Topbar widget area empty.
Lelaki Kabut manusia kabut ilustrasi Tampilan penuh

Lelaki Kabut

Oleh : Sri Lima Ratna Ndari

 

Juli menelan ludah sambil mengusap wajahnya berusaha menghapus pias, sekitar lima meter di hadapannya mahkluk hitam besar berbulu yang hampir setengah tahun belakangan paling dicari dan diburu oleh penduduk desa yang berada tepat di kaki gunung paling misterius menurut orang-orang kota, tengah menjilati madu dari sarang lebah pada sebuah pohon hutan.

 

Juli bukan satu-satunya yang melihat pemandangan itu, di sebelah kanan beberapa meter dari batang pohon tempat ia berlindung, seseorang juga tengah memperhatikan tingkah sang beruang mencabik kulit pohon mencari madu. Dan tanpa sepengetahuan Juli orang tersebut mencabut anak panah dari pundaknya.

 

Dengan sekali gerakan menarik busur, anak panah melesat tepat ke batang pohon yang sedang dicabik-cabik si beruang. Mankhluk hitam berbulu tersebut langsung menghentikan kegiatannya dan berlalu. Juli kaget bukan kepalang. Ia menoleh ke sana kemari mencari asal panah itu.

 

Kabut mulai turun, sore kian larut. Perlahan bayangan dedaunan sirna. Sinar mentari sore tak lagi mampu temaram menembus pepohonan. Angin berhembus perlahan. Juli menggigil bukan karena hawa dingin, bulu kuduknya meremang tatkala ekor matanya menangkap kelebat seseorang menjauh di balik pepohonon di ujung semburat sore yang hampir sirna. Anak panah di punggung dan jubah yang berkibar sesaat sebelum hilang di balik kabut seketika membuat Juli khawatir sekaligus cemas.

 

Jika benar yang tertangkap matanya barusan adalah ‘penjaga gunung’ seperti yang dituturkan orang-orang tua di desa ia khawatir akan ada sesuatu yang akan menimpa keluarganya. Pemilihan Pangulu baru akan diadakan dimana suaminya menjadi salah satu kandidat kuat melawan dua orang pesaing, Pak Yanto dan Pak Linson. Keduanya dikenal berwatak keras dan garang karena kabarnya memiliki ‘ilmu penjaga badan’.

 

Perempuan itu mencemaskan suaminya yang merupakan sosok orang muda calon pemimpin baru yang diimpikan sebagian besar warga kampung yang menginginkan perubahan di kampung mereka yang selama ini sangat tertinggal karena letaknya yang jauh di kaki gunung. Jika suaminya menang dalam pemilihan nanti bukan tidak mungkin dua pesaingnya akan menjadi oposisi yang akan mengirimkan ‘guna-guna’ untuk menyingkirkan suaminya. Bagaimana suaminya bisa menahan serangan dari dua oposan sekaligus?

*

Hari itu di dapur perapian Mak Deri seekor beruang sedang menjilati kuali hitam sisa memasak yang belum dicuci. Warga sibuk mengusir hewan tersebut.

 

“Diusir saja, jangan dibunuh,” gumam Juli perlahan yang diam-diam dibalas anggukan oleh suaminya dan warga yang telah mendengar cerita ‘penampakan’ nya kemarin sore. Kalau sang ‘penjaga’ saja tidak membunuh beruang kenapa pula mereka harus membunuhnya?

 

“Tapi nanti ada korban lagi macam Bosar!” celetuk Pak Linson dibalas anggukan oleh Pak Yanto. Warga bukannya tak tau kalau kejadian bulan lalu adalah kecelakaan, beruang terkejut dengan kedatangan Bosar yang berteriak ketika melihat hewan tersebut di ladangnya dan menerjang sang bocah sebelum diusir warga.

 

Juli melirik suaminya, menggerakkan matanya ke sana kemari sebagai isyarat untuk tidak membantah. Diamkan saja, nanti jadi bertengkar.

 

Warga yang sebagian besar pendukung suami Juli berlalu setelah berhasil mengusir beruang kembali ke habitatnya. Kedua orang calon opposan merah padam merasa diabaikan.

“Orangtua cakap tak didengar!” omel Pak Linson sementara Pak Yanto berlalu dengan gusar dan wajah merah.

 

Di rumah Juli memperingatkan suaminya agar mundur dari pencalonan.

“Mana bisa begitu, dek. Udah beberapa hari lagi. Warga bisa marah!”

 

Juli semakin resah. Ia tau watak suaminya yang keras bila memang kebenaran yang dibelanya. Juli mengerti, suaminya mewakili sebagian besar golongan muda yang menginginkan perubahan pada desa mereka.

 

“Aku sudah merancang berbagai pembangunan di desa kita ini nanti jika aku menang menjadi Pengulu. Jalan, parit, jembatan, air bersih akan menjadi prioritas utama dana yang digelontorkan pemerintah pusat untuk membangun desa-desa di seluruh Indonesia. Setelah itu mendirikan usaha desa untuk kaum perempuan supaya punya penghasilan sendiri,” sambungnya panjang lebar. Juli diam, ia tau cita-cita mulia suaminya. Sebagai istri ia sangat setuju akan keinginan itu. Tapi, ia khawatir makna pertemuannya dengan ‘penjaga gunung’ merupakan pertanda suatu hal yang buruk akan dilakukan oleh kedua pesaing terhadap suaminya.

“Beruang-beruang itu cemana, nanti mengganggu acara pemilihan pula,” sergah Juli pada Kris, suaminya.

 

Sebenarnya Kris dan beberapa orang muda sudah menyarankan kepada Pangulu lama untuk melaporkan hal tersebut ke dinas kehutanan setempat, tapi beliau tidak menggubris. Menurutnya, kedatangan orang dari dinas pemerintahan akan membuat desa mereka terekspos dan akan menjadi incaran banyak pihak yang nantinya akan memanfaatkan keadaan dan kondisi. Akan banyak pemburu yang akan datang mengincar kulit beruang atau organ dalam sang hewan yang menurutnya adalah ‘pengawal’ sang penjaga gunung.

“Nanti akan kita tempatkan beberapa anak muda untuk berjaga-jaga di lokasi-lokasi kedatangan beruang. Mau bagaimana lagi, karena habitat mereka dirusak akibat pembukaan lahan perkebunan secara besar-besaran beruang-beruang itu jadi turun ke pemukiman warga. Nanti jika aku menang, hal pertama yang akan kulakukan adalah melapor pada dinas kehutanan, meminta mereka segera turun ke desa kita,” terangnya sebelum berangkat ke ladang karet miliknya di kaki gunung.

 

Sore harinya, Juli ke ladang menuang mangkuk-mangkuk berisi karet beku yang sudah disadap suaminya pagi hari ke dalam bejana besar yang diikatkan ke pinggang. Rutinitas yang biasa dilakukan kaum perempuan di desa mereka. Tapi kali ini Juli telah berniat menemui sang penjaga. Untuk itu ia telah mempersiapkan peralatan yang diperlukan apabila ia pulang kemalaman. Ia sengaja tak memberitahu suaminya, ia yakin dan sudah hafal jalan pulang tak perlu ditemani siapapun, begitu pikirnya.

 

Ketika mangkuk-mangkuk telah selesai disangkutkan kembali pada batang-batang pohon karet, Juli melepas ikatan bejana dari pinggangnya dan menyimpannya di suatu tempat. Ia yakin sore itu sang penjaga akan kembali menampakkan diri di dekat beruang. Juli melangkah menuju pepohonan yang ada sarang madu di dalamnya. Tak berapa jauh dari tempatnya berdiri seekor beruang tengah mencabik kulit sebuah pohon bersarang lebah. Juli merunduk di balik rerimbun pepohonan. Menunggu. Namun hingga hari hampir gelap, sang penjaga tidak menampakkan diri.

