Topbar widget area empty.

CELAKA DI UJUNG LISAN

Oleh: Zainul Muttaqin

 

 

Haji Maskur terbaring di atas lincak. Orang-orang duduk bersimpuh di sampingnya. Ia tidak juga membuka matanya setelah lima hari cuma bisa nyeracau. Simar, istrinya awalnya tidak dapat menangkap apa yang diucapkan suaminya. Lepas magrib, ia coba dekatkan telinganya ke ujung bibir sang suami untuk mendengar lebih jelas nama yang berkali-kali diucap Haji Maskur. Diantara tarikan napasnya yang berat, Haji Maskur menyebut nama Mastini.

 

Dada Simar terbelah saat itu juga begitu Haji Maskur menyebut nama perempuan janda yang tinggal bersama anak lelaki semata wayangnya itu. Ia bingung. Bertanya-tanya sendiri, ada hubungan apa antara Mastini dengan suaminya? Gerimis liris bersamaan dengan langit yang pelan-pelan disungkup gelap. Simar tidak mengatakan apapun ketika orang-orang yang datang menjenguk suaminya bertanya perihal apa yang diucap Haji Maskur kepadanya. Ia cuma mengelus dada. Menarik napas dalam-dalam.

 

“Apa yang diucap Haji Maskur, Mar?”

“Tidak ada. Cuma nyeracau seperti biasa.” Wajah Simar yang pucat membuat orang-orang jadi berpikir; pasti ada yang disembunyikan. Satu persatu para tetangga pamit pulang. Simar memijit pergelangan kaki Haji Maskur. Gerimis kian meleleh pada kaca jendela. Gorden disingkap angin dari luar. Sekujur tubuh suaminya mengeluarkan hawa panas. Nama Mastini terus diucap Haji Maskur dalam keadaan tidak sadar macam itu, selalu diulang-ulang.

 

Setelah menyelesaikan shalat magrib dengan masih mengenakan mukena Simar mengaji di sisi ranjang Haji Maskur. Di sudut matanya hujan seperti akan jatuh. Napasnya naik turun dari dada ringkihnya. Kening Haji Maskur berkeringat. Namun pergelangan tangannya dingin. Kadang ia berteriak tiba-tiba. Simar pernah mendapati suaminya berteriak sampai tubuh lelaki kurus itu kejang-kejang. Teriakan Haji Maskur melengking.

 

Dinanti-nanti kapan Haji Maskur akan buka mata dan bicara perihal apa yang sesungguhnya terjadi. Justru ia seperti sedang menjelang ajal. Bakda isya para tetangga terkaget-kaget mendengar kabar Haji Maskur di ambang maut. Mereka datang tergopoh-gopoh. Sebagian langsung membaca Surat Yasin, sebagian lagi menunggu diluar berjaga-jaga takut kalau Haji Maskur benar akan meninggal.

 

Jam sebelas malam Haji Maskur belum juga dijemput Izrail. Padahal, kata orang-orang yang menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri Haji Maskur sudah di ambang kematian. Tetapi kematiannya seakan ditangguhkan karena persoalan dirinya dengan seseorang belum terselesaikan.

 

“Kenapa Haji Maskur menyebut nama Mastini?” tanya Sarkawi setengah berbisik kepada teman di sampingnya. Kawannya cuma menggeleng. Orang-orang sudah mendengar Haji Maskur berteriak keras memanggil nama Mastini.

“Sini!” Sarkab yang masih kerabat dengan Haji Maskur memanggil Simar. Menjauh dari kerumunan orang-orang di sisi ranjang. Simar bangkit mengikuti langkah Sarkab dari belakang menuju halaman.

“Aku yakin Bang Haji punya masalah dengan Mastini sampai-sampai menjelang ajal begini ia tersiksa seperti itu,” kata Sarkab memandang wajah Simar yang layu. Simar menghela napas panjang. Sarkab menyemburkan asap rokoknya ke udara.

