Topbar widget area empty.
Bias Dua Titik Bias Cahaya (Illustrasi) Tampilan penuh

Bias Dua Titik

Kau tahu, sejauh apa kau menghindar, bayangan diri tetap akan ada di dekatmu, bahkan ketika tertidur sekalipun. Kecuali kalau cahaya itu hilang dari hidupmu, dan kau berteman dengan jelaga selamanya.

Motor butut yang dikendarai Ujang membelah jalanan ibu kota. Pesanan terakhir harus diantar. Setelah itu bisa pulang dan beristirahat sambil menikmati secangkir kopi hangat ditemani gorengan bakwan kesukaannya. Kelelahan mulai terlihat, jaket lusuh pemberian Acep sepupunya menjadi teman sehari-hari, jarang sekali dicuci, hingga aroma asam menyeruak ketika berada dekatnya. Tak jauh beda dengan jeans kumal yang hampir tiap hari dia kenakan. Ujang cuma punya dua jeans dipakai bergantian kalau yang satu masuk ember cucian. Gaji pas-pasan belum sanggup membeli pakaian baru, pengganti jeans belelnya itu. Bagaimana mau beli, buat makan sama bayar kos-kosan saja kadang tidak mencukupi.

 

Ujang menyeruput kopi hitamnya. Menghisap racun itu, lalu mengeluarkan asap yang membentuk bulatan-bulatan kecil ke udara. Gajian masih seminggu lagi, tapi mulut ibu kontrakan sudah bawel minta ampun, bikin otak kusut serupa kertas berlipat-lipat. Kerja sebagai sales rokok yang dilakoni hampir dua tahun, belum menunjukkan kemajuan keuangan sama sekali. Masih segar di ingatan Ujang ketika Mang Diman dan anaknya datang ke rumah menawarkan untuk ikut ke Jakarta, yang sudah lebih dulu beberapa tahun bekerja di sana. Acep lumayan mapan, katanya. Dia kerja di salah satu supermarket ternama sebagai kasir. Ketika itu Ujang belum terpikir apa-apa, kecuali bayangan wajah Jakarta yang molek persis artis dangdut ternama di desanya. Ingin sekali menginjakkan kaki di kota yang penuh dengan harapan itu. Tiap malam menjelang keberangkatan, angan-angan Ujang sudah terbang mengelana, membayangkan segala yang indah-indah. Tapi apa yang dia temui saat ini cuma harapan hampa yang belum menunjukkan perubahan sama sekali. Bahkan semakin menambah satu dua garis lagi di kening dan sudut matanya.

Malam yang indah. Ujang masuk ke kamar kostnya setelah menyeruput kopi terakhir dan menyisakan ampas dalam gelas. Ia melirik sekilas jam dinding, hampir limabelas menit lagi pukul duabelas. Tubuh dan hatinya benar-benar lelah, setelah seharian bersih-bersih kamar. Tapi mata Ujang masih terang benderang, mungkin karena efek kopi. Padahal besok pagi dia harus menemui seseorang dan harus terlihat fit. Ujang mengusap rambut ikalnya. Mulai panjang, poni sudah meleleh ke alis tebalnya yang hitam. Dia berdiri di depan potongan cermin kecil, sebesar dua kali telapak tangan dan sedikit sudah buram. Mengamati gambaran wajahnya dari alis, mata, hidung, bibir, lalu dagu, kemudian meraba keseluruhan. Terlihat sebagai satu kesatuan yang sempurna. Benaknya bertanya-tanya, benarkah tawaran kemarin? Besok aku akan menelepon Jamal, mengabarkan tidak masuk kerja karena sakit kepala (tentu saja hanya alasan), lalu bertemu dengan Rudi lelaki yang baru dia kenal di salah satu toko suplier rokok langganan. Rasa lelahpun perlahan menguap, seiring harapan yang menari-nari di pelupuk mata. Harapan selama ini masih abu-abu, sebentar lagi akan jadi titik putih, semakin lama semakin jelas, meski belum sepenuhnya nyata. Dan Ujang akan menyambutnya dengan sukacita.

