Menantikan Hujan untuk Membasuh Lukaku
Puisi-puisi karya Maulana Satrya Sinaga dan Vito Prasetyo
Maulana Satrya Sinaga
Menantikan Hujan untuk Membasuh Lukaku
(1)
Segala kehilangan berupa dari saling diamnya kita
Kau tidak berkabar, aku diam menantikan
Yang ada hanyalah harum hujan yang membawa daun jatuh
Bukan membawa dirimu atau nafasku
(2)
Aku mencoba masuk dalam ingatan
Apa suatu kesalahan hingga tiap malam
Aku menua bersama sepi dan gelap kamar tidur
Juga foto kita dibingkai di dinding itu
- Dinding itu suram. Sesuram hpku yang tiada bergetar sama sekali
(3)
Di luar basah, air mataku mengendap di tempat tidur
Aku sama sekali kembali pada awal mula hujan
Pada setiap desiran dada. Aku menunggumu
Aku merindukanmu
(4)
Yang hilang tetaplah hilang
Yang pergi tetaplah pergi
Kapal-kapal dari pelabuhan telah berangkat
Begitu juga hati yang sekarat
(5)
Tentangmu aku tak tau apapun
Kecuali hujan yang aku biarkan masuk ke dalam bola mata
Ia bertamu dengan santun sekali
Medan, 2018
Lagu Sepi yang Aku Sukai
Jika di kamar tidur ini bisa aku banjiri dengan air mata. Tentu aku akan menangis lalu membuat perahu untuk kita berdua agar kau merasakan bagaimana basahnya mata perempuan saat ia tulus mencintai.
Bila pohon dapat tumbuh dalam mataku, akan aku bawa kau pada pucuknya agar kau tau bagaimana tinggi dan rimbunnya perasaan perempuan ketika ia begitu merindukan.
Bila kau punya luka dan aku ziarahi dengan jeruk nipis aku ingin kau merasakan perihnya hati perempuan bila ia tersakiti.
Aku memutar lagu yang baru aku dengar. Nadanya santai sekali, menutup mataku lantas beribu bunga-bunga dan kupu-kupu bermain bersama. Aku ada di atas ilalang. Angin menghempaskan tubuh. Aku jauh dan jatuh.
Cuaca
Sebelum segalanya tertutup
Termasuk buku catatan romansa kita. Bagaimana kalau kita pangkas dahulu segala egois di dada.
Barangkali suatu hidup baru butuh kelapangan untuk membuat rumah
Karena di dalamnya kelak kau akan bertemu dan menyapa seseorang
Pada pagi dan lanjut ke malam
Sebelum segalanya kau tulis ulang
Berjanjilah setelah ini untuk tak lagi berkabar
Karena suatu hati yang pernah ada kedekatan
Akan mudah kembali terkait seperti temali kapal
Lalu kau dan aku berlayar pada masing-masing samudera yang berbeda
Pada cerita yang tak lagi sama
Medan – 2018
Maulana Satrya Sinaga Lahir di Medan 04 Januari 1989. Makin menyukai sastra sejak berkuliah di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara Jurusan FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia. Karya-karyanya banyak dimuat di media massa. Karya-karyanya juga termaktub dalam antologi bersama antara lain: Artefak Cerita Pendek Indonesia (Labsas, 2010), Kampung Horas (leutika, 2011), Antologi Pertemuan Penyair Nusantara IV (Akulah Musi, 2011), Temu Sastrawan Indonesia (Tuah tara no ate, 2011), Narasi Tembuni (KSI, 2012), Antologi Sinar Siddiq (Malaysia, 2012), Antologi Sastrawan Sumatera Utara (Julang, 2012), Bulan Terapung dalam secangkir Kopi (UMSU, 2013), Antologi Cerpen Sastrawan Sumatera Utara ( Ironi-ironi Kehidupan, 2014 ) dan buku puisinya Perempuan Tanjung (Javakarsa Media yogyakarta, 2012). Diundang dalam Pertemuan Penyair Nusantara di Palembang (2011) dan Temu Sastrawan Indonesia di Ternate (2011). Instagram: Maulana Satrya Sinaga