“Apa yang harus kulakukan?” Kerutan di dahi Simar terombang-ambing. Bulan muncul dari balik awan. Simar meneteskan air mata. Sesenggukan.

“Pergi ke rumah Mastini dan tanyakan apa yang sesungguhnya telah terjadi diantara mereka berdua.” Simar cuma bisa mengangguk. Mereka kembali masuk ke dalam. Orang-orang sudah berhenti mengaji. Haji Maskur terpejam. Napasnya lambat dan payah.

 

Melintasi jalan setapak di celah bukit Garincang dan kuburan leluhur. Simar menyorotkan lampu senter, mencari jalan yang akan dilaluinya menuju rumah Mastini yang berada di bawah kaki bukit. Demi haji Maskur, suaminya yang menikahinya puluhan tahun silam dan memberinya dua orang anak lelaki, ia rela menerabas sisa hujan untuk sampai di rumah seorang janda itu. Semata-mata ini dilakukannya agar Haji Maskur meninggalkan raganya dengan tersenyum.

 

Berdiri di depan pintu Simar agak ragu untuk mengetuknya. Ia lihat bayangan perempuan yang dipantulkan lampu teplok dari dalam rumah. Gelisah hatinya. Lenguh napasnya amat berat. Ia mengucap salam. Tiga kali salam diucap baru ada yang menyambut salam Simar dari dalam. Mastini membuka pintu. Terkejut Mastini melihat Simar berdiri seorang diri. Wajah istri Haji Maskur itu seperti selembar kain kafan. Mastini menyilakan masuk.

 

“Kenapa kau malam-malam begini sampai datang ke gubukku ini?” Mastini memulai pembicaraan sesudah ia hidangkan secangkir teh hangat di atas meja. Simar berusaha mengatur degup jantungnya. Menarik napasnya pelan-pelan.

“Aku datang kesini karena Mas Haji.” Simar tidak melanjutkan kalimatnya. Dadanya sesak. Tidak tahu apa yang mesti ditanyakan kepada perempuan yang lebih muda di hadapannya itu.

“Kenapa dengan Haji Maskur?” Meski nyatanya Mastini tahu persoalan apa sesungguhnya yang kini tengah dialami oleh laki-laki yang beberapa tahun silam melubangi dadanya dan menggugurkan bunga ranum di selangkangannya. Mastini pura-pura tidak mengerti.

“Sudah lama ia terbaring. Tak bisa berbuat apa-apa. Tapi mulutnya selalu menyebut namamu. Ia kembali menyebut namamu saat menjelang ajal barusan.  Kesalahan apa yang dilakukan Mas Haji kepadamu sampai ia seperti itu?” Hujan meleleh di pipinya. Terbata-bata ia bicara.

“Haji Maskur tak salah apa-apa padaku.” Mastini membuang muka. Geram. Tanpa bisa mengurangi kebencian di dalam dadanya.

“Lantas mengapa ia kerap menyebut namamu? Bicaralah terus terang.” Simar mendesak pengakuan dari Mastini. Kedua perempaun itu saling pandang. Angin menggesek daun di luar. Suara jangkrik berpadu dengan detak jam di atas kepala Mastini.

“Baiklah.” Haji Maskur, kata Mastini membuka cerita masa lalu yang sebenarnya ingin disimpannya rapat-rapat. Dia lelaki baik. Tetapi tidak tahu bagaimana mulanya sampai tergoda dan meniduriku di malam pengecut yang dingin kala itu. Mastini mulai berkaca-kaca. Simar mengelus pundak Mastini, memintanya untuk terus menceritakan kejadian yang sesungguhnya.

“Aku hamil dan melahirkan anak darinya. Janji Haji Maskur kepadaku bahwa ia akan menikahiku setelah anak itu lahir. Tapi, ia ingkar! Mungkin apa yang dialaminya kini tak lain karena lisannya sendiri. Karena aku sudah berusaha tabah menerima semua ini sebagai suratan.” Mastini sesenggukan. Degup jantungnya tak berirama. Bulan tenggelam ke dalam pelukan awan.

“Kenapa bisa begitu?” Simar menggeser posisinya. Duduk di samping Mastini. Lampu teplok seakan hampir mati ditiup angin melalui celah-celah dinding anyaman bambu yang terdapat lubang-lubang kecil di tengahnya.

“Haji Maskur bilang ‘Aku pasti menikahimu dan memberi nafkah. Aku janji. Jika aku ingkar. Semoga Tuhan menyulitkan matiku’ Jadi, dia celaka karena ucapannya sendiri.” Mastini mengelus-elus dadanya. Bagaimanapun ia tak tega mendengar apa yang diceritakan Simar perihal Haji Maskur yang tengah sekarat sekarang ini.

“Maukah kau ikut bersamaku untuk sekadar melihat Mas Haji?” Mastini mengangguk. Ia mengakui masih menyimpan sepercik cinta kepada lelaki kurus kering itu. Meski lubang di dadanya belum tertutup. Kedatangannya cuma ingin mengantar kepergian Haji Maskur dengan tenang. Sebab, kata Sarkab cuma Mastini yang dapat menolong Haji Maskur dari sekaratnya

 

Setelah susah payah melintasi ladang, bukit dan persawahan mereka tiba tengah malam. Orang-orang masih ramai. Menunggui Haji Maskur. Markoya berbisik kepada teman di sampingnya begitu melihat Mastini datang dan langsung bersimpuh di sisi Haji Maskur. Suara orang-orang serupa lalat terdengar di luar kamar. Mastini menggenggam tangan Haji Maskur setelah sebelumnya minta ijin pada Simar.

 

Tak disangka Haji Maskur membuka matanya. Melihat Mastini duduk di sebelah kanan sedang Simar duduk di sebeleah kiri di dekat tubuhnya terbaring. Kepada kedua perempuan itu Haji Maskur memandang dalam wajahnya dan berkali-kali mengucap maaf. Mastini mengangguk tersenyum demikian juga Simar. Lima menit setelah itu, Haji Maskur memejamkan matanya. Ia meninggalkan raganya. Mastini membacakan Surat Yasin.

 

“Tinggallah disini sampai tujuh hari kematian Mas Haji. Ajak anakmu kesini.”

“Aku bukan siapa-siapa disini. Takut orang bergunjing yang bukan-bukan.”

“Biar bagaimanapun Mas Haji meninggal dengan tenang karenamu.” Simar merangkul Mastini. Pandangan orang-orang tertuju kepada dua perempuan yang saling peluk di dekat jasad Haji Maskur.

 

Besok jam delapan pagi Haji Maskur akan dikebumikan. Mastini pulang menjemput Masdar, anak lelaki hasil hubungannya dengan Haji Maskur. Simar menganggap Masdar seperti anak sendiri. Liang kubur digali pagi-pagi sekali. Jenazah Haji Maskur selesai dimandikan. Orang-orang datang untuk mengantar Haji Maskur ke pembaringan terakhir. Simar dan Mastini duduk di beranda, menerima para pelayat.



 

“Siapa ini Mar?” Pertanyaan ini hampir dilontarkan oleh sebagian pelayat yang datang ketika melihat Mastini.

“Istri Mas Haji juga,” jawab Simar. Mendengar jawaban itu lubang dada Mastini tidak bolong lagi. Sementara orang-orang mulai menggotong keranda ke pemakaman. Langit menghampar warna biru cerah. Simar dan Mastini saling senyum sepanjang menerima uluran tangan orang-orang yang bersalaman kepadanya.

 

Pulau Garam, 2018

Zainul Muttaqin
Ditulis oleh Zainul Muttaqin

    Lahir di Garincang, Batang-batang Laok. Batang-Batang, Sumenep Madura 18 November 1991. Alumnus Ponpes Annuqayah, Sumenep-Madura. Cerpen dan Puisinya dimuat di pelbagai media nasional dan lokal. Tinggal di Madura.