Kepada Syam di Kota J Kota J ilustrasi - Terkait Tampilan penuh

Kepada Syam di Kota J

Oleh: Jeli Manalu

 

Menuju hatimu, Syam, aku pura-pura tertidur di balik jaket hijau yang kau kirimkan, dimana waktu itu aku baru selesai merangkai dua buah lampion. Bus melaju pelan. Pada kiri-kanan jalan pakter tuak (kedai yang meyediakan arak) barangkali tidak pernah tutup. Asap bakar daging berlemak menyebar di udara. Lelaki keriting tak sengaja menyiku gelas plastik yang membuat lantai papan basah. Petikan gitar. Suara keras ala penyanyi rock. Para SPG (sale promotion girl) yang masuk ke toko Koh Asun. Lalu perbincangan dua lelaki tua yang sedang bersamaku di dalam bus pengap dan sempit ini: aku tak kenal, lantas kuperhatikan mereka. Satu hidungnya mancung. Satunya lagi pesek.

“Menurutmu, si Jalal dengan si Teresah seperti dua saudara?” lelaki tua yang pesek memancing pembicaraan.

“Teresah itu anak manis yang rambutnya ‘bob’ itu ‘kan?” tanya lelaki tua yang mancung hidungnya.

“Siapa lagi. Dia satu-satunya gadis asing di tempat kita.”

 

Lelaki tua yang hidungnya mancung menganggukkan kepala sembari membatukkan tenggorokan sembari melirik ke arahku dan aku masih saja pura-pura.

Eh, tapi, aku pernah lihat si Jalal bonceng Teresah. Bukan sekali. Pokoknya seminggu itu ada. Apa menurutmu ….”

Lelaki tua yang hidungnya mancung tampak tidak nyaman, ia mematah-matahkan leher sambil mencari tahu apa ada yang mendengar perbincangan itu, “Bisa saja mereka memang hanya teman,” ujarnya kemudian.

“Sekompak itu? Istri tetanggaku bilang Teresah minta diantarkan latihan nyanyi. Latihan nari. Trus gimana kalau diam-diam ternyata ….”

 

Perjalanan tiba-tiba terhenti. Penumpang ada yang turun lalu ada yang naik. Saat dua lelaki tua di sebelahku ada di kepala masing-masing, aku pun memasuki diriku untuk memikirkanmu. Kuingat dirimu yang ada di kotak rindu. Kata-katamu seperti ini: ada saja yang sabar menunggu yang tak tentu. Seperti kecambah menunggu gerimis. Seperti rahim menunggu bayi, atau wanita menunggu prianya kembali dari perang. Tapi ini tidak soal perang. Ini soal hati yang diperangi perasaan-perasaan sendiri. Dan kitalah hati itu.

 

Ketika tidur tak berkunjung ke malamku, kuketik surel untukmu. Panjang-panjang kuceritakan mengenaiku. Aku berdebar membayangkan apa tanggapanmu nantinya. Aku pergi ke tombol ‘kirim’. Sejak itu tak pernah lagi kubuka surel itu:  aku tidak berani, dalam artian penting kau tidak memberiku keberanian.

 

Seperti piring pecah tiba-tiba pernah air di mataku remuk begitu saja. Kuinginkan suaramu di telingaku. Aku memeluk benda ajaibku dan berharap ada dering tak bernama—hanya angka lalu aku mengeja-eja. Aku masih paham mengenai kode area telepon seluler. Aku mantan penjual pulsa isi ulang. Misal jika nomor itu dimulai dari 081371xx, kemungkinan besar berasal dari Riau. Jika 081361xx, bisa jadi dari Medan kendati barangkali si pemilik nomor itu sedang berada di kota lain. Jadi enam digit nomor depan yang kutunggu-tunggu itu kisaran Bandung dan Jakarta. Asalmu Bandung, kini mukim di Jakarta.

 

Nyatanya hingga matahari begitu terik tak kunjung datang panggilan dari angka. Yang ada hanya dari nama. Nama adik lelakiku: bagaimana di sana? Ayo, munculkan alien itu. Apa dia setampan diriku? Kau harus cepat-cepat meringkusnya. Jika tidak, mantanku akan merebutnya. Kau tidak takut? Hei, kakak, hei, hei, jangan dimatikan!