Vito Prasetyo
Seperti Catatanmu
Yang kita tulis sekarang
adalah hidup yang belum terungkap
ketika perjalanan malam tetap saja membias
lalu kita tuangkan dalam tempayan waktu
hingga Sigmund Freud menulis tentang kesadaran kita
dan sajak kita pun seperti larinya filsafat
tanpa teori melebihi catatan sakral
(2018)
Lazuardi
Aku ingin puisiku tutup mulut
ikut berpuasa
tanpa makan dan tanpa minum
tetapi (ia) selalu mengeluh
: aku lapar
: aku dahaga
Aku mulai mengiris makna zaman
menguliti kulit bumi
agar tubuhnya tampak indah mempesona
dan bercerita tentang kesucian kata
hingga saat penaku menulis
bukanlah sesuatu yang mengenyangkan pikiran manusia
Aku mencoba membuka tabir lazuardi
mungkin di atas sana ada sajadah cinta terbentang
untuk kita baringkan segala penat
tanpa meneriakkan lapar dan dahaga
lalu puisi berkata tentang doa
walaupun tidak semua doa itu adalah sajak
tetapi hanya segumpal makna agar Ilahi terasa dekat
Jika esok tak lagi kutulis sajak
adalah diam dan bisu
telah mengatup dahaga dan lapar
mungkin pergi menyesatkan mata hatiku
(2018)
Lukisan Kanvas Malam Hari
— aku bukan Rabindranath Tagore —
Entah bagaimana awalnya, entah bagaimana mulanya,
kita telah bergumul dalam pikiran yang tidak mungkin menyatu
engkau berjalan di atas rerumputan, aku berjalan di atas kerikil
engkau memayungi hujan, aku meruncing cahaya
Kita mencoba menyatukan sebuah bait
dalam pertemuan bejana malam
bercerita tentang rindu, yang sesungghnya kita tak pernah tahu maknanya
Lalu engkau tiriskan mimpiku, dalam tempayan waktu
hingga angin menabrak pikiranku
kau saput bunga-bunga malam dalam kanvas
melukis wajah R. Tagore yang tak pernah kulihat
Betapa engkau terkesima lewat sajak-sajak R. Tagore
seakan hatimu ikut terbenam dalam bait-baitnya
kini, malam semakin membuatmu larut dalam sajak-sajak cinta
mungkin engkau berharap nyanyian malam bisa kau tuangkan kedalam kanvasmu
lewat bisikan angin atau bayangan diri seorang R. Tagore
hingga akhirnya aku juga larut dalam sebuah nama pada tumpukan buku-buku usang
bahwa R. Tagore itu adalah Rabindranath Tagore, entah apa maknanya
hanya kuingat seorang William Shakespeare pernah mengatakan,
“apalah arti sebuah nama”
Aku mulai membaca pada meja jamuan sajak
saat engkau mulai menuangkan lirik 30 kedalam kanvasmu
disitu, engkau melayang bagai awan senja pada langit-langit mimpi
lalu menutup meja jamuan sajak yang telah menistakan dusta
lidahku pun tak mampu lagi mengucapkan lisan suci
jasadku berkubang lumpur, hambar – pahit – tanpa rasa
kuasmu telah kutuangkan kedalam gelas-gelas suci
yang menunggu bait-bait kekal
Lukisanmu itu tak pernah terlukis, menggantung di langit malam
Malang – 2019
Vito Prasetyo, dilahirkan di Makassar, 24 Februari 1964. Bertempat tinggal di Malang, pernah kuliah di IKIP Makassar. Bergiat di penulisan sastra sejak 1983, dan peminat Budaya. Karya-karya Sastra telah dimuat media cetak lokal dan nasional. Buku Antologi Puisi: Jejak Kenangan (Rose Book, 2015), Tinta Langit (Rose Book, 2015), 2 September (Rose Book, 2015), Keindahan Alam (FAM Publishing, 2017), Ibu FAM (Publishing, 2017), dan kini mempersiapkan kumpulan sajak “Kaca-Kaca Langit”. E-mail: [email protected]