 

Juli berdiri, melangkah perlahan ke tempat beruang berada. Ia yakin dengan begitu penjaga gunung yang disebutnya ‘lelaki kabut’ akan muncul menyelamatkan dirinya. Akan ditanyakannya tentang ‘nasib’ suaminya di pemilihan nanti. Malang sebuah ranting gemeretak terinjak kaki kirinya, membuat beruang terkejut dan menoleh garang ke arahnya. Juli geragap, nafasnya serasa berhenti seketika. Gigi tajam beruang menyembul di antara mulutnya yang terbuka mengecap lelehan madu dari lidahnya. Kuku-kuku tajam di kedua tangan beruang tegak bagai karang di ujung jemari berbulu hitam tersebut. Hewan itu mengeram memamerkan giginya sambil melangkah ke arah Juli.

 

Perempuan itu hampir lebur dengan kabut yang mulai turun jika tidak sebuah tangan menangkap tangannya dan menahan tubuh limbungnya. Di antara alam bawah sadarnya ia melihat beruang hitam itu berlalu begitu melihat sosok yang muncul tersebut. Juli terkerjap melihat penolongnya. Berusaha tegak dan memperhatikan lekat wujud di hadapannya yang serupa lelaki kebanyakan. Sebentuk senyum samar terbentuk di antara rambut-rambut panjang yang sebagian menutupi wajahnya. Juli mengedarkan pandangan dari ujung rambut hingga ke ujung kaki lelaki kabut yang tegak menyentuh tanah. Bukan hantu.

 

Setelah yakin akan penglihatannya Juli meraba dadanya. Bukan mimpi, ia tidak mati. Lelaki kabut benar-benar ada di hadapannya. Tapi lidahnya seakan kelu. Tak mampu berkata. Beruang…menganggu desa. Suami…Kris calon pangulu baru…Pak Yanto, Pak Linson…

Lelaki kabut tersenyum samar. Juli hampir tak bisa melihat senyum itu akibat kabut yang semakin lekat di antara mereka.

“Tunggu…” ucap Juli ketika lelaki kabut berpaling.

“Juli!” sebuah tangan merengkuh pundaknya ke dalam pelukan basah oleh keringat dan degup jantung yang begitu kencang, membuatnya kehilangan beberapa detik kesempatan menyaksikan lelaki kabut lenyap di tengah kabut dan pepohonan.

“Syukurlah kau tak kenapa-kenapa, dek,” Kris mengusapkan jemarinya ke kepala istrinya. Kecemasan jelas terlihat di kedua kelopaknya.

“Ayo kita pulang, nanti cerita di rumah,” pungkasnya diikuti oleh beberapa orang muda yang menemaninya mencari Juli. Perempuan itu menurut tanpa melepaskan pegangannya pada Kris, hanya pandangannya yang masih pada kabut di belakangnya. Lelaki kabut samar mengangguk ke arahnya.




Pemilihan pangulu memenangkan Kris sebagai pangulu baru yang akan memimpin desa lima tahun ke depan. Beberapa orang muda yang ditempatkan di lokasi rawan kemunculan beruang telah berkumpul di halaman kantor Pangulu. Mereka bersuka cita memberikan selamat kepada Kris. Semuanya berjalan lancar. Beruang tidak satu pun yang menampakkan diri.

 

Juli memperhatikan Kris menyampaikan pidato perdananya di hadapan warga desa. Kecakapan lelaki itu dalam memimpin keluarga membuatnya yakin ia mampu mengemban tugas sebagai pemimpin desa dengan baik. Besok petugas dari dinas kehutanan akan datang menangani beruang. Soal kedua ‘partai oposisi’ biarlah menjadi tantangan tersendiri bagi kepemimpinan suaminya sebagai pemicu untuk lebih baik dalam bertugas. Semua pencerahan itu diperoleh Juli dari lelaki kabut, meski pertemuan mereka tanpa kata.

 

Manik Hataran, 31 Mei 2018

Ditulis oleh Sri Lima Ratna Ndari

    Alumnus Bahasa Inggris USU. Lahir di Pematangsiantar, 14 September 1975 dan tinggal di Manik Hataran Kecamatan Sidamanik, Kabupaten Simalungun. Sumatera Utara