Topbar widget area empty.
Ia Ingin Keluar dari Neraka ilustrasi neraka edit Tampilan penuh

Ia Ingin Keluar dari Neraka

Oleh: Agus Salim

 

 

Tadi malam, sebelum memejamkan mata, di sela-sela dengkur suaminya, dengan suara pelan ia sampaikan keinginan sederhana kepada Tuhan.

 

“Tuhan, aku ingin tinggal di sana. Biar nanti aku bisa tidur tenang dan bangun dengan perasaan bahagia. Meski terkurung, atau makan seadanya, tak mengapa. Asal bisa keluar dari neraka ini saja aku sudah bersyukur. Andai besok Kau hidupkan aku lagi, maka berilah aku kekuatan dan keyakinan. Agar aku bisa segera sampai ke tempat itu. Amin.”

 

Pagi ini, ia hidup lagi. Sebagai manusia dalam cerita yang sama. Ia bangkit dengan pening yang sama. Karenanya, seperti lazimnya, ia segera menguntal pil pereda sakit kepala. Setelah itu, menundukkan wajah. Terpejam. Lalu bergumam:

 

“Ini semua salahmu, Bu.”

 

Suaminya yang brengsek sudah lenyap dari sisinya. Selepas azan Subuh tadi langsung keluar. Pergi ke makam Astatandur. Letaknya di sana, di dekat  sungai yang dulu pernah menelan tiga tubuh remaja pemabuk. Biasa. Tirakat. Sekadar minta petunjuk sama makam-makam kuno. Biar bisa memenangkan judi togel. Tapi ia sama sekali tak peduli sama laki-laki itu.

 

Ia bernama Jumirah. Akrab dipanggil Jum. Usia 47. Sehari-hari bekerja sebagai tukang cuci di “Laundry 98” milik laki-laki keturunan arab yang letaknya tak jauh dari rumahnya. Rumah Jum sempit. Sudah sempit masih diapit dua rumah berlantai dua yang kokoh pula. Rumah Jum hanya memiliki dua kamar. Dua-duanya juga sempit. Di bagian belakang, ada dapur. Bersebelahan dengan kamar mandi. Dapur itu tempat paling disukai Jum ketika bolos kerja. Biasanya digunakan untuk merenung, menggerutu, meracau, mengumpat, atau juga, sekadar menangis. Kamar depan hanya berisi dipan lapuk dan lemari kecil. Kamar itu adalah kamar Jum. Sedangkan kamar di sebelahnya, hanya berisi kasur tanpa dipan dan lemari. Kamar itu adalah kamar kelima anaknya yang sudah lama tak ditempati.

 

Sekarang, ia membuka mata. Menatap lantai berdebu, dan bergumam lagi:

 

“Lihat, Bu, aku hidup di neraka sekarang. Apa kau puas? Ini semua salahmu.”

 

Sepasang matanya menurunkan beberapa bulir air bening kemudian. Sudah biasa, dan itu tidak akan lama. Sekadar menunjukkan kesedihannya saja.

 

Jum memang suka menyalahkan ibunya. Andai ibunya masih hidup, pasti ia akan meminta pertanggungjawaban ibunya yang telah membuatnya hidup di neraka. Lalu apa sebenarnya yang telah diperbuat sang ibu sampai membuat Jum begitu?

 

Begini kisahnya.

 

Malam itu Jumirah tak menyangka kalau akan menghadapi satu desakan perintah dari ibunya.

 

“Jum, kau harus menikah dengan Jusup.”

 

Perintah itu membuat mulut Jum menganga, dan terbelalak matanya.

 

“Apa aku tak salah dengar, Bu? Apa ini karena Jusup suka memberi uang kepadamu?”

 

Jum mencoba melawannya dengan kalimat pertanyaan semacam itu. Dan sang ibu menjawabnya dengan kalimat semacam ini:

 

“Bukan karena itu, Jum. Aku sudah tua dan sakit-sakitan. Aku tidak bisa mengurusmu seperti waktu sehat dulu. Jusup satu-satunya laki-laki yang mau padamu. Meski aku tahu dia hanya seorang tukang becak. Jadi, terimalah takdirmu.”

 

Jum terdiam sejenak. Berpikir. Menimbang-nimbang jawaban ibunya. Sebenarnya ia ingin melawan lebih jauh lagi. Tapi, setelah melihat raut wajah ibunya, ia tak tega. Lalu ia berkata seperti ini:

 

“Baiklah, Bu. Tapi, ingat, aku tidak akan pernah memiliki untuk Jusup.” 

 

Maka, pendek cerita, menikahlah Jum dengan Jusup. Pesta digelar dengan sangat sederhana. Hanya mengundang beberapa tetangga.

 

Malam pertama, mereka gagal bercinta. Jum menangis ketakutan. Bagaimana tak ketakutan. Wajah Jusup yang mirip kera, tampak menyeramkan di bawah hamburan cahaya lampu temaram. Malam kedua juga sama. Baru di malam ketiga mereka berhasil bercinta. Itu pun karena Jusup sudah main kasar. Dan Jum menangis hebat setelahnya. Ia merasa tubuhnya telah dijadikan tumbal oleh ibunya sendiri. Sejak saat itu ia merasa dirinya hidup di neraka.

 

Selang seminggu dari pernikahan itu, sang ibu meninggal. Jum sama sekali tidak bersedih. Atau bahkan kehilangan.

 

Setelah tiga kali bercinta, Jum mengandung. Tapi, itu tak membuat ia lantas berubah menjadi bahagia. Anehnya, Jusup juga tak bahagia. Dan, lebih aneh lagi, mereka kemudian bersepakat untuk merawat kandungan itu bersama-sama.