 

Adik lelakiku itu sudah ada pujaan hatinya. Dia menyuruhku agar lebih dulu. Beberapa kali dia bawa bidadarinya itu ke rumah orangtua kami. Cantik sih, walau menurutku, aku masih jauh lebih cantik. Tapi bagaimana mungkin kau akan meneleponku? Aku tak memberi nomorku padamu.

 

Perjumpaan kita terjadi di suatu pemakaman yang sama-sama tak kita kenali. Kala itu aku sedang mengunjungi sepupu yang baru saja memantapkan dirinya menjadi seorang Budha. Sehabis acara sepupuku, aku lantas berjalan menikmati sudut-sudut kota J. Aku hanya penasaran saja melihat suatu ritual pemakaman. Sedang kau, menurut penjelasanmu, lagi mengamati banyak hal demi misi yang sedang-akan-kauemban.

 

Kita lalu mengobrol kira-kira satu jam. Saling memberitahu nama facebook dan e-mail. Mendadak kau harus kembali karena mendapat telepon entah dari siapa, sekilas kudengar  kalian akan menghadiri akad nikah teman. Tidak kutanyakan sesuatu yang lebih penting, seperti: apakah kita bisa melakukan hal-hal sama dengan cara sama di tempat yang juga sama, semisal berdoa?

Ah, ya, aku merasakannya. Sungguh merasakannya, dan barangkali kau juga. Kita berbeda Tuhan, bukan?

 

Dua bulan lalu saudarimu mengakikahkan putri kembarnya yang lahir normal. Wah, kau telah jadi paman, sanjungku. Kulamunkan kau mencoba-coba menyebutku sebagai calon bibi. Kau selajutnya mendapat jatah memberi nama bagi salah satu bayi itu. Azzahra Wulan, ujarmu. Nama yang cantik. Kelak, beri juga nama untuk bayiku, kataku—aku menggodamu meski harus melapang-lapangkan dada agar tak terlalu sesaknya. Dan kau jadi bulan-bulanan keluarga besarmu waktu itu. Bayangkan anakmu masih lima tahun padahal kau sudah ubanan, begitu mereka mendesakmu, seperti katamu.

 

Hatimu dipatahkan oleh Nona Ra, pramugari ayu yang bersedia dikawini kakek kaya. Kau merasa kalah. Merasa tak berguna, lalu menggulingkan hatimu ke jurang. Kita berkenalan sebagai dokter-dokteran. Entah siapa yang dokter siapa pasien. Kau menuang kisahmu seakan mengisi di gelas kosongku. Aku tidak tahu apakah aku telah ke jurang untuk mengantongi hatimu erat-erat. Mungkinkah kita sedang merajut asmara sementara kita tahu tidak ada yang boleh terjadi di antara kita?

 

Sejak itu kita justru kian sering ke kotak rindu, yakni inbox. Kau bercerita telat bangun. Hanya membilas wajah, menarik pakaian, menyeret tas, melemparkan sepatu ke dalam mobilmu. Ya, ampun, kaus kakiku beda warnanya, keluhmu, lalu melaju layaknya Rio sang pembalap itu. Untung aku pintar, ujarmu lagi. Kau memang pintar, balasku. Karena kau yakin pasti macet di jalanan, kau bawa odol serta gosok gigi. Kau pun menggosok gigi di lampu merah. Angka di lampu tertulis lima belas. Kaulihat di seberang sana ada laki-laki kurang waras kencing sembarangan. Angka di lampu sudah tujuh. Di sekitar tempat dudukmu kau mencari-cari botol air mineral untuk kaupergunakan berkumur. Angka sudah tiga, gusimu masih berbusa. Sebentar lagi lampu menjadi hijau. Saat kau menoleh ke kiri, orang gila yang pipis itu sudah tak ada. Sempat kuketik, “apa hubungannya?”—tapi mulut ini keburu tertawa sampai mata basah membaca ulang pesanmu itu.

