Topbar widget area empty.
Lampu Merah lampu merah Tampilan penuh

Lampu Merah

Oleh: Yuditeha

 

 

Mungkin, selama ini bawah sadarku mengatakan bahwa jika aku tidak benar-benar melihat kejadiannya dengan mata kepalaku sendiri, aku belum bisa sepenuhnya memercayai. Baiklah, mungkin istilahnya bukan belum percaya, tetapi belum mempunyai tali kesadaran bahwa sesuatu yang ada kaitannya dengan kejadian itu sesungguhnya sangat berarti bagi hidupku. Pengertian ini kudapat di hari yang panas, di saat aku sedang dalam perjalanan menikmati rasanya menjadi perempuan kuat dan mandiri. Dengan mobil sedan berkelas aku memanjakan diri sendiri mengelilingi kota ini.

***

 

Keinginan menaklukkan cita-cita besar. Lebih tepatnya mempunyai ambisi ingin menjadi wanita karir, sesungguhnya sudah tertanam dalam jiwaku sejak aku remaja. Bahkan aku tetap nekat ingin mewujudkannya meski pada saat aku kelas satu SMA mendapati kenyataan bahwa bapak yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga tiba-tiba meninggal kerena sakit. Kondisi itu tak sedikit pun menyurutkan niatku ingin meraih cita-citaku itu.

 

“Aku tetap ingin melanjutkan sekolah, lalu kuliah, Bu,” ucapku pada ibu waktu itu.

“Bagus, anakku,” sahut ibu.

“Karena aku ingin menjadi wanita karir, Bu.”

“Itu cita-cita yang hebat, anakku.”

“Karenanya ibu bisa menggantikan peran bapak, kan?”

“Ibu akan berusaha untuk itu, anakku.”

 

Tentu saja cita-citaku adalah cita-cita yang hebat. Dan sebenarnya masih ada alasan lain, mengapa aku tak ingin berhenti sekolah, bahkan ingin kuliah, karena aku tidak ingin menjadi perempuan seperti ibu. Berpendidikan rendah, yang hidupnya akan selalu tergantung dengan orang lain. Tidak punya kebanggaan diri.

 

Setelah seratus hari meninggalnya bapak, ibu membuktikan tanggung-jawabnya sebagai orangtua, dengan pergi merantau ke kota untuk bekerja di sana. Aku bilang tanggung-jawab itu maksudnya semua orangtua memang seharusnya bertanggung-jawab dengan segala kebutuhan anak-anaknya. Mau tidak mau, sebagai orangtua harus mengemban tugas tersebut. Jadi hal itu kuanggap sebagai sesuatu yang memang harus dilakukan, dalam arti bukan menjadi salah satu indikasi bahwa orangtua yang melakukannya adalah orangtua yang hebat. Sudah aku katakan bahwa hal itu memang sudah seharusnya dilakukan, bukan merupakan hal yang istimewa.

 

Pastinya hal itu juga berlaku bagi perempuan yang ditinggal mati suaminya. Meski akan terasa berat, tanggung-jawab sebagai kepala keluarga dan berkewajiban mencari nafkah akan berlaku secara otomatis, beralih dari bapak kepada ibu. Jadi ketika ibu mengutarakan keinginannya akan bekerja di kota,  kuanggap hal itu sebagai sebuah peristiwa selumrahnya. Bukan sesuatu yang wah. Jadi sejak saat itu, ibu memang kesampaian bekerja di kota, dan pulang ke rumah setiap dua pekan sekali.

 

Sekolah ibu hanya sampai sekolah lanjutan menengah. Setahuku sebenarnya ibu punya kemampuan menari. Ada beberapa foto saat ibu sedang menari tarian tradisional yang dipasang di dinding rumah. Hal itu menjadi bukti bahwa ibu memang punya kemampuan itu. Tetapi karena ibu tidak didukung dengan pendidikan, maka kemampuan ibu itu tidak bisa berbicara banyak terhadap kehidupan ibu. Karena kenyataan itu pulalah, mengapa aku ingin mengenyam pendidikan tinggi. Aku tidak ingin menjadi perempuan yang biasa-biasa saja. Aku ingin menunjukkan pada dunia bahwa perempuan bisa menjadi pribadi yang tangguh. Dalam hal ini, ibu sudah seharusnya berkewajiban untuk membantu mewujudkan cita-citaku.

 

Tuntutan itu bukan menjadi beban pikiranku. Aku tak perlu merasa menjadi anak yang tak tahu keadaan, karena apa yang kupinta, senyatanya adalah sesuatu yang memang sewajarnya dibutuhkan anak, dan yang seharusnya dipenuhi oleh orangtua. Jadi apa pun yang dilakukan orangtua untuk mencukupi semua kebutuhan anaknya adalah sebagai sesuatu yang sudah seharusnya terjadi. Itu artinya demikian juga yang harusnya berlaku dengan apa yang ibu lakukan  terhadap segala kebutuhanku.

 

“Dengan keadaan apa pun, ibu usahakan untuk membiayaimu,” kata ibu sesaat sebelum mengatakan rencananya untuk bekerja di kota.

“Memang seharusnya begitu, kan Bu?” tanyaku meyakinkan ibu.

 

Waktu itu ibu hanya bisa mengiyakan, kupikir memang ibu tak punya alasan kuat untuk tidak menyetujuiku. Meski pada awalnya dulu aku merasa pesimis dengan kemampuan ibu untuk mencari uang di kota, tetapi pada kenyataannya, ibu teryata bisa membuktikannya. Setiap dua pekan sekali ibu pulang membawa sejumlah uang. Pernah di sebuah kesempatan aku menanyakan pada ibu, bagaimana ibu bisa mendapatkan uang itu. Dimana ibu bekerja.

 

“Menjadi buruh di kota, anakku,” jawab ibu waktu itu.

 

Kini cita-citaku telah kugenggam. Bukan hanya bisa melanjutkan sekolah, tetapi juga dapat menyelesaikan kuliah di perguruan tinggi ternama, bahkan kini aku sudah bekerja. Telah dua tahun aku menduduki jabatan sebagai pemimpin perusahaan jasa keuangan. Rumah megah telah kumiliki sejak setahun yang lalu, dan baru sebulan mobil sedan mulus ini selalu setia mengantarku pergi ke mana pun yang kumaui. Semua capaianku ini tentu saja karena aku sendiri yang gigih untuk mewujudkannya. Menurutku, tiada yang lebih membahagiakan selain dapat meraih cita-cita yang diidam-idamkan  dari kecil. Karena itulah aku berani bicara, tak ada yang bisa membantu meraih cita-cita selain diri kita sendiri. Tetapi ada satu temanku, namanya Wiwid, dia cenderung tidak sepenuhnya menyetujui dengan pendapatku itu.

 

“Bukankah orangtua, dalam hal ini ibumu, telah berperan penting dalam kehidupanmu?” Pertanyaan Wiwid, teman kerjaku itu, yang suka mbok-mboken. Waktu itu aku menjawab dengan sebuah pertanyaan juga, “Bukankah tugas setiap orangtua memang sudah seharusnya begitu?”

 

Wiwid merespon pertanyaanku dengan anggukan kepala. “Kalau memang sudah menjadi tugasnya setiap orangtua, lalu mengapa harus kita nilai istimewa?”

 

“Tapi..” Ketika bicara Wiwid tak dilanjutkan, aku malah menimpalinya lagi dengan penjelasan bahwa pernyataan itu bukan berarti ungkapan tidak suka terhadap orang lain, tetapi hanya mengatakan sebuah kenyataan yang kupandang sebagai sesuatu yang sewajarnya. Aku juga menambahkan penjelasan, bahwa kita nanti akan punya keluarga sendiri,  kepada keturunan kitalah tanggung-jawab itu akan diminta.

“Tapi, selagi kita belum berkeluarga, alangkah baiknya jika kita memberi kebahagian kepada orangtua.”

“Bukankah justru pada saat seperti itu, waktunya kita memanjakan diri kita sendiri dulu, sebelum tanggung-jawab kita untuk keturunan kita?”

“Jadi kamu tidak ada keinginan untuk pulang dulu, lalu mengajak ibumu ikut menikmati hasil dari cita-citamu ini? Mengajaknya piknik bersama, misalnya.”

“Ya sudah, karena kamu menanyakan, bolehlah kapan-kapan aku pulang dan mengajak ibuku jalan-jalan.”

 

Wiwid menanggapi pernyataanku dengan sebuah senyuman, lalu meyakinkanku dengan sebuah pertanyaan, apakah aku benar-benar belum sempat pulang untuk sekadar berkabar atas semua capaianku ini.

 

Belum sempat aku mengingat apa yang menjadi tanggapanku terhadap pertanyaannya, lamunanku buyar karena akan melewati sebuah perempatan besar, sementara traffic light sedang menyalakan lampu merahnya. Aku menghentikan mobilku, disusul berhentinya mobil-mobil lain yang juga akan melintasi perempatan itu.

 



Tak lama kemudian seorang perempuan setengah baya sedang mengamen dengan sebuah tarian tepat di depan mobil-mobil yang berhenti. Persis di area garis zebra cross, perempun itu menari tarian tradisional dengan gerak yang begitu gemulai. Tarian itu diiringi dengan gending yang diputar melalui tape recorder yang diletakkan dekat tiang traffic light.

 

Pada awalnya aku tidak begitu perhatian dengan penari itu, tetapi karena aku merasa seperti mengenalnya, lantas aku memperhatikan dia dengan saksama. Meski dia tampil dengan riasan tebal tetapi aku bisa mengenali siapa sesungguhnya penari itu. Kontan ingatan-ingatanku tentang apa yang pernah kulontarkan mengenai cita-cita dan keberhasilan kembali menggaung di telingaku. Tak lama kemudian aku merasakan sesak di bagian dada, dan pangkal tenggorokan, hingga tanpa sadar tak kuasa lagi menahan air mataku menetes. Tiba-tiba suara klakson dari mobil di belakang mengagetkanku. Kulihat lampu merah di traffic light berganti hijau, yang artinya mau tidak mau aku harus menjalankan mobilku.***

  

Foto: TH Pohan

Ditulis oleh Yuditeha

Menulis puisi, cerpen dan novel. Aktif di Sastra Alit Surakarta. Buku terbarunya Kumcer Balada Bidadari (Penerbit Buku Kompas, 2016). Hobi melukis wajah-wajah dan bernyanyi puisi. Penyuka bakpia dan onde-onde