Topbar widget area empty.
Kencan di Lubang Waktu Kencan di lubang waktu Tampilan penuh

Kencan di Lubang Waktu

Oleh Hendy Pratama

 

 

MALINDA cantik malam ini. Dan, karena kecantikannya itu, ia membuat hari-hariku yang payah kembali bersinar. Tentang kegagalan menjadi Wakil Bupati yang seketika kulupakan. Aku yakin, seandainya dia tidak datang malam ini, aku bakal mati dengan isi kepala yang meledak. Untung saja, Malinda memenuhi ajakanku. Sesegera, kumasukkan dia ke lubang waktu; di mana waktu terasa berhenti berputar.

 

Perempuan itu tidak tahu bahwa aku adalah pengendali waktu. Kendati sebenarnya, aku juga sadar bahwa kecantikannya bakal membunuh waktu-waktu berhargaku. Namun, siapa yang menduga bila dia akan terjebak dalam waktuku?

 

Malinda tiba ketika malam telah larut. Sejak matahari meninggalkan bumi, kira-kira sekitar enam jam lalu. Aku dan dia bertemu di Taman Moora. Mungkin, dia tidak tahu kalau taman ini sebenarnya ialah taman fiksi, yang hanya terdapat dalam imajinasi belaka. Bila dia menggemari Yetti A.K.A, pastinya tidak asing dengan sekuntum mawar dan tulip yang berterbangan bagaikan peri-peri kecil dan Cupid atau Eros.

 

“Apakah tidak ada tempat lain?” protes Malinda tempo waktu, ketika mendengar ajakanku melalui selulernya.

“Taman ini cukup indah bagi pertemuan kita. Semerbak bunga-bunga dan kupu-kupu yang beterbangan di atas kepala bakal membawa kita ke surga. Tak ada surga lain yang seindah dan semenakjubkan Taman Moora,” balasku, singkat.

“Lalu, mengapa harus tengah malam?”

“Mengapa tidak?”

“Kau bertanggung jawab untuk menjelaskan,” tegas Malinda.

“Kita menunggu orang-orang dilenakan waktu. Tentang pekerjaan yang melelahkan, sejumpun masalah yang silih berganti; cicilan motor yang bikin pening kepala, tagihan listrik, angsuran utang di bank, tangis bayi yang memekakkan telinga, serta hari-hari mereka yang penat lagi membosankan. Mereka akan melupakan sejenak kehidupan pada tengah malam. Ketika kantuk telah menenggelamkan mereka ke dunia tanpa nama. Bagiku, itulah waktu yang tepat bagi kita untuk bertemu,” jelasku pada Malinda. Setelahnya, tak kudengar lagi kata-kata protes dari lubang selulernya.

 

Malinda seperti terhipnotis oleh ajakanku yang mendadak itu. Malam ini, aku bagai sedang mimpi. Dia benar-benar datang ke Taman Moora dengan mengenakan gaun putih keperakan seperti bulan. Langkah kakinya pelan, layaknya macan lapar. Sepasang tangan Malinda menggamit bagian bawah gaun hingga sepatu merahnya kelihatan. Bagiku, hal ini sungguh di luar perkiraanku; perempuan cantik itu benar-benar datang menemuiku.

 

Terhitung sejak Ali Sugiri mencalonkan diri menjadi rivalku, Malinda membuat jarak denganku. Dia mengaku tidak mengenal siapa Kasturi. Dan, aku mengira bahwa Ali Sugiri telah melarang putrinya itu supaya tidak lagi berhubungan denganku.

 

“Sebaiknya, kau tidak lagi meneleponku. Aku sedang banyak kerjaan dan aku tidak ingin kerjaan itu menumpuk setinggi gunung.” Begitulah kata-kata terakhir Malinda yang kudengar, sehari setelah Ali Sugiri resmi menjadi calon Bupati.

 

Tanpa banyak bicara, aku memutukan saluran telepon bersamaan dengan putusnya hubunganku dengan Malinda. Namun, aku kembali menghubunginya satu bulan kemudian ketika Ali Sugiri dan pasangannya berhasil memenangi pemilu. Aku dan calon Bupati dari partaiku terpaksa menundukkan kepala. Di sisi lain, aku senang karena itu pertanda bahwa Ali Sugiri tak lagi mengekang Malinda untuk bertemu denganku. Aku tidak peduli dengan nasib pasanganku di partai. Kuduga, dia sudah gila!

***

 

Jauh hari sebelum politik dan uang merayuku, aku dan Malinda merupakan pasangan romantis. Kami kerap kali bertemu di taman kota yang rindang. Daun-daun gugur, angin bertiup rendah, kelopak mawar yang mekar, serta kupu-kupu yang berterbangan ialah latar yang tepat bagi kami untuk menikmati aroma cinta. Tak jarang kami berciuman, memeluk tubuh satu sama lain, hingga terbesit di anganku untuk merobek pagar ayu miliknya.

 

Mulanya, aku dan Malinda datang ke taman kota pukul lima sore. Waktu yang tepat untuk menanti langit yang berangsur-angsur berwarna kuning kemerah-merahan. Namun, mengingat jalan di sekitar taman makin sore justru padat, aku memutuskan tengah malam sebagai waktu yang tepat bagi kami bertemu.

 

Pada pertemuan pertama, Malinda—bersama air mata yang berlinang—curhat padaku. Katanya, dia tidak lagi betah hidup di rumah karena Ali Sugiri gemar mengatur Malinda bagai seekor domba di tangan pengembalanya.

 

“Bapak suka mengatur ini dan itu. Dia melarangku pergi malam-malam, menyuruhku kuliah ambil jurusan ilmu politik, tidak membolehkanku mengajak laki-laki bertamu, dan bahkan, baru-baru ini kudengar, Bapak hendak menikahkanku dengan Dody Manalu,” ungkap Malinda,  menyandarkan kepalanya ke bahuku.

 

Tentu, aku merasa terpukul ketika mendapati bahwa laki-laki yang menjadi panitia pemilihan itu hendak menikahi Malinda. Betapa hatiku serasa ditusuk belati, betapa kepala ini seperti diledakkan oleh mesiu. Dan, karena kabar itu, tiga hari berselang, Malinda tidak lagi menerima ajakanku bertemu di taman kota pada malam hari.

 

“Dody Manalu datang ke rumahku tempo hari. Dia datang membawa selingkar cincin di jarinya dan selingkar lagi di dalam kotak merah,” ungkap Malinda padaku, melalui seluler.

“Apakah kau akan menerima tunangannya?”

“Bapakku yang menyuruh. Dan, kau tahu sendiri bahwa aku tidak dapat menolak apa yang dikehendakinya,” pungkas Malinda, membuat air mata perlahan membanjiri hidupku.

 

Saban hari, aku duduk termangu di taman kota ketika hari menjelang malam. Itu kulakukan sebelum dan setelah gagal menjadi Wakil Bupati. Aku masuk ke politik demi menjatuhkan Ali Sugiri. Bagiku, ia pantas jatuh ke mulut Jahanam. Dia buta, dia tidak tahu siapa yang mencintai Malinda dengan tulus. Uang telah menutup mata hatinya. Ditambah pula dengan politik dan rayuan kekuasaan.

***

 

Malinda benar-benar cantik malam ini. Dan, aku juga sadar bahwa kecantikannya itu telah merebut waktu-waktu berhargaku. Dia melangkah pelan, menghampiriku yang duduk menantinya di bangku Taman Moora. Kupu-kupu beterbangan di atas kepala, semerbak harum mawar menyusup lorong hidung, dan angin malam membuat daun-daun menari-nari. Kupikir, malaikat sengaja diturunkan oleh Tuhan dari langit hanya untuk menciptakan sambutan yang begitu hangat ini. Amat menakjubkan sekali!

 

Perempuan itu sempurna duduk di sebelahku. Tapi, aku teringat bahwa dia bukanlah kekasihku, bukan pula istriku. Dody Manalu telah mempersunting Malinda setahun yang lalu sejak aku menghilang dari kehidupan perempuan cantik itu.

 

Persetan dengan masa lalu! Malinda tidak tahu bahwa aku adalah pengendali waktu. Dia tidak sadar kalau sedang berada di Taman Moora, dunia imajinasi dalam kepala Yetti A.K.A dan bukan di taman kota, tempat dahulu kami sering berjumpa. Dia juga tidak tahu bila kupu-kupu, sekuntum mawar, dan tulip itu ialah peri-peri kecil. Sebagian kecil dari mereka merupakan Cupid atau Eros. Malinda, tidak sadar kalau cahaya bulan kuserap, agar hanya dia seorang yang bersinar. Sungguh, Malinda itu tidak menyadari semua itu.

 

Namun, aku juga tidak tahu, apakah pertemuanku dengan Malinda di Taman Moora merupakan pertemuan kami yang terakhir? Dan, berdasarkan kekhawatiranku itu, dengan segera tanganku merangkul pundak Malinda. Dia sempat terkejut dan bertanya, apa yang akan kulakukan padanya. Kukatakan bahwa aku akan membawanya ke lubang waktu.

 

“Waktu akan senantiasa bergerak. Apa pun yang kita lakukan, cepat atau lambat bakal menjelma masa lalu. Aku ingin melupakan kegagalan menjadi Wakil Bupati, kesalahanku karena tidak memperjuangkanmu dari tangan Dody Manalu, serta tindakan semena-mena Ali Sugiri. Aku juga berharap, supaya kau melupakan masa lalumu. Sejibun memori dalam palung kepalamu. Di sini, kita akan selalu bertemu. Tak pernah ada masa lalu, tidak bakal ada pula masa depan. Hanyalah sekarang dan sampai kapanpun tetap sekarang!”

 

Setelah berkata begitu, Malinda tersenyum. Aku seperti menemukan cahaya bulan dalam sepasang matanya. Cahaya yang telah lama kuidam-idamkan. ***



 

/Madiun, 2019

 

Hendy Pratama, lahir 3 November 1995 di Madiun. Bergiat di komunitas sastra Langit Malam dan FPM IAIN Ponorogo. Heliofilia adalah buku kumpulan cerpennya yang akan terbit.

 

Photo by Rezha-fahlevi from Pexels

Ditulis oleh Sawaluddin Sembiring

Lelaki berdarah Karo-Aceh ini begitu tergila-gilanya akan laut, Kota tua, juga hujan. Bergiat di Forum Lingkar Pena Medan dan mendirikan BRAYANBENGKELFILMS untuk mengajak anak muda berkarya positif dengan kamera ponsel.