Topbar widget area empty.

Rustam Ingin Beralih Profesi

Oleh: Arie Siregar

 

 

Suasana di depan pintu keluar stasiun mendadak ramai dan ricuh. Para pengemudi becak motor yang memarkirkan becak motor mereka bertumpuk dan tak beraturan di sana, menyerbu para penumpang kereta api yang baru saja turun dan keluar stasiun.

 

“Naik becak Bu/Pak/Bang/Kak? Mau ke mana? Ayo naik becak saya itu, dekat kok, di depan.” Kata para pengemudi becak motor dengan sedikit memaksa,kepada mereka yang baru selangkah keluar dari stasiun. Jika tawaran ditolak, maka cepat-cepat para pengemudi becak motor itu akan beralih ke calon penumpang yang lain. Harus cepat. Sebab hanya dalam beberapa belas menit saja, stasiun itu pasti akan kembali sepi. Tak menyisakan sepeser punrezeki hingga kedatangan kereta api selanjutnya yang masih berjam-jam lagi.

 

Maka itu, maklumi saja bila melihat para pengemudi becak motor itu terkesan memaksa para calon penumpang yang baru keluar dari stasiun untuk naik dan menumpang becak motor mereka. Sebab hanya pada saat-saat kedatangan kereta api seperti inilah, kesempatan untuk menangkap rezeki terasa lebih pasti bagi mereka, tak seperti mencari di jalanan. Toh lagipula, mereka yang turun dari kereta api, tak semuanya dapat jemputan keluarga, kerabat, atau handai taulannya di muka pintu keluar stasiun. Mereka pasti akan menumpang becak motor untuk sampai ke tujuannya. Takkan menumpang yang lain. Sebab tak ada ojek ataupun taksi seperti di kota-kota lainnya di kota ini. Hanya becak motor.

 

Namun jangan anggap pula itu adalah sebuah keberuntungan bagi para pengemudi becak motor tersebut. Tidak. Sekarang ini, dengan jumlah pengemudi becak motor yang tetap saja membludak, orang-orang di kota ini justru sudah semakin enggan menumpang becak motor. Membuat persaingan di antara mereka pun semakin berat dan ketat.

 

Lihatlah, di tengah kerumunan becak motor yang terparkir semrawut di depan pintu keluar stasiun itu, seorang lelaki empat puluh tujuh tahun, Rustam, salah seorang pengemudi becak motor, tengah berjuang melawan kesulitan. Ia berusaha cepat-cepat menggeser becak motor-becak motor yang menjepit dan mengepung becak motornya. Sebab seorang penumpang yang berhasil ia bujuk naik ke becak motornya, sudah merepet ingin cepat-cepat diantarkan ke tujuan.

 

“Sebentar, Bu. Sabar, ya. Biar saya geser dulu becak kawan-kawan ini, ” bujuk Rustam pada penumpangnya yang sudah ingin turun dan mencari becak motor lain tersebut.

 

“Woiii…! Tolonglah geser kaliandulu becak kalian ini,” teriak Rustam kemudian ke segala arah sambil menggeser satu becak motor yang terparkir beberapa depa dari becak motornya.

 

Namun apes betul nasib Rustam, sang penumpang tak lagi punya kesabaran yang cukup untuk menunggu. Ia turun dari becak motor Rustam sambil mencerocos. Rustam pun hanya bisa pasrah dan tetap menggeser pelan-pelan becak motor-becak motor yang menghalangi gerak becak motornya. Padahal, baru saja ia bersenang hati, lantaran lega akhirnya mendapatkan penumpang pertamanya hari ini. Sebab sejak pagi, hingga sore ini, belum ada satu pun penumpang didapatnya.

 

Begitu becak motornya berhasil keluar dari kerumunan, dan melihat sepi telah bersarang lagi di pintu keluar stasiun, Rustam menarik gas becak motornya lalu pergi membawa harapannya yang pupus. Hari sudah sore, hanya tinggal malam nanti kesempatannya mendapatkan penumpang lagi dari stasiun kebanggaan kotanya ini: Rantauprapat, sebuah kota kecil dengan masyarakatnya yang majemuk, yang berada di tengah provinsi Sumatera Utara.

 

Tunggu dulu. Nasib Rustam nampaknya tak betul-betul jelek hari ini. Beberapa meter dari stasiun, ke arah barat, seorang gadis dengan koper pakaian nan besar melambaikan tangan pada Rustam. Jelas saja, Rustam langsung membelokkan setang becak motornya dengan gesit bak seorang pembalap, menepi ke hadapan gadis tersebut.

 

“Becak, Kak?” Tanya Rustam pada gadis itu dengan lembut dan santun. Gadis itu mengangguk. Rustam tahu betul bahwa pertanyaan yang ia lontarkan pada gadis itu adalah pertanyaan sok ramah dan klise para pengemudi becak motor di kota ini. Kalau sudah melambaikan tangan ke pengemudi becak motor, ya sudah pastilah orang tersebut butuh tumpangan. Pakai ditanya lagi.

 

Si gadis naik ke bak penumpang dan duduk. Rustam membantu menaikkan kopernya. Becak motor segera melaju menuju tempat yang dituju setelah si gadis mengatakannya. Hati Rustam senang bukan kepalang, sebabbaru ini ia akhirnya nyata dapat penumpang. Meskipun itu ia dapatkan di jam-jam dekat dengan saatnya ia harus pulang ke rumah–untuk mandi, beribadah, istirahat, bercengkrama dengan anak-anak dan istri, lalu memulai lagi pencarian rezeki–ia tetap bersyukur.

 

Rustam pun sebenarnya sadar betul kalau saat ini, profesi yang ia geluti, bukan lagi pekerjaan yang dapat menjanjikannya dan keluargannya kehidupan yang baik. Harga-harga kebutuhan hidup terus melonjak naik, dan penumpang semakin sulit didapat, lantaran orang-orang di kota ini sudah jarang sekali ingin menumpang becak motor untuk bepergian ke mana-mana. Harga kredit mobil sudah murah, apalagi sepeda motor. Tambah lagi ongkos yang harus dikeluarkan untuk menumpang becak motor dalam sekali jalan, malah tak lagi murah. Bisa tujuh ribu sampai sepuluh ribu rupiah untuk jarak tempuh hanya sekira lima ratus hingga tujuh ratus meter. Orang-orang berpikir: Mending uang tersebut dipakai buat isi bensin sepeda motor, bisa hemat sampai berhari-hari. Maka itu, habislah penumpang.

 

Masih mending bertahun-tahun lalu,becak motor masih cukup menjadi tumpangan favorit para pelajar untuk berangkat dan pulang sekolah, atau jalan-jalan dengan kawan-kawan. Rustam bahkan punya beberapa pelajar dari beberapa sekolah yang menjadi pelanggan setianya dulu. Sehari, ia tak pernah risau karena minimal lima puluh ribu pasti didapatnya dari pelajar-pelajar tersebut. Namun kini, keadaannya seolah berbalik dan terbanting. Jangankan tiga puluh ribu, sehari bahkan ia tak mendapatkan sepeser pun dan/atau malah merugi karena harus mengisi bensin. Sebab semua pelajar yang telah menjadi pelanggan setianya, telah lulus dan melanjutkan kuliah di luar kota.

 

Akan terasa mudah memang jika setelah kehilangan pelanggan lama, Rustam kemudian mendapatkan pelanggan baru. Namun nyatanya hal itu sungguh berat karena zaman turut serta mempermainkan ia dan pengemudi becak motor lainnya. Selain karena murahnya harga kredit sepeda motor–yang mana membuat para orang tua pun menjadi gampang pula membelikan dan mengizinkan anak-anaknya mengendarai sepeda motor sendiri untuk pergi ke sekolah dan ke mana saja, meski belum cukup umur dan punya SIM. Kafe dan warung kopi yang kini mewabah di kota ini pun turut serta menggerus rezeki Rustam dan para pengemudi becak motor lainnya. Pasalnya, kini tempat-tempat itu seolah menjadi candu bagi banyak kalangan, termasuk bagi para pelajar. Mereka betah menghabiskan waktu berlama-lama di sana untuk berkumpul dengan kawan-kawan, sekaligus menikmati layanan internet yang pasti disediakan. Alhasil, aktivitas jalan-jalan dengan menumpang becak motor yang dulu sering dilakukan para pelajar generasi sebelumnya, kini menjadi tak menarik lagi. Rustam dan kawan-kawan terang saja gigit jari.

 

Padahal, seperti pengemudi becak motor yang masih muda lainnya, Rustam pun turut memodifikasi becak motornya demi menarik hati para pelajar pada masa itu. Dibuatnyaceper(rendah), berwarna trendy (khas anak muda), serta menambahkan beberapa perangkat elektronik seperti sound system berukuran kecil yang dapat disambungkan langsung ke ponsel dengan kabel. Para pelajar generasi lalu banyak yang senang menumpang becak motornya. Gaul dan keren, kata mereka.

 

Tapi begitu tangan zaman merampas semua peruntungan itu, Rustam tak lagi memperhatikan betul penampilan becak motornya. Bentuknya yang semula ceper, ia tinggikan kembali.Sound system ia jual. Danwarna bak penumpangnya pun kusam dan retak. Sungguh jauh dari perhatiannya.

