Topbar widget area empty.
Narasi Kuis Sepeda Jokowi Illustrasi Sepeda Tampilan penuh

Narasi Kuis Sepeda Jokowi

Beberapa waktu lalu, masyarakat di dunia maya (netizen) dibuat heboh dengan pemberitaan seorang anak SD yang salah menyebut nama salah satu jenis ikan saat menjawab kuis Presiden Jokowi. Presiden meminta anak tersebut menyebutkan nama-nama ikan, dan jika mampu menjawab dengan benar akan diberi hadiah berupa sepeda. Jauh sebelumnya, pada awal tahun 2016 lalu, saat peringatan Isra Mi’raj di sebuah Pondok Pesantren di Magelang, Presiden juga memberikan kuis untuk para santri dan sebagai hadiahnya adalah sepeda.

Jika diperhatikan, Presiden Jokowi nampaknya gemar membuat kuis berhadiah sepeda. Bahkan, kebiasaan tersebut tetap dilakukan ketika melawat ke luar negeri. Dikabarkan, saat bertemu Warga Negara Indonesia (WNI) di Sydney, Australia, pada Minggu (26/2), Jokowi tetap mengadakan kuis dan memberikan hadiah berupa sepeda. Di acara tersebut, selain berpidato mengenai berbagai persoalan di Indonesia, mulai soal ekonomi hingga infrastruktur, Jokowi  memberikan pertanyaan pada seorang mahasiswa Indonesia dan seorang ibu-ibu WNI yang menetap di Sydney. Setelah mampu menjawab dengan benar, Presiden pun menjanjikan hadiah sepeda pada mereka untuk dikirim dari Jakarta ke Sydney (Kompas, 27/2).

Tak berhenti di sana. Jokowi masih terus memberikan hadiah sepeda. Yang terbaru kepada para artis dan penyanyi saat perayaan Hari Musik Nasional di Istana Negara pada Kamis 9 Maret 2017 kemarin. Selain beramah-tamah dengan musisi, seniman, dan penyanyi, menyerap aspirasi dan memperbaiki masa depan musik di Tanah Air, presiden juga memberi tantangan, baik berupa pertanyaan maupun tantangan menyanyi pada para penyanyi dan musisi. Dan lagi-lagi, hadiahnya adalah sepeda. Penyanyi seperti Raisa, kelompok Bimbo, Andre Hehanusa, dan Ita Purnamasari adalah nama-nama yang mendapatkan hadiah sepeda dari Presiden Jokowi dalam kesempatan tersebut (Tempo, 9/3).

Kita semakin sering mendengar Presiden Jokowi memberi hadiah berupa sepeda untuk banyak orang. Mulai anak sekolah, mahasiswa, ibu-ibu, sampai para penyanyi. Kita kemudian pantas bertanya; apa yang hendak Presiden sampaikan lewat pemberian hadiah sepeda tersebut? Kita layak menyoroti apa saja yang dilakukan Presiden Jokowi sebagai orang pertama di negeri ini. Tak hanya program-progam dan kebijakan dalam menangani berbagai problem di negeri ini. Berbagai gerak-gerik, sikap, dan tindakan ketika bertemu masyarakat juga menyimpan makna yang patut diperbincangkan.

Ketika seorang pemimpin negara memberi hadiah kepada rakyatnya, kita bisa memaknainya sebagai pemberian yang menyimpan pesan dan makna. Artinya, laku memberi hadiah tersebut tak lepas dari suatu bentuk komunikasi—menyimpan adanya pesan-pesan yang ingin disampaikan. Dari sana, kita kemudian bisa mulai memaknai dan menerjemahkan pesan-pesan dan keinginan Presdien yang hendak disampaikan kepada masyarakat lewat kegemaran memberi hadiah berupa sepeda kepada masyarakat.

Memaknai sepeda

Kepala Sekretariat Presiden Darmansyah Djumala pernah mendengar cerita langsung dari Presiden Jokowi mengenai alasannya memilih sepeda sebagai hadiah. Pertama, karena sepeda adalah alat transportasi sehat karena bebas polusi, sekaligus bisa dipakai olahraga. Selain itu, sepeda termasuk kendaraan yang merakyat, bisa dipakai semua kalangan (Kompas 10/3). Dari keterangan tersebut, kita melihat adanya pesan presiden tentang kesehatan dan kesederhanaan melalui sepeda. Presiden ingin masyarakat hidup sehat juga menjaga lingkungan, serta menjaga kesederhanaan hidup, lewat pemberian sepeda.

Namun, kita bisa mengembangkan lebih jauh dalam memaknai hadiah sepeda presiden. Pada dasarnya, sepeda adalah jenis kendaraan kuno yang mengandalkan pengayuh yang harus digerakkan kaki untuk bisa menjalankannya. Bentuk-bentuk sepeda telah mengalami berbagai perubahan. Mulai bentuk sepeda yang primitif atau pertama kali ditemukan pada abad ke-18, sepeda beroda tiga, hingga berkembang menjadi pelbagai model seperti kita kenal sekarang. Namun, yang membedakan sepeda dengan jenis kendaraan lain adalah tenaga penggeraknya yang masih menggunakan pengayuh atau harus digerakkan dengan kayuhan kaki, tanpa mesin atau tenaga motor.

Sepeda mengharuskan pemakainya mengayuhkan kaki agar bisa melaju sebagai kendaraan. Dari sini, kita bisa memaknai pesan yang hendak disampaikan presiden Jokowi. Kita patut menduga presiden ingin mengajak masyarakat Indonesia mengayuh sepedanya; bergerak; bekerja. Sepeda harus dikayuh agar bisa melaju sampai tujuan dan masyarakat harus bergerak, bekerja, agar bisa mendapatkan apa yang diimpikannya. “Bergerak” di sini tentu bermakna luas. Tak hanya bergerak dalam arti bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidup. “Bergerak” juga mengandung upaya “berubah”. Presiden menginkan masyarakat memiliki semangat perubahan agar mampu secara dinamis merespon tantangan zaman yang dirasa semakin berat.

“Hidup itu seperti naik sepeda. Agar tetap seimbang, kau harus terus bergerak” kata Albert Einstein. Seseorang harus terus bergerak mengembangkan diri agar bisa survive di tengah tantangan zaman. Masyarakat Indonesia harus terus bergerak untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) agar bisa bersaing dengan negara lain. Jika melihat apa yang selama ini disuarakan Presiden Jokowi selama menjabat presiden, kita melihat hal tersebut. Mulai nama kabinet yang dinamai “Kabinet Kerja” dengan jargonnya “Kerja, Kerja, Kerja!” sampai seringnya beliau menekankan, baik kepada jajaran menteri maupun pada masyarakat luas tentang pentingnya meningkatkan sumber daya manusia agar mampu bersaing dengan negara lain.



Hadiah pada dasarnya sekadar pemberian untuk orang lain tanpa mengharapkan kompensasi balik sebagai balasan. Namun, ketika hadiah diberikan seorang Presiden, dan hadiah tersebut selalu berupa benda yang sama, kita pantas memaknainya secara lebih jauh untuk menangkap segala kemungkinan pesan yang ingin disampaikan di baliknya. Bagi penulis, pemberian sepeda oleh presiden tak sekadar tentang kesederhanaan dan hidup sehat. Lebih jauh, Presiden mengajak kita belajar dari aktivitas bersepeda; bahwa hidup mengharuskan kita terus bergerak dan berubah. Kita bisa jatuh jika berhenti mengayuh sepeda, seperti halnya kita bisa tergilas perkembangan zaman jika tak bergerak dan berubah.

Ditulis oleh Al Mahfud

    Seorang yang bergiat di Paradigma Institute Kudus