Topbar widget area empty.
Sumi Telah Lahir Kembali cover sumi2 Tampilan penuh

Sumi Telah Lahir Kembali

Resensi A. Muhaimin D.S

 

Judul Buku      : SUMI

Penulis             : Jazuli Imam

Penerbit           : Djelajah Pustaka

Terbit               : Cetakan 1 Januari 2020, Cetakan 2 Maret 2020

Tebal               : xi+257 halaman, 140 mm x 210 mm

 

Sebuah kisah seorang pejalan yang akhirnya menemukan apa yang ia cari selama ini, yaitu; penerimaan. Tak lain dan tak bukan itu semua ada di dalam dirinya sendiri. Begitulah kiranya, kurang lebih inti dari sebuah kutipan dari bab terakhir dalam novel Sumi yang berbunyi, ”Sumi telah menunaikan perjalanannya dan mencapai titik itu. titik tanpa papan penanda, tanpa tugu peresmian atau triangulasi di ketinggian. Perjalanan, memberitahukan kepadanya bahwa yang selama ini ia cari ada di dalam dirinya sendiri; penerimaan.” (hal. 249).

 

Seperti biasanya Jazuli Imam atau yang akrab disapa Juju menghadirkan sosok Sumi dengan penuturan khasnya. Khas dimana aktivitas pejalan dan kepencintaan alamnya tampak melekat dalam setiap karya-karyanya. Seperti novel Sepasang Melawan yang pernah ia tulis sebelumnya, tokoh yang hidup di dalamnya pun memiliki idealisme hidup yang kuat, sehingga setiap jengkal perjalanannya pun akan dapat dirasakan maknanya yang begitu dalam. Dalam hal ini Juju menampilkan sosok Sumi yang menggambarkan pemaknaan-pemaknaan apa yang ia alami lewat puisi-puisi yang ia tuliskan di buku harian.

 

Perjalanan panjang Sumi dimulai dari sebuah keberaniannya untuk keluar dari akumulasi ketidaksetujuannya pada kehidupan yang ia jalani selama ini. Kehidupan yang justru direnggut oleh keluarganya sendiri, terutama bapaknya. Hal itu menjadi titik awal di mana Sumi akan melakukan sebuah perjalanan untuk menjadi dirinya sendiri. “Sumi naik dan berdiri di atas meja frontline, dengan pylox hitam, ia berikan tanda silang tebal pada logo besar berjargon “Certainty & Security For Your Life” yang dicetak timbul di dinding palet. Sumi tulis di sana; Life is adventure, or nothing.” (hal.3). Dari situ tampak sosok Sumi mulai dikenalkan oleh penuturan seorang Juju, dengan keberaniannya untuk memulai melawan dan melakukan petualangannya sendiri.

 

Ujung Timur sebuah wilayah yang menjadi tujuan seorang Sumi untuk mencari dirinya sendiri. Hingga sampailah ia dengan pertemuan demi pertemuan. Salah satunya adalah pertemuannya dengan Bapak Stefan seorang asli Marlo. Sebuah pertemuan yang akhirnya ia relakan pula demi keberlanjutan sebuah perjalanannya. Tak lain dan tak bukan juga karena Bapak Stefan lah yang membuatnya melangkah lebih jauh pada sebuah nama daerah yang sempat terlintas di benaknya. Itulah Bigel yang pernah terpikirkan kala menulis di buku hariannya. “Telah lahir; Sumi, tulisnya dalam buku harian pada suatu malam, seolah ia belum pernah hidup sebelumnya. Sebuah kabupaten bernama Bigel, 500 kilo meter dari Marlo, melintas di kepalanya ketika ia menuliskan kata-kata itu.” (hal.4).

 

Sesuatu tentang dirinya yang ia sembunyikan dari Bapak Stefan akhirnya diketahui pula oleh Bapak Stefan. ““ah, kamu stop tipu saya, anak !!!kata Bapak Stefan yang kecewa dengan jawaban Sumi, “Mana mungkin seorang pemuda gila seperti koe ini, yang meninggalkan gelar, keluarga, pekerjaan dan segala lain….”” (hal. 39). Terbukanya sebuah rahasia besar tentang rahasinya tersebut membawanya pada keputusan bulat untuk melanjutkan langkah kaki menuju Bigel sebuah kabupaten di Ujung Timur.

 

Ia pun memulai perjalanannya dengan segala keterbatasannya, usai memberikan beberapa buku untuk seorang anak kecil bernama Klas, ia kehilangan dompetnya. Meskipun begitu, ia tetap akan melanjutkan perjalanannya ke Bigel. Ketiadaan atau keterbatasan yang ia alami itu sekaligus meyakinkannya bahwa sesuatu yang baru akan menghampirinya. Ungkapan keyakinan itu jelas disampaikannya untuk meyakinkan dirinya untuk berjalan dengan sesuatu hal yang berbeda dari sebelumnya. “Ketiadaan menciptakan ruang, riang, kosong. Segala hal akan datang untuk mengisi yang kosong, pikirnya, mengharapkan mendapatkan hal yang berbeda dari perjalanannya kali ini.” (hal. 50).

 

Sumi pun berjalan menuju Bigel tujuannya benar-benar dengan berjalan, sesekali acungan jempol yang ditujukan untuk kendaran yang sangat jarang melintas pun tak berbuah hasil. Kalau pun dapat tumpangan itu juga tak tak cukup membawanya jauh menuju Bigel. Namun, pertemuannya dengan Pak Saldi seorang kepala desa yang memiliki putra bernama Andi yang juga kabur dari rumah ternyata menjadi bagian dari penemuan atas pencariannya itu.

 

Sempat menolak untuk tinggal di rumah Pak Saldi dan memilih berhenti, lalu menepi dan bermalam di hutan ternyata mempertemukannya pada sebuah peristiwa. Sumi mendapatkan ancaman besar berupa tuduhan sebagai pemberontak oleh aparat keamanan. Pukulan gagang senapan pun melayang, menerpa wajah Sumi berkali, dan semua itu berhenti, ketika Pak Gun kepala tentara mengetahui bahwa pemuda yang dicurigainya itu dikenal dan dibawa pulang oleh Pak Saldi, kepala desa Marta. “Saya rasa kita sama-sama tahu prinsip itu. Lebih baik melepas seribu penjahat daripada menghukum satu orang yang tidak bersalah, kata Pak Saldi sebelum ambulan itu berjalan meninggalkan Pak Gun dan Pos seisinya.” (hal. 77).

 

Di rumah Pak Saldi lah Sumi dipertemukan pada seorang relawan sarjana yang bertugas sebagai perawat bernama Dawiyah. Dialah yang kemudian menghidupkan Sumi kembali, menjadi pribadi yang lama kehilangan kendali atas dirinya. Seolah ia menemukan sosok yang menjadi puisi dalam hidupnya yang mampu mengetahui apa yang tersembunyi di dalam dirinya yang ia cipta penuh misteri itu. Memilih berjalan ke timur untuk menemukan apa yang ia cari dan melepaskan segala yang melekat pada dirinya yang sebelumnya.

 

Seorang Juju juga menghadirkan sosok Sumi laiknya manusia biasa yang punya banyak kekurangan dan kelamahan. Salah satunya adalah ketergantungannya pada sebuah obat yang ia dapatkan dari seorang psikiater. Dawiyah yang juga seorang perawat dan pernah mengalami pengalaman menghadapi kasus serupa yang dialami ibunya, melihat itu pada diri Sumi. Dawiyah tahu Sumi membutuhkannya, seolah pemuda yang dicintainya itu menyimpan satu hal lain yang tak semua orang dapat melihatnya. “Dalam riangnya menemani Sumi, Dawiyah melihat tatap mata Sumi, gerak-geriknya, puisi-puisi pemuda itu memberikan bunyi ketidakseimbangan dalam diri Sumi.” (hal. 101).

 

Satu ketidaksempurnaan sosok Sumi ditampilkan lagi oleh penuturan Juju ketika Sumi dan Dawiyah melepas rindu di Sungai Biru. Dawiyah yang ditugaskan di Sungai Biru itu berhasil disusul oleh Sumi. Sama-sama merasakan kerinduan yang mendalam, mereka berdua akhirnya melakukan suatu hal yang dianggap tak pantas dilakukan ditempat umum. ““Kalau laki-laki, cinta dan sudah tidak tahan, menikah!” kata Bapak Yakob usai mengikat perahunya di pinggir sungai, lalu pergi dengan wajah besengut meninggalkan Sumi sesampai mereka kembali ke Marta.” (hal. 123). Dari situlah perjalanan Sumi selanjutnya bermula, sebab apa yang dilakukan saat melepas rindu bersama Dawiyah itu memberi kesempatan orang-orang yang tidak menyukai hubungan mereka.

 

Terpisah dari Dawiyah yang entah ditugaskan di mana, Sumi kembali menatap tujuan awalnya berperjalanan sejauh ini. Bigel kembali melintas di kepalanya, terlebih ketika nama Dawiyah dianggap berada di sana. Perjalanannya pun dimulai.

