Topbar widget area empty.
Ayah Singgahan Ayah Singgahan 2 Tampilan penuh

Ayah Singgahan

Oleh: Sawaluddin Sembiring

 

 

Hampir magrib. Ibu masih menarik tanganku dengan sangat erat. Wajahnya memerah. Dia menahan amarah. Air mataku sudah mengering, tadi aku menangis sejadinya. Mengadu kepada ibu perihal yang membuatku takut. Kalau saja aku tidak mengadu, mungkin saat ini ibu sedang menyuapiku dengan sayur lodeh yang dimasaknya. Aku ketakutan melihat ibu begitu marah ketika mendengar pengaduan tadi. Dia memelukku sejenak, menenangkan, menyalahi segala omongan yang dikatakan Bang Atan. Ya, ketika sedang bermain bola di lapangan sore tadi, Bang Atan mendatangiku. Lelaki itu menyuruh untuk membelikannya sebatang rokok di warung yang ada di pinggir lapangan. Aku nurut, karena biasanya akan ada upah dari membeli rokok itu. Anak kecil sepertiku memang sering disuruh orang dewasa untuk membeli ini dan itu, mungkin mereka sangat malas bergerak. Selepas kembali dari warung, Bang Atan menahanku, dia bertanya perihal ayahku.

 

“Adanya ayahmu? Kok gak pernah abang tengok ayahmu di rumah?” Tanya Bang Atan sambil membakar rokok mentol yang aku beli tadi.

“Ayahku ada, kok. Kerja. Jauh,” jawabku dengan cepat.

“Mana ada! Kalau kau punya ayah, pasti ayahmu selalu ada di rumah, lah” katanya lagi. Dari mulutnya keluar kepulan asap nikotin.

“Ada. Ayahku juga sering pulang, kok” jawabku, memberi pembelaan.

“Kau ditipui ibumu. Itu bukan ayahmu,” umpatnya. Aku mulai kesal mendengar perkataanya. Air mataku mulai menggumpal.

“Aku  punya ayah,” pecah sudah airmata itu.

“Bohong. Kau tak punya ayah, anak haram!” kali ini kalimatnya membuat dadaku terasa sesak. Rasanya tidak pantas anak usia sembilan tahun sepertiku mendengar perkataan yang sangat kasar dari seorang yang lebih tua.

 

Aku sudah tak sanggup melawani Bang Atan. Segera pulang, bertanya pada ibu perihal kebenaran yang dikatakan Bang Atan tadi. Ibu begitu kaget melihatku pulang ke rumah dalam keadaan menangis. Dipikirnya aku baru selesai berkelahi dengan teman sepermainan. Namun isakan tangisku kali ini membuatnya penasaran, apa sebenarnya yang terjadi.

 

“Kenapa pula kau nangis?” Tanya ibu yang masih menyapu rumah.

“Apa benar aku anak haram, bu?” ibu begitu terpukul mendengar kalimat yang keluar dari mulutku.

“Astaghfirullahaladzim. Tidak benar itu, nak. Siapa yang mengatakan hal itu padamu?” Tanya ibu. Dia begitu penasaran. Kulihat kedua alisnya bertemu, keruh sekali air wajahnya.

“Bang Atan, bu,” beritahuku. Langsung saja ibu mengomel, bahkan memaki lelaki yang duduk di bangku kuliahan itu. Ditinggalkanya gagang sapu tadi, ditariknya tanganku. Membawaku pergi ke rumah Bang Atan.

 

Ketika sampai di rumah Bang Atan, aku berlindung di balik punggung ibu yang tambun. Dari luar rumah itu, ibu berteriak teriak. Tak ada yang keluar, sampai ibu melempar kaca jendela rumah mereka dengan batu. Kemudian keluarlah seorang perempuan yang usianya sama seperti nenekku. Langsung saja ibu mengomel pada perempuan itu, memberitahu kelakuan si Atan yang sangat keterlaluan. Awalnya ibu itu sempat membela anaknya, namun ibuku terus mengomel, bahkan bersumpah. Jika Atan kembali mengulangi perbuatannya, dia tidak akan segan-segan menuntut lelaki kurang ajar itu.

 

Kami pergi tanpa ada penyelesaian. Suara azan terdengar berkumandang. Aku dan ibu tergerus kesedihan di bawah langit senja yang mulai menghitam. Segera pulang.

 

Setelah kejadian sore itu, perkataan Bang Atan masih menempel di kepala. Aku hampir mempercayai kalimatnya, walau ibu sudah memberi penjelasan. Di ruang tamu, aku duduk sambil tertegun. Beberapa kali mataku memandangi bingkai foto yang tergantung di dinding yang sudah bolong-bolong. Dari semua foto yang ada, tak kutemui foto lelaki berseragam militer itu. Ibu tak pernah memajang foto ayah, padahal aku sangat bangga memiliki seorang ayah tentara. Kepalaku berpikir keras, namun tak kutemui jawabanya. Apa mungkin karena ibu malu memajang foto ayah di ruang tamu? Entalah, jawabanya hanya ada pada ibu.

 

Tidak hanya sebatas foto yang tergantung di ruang tamu, tapi juga perihal kedatangan ayah yang sangat berbeda dengan ayah teman-temanku. Aku tak pernah mendapati ayah ketika malam tiba, aku juga tidak pernah menemukan ayah ketika membuka mata di pagi hari. Ayah tidak diam di rumah. Padahal setiap hari ayah dari teman-temanku selalu berada di rumah, mulai pukul enam sore sampai esok hari pukul delapan pagi. Mereka selalu menghabiskan waktu bersama. Makan malam bersama, bercengkrama, pergi menikmati hiburan pasar malam, juga datang ke sekolah saat pembagian rapor. Ayahku tidak pernah melakukan itu. Padahal aku sangat bangga padanya.