 

Maka atas semua permasalahan itu–yang ia percaya akan terus menjadi rumit hingga kemudian hari, karena ojek online juga sangat mungkin akan segera hadir di kota ini–Rustamakhirnya memilih untuk berpikir dan bersikap realistis. Ia akanalih profesi. Sudah dipikirkannya matang-matang sejak beberapa pekan lalu. Sang istri pun telah turut mendukung keinginannya. Ia akan menjadi pedagang.

 

Kecil saja perdagangan yang akan ia jalankan. Namun, ia sangat yakin apa yang akan ia perdagangkan nantiadalah sebuah ide yang brilian. Sebab belum ada seorang pun di kota ini yang memperdagangkannya. Hanya dia, nantinya.

 

“Tadi dari stasiun, ya, Kak?” Rustam bertanya kepada si gadis yang sedang memandangi pemandangan perjalanan mereka di atas becak motornya.

“Iya, Bang.”

“Kok nunggu becaknya sampai ke situ tadi?” Ke situ yang dimaksud Rustam adalah sebuah kafe yang terletak sekira sepuluh meter dari stasiun, tempat di mana si gadis tersebut melambaikan tangannya memanggil Rustam tadi.

“Malas, Bang, ditarik-tarik sama abang-abang becak di pintu keluar stasiun.”

 

Rustam tak menyaut lagi. Ia hanya tersenyum dan mengingat perlakuannya yang juga sama persis seperti apa yang dikatakan gadis tersebut: kerap menarik dan agak memaksa calon penumpang yang keluar dari stasiun agar tak diserobot oleh kawan-kawannya. Ingin sebenarnya ia berkata panjang lebar kepada penumpangnya tersebut agar memaklumi perlakuan tak menyenangkan para pengemudi becak di stasiun itu, tapi diurungkannya. Pikirannya kembali larut dalam niatnya yang mantap ingin berdagang.

 

Rencananya, Rustam akan berdagang keripik berbahan Nangka dan Nenas hasil buatannya sendiri dengan sang istri. Ide membuat dan menjual dua jenis keripik itu ia dapat dari seorang pemuda yang dulu pernah menjadi salah satu penumpang setianya ketika pemuda tersebut masih seorang pelajar SMP.

 

Juga di pintu keluar stasiun, Rustam tak sengaja bertemu dengan pemuda itu beberapa bulan lalu.Pemuda itu memberikan ongkos lebih dan sebungkus keripik Apel yang ia bawa dari kota perantauannya: Malang, kepada Rustam, setelah Rustam mengantarnya hingga ke depan rumah. Dari keripik Apel itulah ide usaha itu kemudian muncul, bukan dari saran atau penjelasan apa pun, sebab pemuda tersebut memang tak membahas soal usaha sedikit pun kepada Rustam selama perjalanan mereka menuju rumahnya. Rustam menerimanya dan baru menikmati keripik Apel itu bersama sang istri di rumah, sambil membahas betapa uniknya makanan itu.

 

“Ini pasti laris kalau dijual di kota ini,” kata Rustam kepada istrinya sambil mengunyah kepingdemi keping keripik Apel pemberian pemuda itu dan menatap dengan seksama bungkusnya yang menarik, waktu itu.

“Tapi, kalau bikin keripik Apel kayak gini, cari Apelnya di mana, Bang?” saut istri Rustam juga sambil mengunyah keripik apel dan menatap bungkusnya di tangan Rustam. “Mahal kalau beli di penjual buah.”

“Ganti saja. Jangan apel. Buah yang ada dan banyak di kota ini saja. Nangka atau Nenas.”

Obrolan Rustam dengan istrinya itu pun berakhir setelah keripik Apel yang mereka santap, habis. Di akhir obrolan, satu kesimpulan dan kesepakatan mereka buat: Rustam akan pensiun mengemudi becak motor dan akan membantu istrinya membuat keripik Nangka dan Nenas untuk kemudian dijual oleh Rustam ke kafe-kafe, warung-warung, coffee shop, atau bahkan jika bisa ke toko-toko makanan di Rantauprapat. Namun tidak semua kripik yang sudah jadi nantinya akan dijajakan ke tempat-tempat itu. Tetap harus ada sisanya, untuk Rustam jual sendiri berkeliling hingga ke sudut-sudut kota Rantauprapat.

 

Untuk menjajakannya, Rustam pun telah berencana akan membongkar becak motornya. Bak penumpang becak motor akan ia lepas dan ganti dengan kotak kayu besarberdinding kaca untuk tempat menyimpan dan membawa keripik-keripiknya. Tak ingin susah, kotak kayu itu akan ia tempahkan ke pembuat barang-barang meubel.