 

Berlari menghindar dari pos perbatasan, kabur dari hewan-hewan penghuni hutan, ia mampu keluar dari hutan Yaba dan bertemu dengan sekelompok scooterist yang sedang beristirahat ketika melakukan perjalanan menuju Bigel pula. Kembali lagi setiap lekukan peristiwa yang ia alami selalu menghadirkan suatu hal baru. Pertemuannya dengan Metta seorang pejalan sekaligus secooterist pun tak luput ia abadikan di buku hariannya. ““Membesarkan cinta kasih tuh kayak bikin api unggun. Mula-mula bakar kertas, kemudian daun kering, kemudian ranting besar, saat api telah berkobar, kayu basah pun akan menyala. Kalau uda nyala, enak, hangat, cemerlang dan senantiasa berkobar di dada sang penyala.”(Metta)” (hal. 147).

 

Perjalanan pun berlanjut dari Marta menuju Bigel untuk mencari dambaan hati. Dari secarik kertas bertuliskan nama Dawiyah, buah dari kelicikan Nina dan Kepala Puskesmas, akhirnya Sumi berjalan dengan suara hatinya.

 

Pertemuan demi pertemuan pun kembali ia temui. Tak hanya realita hutan ujung timur yang memesona, berbagai kondisi sosial kebudayaan pun ia temui. Termasuk pertemuannya dengan Pak Bardi, Wesley dan orang-orang baru lainnya yang ternyata saling bertautan seperti rangkaian rel yangyang terhubung dari ujung ke ujung. Puncaknya ia diselamatkan oleh Wesley di tengah konflik antar orang non ujung timur dengan orang asli ujung timur. Peristiwa itu sebagai buntut dari konflik yang terjadi di Jakarta, Yogyakarta dan daerah lainnya.

 

Peristiwa itu pula yang membawa Bapak Sumi untuk menyelematkan dua orang mahasiswa asal Ujung Timur dan menampung di rumahnya. Perlahan kesadaran Bapak Sumi pun pulih tentang kesalahan yang telah ia lakukan pada Sumi. Mengubah Sumi menjadi sosok manusia yang tertekan dan penuh batasan, yang ujungnya membawa Sumi pada sebuah perjalanan yang membawanya ke Ujung Timur.

 

Ketika suasana tak berpihak pada orang non Ujung Timur, Sumi dipertemukan lagi pada sosok Oge, yang ternyata bapak angkat Klas. Dari Klas lah Oge tahu tentang Sumi, yang pada kahirnya Sumi pun selamat dari kecamuk yang ada di Ujung Timur. Diikuti dengan berita-berita dan tampilnya orang-orang yang dianggap berpengaruh dalam perdamaian atas konflik yang terjadi itu. Sumi pun selamat atas pertolongan Oge dan bertemu lagi dengan Bapak Stefan di Marlo. “Di truk alih-alih terbunuh, Sumi diselamatkan oleh Oge. Sudah berkali sepakan dan dua pukulan meluncur ke wajah pemuda sakau itu sebelum akhirnya Oge berhenti dan merendahkan tubuhnya, mengarahkan senternya ke pergelangan tangan Sumi yang selalu ia letakkan di depan kepalanya. Oge memindai gelang anyaman prusik yang melingkar di sana, persis seperti gelang yang Oge kenakan.” (hal. 243).

 

Dari situlah akhirnya Sumi pulang, kembali ke Jakarta dengan sebuah harapan baru, jiwa baru, serta suasana dalam keluarga yang baru. Bapak serta ibu juga kakaknya pun semua berubah seriring perjalanan yang dilakukan Sumi. Sampailah pula ia temukan lagi dambaan hatinya Dawiyah. Dari Surat yang telah dititipkan pada Bapak Stefan Dawiyah berhasil ditemukan dari jelinya Sumi membaca puisi. “Potongan teks di puisi Dawiyah itu membuatnya keras berpikir, apa dan bagaimana setelah Sumi tiba di sana, di Taman Arung Palakka.” (hal.255).

Begitulah Sumi berjalan dan menemukan arti kehidupan. Juju berhasil meciptakan sebuah kisah yang syarat akan perjuangan juga kebahagiaan.

 

 

A. Muhaimin D.S, Lahir di Nganjuk (Kota Angin). Seorang penikmat cerita dan penyuka perjalanan. Menulis puisi, cerpen, juga resensi. Surel: Abdul.muhaimin.aim@gmail.com

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*