Karena Aku Gondrong Gondrong ilustrasi 2 - Terkait Tampilan penuh

Karena Aku Gondrong

Oleh: Niken Bayu Argaheni

 

Aku sulit menjelaskan bagaimana perempuan itu pertama kali menyatakan cintanya kepadaku. Aku tak terlalu menanggapi kata-kata yang sering ia lontarkan kepadaku. Aku anggap semua yang ia katakan biasa saja. Tak ada yang menarik dari kehidupan percintaan. Aku termasuk orang yang tak tertarik untuk bertemu, berkencan bahkan menjalin hubungan dengan perempuan.

 

“Karena kamu gondrong,” ucap perempuan itu berapi-api kepadaku.

 

Aku terdiam mendengar suaranya yang lirih. Suaranya begitu lembut terdengar di telingaku, sehingga aku nyaman berada di sampingnya. Tapi untuk menjalin hubungan dan cinta-cintaan, aku ogah-ogahan.

 

“Sungguh, aku mencintaimu,” ucap perempuan itu sekali lagi.

 

Berulang-ulang kalimat itu terngiang-ngiang di telingaku. Kata-kata yang ia ucapkan  tidak hanya secara langsung, melainkan juga dari ribuan pesan masuk yang dikirim dari perempuan itu. Aku sudah khatam membaca karya-karyanya yang ia kirim secara periodik kepadaku. Setiap minggu, petugas pos selalu datang dan mengantarkan paketan kepadaku. Beberapa petugas yang mengantarkan paketan dari perempuan itu, selalu penasaran dan bertanya. “Penggemar baru, mas?”

 

Aku lebih banyak tersenyum menanggapi pertanyaan dari petugas pos. “Kalau bapak mau, paketannya buat bapak saja.” jawabku jengkel.

 

Sungguh, dikirimi buku-buku dari orang yang sama dan menceritakan tentang diriku sendiri bukanlah sesuatu hal yang menyenangkan. Bayangkan hidupmu ditulis oleh seseorang lalu kau membaca sendiri hidupmu atau dirimu sendiri di halaman yang ditulis orang lain. Parahnya, semua tulisan yang dikirimkan kepadaku bertema cinta. Hanya cinta. Tak ada yang lain. Cinta, yang bagi Cu Pat Kai deritanya tiada akhir.

 

Aku tak pernah capek membaca. Energiku meluap-luap jika sudah dihadapkan pada buku dan tulisan. Pun aku tak capek membaca buku-buku yang ia kirimkan kepadaku. hanya saja, jika ia menceritakan diriku secara berlebihan, aku tak setuju. Aku kadang bertanya-tanya bagaimana Tuhan menciptakan tangan seorang perempuan yang rajin menulis dan menghasilkan karya yang begitu banyaknya tentangku. Aku selalu penasaran dengan menu apa yang ia makan tiap harinya, hingga ia bisa menulis dengan tekun seperti itu. lebih-lebih menulis tentang diriku.

 

Pada dasarnya aku tak capek membaca, tapi aku capek membaca diriku sendiri pada cerita-cerita di buku perempuan itu. Ia lebih banyak menceritakan mengenai diriku secara serampangan dalam cerita pendek, novel serta puisi, daripada menulis dalam bentuk esai atau opini. Ia memujaku dengan berlebihan, dan bagiku semua yang dia lakukan padaku sudah overdosis. Tiap kali ia berkunjung ke rumahku, aku menyambutnya dengan baik, tapi lebih sering aku menyarankannya untuk menghadiri sesi konseling dengan seorang psikolog. Aku menyarankannya untuk mengobati keadaan mentalnya karena kupikir ia mengalami kelainan dan hampir gila. Tapi ia menolak saranku, dan merasa sehat-sehat saja.

 

“Kau sehat?” tanyaku padanya.

“Ya. Aku sehat,” ujarnya kepadaku.

 

Aku selalu penasaran bagaimana ia memiliki energi yang berlebihan tiap ia bertemu denganku. Ia begitu ceria dan menggemaskan jika diajak diskusi. Ia dengan telaten selalu merapikan rak bukuku yang berisi bacaan yang acak-acakan. Tak lupa, ia akan memasakkan sesuatu, seperti menggorengkanku tahu tempe atau membuatkan sambal kecap. Menu makanan yang ia masakkan itu pun berganti tiap ia datang ke rumahku. Aku begitu penasaran, bagaimana ia bisa memiliki energi sebanyak itu? Sedangkan aku, untuk membuat segelas kopi saja rasanya malas. Bahkan, untuk mandi saja aku malas. Aku lebih suka membaca buku daripada mandi. merepotkan sekali, pikirku.

 

“Banyak-banyaklah mandi,” ucap perempuan itu tiap kali datang ke rumahku.

“Aku sudah mandi.” kataku.

“Kau bilang terakhir kali mandi itu kemarin pagi.”

 

Aku mencium kaos hitamku. “Baunya menyengat sekali,” gumamku.

 

Perempuan itu tertawa. ”Kalau boleh, aku bantu menyiapkan handuk dan sabunnya. Mau aku ambilkan?”

“Ada disana,” aku menunjuk.

 

Selama mandi, aku memikirkan bagaimana aku sendiri selalu menuruti permintaannya. Mandi adalah sebuah hal yang istimewa bagiku. Aku jarang mandi. Dan jujur, tak suka mandi. Tapi sejak ada perempuan itu, aku selalu mandi dengan bahagia. Entah perasaan apa ini, tapi menurutku permintaan perempuan itu logis juga. Aku perlu mandi teratur, pikirku. Seperti orang-orang yang selalu menyarankanku untuk mandi secara teratur. Agar bersih dan berbau wangi. Sehabis mandi, ia mengajakku makan siang. Sudah terhidang masakannya di meja, nasi hangat dengan sambal teri dan sayur bayam. Aku menuju meja makan.

 

“Kau masak secepat ini? tanyaku padanya.

“Kau yang mandinya kelamaan,” ujar perempuan itu.

“Kelamaan?” tanyaku lagi.

“Ya, buktinya aku sampai selesai masak, kau baru selesai mandi.”

 

Aku mengangguk-angguk dan tidak sadar berapa lama aku ada di kamar mandi. Rambutku yang masih basah masih kututup dengan handuk. Aku dan perempuan itu  makan dengan lahap, dengan lauk pauk yang ada di meja. Kami mengobrolkan banyak hal. Ia kawan yang ayik untuk diajak diskusi. Dan aku menikmati setiap detik percakapan kami. Memang, menurutku ia genit dalam hal berpendapat. Apakah ini cinta? Aku sendiri tak paham dengan keadaan ini. Aku jalani saja tiap perjumpaan dengan perempuan itu di rumahku.

 

“Sini, aku keringkan dulu rambutmu,” ujar perempuan itu.

 

Aku menuruti ajakannya. Ia membuka pelan handukku, mengambil sisir dan mencari-cari pengering rambut.

 

“Aku tak punya pengering rambut,” kataku cepat.

“Kita pakai kipas angin saja,” katanya kepadaku.

 

Ia dengan telaten menyisir rambutku, memisahkan rambut yang rontok dengan rambut yang sehat. Ia memijat lembut kepalaku, lalu menguncir rambutku dengan karet gelang.

 

“Sudah,” katanya pelan.

 

Aku mengangguk-angguk. “Kau sudah selesai merapikan buku-buku, memasak, dan mengeringkan rambutku. Kau mau pulang sekarang? Aku ingin membaca buku lagi.” ujarku padanya.

 

“Sepertinya rumput-rumput di halamanmu sudah meninggi. Perlu dibersihkan,” ujar perempuan itu padaku.

 

Aku memberikan cikrak dan sabit kepadanya. Ia lalu berjalan menuju halaman belakang rumahku. Ia pangkasi rumput yang meninggi, mengumpulkannya di cikrak bambu lalu membuangnya. Aku melihat perempuan itu dari bangku kayu panjang di belakang rumah. Tangan perempuan itu gesit mengangkuti rumput yang ia pangkas. Sesekali ia tersenyum padaku yang duduk dan mengamatinya. Mata kami saling bertatap. Apakah ini cinta? Aku tak yakin dengan perasaan ini dan mengabaikannya lagi.

 

Aku membiarkannya membersihkan halaman belakang rumah sendirian. Aku tak berniat membantunya dan cukup melihatnya saja dari kejauhan. Rupanya ide bagus juga jika halaman belakangku bersih. Jujur, aku jarang bersih-bersih. Rumah yang kutinggali ini adalah warisan orang tuaku, dan aku sebatang kara di rumah ini tanpa ada saudara karena aku adalah anak tunggal. Perempuan itu, yang datang entah darimana, selalu bersemangat membersihkan halaman rumahku. Aku saja yang mendiami rumah ini malas-malasan. Aku hanya suka membaca buku. Tak ada kegiatan lain yang lebih menarik. Titik.

 

Aku melihat sela-sela tangannya yang semula bersih menjadi kotor oleh tanah. Ia lalu membersihkannya di pancuran air belakang rumah. Ia membersihkan kakinya pula yang terkotori oleh tanah. Betisnya yang berwarna mirip pualam ia gosok dengan sabun agar tanah tidak menempel lagi. Aku menyukai caranya membersihkan diri. Apakah ini cinta? Aku tak yakin dengan perasaan ini dan mengabaikannya seperti yang sudah-sudah.

 

Kami mengobrol lagi di bawah rindang pohon anggur di belakang rumah. Ia membuatkanku secangkir kopi dan roti bakar. Kami memakannya lahap. Di sela-sela obrolan kami, keinginanku untuk membaca buku muncul lagi. Aku begitu ingin mengakhiri pembicaraan dengan perempuan itu, tapi rasanya ia masih nyaman berada disini. Sungguh aku ingin segera membaca daripada bercengkerama dengannya. Ia tak seperti kucingku yang penurut. Ia lebih banyak menjadi partner diskusi yang menyebalkan daripada menyenangkan jika mood nya telah berubah.

 

“Kau bahagia?” tanyaku padanya.

Ia tersenyum mengangguk.

 

Aku mengamati wajah perempuan itu. Ia terbilang masih muda, berparas manis dengan rambut ikal sebahu dan alis yang tebal. Matanya sipit tajam, dan bibirnya merah muda. Ia mirip karakter yang baru kubaca di sebuah buku. Tipikal perempuan pintar yang tak ingin dikalahkan oleh lelaki. Dan sepertinya begitulah hidupnya selalu berpetualang dari gunung ke gunung. Meski bagiku ia lebih cocok menjadi ibu rumah tangga. Ia lebih cocok mengandung lalu melahirkan anak-anak yang lucu. Bukan berpetualang menaklukkan gunung.

 

“Kau tak pulang?” ujarku mengingatkan.

“Sebentar lagi,” jawabnya singkat. Ia menyeruput sisa kopi di cangkirnya.

 

Setelah mencuci piring dan merapikannya di rak dapur, ia berpamitan padaku. Rumahku kembali sepi, lalu aku memutar lagu dan mengambil beberapa buku untuk kubaca. Baru sejenak membaca, pikiranku melayang jauh. Pikiranku kembali pada seraut wajahnya yang baru saja berpamitan. Wajah perempuan itu hilang muncul seperti adegan di sinetron. Apakah ini cinta? Aku tak yakin dengan perasaan ini tapi mulai memikirkannya.

 

Walau sejenak bertemu/hanya sekilas memandang/Cukup memberi kenangan indah dan kudus/

 

Lagu dari pemutar musik mengalun pelan dan menentramkan hati. Sudah lama sekali aku tak pernah merasa nyaman ketika mengobrol dengan perempuan. Dan ia adalah perempuan yang akhir-akhir ini kehadirannya mengusik hidupku. Ritme hidupku yang seenaknya saja kini berubah menjadi lebih teratur dengan kehadirannya. Aku mulai rutin memotong kuku dan mandi. Meski aku tak suka dengan kegiatan ini, tapi perempuan itu benar-benar merubah hidupku.

 

Ah, umurku terlalu tua untuk jatuh cinta. Maka dari itu, aku tak memercayainya. Aku tak percaya ada rasa tak biasa ketika ada perempuan itu. Ia datang tiba-tiba, mengusikku. Apalagi yang bisa ia lakukan padaku? Mungkin sebentar lagi aku akan patah hati. Bisa saja ia lari dengan laki-laki lain, atau bisa saja berakhir dengan drama karena orang tuanya tak menyetujui cinta kita berdua. Ah, apakah aku jatuh cinta? Aku menepuk pipi berkali-kali. Ini sungguh tidak adil kalau cinta datang di usiaku yang sebentar lagi menuju senja.

 

Aku tak bosan menanyainya, mengapa ia mencintaiku. Tapi jawabannya sama, karena aku gondrong. Aku pun terkekeh mendengarkan jawabannya. Kurasa, hanya dia yang percaya bahwa rambutku yang gondrong ini berbanding lurus dengan kebaikan.  Sering aku membaca berita misalkan saja: Polisi Bekuk Gondrong Cs, Komplotan Pemuda Pencuri Motor di Masjid,* atau Berulang Kali Curi Sepatu, Pemuda Gondrong Diamankan Polisi.** Rambut gondrong di berita selalu tersaji dengan penafsiran yang buruk.

 

Sungguh, ini adalah hal yang tak logis karena dia percaya sepenuhnya kepadaku. Ia tak takut diculik atau dianiaya olehku. Tapi bukankah cinta itu tak logis? Seperti yang kubaca di buku-buku.      Aku terkekeh dengan pikiran-pikiran nakal ini. Kurasa, esok aku akan menanyai dimana alamat rumahnya. Aku ingin berkunjung ke rumahnya lalu bertemu dengan ayahnya. Kalau nanti ayahnya menyuruhku untuk potong rambut, mungkin aku perlu berpikir lagi untuk mencintainya. Apakah aku akan potong rambut, atau memilih menjomblo selamanya.



 

Aku enggan untuk pulang/Walau waktu tlah menjelang/Kuingin hidup seribu tahun lagi/***

—–

*2015

**2017

***Anna Manthovani-Pertemuan

 

Niken Bayu Argaheni, menyelesaikan pendidikan sarjana di Universitas Sebelas Maret dan pascasarjana dari Universitas Padjadjaran Bandung. Dapat dihubungi di email: kinantiniken@gmail.com. Buku Kumpulan Puisinya berjudul: 1990 diterbitkan oleh Kekata Publisher pada tahun 2016. Memenangkan Lomba Cipta Puisi Tingkat Nasional 2014 Bertema “Bebaskan Palestina” dan Lomba Menulis Puisi Ramadan Majelis Sastra Bandung 2016.

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

[wpw_follow_author_me author_id = "5"]