 

Di dalam bus bersama dua lelaki tua, kami tak bisa melanjutkan perjalanan menggunakan bus yang sama. Sudah tiga jam ‘nenek-nenek’ itu mogok. Mukaku seperti bakwan basi. Jaket hijau pemberianmu melalui jasa pos sudah bau knalpot.

 

Sebenarnya bukan tak bisa aku menaiki bus yang lebih baik, yang ada AC-nya. Lebih jujur lagi, aku bisa saja naik pesawat menuju hatimu tanpa sepengetahuanmu pada hari dinobatkannya dirimu sebagai salah satu ahli tafsir agama yang kuintip di akun facebook -mu. Aku ingat kata-katamu: setiap ketabahan, cepat atau lambat akan membuahkan hasil. Berarti ada harapan, pikirku. Jadi kuatur kepastian kedatanganku dengan belajar sabar di dalam bus jelek yang menyuntukkan perasaan ini sebagai latihan kecil-kecilan.

 

Sopir yang membawa kami melambai-lambaikan tangan ke jalan. Sebuah bus warna abu-abu berhenti. Aku naik tangga melihat-lihat situasi di dalamnya. Menurutku yang ini lebih bersih. Lebih lapang. Lebih nyaman pula.

 

Sesama sopir berunding. Aku lalu turun. Kubantu dua lelaki tua yang bersamaku sedari pagi memindahkan barang-barangnya dari bus pertama ke bus abu-abu.

“Kau mau ke mana?” tanya lelaki tua yang hidungnya pesek.

“J.”

“J?”

“Kota J.”

“Kau mau jumpai pacar?” tanyanya lagi. Ia nikmati sisa batang rokok di tangan. Asap mengepul dari lubang hidungnya, “kasihku!” desisnya, seakan meledekku, kemudian ia buang puntung itu seraya berkata, “bagusnya cowok yang jumpain cewek.”

 

Kubuka tutup botol lalu mendesakkan sedotan ke bibir. Minggu sudah sangat sore. Aku merapatkan jaket dan memeluk lengan sendiri. Di dahan pinus tampak dua ekor burung. Bulunya rapat-rapatan serta patuknya beradu. Aku terharu di tempatku berdiri. Bus-bus berlewatan. Ada arah ke utara, ada pula ke selatan.

Eh, apa tadi kau dengar percakapan kami?” tanya lelaki tua pesek itu lagi kepadaku.

“Tentang Bapak yang akan menikahkan anak?”

“Tentang Jalal dan Teresah.”

 

Aku membaca wajah lelaki tua yang hidungnya pesek itu. Banyak kerutan di keningnya.Tulang rahangnya menonjol. Usianya kutebak enam puluh dan aku sedikit berpikir apa kabar kekasihnya sehingga mengapa ia justru berangkat dengan teman lelakinya ke pernikahan anaknya?

“Teresah akan masuk biara,” ujarnya tiba-tiba. Sesaat kemudian pikiranku disergap olehmu, seakan sebagian diriku ada yang telah pergi.

“Berangkat, berangkat!” teriak sopir bus abu-abu. Dua lelaki tua membayar ongkos penuh ke kota tujuan. Berikut giliranku.

Kok cuma segini, Dik? Dua ratus ribu lagi,” protes si sopir padaku.

Eh, jaketmu bagus,” lelaki pesek memotong si sopir untuk memuji jaket pemberianmu.

“Biar kubayar kekurangan ongkosmu,” kata lelaki tua yang hidungnya mancung.

“Tidak usah, Pak, tidak usah.”

“Aku tulus kok. Sungguh.”

“…. Aku tak jadi pergi, Pak. Sampai di sini saja,” jawabku.

 

Sunyi sesunyi-sunyinya.



Eh, siapa tadi namanya?” si lelaki tua pesek mendekatiku.

“Maksudnya?”

“Namamu.”

 

Aku hanya menatapnya. Tak kubilang bila namaku A Ling. Cukup padamu saja, Syam. **

 

Riau, 2016-2018

Ditulis oleh Jeli Manalu

lahir di Padangsidempuan, 2 oktober 1983, Tinggal di Rengat-Riau. Penikmat sastra dan giat menulis cerpen