Bahagia Tak Mesti Dengan Manusia Cover Buku Sehimpunan Cerpen - Terkait Tampilan penuh

Bahagia Tak Mesti Dengan Manusia

Judul : Bahagia Tak Mesti Dengan Manusia
Penulis : Muhammad De Putra, Erni Rangkuti, Sulistiyo Suparno, Sawaluddin Sembiring, Yuditeha, Muftirom Fauzi Aruan, Jeli Manalu, Fitri Siregar, Zainul Muttaqin, Aisha Bashar, Nasrul M. Rizal, Abdi Siregar, dan Agus Salim.
Penerbit : Apajake.id bekerjasama dengan Cantrik Pustaka
Tebal : xx + 158 Halaman

 

 

Sebagai media informasi daring yang berfokus menyuguhkan segala informasi tentang budaya dan komunitas, Apajake.id nampaknya memang menjadi wadah yang tepat untuk menampung tulisan-tulisan dari penulis-penulis aktif di Labuhanbatu dan sekitarnya yang ingin memublikasikan tulisannya ke hadapan warganet di Labuhanbatu dan/atau Sumatera Utara khususnya. Sebab semakin banyaknya platform-platform yang kini bermunculan sebagai media menulis yang baru, yang sekaligus mampu membuat setiap tulisan terpublikasi juga secara daring, agaknya tidak cukup memberi jalan lapang agar tulisan tersebut bisa sampai kepada pembacanya. Setidaknya kepada masyarakat Labuhanbatu. Apajake.id yang telah mengantongi identitasnya sebagai situs dari Labuhanbatu boleh jadi mampu melapangkan jalan itu. Ditambah lagi—layaknya media-media yang lain—Apajake.id juga menerbitkan setiap tulisan terpilih ke dalam buku, seperti halnya buku kumpulan cerpen bertajuk Bahagia Tak Mesti Dengan Manusia yang baru saja diterbitkannya. Maka sangat mungkin, ke depan Apajake.id akan mendapat perhatian khusus dari penulis-penulis baru Labuhanbatu.

Cerpen memang karya fiksi paling banyak dibaca dan dimuat di media cetak dan daring. Sebab sebagai bacaan yang menghibur, tidak dibutuhkan waktu yang banyak untuk bisa membaca sebuah cerpen hingga tuntas. Dan tak jarang pula karya-karya yang pernah dimuat oleh media-media tersebut akan kembali diterbitkan ke dalam buku oleh penulisnya atau media yang memuatnya. Menghimpunnya dengan beberapa cerpen pilihan lainnya. Begitu pula dengan buku himpunan cerpen Bahagia Tak Mesti Dengan Manusia yang diterbitkan Apajake.id. Berisi sebelas cerpen pilihan yang pernah dimuat sejak Nopember 2015 sampai September 2017. Dan menghimpun dua cerpen dari dua penulis tamu yang belum pernah terbit sebagai tambahan.  Yang bertajuk Jejak, karya Aisha Bashar dan Tetua dan Orang-Orang Desa Haraja, karya Abdi Siregar.

Kesebelas cerpen yang terpilih oleh tim seleksi juga ditulis oleh sebelas penulis yang berbeda. Yang ternyata tidak hanya berasal dari kabupaten Labuhanbatu saja. Hanya ada dua cerpen terpilih dari dua penulis Labuhanbatu. Yakni: Pelukis Terakhir, karya Erni Rangkuti. Mengisahkan tentang kesejatian cinta seorang perempuan pada seorang laki-laki yang ternyata juga dicintai oleh kakak perempuan tersebut.  Dan Pulau Anggo, karya Fitri Siregar. Berkisah tentang misteri sebuah pulau yang bernama Anggo. Yang mana kisahnya dituturkan oleh tokoh cerita (seorang nenek) kepada seorang bocah perempuan yang penasaran dengan kisah pulau tersebut. Dua cerpen apik dari dua penulis perempuan yang nampaknya punya gaya bercerita yang berbeda dan khas itu memang pantas terpilih.

Judul yang digunakan pada cover buku: Bahagia Tak Mesti Dengan Manusia, adalah judul yang diambil dari salah satu cerpen yang berjudul sama. Yang ditulis oleh Jeli Manalu. Alasan pemilihan judul cerpen tersebut sebagai judul buku nampaknya karena ceritanya yang sarat dengan pesan moral. Berkisah tentang seorang perempuan tua yang harus menanggung nasib sebagai orang tua sekaligus nenek yang tidak mendapatkan perhatian dan penghormatan dari anak-anak dan cucu-cucunya. Yang kemudian lebih memilih bercengkrama dan bersenang-senang dengan benda-benda dan hewan-hewan yang ia temui di mana pun. Boleh dibilang cerpen tersebut memang mengutarakan ironi yang kerap kali terjadi di dunia nyata. Di mana orang tua kehilangan rasa hormat dan kasih sayang dari anak-anaknya ketika telah mencapai masa senjanya.

Pada pembuka, cerpen pertama yang disuguhkan bertajuk Kesedihan Atas Rubuhnya Sekolah Para Pemimpi. Karya seseorang yang kini lebih dikenal sebagai Penyair Muda dari provinsi Riau, Muhammad De Putra. Meski masih muda, pencapaiannya dalam sastra memang tidak bisa diragukan lagi. Ia telah banyak memenangkan kejuaraan menulis di tingkat nasional. Cerpennya yang terpilih tersebut agaknya menyiratkan kritik sosial terhadap negeri ini. Lewat kisah pilu seseorang yang tak habis pikir sekolahnya akan dirubuhkan lalu diubah menjadi komplek pertokoan, cukup jelas menggambarkan sebuah ironi; di mana pendidikan tidak lebih berharga dibandingkan pembangunan perekonomian semata.

Kemudian cerpen bertajuk Skripsi karya Sulistiyo Suparno yang berasal dari kabupaten Batang, Jawa Tengah. Sebuah cerpen yang memotret kegelisahan seorang ayah yang anti kritik. Namun sang anak semata wayang adalah penentang yang keras kepala. Dengan keras menolak setiap kehendaknya, termasuk ketika memilih jurusan perkuliahan. Konflik antara ayah dengan anak yang memang kerap kali terjadi dalam kehidupan nyata. Lalu cerpen yang juga memiliki konflik hampir serupa: tentang seorang anak yang membenci sang ayah yang pergi meninggalkannya dan ibunya yang hanya dinikahi secara siri. Tak pernah kembali dan tiada sekali pun memberi kabar berita. Membuat ia dan ibunya hidup dalam susah. Sebuah potret pahit kehidupan yang terdapat dalam cerpen bertajuk Sepenggal Kisah di Rumah Kami, karya Sawaluddin Sembiring. Seorang lelaki kreatif yang berasal dari kota Medan.

Cerpen selanjutnya adalah dua cerpen yang juga menyuguhkan konflik dalam keluarga. Bedanya, terletak pada tokoh cerita yang berkonflik. Antara suami-istri. Pertama, cerpen bertajuk Sebuah Wajah, karya Yuditeha. Seorang pegiat seni dan sastra dari Surakarta. Cerpennya berkisah tentang kegelisahan seorang istri yang menemukan kejanggalan-kejanggalan pada sebuah lukisan bergambar wajah seorang perempuan lain karya suaminya. Yang mana hal itu kemudian berdampak pada keharmonisan hubungannya dengan sang suami. Kedua, cerpen bertajuk Lokot yang Malang, karya Muftirom Fauzi Aruan. Berkisah tentang derita dan penyesalan seorang lelaki yang ditinggalkan istrinya bekerja ke Malaysia. Hidupnya yang semula menyenangkan berubah susah dan menderita, karena sang istri dilanda rasa jenuh padanya.

Kemudian tiga cerpen terakhir yaitu Sandal Kiai Sajad, karya Zainul Muttaqin dari Sumenep, Madura. Yang berkisah tentang seorang santri baru di sebuah pesantren yang hendak mendapat barokah lewat sepasang sandal seorang Kiai. Lalu cerpen bertajuk Pertemuan, karya seseorang yang nampaknya seorang surealis, Nasrul M. Rizal dari Bandung. Mengisahkan tentang seorang lelaki remaja yang bertemu dengan perempuan misterius di sebuah halte. Dan yang terakhir, Rumah yang Terlupakan, karya Agus Salim yang juga dari Sumenep, Madura. Sebuah cerpen yang memberikan renungan kepada pembaca, bahwa kerinduan juga masih bisa dirasakan oleh orang-orang tercinta yang telah mati.



Semua cerpen yang terpilih terasa benar-benar lahir dari ide yang segar. Tema-tema yang diangkat beragam. Dan dengan gaya bercerita yang berbeda dari setiap penulis, cukup memberi kejutan kepada pembaca setiap kali usai membaca satu cerita lalu masuk ke cerita yang baru. Sungguh buku yang patut menjadi koleksi dan bacaan setiap kalangan.

Ditulis oleh Arie Siregar

    Alumni Fakultas Hukum Universitas Negeri Semarang dan kini tinggal di Rantauprapat.