 

Rustam sangat senang karena akhirnya ia menemukan profesi baru yang akan mantap ia tekuni. Apalagi, rencananya itu telah mendapat dukungan dari seorang kakak iparnya. Ia dan istrinya dipinjami sejumlah uang untuk menambali kekurangan modal usahanya tersebut. Uangnya telah ia terima dan disimpan oleh istrinya. Namun begitu, meskipun semua persiapan telah terpenuhi dan mental pun telah cukup siap, usaha itu tak bisa segera dimulai. Sebab sang istri meminta waktu beberapa hari untuk belajar membuat dua jenis kripik itu hingga terasa betul-betul enak di lidah orang. Bukan di lidah Rustam dan anak-anak mereka saja. Jadi, makanya Rustam masih mengais rezeki di jalanan dengan becak motornya sampai hari ini.

 

“Bang, nanti kita lewat jalan Kampung Baru saja, ya. Biar lebih dekat,” pinta si gadis cantik penumpang Rustam.

Rustam mengangguk dan menjawab, “oh, iya, Kak.”

 

Terik matahari mulai padam dan jalanan semakin ramai. Aktivitas jalan-jalan sore hampir tak pernah sepi di kota ini. Pengendara sepeda motor masih tetap mendominasi jalanan. Dan tetap seperti dulu, kepala para pengendara sepeda motor di kota ini, masih saja enggan terbalut helm.

 

Dengan laju becak motornya yang normal dan stabil, Rustam harus tetap menjaga betul fokusnya ke depan. Bersiap dan berjaga dari kemungkinan buruk. Sebab sejak dulu, sejak pertama kali mengemudikan becak motor, ia selalu lebih was-was jika membawa penumpang. Ia khawatir jika celaka datang menghampirinya dan becak motornya, nyawa penumpang juga turut terancam.

 

Namun, sungguh, ini nampaknya memang hari yang sangat buruk bagi Rustam. Ketika melintas di depan sebuah persimpangan di sisi kiri jalan, seorang pengendara sepeda motor tiba-tiba keluar dari persimpangan tersebut dengan lajunya lesat bukan main. Ia menikung ke kiri, lalu disambut hantaman wajah bak penumpang becak motor Rustam.

 

Maka apalagi mau dikata. Si pengendara sepeda motor itu sudah pasti jatuh terserak dari sepeda motornya yang masuk ke kolong bak penumpang becak Rustam. Si gadis, yang semula duduk tenang di bak penumpang, terkejut dan nyaris pingsan. Ia baru turun dengan sekujur tubuhnya yanglangsung lemas setelah ramai-ramai orang mengerubungi lalu menaikkannya ke becak motor lain untuk lanjut diantar pulang. Rustam tentu saja bingung. Ia yakin ia tidak salah, dan memantapkan hati untuk menolak disalahkan.

 

Sebab tiga traffic light yang ada di masing-masing sisi jalan di muka persimpangan itu, tak ada satu pun yang menyala. Dan Rustam melihat jelas si pengendara sepeda motor itu keluar dari persimpangan tanpa melihat kanan-kiri terlebih dulu, melaju begitu saja. Namun entah bagaimana Rustam harus melawan nasibnya hari ini. Polisi yang kemudian tiba, membawanya ke kantor polisi karena si pengendara sepeda motor tersebut mengalami luka-luka dan tak sadarkan diri.

***

 



Dengan segala keterbatasan dan ketidakmampuannya membela diri, Rustam terpaksa menerima kesepakatan yang dibuat di kantor polisi. Keluarga si pengendara sepeda motor, menuntut biaya pengobatan si pengendara sepeda motor kepada Rustam. Jumlahnya: pas betul dengan jumlah uang yang ia pinjam dari kakak iparnya untuk menambahi modal usahanya. Maka mau tak mau, rencana beralih profesi yang telah ia angan-angnkan, terpaksa harus digagalkan karena uang yang ia pinjam dari kakak iparnya tersebut, ia serahkan seluruhnya kepada keluarga si pengendara sepeda motor.

 

“Bang, ayo, makan dulu!” Istri Rustam mengajak Rustam beranjak dari beranda depan rumah mereka untuk masuk ke dapur dan makan bersama anak-anak mereka. Namun Rustam ogah, ia menggeleng dan membuat isyarat lewat tangannya.

 

Beginilah Rustam sekarang: tak teratur hidupnya. Sejak kecelakaan tiga minggu lalu itu, ia jadi malas-malasan. Tak punya gairah. Becak motornya pun hanya teronggok di depan rumah dan tak ingin disentuhnya. Saban waktu, bila keluar dari kamar, ia pasti duduk di beranda dan menatap becak motornya itu. Kadang, raut mukanya tiba-tiba berubah kesal dan mulutnya entah menggumam apa. Merasa seolah-seolah becak motor itu sedang meledeknya.

 

Rantauprapat, Oktober 2018. 

Ilustrasi Photo: Rangga Zaura

Ditulis oleh Arie Siregar

    Alumni Fakultas Hukum Universitas Negeri Semarang dan kini tinggal di Rantauprapat.