Topbar widget area empty.
Kenapa Kita Harus Menuliskan Kegelisahan? Buku Si Penembak Jitu Tampilan penuh

Kenapa Kita Harus Menuliskan Kegelisahan?

Resensi Karimatunisa

 

Judul: Si Penembak jitu

Penulis: Anas S Malo

Penerbit: Belibis Pustaka

Tahun: Juni 2020

Tebal: viii + 108 halaman 21×14 cm

ISBN: 978-623-92529-7-7

 

Sebagaimana pendapat Sigmund Freud, bahwasanya lahirnya sebuah karya sastra, tak terlepas dari rasa kegelisahan yang dialami oleh penulis. Dalam hal ini, Si Penembak Jitu adalah kumpulan kegelisahan dari si penulis.

 

Secara jujur, Anas S Malo dalam pengantar buku kumpulan cerita pendek ini menyampaikan pengalaman hidup yang membuatnya harus menuliskanya.  Meminjam ungkapan dari sang maestro Pramoedya Ananta Toer, “semua harus ditulis, apa pun.” Potongan kalimat tersebut menandakan bahwa, semua yang terjadi pada kehidupan ini harus ditulis, termasuk kegelisahan.

 

Dalam buku kumpulan cerita pendek ini, terdiri dari 16 cerita. Bagi Anas, hal-hal sederhana disulap menjadi sebuah cerita yang menarik. Cerita-cerita bernuasana pedesaan atau perkampungan yang sangat kental, sehingga bagi sebagian orang akan terwakilkan dari kisah-kisahnya. Dalam halaman pembuka, Anas membuka cerita tentang pengkhianatan seorang istri kepada suaminya yang diberi judul “Kau, Aku dan Keheningan”. Dalam cerita itu, tokoh Aku adalah narator dalam cerita tersebut. Sedangkan tokoh Kau adalah teman karib si tokoh Aku. Dalam cerita itu, nuansa masyarakat pedesaan begitu kental, seperti adanya gardu pos kamling, mitos tentang adanya pesugihan babi ngepet, sosok dukun dan perselingkuhan dengan babi yang menjelma menjadi manusia.

 

Di kampung kami sering ada pencurian. Kami terbiasa dengan pos ronda, kopi dan seperti alat catur atau kartu domino” (hlm. 2-3). Dalam larik kalimat tersebut, nuansa perkampungan sangat hidup dan memperlihatkan keadaaan sosial masyarakat sangat terjalin dekat. Hal ini juga dibuktikan dengan deskripsi latar tempat yang masih daerah tertinggal. “Sekawanan anjing hutan melintas di jalan melewati gardu pos ronda, melolong menakutkan(hlm. 4-5).

 

Selain itu, Anas juga memperlihatkan mitos kepercayaan masyarakat tradisional, seperti pada larik kalimat berikut, “aku terkejut. Kau menghempaskan cicak itu sambil mengumpat. Aku terdiam. Aku teringat kembali dengan perkataan nenekku, jika ada cicak yang jatuh menimpa seeorang, maka akan mendapat sial.” (hlm. 3-4). Latar belakang penulis sebagai seseorang yang terlahir dari masyarakat pedesaan mempengaruhi ekspresi si penulis.

 

Kita juga bisa melihat cerita yang kedua berjudul “Hama”. Di sini, memperlihatkan masyarakat pedasaan yang identik dengan tanam-menanam untuk kegiatan pertanian. “Berderet sawah menghampar di sudut utara desa. Sungai mengalir dengan leluasa. Beberapa bendungan dibuat untuk irigasi. Tanaman-tanaman tampak begitu segar dan sebagian sudah siap panen.” Saya rasa, memang jarang, di dalam dunia kesusastraan mengangkat dunia pertanian. Saya merasa kesulitan mencari literatur yang membahas tentang sastra dan pertanian. Hal ini mungkin bisa didapuk sebagai wajah baru dalam kesusastraan Indonesia, mengingat jarang sekali para sastrawan, khususnya di Indonesia yang membahas tentang pertanian.

 

Seperti halnya cerita pendek yang berjudul “Selametan” (hlm. 29),  “Imajinasi-Imajinasi Intim” (hlm. 43), “Kebencian Seorang Wanita” (hlm. 75), yang tergabung dalam kumpulan cerpen Si Penembak Jitu ini memang didominasi oleh latar tempat di pedesaan atau perkampungan. Hal ini menegaskan bahwa Anas ingin melepas rindu di masa kecilnya.

 

Selain itu, ia juga menyinggung alih fungsi lahan yang semakin marak. Dalam cerpen yang berjudul “Tanah Perdikan”, menceritakan negosiasi antara warga desa dengan investor yang menginginkan Tanah Perdikan, namun warga menolak dan akhirnya terjadi bentrok antara warga dan aparat. “Polisi melemparkan gas air mata. Para warga dan mahasiswa melempari polisi dengan batu dan serpihan kaca mobil polisi. Kabut-kabut hitam menggumpal.(hlm. 15-16).

 

Ada juga cerpen yang berjudul “Hutan Tak Seperti Dulu”, yang menceritakan seorang anak yang memiliki gangguan psikologis menyimpan dendam dengan harimau yang telah menerkam ibunya sampai tewas. Anak itu akan balas dendam dengan harimau itu saat dia sudah tumbuh dewasa. Namun, setelah dia memasuki hutan, ternyata hutan yang dulunya rimbun sudah jauh berbeda, ketika peristiwa naas itu terjadi. “Binatang-binatang  penghuni hutan sudah jarang ditemui. Burung-burung cendet dan kutilang yang biasanya meramaikan hutan sudah tak terdengar lagi kicaunya (hlm. 49).

 

Dua cerpen ini merupakan persoalan yang saat ini kita hadapi. Persoalan ekologi merupakan persoalan kita bersama sebagai penghuni bumi. Kumpulan cerpen Si Penembak Jitu menyajikan berbagai persoalan kelestarian alam dan kapitalisme.

 

Namun di dalam kumpulan cerpen “Si Penembak Jitu”, Anas tidak terlalu konsisten dengan tema yang diangkatnya. Ada beberapa cerpen yang di luar tema utama, dengan ekologi. Misalnya saja cerpen Si Penembak Jitu dan Perempuan yang Mati Dua Kali di Pagi Hari.

 

Di dalam cerpen Si Penembak Jitu, diceritakan adanya kasus pembunuhan seorang profesor yang bernama Profesor X yang memang yang berpengaruh terhadap kondisi negara. Pembunuhan tersebut adalah awal dari kisah perseteruan antara pihak pemerintah dan pihak oposisi.

 

Sementara itu, cerpen yang berjudul Perempuan yang Mati Dua Kali di Pagi Hari bergenre horor dan lebih seperti kisah detektif khas Edgar Alan Poe, yang mengisahkan tentang gadis yang mengunjungi lorong misterius, kemudian masuk ke ruangan terlarang.

 

Selain itu, ada beberapa hal penting yang harus diperbaiki. Selain tidak konsisten pada tema yang diangkat, pendalaman tema belum sepenuhnya dalam, terkesan kita sebagai pembaca hanya disuguhkan oleh hal-hal umum. Terlepas dari itu, ada kelemahan lain, seperti pemilihan diksi yang belum ada power. Dalam penokohannya juga belum kuat. Namun saya berkeyakinan, ada karya yang lebih baik dari pada Si Penembak Jitu dari penulis.

 

Karimatunisa, lahir di Magelang, menempuh pendidikan di Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta, jurusan Farmasi yang kebetulan seorang penikmat sastra.

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*
%d blogger menyukai ini: