Topbar widget area empty.
Rahasia Tukang Cukur Rahasia Tukang Cukur Tampilan penuh

Rahasia Tukang Cukur

Cerpen Winda Efanur FS

 

 

Minggu pertama

 

Di bawah pohon Beringin Tua Alun-alun kota ada empat tukang cukur rambut manual. Mereka biasa mangkal setiap hari pukul 09.00-16.00 kecuali hari hari Jumat. Mereka mangkal bersama pedagang kaki lima sekitaran alun-alun. Ada penjual soto ayam, dengan gerobak dorong. Lainnya penjual warung makan kecil yang mempunyai ruko permanen beratap seng, lengkap dengan meja dan kursi.

 

Siang itu, alun-alun sepi hanya ada tukang cukur nomor satu yang datang. pedagang lain pun tidak berjualan. Tukang cukur itu merapikan peralatannya. Kursi tempat pelanggan bercukur, gunting, cermin pelumas rambut dan lainnya. Dari arah belakang terdengar derap langkah kaki mendekatinya. Lelaki usia 30-an berpakaian compang-camping, rambut gondrong tidak teratur dan berkumis tipis. Tukang cukur itu menyambutnya, melayani dengan baik. Dia memakaikan rompi menghindari sampah rambut yang sudah terpotong.

 

“Mau dipotong gaya orang biasa, artis, atau pejabat, pak?”

“Gaya petani saja, pak.”

 

Dia berpikir sejenak, tangannya cekatan memotong rambut.

 

“Gaya petani, yang seperti apa pak?”

“Yang tidak neko-neko, nerimo, nanti rambutnya cepak, tidak berponi kayak laki-laki Korea, tidak Mohawk, dan tidak dicat macam-macam. Kalau bisa catnya hitam saja.” Jelas Lelaki itu.

“Siap.”

 

Selama proses mencukur itu, keduanya saling bertukar cerita satu sama lain. Lelaki muda itu menceritakan, dirinya seorang perantau dari luar Jawa. Dirinya tinggal di Jawa bersama pamannya, lelaki usia 60-an yang menghuni rumah di ujung jalan perkampungan bersama istrinya. Setiap hari dia, menjadi kuli angkat di pasar dekat alun-alun. Paman dan istrinya menjadi pedagang sayuran besar. Mereka mempunyai mobil pick up sederhana, biasa digunakan mengangkut sayuran dari luar kota lalu memasarkannya ke penjual-penjual sayur di pasar-pasar lokal wilayah kota. Kedua suami istri itu mempunyai banyak karyawan, ruko-ruko di setiap pasar. Satu ruko besar berlokasi di pasar utama dekat alun-alun. Setiap Subuh, Lelaki itu diajak pamannya mengangkut sayuran di daerah pedesaan, membeli sayuran langsung dari petani.

 

Seringkali pamannya, menyuruhnya pulang ke rumah sendirian. Jarak kota dengan desa yang jauh, pamannya beralasan kelelahan menempuh jarak 60 kilometer untuk setiap hari pengambilan sayuran. Pamannya biasa menginap di rumah, salah seorang pelanggannya petani desa. Hingga suatu hari, saat musim hujan tiba desa itu mengalami longsor. Si istri kuatir, dia menyuruh lelaki muda itu menyusul pamannya. Lelaki muda itu sampai di rumah petani pelanggannya pada Siang hari. Rumah itu sepi. Dia ragu, pamannya berada di situ. Dari rumah itu terdengar suara aneh. Dia berpikir ada pencuri masuk ke rumah itu. Dia mengendap-ngendapmengelilingi rumah, pintu belakang rumah itu terbuka. Dia menyaksikan hal yang seharusnya tak dilihatnya. Pamannya tengah bercumbu dengan seorang perempuan lain. Tubuhnya gemetar, lelaki muda itu berpaling segera pergi meninggalkan tempat itu tanpa sepengetahuan pamannya.

***

 

Minggu Kedua

 

Pukul 15.00 gerimis mulai turun, Januari bukan awal musim penghujan tapi intensitas hujan tinggi. Tukang cukur pertama sudah mengemasi peralatan cukurnya, begitupun tukang tukang cukur dua dan empat. Mereka bertiga berkemas lalu pulang, tersisa tukang cukur ketiga dia masih tinggal. Tukang cukur ketiga sedang makan di warung makan dekat tempat mangkalnya. Saat dia makan, datang seorang bapak tua. Rambutnya dipenuhi uban, kulit tangannya mulai keriput. Tapi masih terlihat gagah dan muda. Bapak tua itu memesan nasi ayam satu porsi, lalu duduk di meja Tukang Cukur ketiga.

 

“Kayaknya bakal hujan deras.” Kedua mata bapak tua itu melihat jauh ke langit yang semakin gelap. Raut wajahnya cemas.

“Iya, mau pergi?” Tanya Tukang Cukur ketiga.

“Harusnya, aku ada janji.”

