Topbar widget area empty.
Pembelajaran Sastra di Era Digital Pembelajaran Sastra Digital Tampilan penuh

Pembelajaran Sastra di Era Digital

Opini Gunoto Saparie

 

 

 

Revolusi Industri 4.0 ditandai dengan kemunculan komputer super dan kecerdasan buatan atau intelegensi artifisial. Penggunaan daya komputasi dan data yang tidak terbatas akibat perkembangan internet dan teknologi digital yang masif merupakan tulang punggung pergerakan dan konektivitas manusia. Oleh karena itu, mesin mengakibatkan segala hal menjadi tanpa batas. Era ini juga akan mendisrupsi berbagai aktivitas manusia, termasuk di dalamnya bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, tanpa kecuali bidang pendidikan.

 

Proses pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di sekolah bukan tidak mungkin akan terjadi juga disrupsi. Hal ini karena terbukanya arus informasi dan komunikasi dewasa ini, di mana pengembangan pola pembelajaran campuran (blended learning) merupakan suatu alternatif yang bisa dipilih dalam rangka memanfaatkan perkembangan teknologi dan informasi.

 

Dalam kaitan ini, guna memperoleh pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia dengan menggunakan pembelajaran campuran, seorang guru perlu memiliki pengetahuan teknologi: pengetahuan tentang bagaimana menggunakan hardware dan software dan menghubungkan antara keduanya. Guru dituntut memiliki kompetensi tentang isi materi pelajaran. Di samping itu, guru harus juga memiliki kompetensi tentang pengetahuan pedagogical: pengetahuan tentang karakteristik siswa, teoribelajar, model atau metode pembelajaran, serta penilaian proses dan hasil belajar.

 

Ketidakpuasan terhadap pembelajaran sastra di sekolah masih sering terdengar. Sampai hari ini ujian akhir sekolah, yang menjadi penjamin kelulusan siswa setelah belajar 6 atau 3 tahun di suatu jenjang pendidikan dianggap belum mampu mengakomodasi apresiasi sastra secara menyeluruh. Soal-soal yang terdapat dalam ujian bidang studi Bahasa Indonesia kurang merata pada bagian sastra. Artinya, sedikit sekali ditemukan soal yang berunsur sastra.

 

Pengajaran sastra juga dinilai gagal, karena sejumlah penelitian menunjukkan rendahnya sikap apresiatif dan minat kepada sastra di kalangan siswa rendah. Belum lagi kalau dilihat dari aspek motorik (minat baca dan menulis karya sastra).  Indikator masih rendahnya rata-rata tingkat apresiasi dan minat baca lulusan dasar dan menengah terhadap karya sastra telah menjadi masalah klasik.

 

Memang banyak sekali permasalahan yang muncul mengenai pengajaran sastra. Keluhan mengenai kurangnya guru yang menguasai tentang ilmu sastra sering kita dengar. Demikian juga keluhan tentang pembuatan silabus pada sekolah tertentu yang kurang menyeimbangkan antara pengajaran bahasa dan sastra. Hampir semua sekolah terfokuskan pada pengajaran bahasa, sedangkan pada sastra sangatlah terbatas

 

Sampai saat ini pengajaran sastra hanya ditempatkan sebagai salah satu aspek pengajaran bahasa; aspek-aspek lainnya adalah keterampilan membaca, menulis, mendengarkan, berbicara, dan tata bahasa. Padahal persoalan ini sudah sering disinggung H.B. Jassin sejak 1970-an. Akan tetapi, sampai saat ini agaknya belum bisa diatasi secara tuntas oleh pihak-pihak terkait.

 

Di era digital seperti sekarang teknologi komunikasi dan informasi terus mengalami perkembangan. Oleh karena itu, perkembangan teknologi juga harus dimanfaatkan untuk kepentingan pendidikan, termasuk pengajaran sastra. Pengajaran sastra pun harus meninggalkan pola dan sistem lama, agar tidak semakin tertinggal. Oleh karena itu, perlu ada perombakan atau reformasi di dalam tubuh pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

 

Ini berarti, pengajaran sastra Indonesia di era Industri 4.0 perlu ikut mendisrupsi diri jika ingin memperkuat eksistensinya. Mendisrupsi diri berarti menyesuaikan diri dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat serta berorientasi pada masa depan.

 

Pendidikan di era industri 4.0 ini memiliki ciri pemanfaatan teknologi digital dalam proses pembelajaran atau dikenal dengan sistem siber. Sistem tersebut dapat membuat proses pembelajaran dapat berlangsung secara kontinyu tanpa batas ruang dan batas waktu. Dalam kaitan ini, penggunaan e-learning dalam pembelajaran bahasa bisa kita lakukan.

 

Dalam pembelajaran bahasa Indonesia e-learning dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran keterampilan mendengar, berbicara, membaca, menulis, tata bahasa, dan pembelajaran sastra. Pembelajaran bahasa dapat ditunjang dengan media pembelajaran. Media yang digunakan adalah telepon genggam, komputer, laptop, dan koneksi internet yang bagus. Jenis media lainnya yang efektif dipakai dalam pembelajaran di era modern yaitu media audio visual gerak (film bersuara, film pada televisi, televise, dan animasi); media audio visual diam (slide, halaman cetak, dan foto); audio semi gerak (tulisan bergerak dan bersuara); media audio (radio, telepon, pita audio); media cetak (buku, modul); lingkungan sebagai media pembelajaran.

 

Semua media tersebut memperjelas penyajian materi agar tidak terlalu bersifat verbalistis (dalam bentuk kata-kata tulis atau lisan).  Penggunaan media berbasis teknologi akan mempermudahkan siswa dan guru dalam proses belajar-mengajar. Teknologi dalam pembelajaran pun dapat mengembangkan potensi para siswa. Akan tetapi, hal ini baru bisa dilakukan kalau para guru memiliki kompetensi pedagogik, kepribadian, jiwa sosial, dan profesional dalam bidang bahasa.

 

 

Gunoto Saparie. Lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan Akademi Uang dan Bank Yogyakarta dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981), Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996), Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), dan Mendung, Kabut, dan Lain-lain (Cerah Budaya, Jakarta, 2019). Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004).  Aktif sebagai wartawan setelah sebelumnya bekerja di bidang pendidikan, konstruksi, dan perbankan. Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah ini tinggal di Jalan Taman Karonsih  Semarang. Posel gunotosaparie@ymail.com.

 

Photo by Kaboompics .com from Pexels
Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*
%d blogger menyukai ini: