Topbar widget area empty.
Mengunjungi Kota-Kota dalam Kepala Mashdar Zainal cover buku1(1) Tampilan penuh

Mengunjungi Kota-Kota dalam Kepala Mashdar Zainal

Judul Buku : Dongeng Pendek tentang Kota-Kota Dalam Kepala
Penulis : Mashdar Zainal
Penerbit : Diva press
Tebal : 216 hlm. 14 x 20 cm.
Cetakan Pertama : Juni, 2017
ISBN : 978-602-391-401-2

 

Mashdar Zainal mengajak saya untuk mengunjungi kota-kota dalam kepalanya. Katanya ada banyak kota unik yang akan kami kunjungi. Baik suasana, maupun penduduk kota tersebut tidak akan saya temukan di kota-kota lainnya. Masdhar Zainal memulai perjalanan kami,

 

Entah sejak kapan kota itu tumbuh dalam kepalaku. Tepatnya di ceruk mata. Aku pernah terdampar di kota itu, mengalami dahaga yang sangat.

 

Kota itu bernama Kota Tungku, Masdhar Zainal memberitahu, di sana cuaca lebih panas dibandingkan kota lainnya. Matahari di Kota Tungku nampak lebih besar dan bersinar lebih lama.Benar saja, kulit saya terasa terbakar oleh sengatan matahari. Masdhar Zainal mengenalkan saya dengan orang-orang yang berlalu lalang. Orang-orang yang berceloteh betapa sulitnya mendapatkan air minum. Salah seorang dari mereka mengeluh, katanya, dulu Kota Tungku tidak sepanas ini. Kemudian ia berkata pada temannya,Kayaknya dunia mau kiamat. Makin hari makin panas. Tidak cuma cuacanya, tapi juga manusianya… Saya merenung sejenak, apa yang ia ucapkan ada benarnya. Kunjungan saya ke Kota Tungku berakhir dengan dahaga yang sangat.

 

Kami melanjutkan perjalanan.

 

Sampah bertebaran di sembarang tempat. Sepertinya di tempat itu populasi lalat lebih banyak dibandingkan dengan populasi manusia. Orang-orang berkerumun. Tak lama kemudian truk memuntahkan barang bawaannya, yang tak lain sampah. Saya jijik sekali menyaksikannya. Hey orang-orang itu berebut sampah, mereka makan sampah! Mashdar Zainal tidak menjelaskan banyak hal. Seakan mempersilakan saya untuk menyaksikan pemandangan yang menjijikan itu. Dikarenakan tidak kuat saya cepat-cepat beralih ke kota lain, meninggalkan Kota Sampah.

 

Kota selanjutnya yang kami kunjungi tidak kalah aneh. Penduduk kota itu selalu merasa lapar. Mereka memakan apa saja yang mereka temui, mulai dari tumbuh-tumbuhan, binatang, besi, tanah, dan bahkan bangkai. Di kota itu rasa lapar terus melata dan mendatangi siapa saja.Seseorang meminta temannya untukmemakan dirinya. Berharap jika ia mati, rasa lapar itu akan lenyap. Meskipun ia tahu kelaparan akan menuntunnya pada kematian. Apakah lelaki itu benar-benar dimakan? Saya tidak tahu. Mashdar Zainal buru-buru mengajak saya ke kota-kota lainnya.

 

 

Saya tidak akan menceritakan kota-kota lain yang ada di kepala Mashdar Zainal. Jika kalian ingin tahu, kunjungilah langsung. Yang pasti kota-kota itu benar-benar aneh. Ada yang tempatnya sangat kotor karena dipenuhi lumpur. Ada yang penghuninya perempuan saja. Ada pula yang tidak henti dilanda bencana. Dan keanehan-keanehan lainnya. Sekali lagi, jika kalian penasaran, silakan kunjungi sendiri dan rasakan sensasinya.

 

Kunjungan singkat di kota-kota dalam kepala Mashdar Zainal, membuat saya menyadarisesuatu. Jangan-jangan kota saya nasibnya lebih tragis dibandingkan dengan kota-kota itu. Mengingat cuaca yang kian panas, semakin banyak sampah yang berserakan di sembarang tempat (jalan, rumah, sungai, taman, hingga tempat ibadah) dan sesekali penduduknya mati dilanda kelaparan. Kunjungan itu sangat berarti bagi saya.

 

Selain mengajak saya mengunjugi kota-kota di kepalanya, Mashdar Zainal mengenalkan saya pada orang-orang, benda-benda, dan tempat-tempat istimewa. Kisah orang-orang itu membuat saya merasakan banyak hal. Kesedihan, kegamangan, kemuraman, kekesalan dan kebahagiaan, silih berganti merasuki perasaan saya. Benda dan tempat itu membangkitkan imajinasi dan menghidupkan lagi kenangan.

 

Kesedihan kentara terasa ketika saya berjumpa dengan perempuan-perempuan nelangsa. Perempuan pertama menderita dikarenakan kehilangan suaminya pada Oktober 1965 yang begitu merah. Perempuan itu sakit -atau lebih tepat disebut gila- dan enggan meninggalkan kamarnya yang selalu berkabut. Anak semata wayangnya menceritakan bagaimana mulanya kabut itu ada, Kabut Ibu.Ia menjadi pencerita yang baik,kejadian demi kejadian tergambar jelas di benak saya. Saya seperti terlibat dalam cerita tersebut, ikut merasakan apa yang Ibu dan Anak itu rasakan.

 

Akhirnya, aku dan Abah memutuskan untuk mengunci rapat-rapat kamar Ibu. Membiarkan kabut itu terus melata. Berjelanak dari celah bawah pintu. merangkak memenuhi ruang tengah, ruang tamu, dapur, kamar mandi, hingga merebak ke teras depan.

 

Kehilangan seseorang yang sangat dicintai pasti meninggalkan luka yang teramat dalam. Apalagi jika orang itu sudah lama menemani. Luka yang teramat dalam itu dirasakan pula oleh seorang perempuan tua. Perempuan tua yang ditinggal mati suaminya, padahal sebelumnya pun anaknya telah meninggal dunia. Rumahnya terus diguyur hujan, sesekali gelegar petir terdengar. Air itu tidak jatuh dari langit, melainkan jatuh dari kelopak mata perempuan tua yang kian nelangsa. Pada sebuah malam entah kenapa rumah itu menjadi sunyi. Rumah yang disebut orang-orang sebagai Rumah yang Menggigil.Saya berani bertaruh, jika kalian bertemu dengan perempuan itu dan mengetahui kisahnya secara utuh, air mata bagai tamu tak diundang, datang begitu saja.

 

Berbeda dengan kedua wanita tadi, yang terperangkap dalam kesedihan, terjerembab di jurang duka lara, yang tenggelam oleh air matanya, wanita ke tiga memilih untuk berjuang. Wanita itu bernama Rusmi. Kendatipun suaminya telah meninggal ia tidak mau berpangku tangan. Ia berdagang di pasar kecamatan, yang jaraknya berkilo-kilo meter dari rumahnya. Hari itu awan mendung. Setibanya di pasar Rusmi gegas menjajakan dagangannya. Menit berganti, tidak ada satupun yang membeli. Awan kian hitam, tetapi Rusmi bersikeras bertahan.

 

Rusmi akhirnya menyerah. Ia teringat Sunar, anaknya, sendirian di rumah. Ia membawa bakul dagangannya. Hujan turun sebelum Rusmi tiba di rumah. Ia menjumpai sebuah lepau kecil berdinding papan, dan memutuskan berteduh di sana. Lepau itu sepi. Seekor anjing hitam menghampiri, menemani Rusmi. Dikarenakan perutnya berbunyi, lapar, Rusmi menggeledah barang dagangannya dan meracik sepincuk nasi jagung. Rusmi menyantapnya perlahan, bayangan Sunar yang -sepertinya- belum makan menambah gundah hatinya. Anjing hitam takjim memperhatikan Rusmi.

 

Merasa iba pada anjing hitam yang terus menatapnya, Rusmi meracik nasi jagung dan memberikannya pada anjng itu. Rusmi berceloteh, sementara anjing hitam terus menatapnya dengan tatap yang dalam. Di kepala Rusmi bayangan suami dan anaknya silih berganti. Kenangan menemaninya di kepungan hujan. Hujan belum sempurna reda, Rusmi memutuskan untuk pulang. Ia meninggalkan anjing hitam yang setia menatapnya. Rusmi merasa tidak asing dengan tatapan itu. Apakah tatapan itu milik suaminya? Rusmi pergi, Resital Hujan tak kunjung berhenti.

 

Bagi saya, Rusmi adalah perempuan perkasa. Di saat banyak orang membiarkan dirinya hancur dimamah duka, ia memutuskan untuk berjuang. Sebagai lelaki saya bersyukur Mashdar Zainal mengenalkan saya pada Rusmi. Jika saya tidak bekerja kerasa, saya adalah manusia paling tidak berguna. Kalah oleh seorang janda.

 

Masih banyak orang-orang yang dikenalakan oleh Mashdar Zainal. Untuk menghargai kemurahan hatinya, saya tidak akan menceritakan semuanya. Namun, ada satu perempuan lagi yang wajib saya beritahukan pada kalian. Perempuan itu paling istimewa. Ia Perempuan yang Menjahit Bibirnya.

 

Perempuan itu duduk dengan sangat tenang, sambil menyulam bibirnya sendiri. Tangannya bergerak runtun. Jarum mungil itu ia tusuk-tusukkan dengan tertib ke bibirnya. Lantas ditariknya kembali jarum mungil itu perlahan-lahan. Benang-benang jatuh. Berjuntaian.

 

Sebelumnya perempuan itu banyak bicara. Kata demi kata berhamburan dari bibirnya, di mana pun dan kapanpun. Tidak peduli siapa yang diajak bicara dan apa yang ia bicarakan. Tidak mahu tahu apakah yang ia ucapkan itu membahagiakan atau menyakitkan. Yang penting bagi perempuan itu ialah bicara, memuntahkan kata.

 

Keputusan menjahit bibir diambil setelah peristiwa demi peristiwa menyakitkan menghampirinya. Orang-orang enggan berbicara dengannya. Dan beberapa tahun silam keluarganya mati secara tidak wajar. Awalnya ia tidak mengerti mengapa semua itu bisa terjadi, lambat laun ia paham semua itu bermula dari perkataannya. Perempuan itu teringat perkataan bapak, ibu dan adik perempuannya sebelum mereka meninggal.

 

Mulutmu adalah harimau buas, jika kau tidak bisa menjadi pawang yang baik, jika kau tak bisa mengendalikannya dengan baik, kau akan diterkamnya sendiri.

 

Mulutmu adalah pisau, Nak. Tajam dan bisa menghujam apa saja. Jika kautak menggunakannya dengan baik, kau bisa tersayat sendiri olehnya.

 

Mulutmu adalah gua beracun, jadi, lebih baik tidak terlalu sering kau membukanya. Kau tahu, racun itu sangat berbahaya, bisa dengan mudah dihirup siapa saja dan membunuh siapa saja.

 

Betapa dulu perempuan itu menganggap perkataan itu sebagai omong kosong semata. Kini ia benar-benar menyesalinya. Ia menjahit bibirnya supaya tidak ada lagi kata-kata yang melukai orang-orang di sekitarnya.

 



Andai saja semua orang mengenal Perempuan yang Menjahit Bibirnya Sendiri,tidak akan ada pertengkaran, perpecahan, dan pembunuhan, tidak akan muncul kebencian dan ketakutan, tidak akan bertebaran omong kosong yang memuakkan. Andai saja orang-orang menyadari betapa berbahayanya perkataan, dunia ini akan damai dan tentram.Setelah mengenal perempuan itu -walaupun tidak sampai menjahit bibir-saya menjadi lebih berhati-hati saat berbicara. Kalian harus secepatnya mengenal perempuan itu!!!

 

Mukena Berwarna langit,boneka Benny Bear, tulang ikan, guci dan sepotong pai –setelah berjumpa dengan Mashdar Zainal– menjadi benda yang penuh cerita dan makna. Inilah salah satu keistimewaan Mashdar Zainal, ia bisa mengubah benda sederhana menjadi sesuatu yang tidak biasa. Kini saat melihat mukena saya teringat seorang anak perempuan tidak bosan menunggu ibunya yang tak kunjung pulang. Sebuah boneka bisa mengingatkan saya pada penghianatan seorang lelaki pada pacarnya. Tulang Ikan di Tenggorokan tidak saja sebatas kecelakaan, bisa saja ada sebuah kesengajaan, dan berakhir kematian. Sebuah guci mengaktifkan imajinasi saya, boleh jadi ada Dunia di Dalam Guci.

 

Ada sedikit kekecewaan yang mengganggu saya. Saya kecewa pada beberapa orang yang dikenalkan oleh Mashdar Zainal. Tentu saja jumlahnya tidak banyak. Mengapa saya kecewa? Orang-orang itu memilih untuk bunuh diri ketika dihadapkan pada pahitnya kehidupan. Ada juga yang memilih untuk membunuh orang yang melukai hatinya. Saya membayangkan seseorang berada pada kondisi yang sama lantas mengenal orang-orang tadi. Bisa jadi -meskipun kemungkinannya kecil- mereka terinspirasi, dan melalukan hal yang sama (bunuh diri atau membunuh).

Ditulis oleh Nasrul M. Rizal

    Nasrul M. Rizal lahir tanggal 27 Agustus 1995 di Garut. Selain mengajar Ekonomi, lelaki jangkung ini pun suka membaca dan sering menulis cerpen.