 

Bapak Tua itu melahap nasinya tanpa selera. Tatapannya kosong melihat derai hujan yang jatuh membasahi bumi. Tukang Cukur ketiga, mengajaknya berbicara. Dia mengawali pembicaraan dari curah hujan yang tinggi, beberapa daerah mengalami banjir skala kecil dan longsor. Bapak Tua itu menimpali, bencana longsor yang terjadi di daerah pedesaan tempatnya membeli sayuran. Bapak Tua semakin antusias bercerita, dia menceritakan utuh kisah hidupnya, hingga berujung pada masalah rumah tangganya.

 

“Sekarang bapak tinggal serumah dengan istri?”

“Aku masih tinggal serumah dengan istri, tapi tidak tidur malam di rumah.”

“Maksudnya?”

“Pekerjaan, mengharuskan aku pulang ke rumah, mengurus sayuran distribusi memasok ke pasar-pasar lokal di kota. Tapi menjelang Sore, aku sudah ke luar kota, menuju desa-desa mengambil sayuran mereka.”

“Setiap Sore, yah? Emm, kenapa tidak bermalam di rumah pak?”

“Ada keponakanku.”

“Masalahnya?”

“Keponakanku membawa mobil pick up pertama pulang ke rumah beserta sayuran setelah Isya.”

 

Tukang Cukur ketiga, mengeryitkan dahi. Sesendok suapan nasi di depannya menggantung.

 

Bapak Tua itu membanting sendoknya yang dipegang ke piring soto.

 

“Huuh”!

 

Tangan kanan Bapak Tua itu mengepal, sikapnya semakin gusar.

 

“Ada apa, pak?”

“Aku, aku tidak bisa memaafkan mereka berdua. Mereka bermain serong di belakangku. Istri durhaka! Keponakan tidak tahu diri!

“Labrak, ceraikan saja istri macam itu! Kalau ponakan bapak, selesaikan dengan cara laki-laki!”

 

Darah Tukang Cukur Ketiga ikut mendidih mendengar cerita Bapak Tua. Kedua tangannya meremas kerupuk di atas meja.

 

Bapak Tua terdiam. Hati kecilnya, menolak menceraikan istri, lantaran dirinya pun mempunyai rahasia besar di desa. Ditambah, kalau bercerai dengan istri, segala kemapanan dan fasilitas kekayaan yang dimiliki akan sirna.

***

 

Bapak Tua akhirnya bermalam di rumah. Sesuai dugaannya, posisinya digantikan oleh keponakannya. Di kamar, itu pertengkaran hebat terjadi. Sesuai saran Tukang Cukur Ketiga, Bapak Tua memukul habis keponakannya. Pemuda tanggung itu terkapar tidak berdaya, bersimbah darah jatuh ke lantai.

 

“Hentikan! Dasar jongos! Plak!”

 

Istrinya menampar Bapak Tua itu.

 

“Jongos tidak tahu diri! Kamu lupa siapa yang menjadikan kamu saat ini kalau bukan aku yang memungutmu saat jadi gelandangan pasar.”

 

Dibilang jongos, amarah Bapak Tua itu meluap.

 

“Plak!”

 

Bapak Tua itu, menampar istrinya keras hingga pingsan jatuh ke lantai.

 

“Dasar perempuan jala**, lebih baik aku jongos, daripada perempuan murah yang tidur dengan semua lelaki!”

 

Bapak Tua itu menyesal tidak bisa mengontrol emosinya. Istri dan keponakannya tak sadarkan diri. Dia bergegas menyalakan mobil pick up, pergi menuju desa tempatnya biasa singgah. Hari yang gelap, petir menyambar, jarak pandang yang terbatas. Mobil itu tergelincir ke jurang.

***

 

Keesokan Harinya

 

Semalam suntuk hujan turun sangat deras. Menjelang Fajar hujan telah berhenti, selepas hujan warna langit pagi itu sangat cerah. Keempat tukang cukur berangkat lebih awal ke alun-alun. Kebetulan hari itu, hari Minggu. Nuansa alun-alun ramai oleh pengunjung yang menghabiskan waktu akhir pekannya. Pagi itu mereka dihebohkan dengan berita Koran, “Skandal dan Akhir Tragis Juragan Sayuran”. Tukang Cukur Ke Satu melemparkan koran ke dua orang kawannya, yang sedang duduk lesehan di warung soto.

 

Mata Tukang Cukur Satu dan Tukang Cukur Ketiga melotot, melihat gambar berita yang menjadi headline koran itu.

 

Cilacap, 2 Mei 2019

 

Winda Efanur FS, penulis buku kumpulan puisi Denting yang Tak Berbunyi (2016), kumpulan cerpen Cogito Love Sum (2018). Aktif mengelola Komunitas BuAI, Komunitas Rumah Penyu Cilacap.

 

Photo by Nick Demou from Pexels
Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*
%d blogger menyukai ini: