Topbar widget area empty.
Kampung Pesisir dan Pertunangan Kampung Pesisir Tampilan penuh

Kampung Pesisir dan Pertunangan

Deru ombak menakar hening yang berserakan di bibir pantai, hembusan angin bergerak pelan-pelan dari utara menuju hilir menerka arah yang berkali-kali goyah. Sampan-sampan mulai menepi dari gelombang dan arus laut, dari kecipak ikan-ikan yang mengejek dari tengah laut, padahal fajar kizib masih mengintip dari balik langit malam.

 

Di sebuah gubuk sederhana yang menghadap laut lepas seorang lelaki tengah duduk bersandar pada tiang. Sarung lusuh kotak-kotak hijau terselempang sembarang di bidang dadanya. Sorot mata sayu menatap lekat anyaman bambu yang melingkari gubuk. Ada pikiran yang mengganjal hingga saat ini masih terbayang-bayang.

 

“Aku titipkan setangkup sunyi ini kepadamu, larungkanlah di riak-riak ombak,  jika suatu hari nanti rindumu hampir karam di antara runcingnya batu karang.”

 

Pesan itu masih terngiang-ngiang dalam benaknya, semenjak enam bulan lalu seorang gadis berparas manis yang dikenalnya melalui koran minggu mendatangi rumah di pesisir yang selama ini ditinggali. Lewat bait-bait puisi yang kerap mengisi koran minggu itulah perkenalan bermula.

 

Udara dingin berulangkali melesap dalam pori-pori tubuh lelaki itu, namun seolah raganya benar-benar tak peduli selain rindu yang kian mengambang di tengah laut tanpa tahu kapan akan dijemput di kala hatinya berkali-kali dilanda kalut.

 

“Ajarkan aku membuat puisi seperti diksi-diksimu yang kerap mengisi koran minggu. Ajarkan aku, biar aku tahu bagaimana kata-kata bisa bertegur sapa, merangkainya dengan jalinan asmara, dan entahlah.” Bunyi pesan si gadis yang pertama kali menyapa lewat media sosial dan masih tersimpan rapat di ingatannya.

 

Kantuk masih kelayapan di atap-atap rumah, dengkur napas orang-orang menyelinap keluar dari celah jendela, lalu terbang bebas membumbung ke angkasa. Sudah hampir satu bulan ini, setiap dini hari lelaki itu takzim duduk di gubuk sederhana yang terletak di samping rumah. Gubuk yang didirikan untuk para nelayan setelah melaut dan melepas penat sembari menatap laut lepas.

 

“Dini hari adalah waktu paling khusyuk untuk bercinta dengan kata-kata dan Tuhan semesta.” Ucap salah satu penyair senior di komunitas sastra yang diikutinya. Dan dia membenarkan akan hal itu.

“Kau tahu tuan pesisir, aku merindukan senja di bibir pantaimu dengan alunan angin sore yang berhembus permai. Ah, entahlah kini aku sedang terpenjara dengan kesibukan. Aku hanya titip salam untuk biduk mungil yang pernah mengantarku pada lumbung sunyimu di tengah laut.”

 

Itu adalah bunyi pesan terakhir dari sang gadis dan setelah itu tak ada percakapan lagi yang biasanya kerap menumbuhkan letupan semangat dalam rongga dadanya. Entah kenapa dia juga tak memulai bertegur sapa semenjak percakapan terakhir melalui telepon satu bulan lalu menciptakan ketegangan yang mengalir tak sengaja.

 

“Na …,” meski hanya melalu telepon, lelaki itu mengusir rasa gugupnya yang berkali-kali singgah, menghirup napas panjang untuk menenangkan diri. “Na …, aku ingin bertunangan denganmu.” Dengan segenap suara kegugupan akhirnya dia berhasil mengungkapkan perasaan.

 

Entah kenapa, hari itu dia tak memakai rangkaian kata-kata, bait-bait memuisi, atau diksi-diksi yang menyentuh hati sebagaimana teman-temannya yang menjulukinya sebagai penyair dan cukup ahli dengan urusan seperti itu. Padahal kalau disuruh untuk membaca sajak di hadapan puluhan atau ratusan penonton pun dia sanggup dan terbukti kerap memukau penonton, namun untuk mengatakan sepatah dua patah kalimat perasaaan kepada gadis itu, dia cukup terbata-bata.

 

Di ujung telepon, suara mungil gadis itu terdiam. Seolah degup jantung berdetak lebih kencang dari biasanya mendengar pernyataan dari lelaki itu, diiringi desah panjang yang berulangkali terdengar.

 

Lelaki itu menata detak jantungnya yang berirama tak senada, menanti balasan yang akan dilontarkan dari gadis yang hanya pernah bertemu dengannya dua kali saja. Ya, selain karena terpisahkan jarak yang terbentang jauh, juga karena kesibukan masing-masing yang tak mungkin ditinggalkan begitu saja. Namun, entah kenapa kuncup-kuncup hatinya mulai bermekaran saat bertemu di taman budaya untuk pertama kali, setelah sebelumnya hanya berkomunikasi melalui dunia maya.

 

“Kenapa kamu tak bertunangan dengan Siti? dia perempuan yang cantik dan menawan.” Jawabmu waktu itu, sontak ada perih yang menyayat dalam lubuk hati.

 

Siti adalah tetangga rumah dari lelaki itu. Memang Siti perempuan pesisir yang paling cantik diantara perempuan sebaya di kampung pesisir, senyum yang menawan dan perilaku sopan santun tentu tak akan ada orang yang tak menyukai. Namun, cinta tak bisa dipaksakan dan Siti juga telah memiliki tunangan.

 

“Ah, Na. Andai saja kita bertatap muka tentu akan kujelaskan semuanya kepadamu. Tentang gejolak rindu yang berulangkali memuncak, tentang dirimu yang kerap mengisi pikiranku, tentang senyumanmu yang selalu menginspirasiku menuliskan bait-bait diksi, tentang namamu yang tak bosan-bosannya kujadikan judul puisi. Ah, Na.” Guman lelaki itu lirih, dan mungkin terdengar samar oleh gadis di seberang telepon.

 

Setelah berbasa-basi dan mengalihkan pembicaraan, akhirnya dia menutup telepon dengan air mata yang tertahan. Sebenarnya dia tahu, gadis itu mengerti tentang tradisi bertunangan di kampung pesisir ini semenjak gadis itu datang dan bercakap-cakap dengan masyarakat meski menggunakan bahasa sebisanya, atau terkadang memakai isyarat.

 

Ya, gadisnya hanya mampu berbicara bahasa Indonesia, sedang orang-orang yang mengajak bercakap-cakap adalah orang-orang yang kurang mengerti bangku sekolahan, hanya bahasa daerah saja yang tahu sebagai bahasa komunikasi. Dan Siti adalah penerjemah antara gadisnya dan orang-orang di kampung pesisir ini.

Lamat-lamat suara kokok ayam terdengar, menelusup syahdu ke dalam telinga. Lelaki itu mengucek-ucek kedua matanya berulangkali, sembari menggeliat pelan dan menguap lebar. Matahari sudah muncul dari ujung laut, namun tak seperti biasanya matahari muncul dengan sinarnya yang begitu meneduhkan. Padahal hampir sebulan ini matahari tampak murung, ah atau memang hanya ilusi lelaki itu saja karena hatinya yang dilanda buruk.

 

Sorak-sorai anak-anak nelayan terdengar dari balik tangkis laut. Lelaki itu hampir satu bulan terpuruk dengan suasana rindu yang terkoyak-koyak, selalu tidur di gubuk sederhana di samping rumah. Sebab jika tidur di kamar dalam rumahnya, air mata tak bisa terbendung dan memandangi foto sang gadis dalam ponselnya adalah waktu yang tak ingin dilewatkannya. Kalau di gubuk, setidaknya bayangan gadisnya lebur dalam debur-debur ombak. Meski terkadang dia menciptakan lagi bayangan itu agar tak lekas sirna.

 

Conk, bangun! Ajak temanmu itu sarapan, kasihan dia dari tadi nungguin kamu bangun, tapi nggak berani bangunin.” Suara lembut sang ibu terdengar dari depan gubuk, menepuk pungung lelaki itu yang hanya menggeliat.

 

Tak biasanya ada seorang teman yang datang sepagi ini dan tak berani membangunkan tidurnya. Padahal kalau teman-temannya datang biasanya langsung usil menyuruh bangun, atau tiba-tiba menyeret dan menceburkannya di tepi laut.

 

Sontak lelaki itu duduk dengan tergagap, pikirannya masih diliputi rasa penasaran. Matanya mengedarkan ke sekeliling, ke bibir pantai dan tak menggubris ibunya yang menatapnya penuh keheranan.

 



“Na, benarkah itu kamu.” Guman lelaki itu lirih, memandang ke arah bibir pantai seorang gadis tengah bersikejar dengan beberapa anak nelayan, gelak tawa terdengar bersahut-sahutan diiringi musik alam dari gelombang.

 

Blitar, November 2015

 

 

Ditulis oleh Alfa Anisa

    Lahir di Blitar, 28 Maret 1995. Mahasiswa program ilmu komunikasi di Universitas Islam Blitar, Sekarang bergiat di Forum Lingkar Pena (FLP), komunitas Sastra Hangudi dan Hari Depan di Bumi Bung Karno Blitar. Karyanya dimuat di koran lokal dan nasional. Beberapa puisinya juga termaktub dalam antologi Negeri Poci 7 (2017), Memo Anti Terorisme (2016), Melankolia Kematian (2016), Lebih baik putih tulang daripada putih mata (2017) dan lain-lain.