 

Ayah akan datang tepat lima hari setelah awal bulan. Biasanya dia datang sekitar pukul dua belas siang. Dan pergi lagi sekitar pukul dua siang. Sesingkat itu. Banyak yang ingin aku ceritakan padanya, namun tak pernah kulakukan. Ayah tak ada waktu. Lelaki gagah itu selalu datang dengan kereta GLPRO berwarna hijau, kata ibu itu sepeda motor khusus untuk tentara. Ketika datang, aku duduk dipangkuanya. Dia menciumi pipiku, bermain sejenak. Setelah itu, ibu menggiringku keluar kamar. Katanya ayah ingin istirahat. Padahal ingin sekali mendengar ayah menanyai bagaimana sekolaku, teman-temanku, dan bercerita banyak hal.

 

Pintu kamar akan terbuka lagi sekitar pukul dua kurang sepuluh. Biasanya ibu akan berteriak-teriak memanggilku.

 

“Nak, ayah mau pulang ini” teriak ibu.

 

Awalnya aku tak memikirkan kalimat ibu, namun setelah peristiwa dengan Bang Atan, aku jadi menelaah perkataannya. “Pulang?” bukankah ini adalah rumah ayah dan ibu. Ke mana ayah akan pulang? Ke rumah mana ayah akan pulang? Mengapa aku tak pernah diajak ke rumah yang lain? Begitu banyak tanyaku, namun tak pernah ada jawabannya.

 

“Ayo salami ayah, ayah lama lagi nanti datang” ucap ibu sambil mengikat rambutnya yang ikal. Aku menurut, walau masih mengunci mulut.

“Jangan nakal ya. Nanti ayah datang lagi, bawa sepeda,” katanya, berjanji. Aku masih diam saja. Ibu menarikku ke dekapanya. Mataku tak berkedip saat ayah menyalakan motornya, dadaku begitu sesak. Aku menangis.

“Jangan nangis, ayah nanti pulang lagi,” aku tak peduli, tangisku terus pecah. Sesungguhnya aku ingin diajak naik ke atas motor itu, berkeliling komplek, memamerkan ayah seperti teman-temanku. Namun sepertinya lelaki itu tak pernah menyadari keinginan itu.

 

Aku menangis sejadinya di ruang tamu. Ibu datang, dia memeluk tubuhku yang sangat panas. Kedua mataku memerah, kepalaku terasa sangat pusing. Kemudian dia menggendong tubuhku, membawa ke kamar. Kudengar dia memanggil adik lelakinya, meminta tolong untuk dipanggilkan bidan yang rumahnya tidak jauh dari rumah kami. Ibu terlihat sangat khawatir. Begitu banyak obat yang diberi bidan itu ketika selesai memeriksa tubuhku. Aku tidak butuh semua obat-obat itu, yang kuinginkan hanya ayah. Betapa rindunya aku pada lelaki yang tak pernah aku miliki.

***

 

Hari ini jadwal ayah datang. Entah kenapa, kedatanganya kali ini membuatku tak terlalu bahagia. Biasanya aku begitu senang jika tau dia akan datang. Mungkin aku mulai terbiasa tanpa kehadiran lelaki itu. Aku mulai menikmati peranku sebagai anak yang hanya memiliki ayah singgahan. Kuperlambat langkah kaki ketika keluar dari sekolah, malas rasanya pulang, bertemu dengan ayah dan berbicara basa-basi. Aku semakin tak mengenalinya. Aku selalu sakit hati, melihat teman-temanku yang sering diajak ayahnya jalan-jalan. Aku ingin sekali. Pernah aku meminta ibu untuk menelponnya agar cepat pulang, namun ibu buru-buru menjawab, jika ditempat ayah bekerja tidak ada telepon rumah. Malangnya aku mempercayai itu. Sejak hari itu, aku tidak pernah bercerita perihal ayahku pada teman-teman, bahkan menyebut namanya saja tidak pernah. Ketika mereka bertanya di mana ayahku, aku hanya diam dan tersenyum. Karena aku sendiri pun memang tidak tau di mana ayahku tinggal.

 

Perasaanku sedang kecewa saat ini. Tadi ibu guru meminta kami menuliskan makanan kesukaan orang tua. Teman sekelasku bersorak, mereka dengan cepat menuliskanya di buku tulis. Aku tak bisa menuliskan kesukaan ayahku. Karena aku tidak mengenalinya. Aku tidak tau namanya, aku tidak tau berapa usianya, aku tidak tau apa makanan dan minuman kesukaannya, bahkan aku tidak tau di mana kantornya. Ayahku hanya sebatas ayah singgahan, yang selalu pulang  ke rumah ibu tuaku.

 



Akhir Desember 2018

 

SAWALUDDIN SEMBIRING, lahir dan besar di Kota Medan. Giat menulis di Forung Lingkar Pena Medan. Hobi bermain Instagram @sam-sembiring. Tulisan-tulisanya telah dimuat diberbagai harian lokal maupun nasional. Saat ini sedang menikamati tugas sebagai redaktur fiksi di salah satu media online. Buku terbarunya, Sehimpun Cerpen Pilihan Apajake.id yang berjudul Bahagia Tak Mesti Dengan Manusia, (2017)

 

Foto: TH Pohan

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 5 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*