 

Ujang baru bisa memejamkan mata dan benar-benar terlelap setelah jarum jam di dinding menunjukkan angka setengah tiga. Sebelum benar-benar terbang bersama mimpi, Ujang menyetel alarm di handphone bututnya. Dia harus bisa bangun pukul enam pagi kalau tak mau mimpi-mimpi itu urung jadi nyata. Besok dia akan casting untuk salah satu iklan rokok, Rudi menawarkan kemarin. Percaya nggak percaya, Ujang hanya bisa menjawab dengan wajah bengong dan mulut melongo, tentu saja dengan anggukan samar di kepala. Mimpi apa aku semalam, pikirnya. Tak sabar menunggu sampai besok pagi, dan akan menemui Rudi di tempat yang sudah diberitahu sebelumnya. Sore tadi, Ujang sudah mempersiapkan pakaian apa yang akan dia kenakan besok, setelah sebelumnya mencoba beberapa kemeja lusuh miliknya. Dan pilihan tertuju pada kemeja putih dengan list biru di pinggiran, masih terlihat agak bersih, dipadu jeans dengan warna biru buram, sudah dicuci serta disetrikanya dari subuh tadi.

Kembali motor Ujang melaju di keramaian ibu kota menuju jalan protokol. Bibirnya bersiul kecil, entah nada apa yang keluar, terdengar sumbang. Namun hati dan pikirannya sedang berbunga saat ini. Sampai tempat tujuan, dia memarkir motor. Lalu berlari kecil menuju lift yang akan membawa Ujang menuju lantai 21 salah satu gedung area perkantoran di Jakarta. Tak perlu menunggu lama sepertinya, hanya selang dua orang Ujang pun masuk setelah namanya dipanggil.

 

Sejak saat itu, hari-hari Ujang terbungkus dalam satu kotak jadwal yang padat kegiatan. Mulai dari pemotretan, syuting iklan, bahkan syuting film yang menjadikannya sebagai pemeran utama. Wajah Ujang terpampang di banyak billboard reklame pinggir jalan, termasuk toko-toko supplier rokok tempat dia bekerja dulu. Uang kini bukan masalah lagi. Berbagai baju, celana, sepatu dan aksesoris bermerk lainnya bisa dia beli. Gaya hidup pun berubah seratus delapan puluh derajat. Kendaraan yang mengantarkan kesana-kemari juga tak lagi sama. Cewek-cewek cantik yang dulu cuma ada dalam angan-angan, sekarang seperti magnet yang menempel dan sulit lepas. Tapi semua itu tak membuat Ujang bahagia, dia merasa kosong, kosong dalam arti sebenarnya.

Empat tahun bukanlah waktu yang singkat untuk menemukan jati diri. Tapi bagi lelaki yang hidupnya dinaungi keberuntungan itu, tak pernah bisa untuk menyimpulkan apa sebenarnya yang dia inginkan. Harta sudah, bahkan lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan pribadi juga keluarga di kampung. Nama besar yang sekarang sudah berganti dengan Jorgi pun telah didapat. Sahabat setia Acep yang selalu mendampingi sebagai manager siap membantu kapanpun dia butuh. Wanita-wanita cantik setiap saat mengelilingi, mobil mewah, juga segudang kenikmatan duniawi lainnya. Lalu apalagi?

“Aku ingin pulang ke kampung untuk waktu yang agak lama.” Katanya satu ketika pada Acep.
“Kau kabarkan ini pada Rudi, setelah keberangkatanku. Jangan sampai dia tahu aku ada di mana.”
“Tapi kenapa, apa kalian bertengkar?”
“Aku cuma ingin melepas lelah sejenak, mumpung jadwalku lagi kosong. Jangan terima tawaran apapun dulu.”
“Oke, baiklah. Kuharap kau baik-baik saja.”
“Aku nggak kenapa-napa, santai aja.”



Sudah dua purnama lebih Ujang di kampung halaman, tanpa ada yang tahu kecuali Acep. Dan sepertinya usaha Ujang untuk menemukan titik balik kali ini berhasil. Dia mulai tahu apa yang dibutuhkan. Tawaran kedua orang tua untuk menikahkan dengan kerabat Acep, diterima dengan lapang dada. Meski jauh di dalam sana, hatinya masih tertinggal untuk seseorang. Seseorang yang bahkan dalam kesempatan apapun selalu ada di bias pandangan. Dada Ujang terasa sakit dan sesak saat berusaha melawan takdir. Ketika harus melupakan cinta dan rasa rindu dari orang yang telah memberi arti dalam hidupnya. Tapi Ujang harus bisa melawan, sekuat apapun tali itu menjerat. Bahkan ketika Entin istrinya menjelma Rudi di pelupuk mata, dan bayangan itu menari-nari di kepala. Aku harus membunuhnya dengan cara apapun, pekik hati Ujang.

Khairani Piliang
Ditulis oleh Khairani Piliang

Wanita berdarah Minang, lahir Medan, besar di Rantau Prapat, tinggal dan menetap di Jakarta.