini, kegiatan tindak lanjut dapat dilakukan secara berkala (misalnya 1-2 minggu sekali). Berikut adalah beberapa contoh kegiatan tindak lanjut disertai dengan penjelasan singkat dan pedoman atau rubrik untuk masing-masing kegiatan.

  1. Menulis komentar singkat terhadap buku yang dibaca di jurnal membaca harian
  2. Bedah Buku
  3. Reading Award
  4. Mengembangkan Iklim Literasi Sekolah

Tahap Pembelajaran

Tujuan Kegiatan Literasi di Tahap Pembelajaran Kegiatan berliterasi pada tahap pembelajaran bertujuan:

  1. mengembangkan kemampuan memahami teks dan mengaitkannya dengan pengalaman pribadi sehingga terbentuk pribadi pembelajar sepanjang hayat;
  2. mengembangkan kemampuan berpikir kritis; dan
  3. mengolah dan mengelola kemampuan komunikasi secara kreatif (verbal, tulisan, visual, digital) melalui kegiatan menanggapi teks buku bacaan dan buku pelajaran. (cf. Anderson & Krathwol, 2001)
Jenis-jenis kegiatan Tahap Pembelajaran

Dalam tahap pembelajaran ini berbagai jenis kegiatan dapat dilakukan, antara lain:

  1. 15  menit membaca setiap hari sebelum jam pelajaran melalui kegiatan membacakan buku dengan nyaring, membaca dalam hati, membaca bersama, dan/atau membaca terpandu diikuti kegiatan lain dengan tagihan non-akademik atau akademik.
  2. Kegiatan literasi dalam pembelajaran dengan tagihan akademik
  3. Melaksanakan berbagai strategi untuk memahami teks dalam semua mata pelajaran (misalnya, dengan menggunakan graphic organizers).
  4. Menggunakan lingkungan fisik, sosial dan afektif, dan akademik disertai beragam bacaan (cetak, visual, auditori, digital) yang kaya literasi di luar buku teks pelajaran untuk memperkaya pengetahuan dalam mata pelajaran.
  5. Penulisan biografi siswa-siswa dalam satu kelas sebagai proyek kelas.

Budaya Baca sebagai bagian dari pendidikan karakter akan tumbuh dan berkembang bila melibatkan semua warga sekolah (guru, peserta didik, orang tua/wali murid) dan masyarakat, sebagai bagian dari ekosistem pendidikan. Kabupaten Layak Anak Terbaik Provinsi Sumatera Utara 2015, Deklarasi Kabupaten Literasi pada Desember 2016 dan Penghargaan Kabupaten Literasi Terbaik 2017 adalah apresiasi yang harus memacu Labuhanbatu untuk menumbuhkembangkan Generasi yang Berkarakter dan Pembelajar. Semoga.



(Disarikan dari Presentasi Peran Budaya Baca dalam Pembentukan Karakter oleh Tatang Hidayat Pohan di Penguatan Forum Anak Labuhanbatu, 24 Maret 2017)

Photo by Eiwan

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 5 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*