 

Karena didasari rasa tak bahagia, kandungan itu kemudian dianggap mendatangkan masalah demi masalah. Lalu, mereka rajin bertengkar. Pertengkaran itu sering dilakukan malam hari. Yang dipertengkarkan tak jauh dari soal uang belanja yang mulai berkurang. Penghasilan Jusup dari menarik becak mengalami penyusutan dari sebelum-sebelumnya. Dan gara-gara itu, Jusup ingin mengubah kesepakatan.

 

Kalau kau tak mengandung, pasti penghasilanku baik-baik saja, dan uang belanja untukmu pasti tidak akan berkurang,” tuduh Jusup.

Kau yang membuat aku mengandung, jadi ini bukan perutku,” kilah Jum.

“Seharusnya perutmu tak mengandung secepat itu,” timpal Jusup.

Memangnya aku yang mengatur soal kandung-mengandung,” Jum membela diri.

Apa tidak sebaiknya kau gugurkan saja kandunganmu itu,” tawar Jusup.

Tidak. Aku tidak mau ambil risiko. Bisa-bisa aku yang mati. Sudah biarkan saja,” pasrah Jum.

Tapi kau harus janji. Jangan menyinggung soal uang belanja lagi,”

 

Dan segala ucapan yang terlontar pada pertengkaran pertama, terlontar lagi pada pertengkaran selanjutnya, dan begitu seterusnya.

 

Pendek cerita, kandungan Jum membesar. Lalu, ketika tiba pada waktu untuk melahirkan, Jum berbisik pada Jusup:

 

Ingat, setelah ini aku tidak mau mengandung lagi. Aku tidak mau disibukkan dengan mengurusi banyak anak.

 

Jusup hanya mengangguk. Tapi tidak serius.

 

Setelah anak pertama berusia satu tahun, Jum mengandung lagi. Jum semakin meradang. Pertengkaran-pertengkaran menjadi lebih sengit lagi. Jum menuduh Jusup yang salah, karena sering minta jatah. Jusup menuduh Jum yang salah, karena melanggar perintah.

 

Jusup memang telah memberi perintah kepada Jum. Agar Jum rajin nguntal pil KB. Jum terpaksa melanggar perintah itu karena lebih sayang uang ketimbang digunakan membeli pil KB. Yang sebenarnya ia tahu, harga pil itu murah. Tapi bagi Jum, berapa pun jumlahnya, uang sangatlah berharga.

 

Selanjutnya mereka terus bertengkar saling menyalahkan. Tetapi Jum, tak mau menuruti perintah untuk menggugurkan. Sampai akhirnya anak keduanya lahir, dan masalah rumah tangga mereka semakin bertambah pelik.

 

Anak kedua tidak membuat mereka jera. Jum mengandung lagi, lagi dan lagi. Hingga menjadi lima anaknya. Pertengkaran demi pertengkaran hidup setiap hari. Bising. Sampai-sampai tetangga di sekitar mereka mencap mereka sudah gila. Tapi itu tidak membuat Jum dan Jusup tersinggung. Malah, mereka menikmati pertengkaran demi pertengkaran yang mereka lakukan setiap hari. Dan pertengkaran tidak hanya terjadi di malam hari. Kapan pun ada waktu senggang, pasti digunakan untuk bertengkar.

 

Banyak anak membuat biduk rumah tangga menjadi oleng. Kehilangan arah di tengah penghasilan Jusup yang semakin tak jelas. Sementara biaya hidup tak mau menurun. Harga-harga bahan pokok menanjak. Yang di atas tak mau peduli. Sibuk ngurus politik dan perutnya sendiri. Hasilnya, utang tumbuh di mana-mana. Dan itu yang membuat Jum akhirnya harus memutuskan turun gunung. Ikut bekerja untuk menambah penghasilan Jusup. Tapi, apa yang sudah dilakukan, tetap tak memberi kecukupan. Utang-utang tak ada yang bisa dilunasi dengan cepat. Malah utang baru terus tumbuh tanpa bisa dicegah. Itulah sebab lahirnya sebuah keinginan di hati Jum. Ia ingin keluar dari neraka. Ia sudah tak betah. Tapi, masalahnya, keinginan itu tak kunjung dilakukan. Kenapa? Karena Jum tak tahu harus ke mana.

 

Tapi, andai saja satu, atau dua, dari kelima anak Jum yang sudah besar-besar ada yang mau bekerja, pasti akan berkurang beban hidup Jum. Masalahnya, mereka semua bermasalah. Hidup mereka tidak jelas. Tapi itu bukan sepenuhnya salah mereka. Jum juga salah. Jusup juga salah. Jum dan Jusup telah sengaja membiarkan mereka tumbuh liar. Tidak disekolahkan dengan alasan tidak ada biaya. Kalau salah satu dari mereka pulang ke rumah, pasti membawa masalah. Masalah yang membuat kepala Jum menjadi pening. Dan, apa yang telah menimpa hidupnya, Jum menyalahkan ibunya.

 



Begitulah kisahnya. Sangat pelik memang.

 

Kini Jum mengangkat wajahnya. Lalu dengan gerakan pelan, tangan kanannya meraih pisau yang terselip di bawah bantal. Dipandanginya pisau itu dengan tatapan tajam.

 

“Tuhan, aku hanya ingin keluar dari neraka ini. Aku tahu, pisau ini mampu menjawabnya. Maka, restuilah aku.”

 

Setelah menggumamkan itu, ia merasa mantap untuk melakukan sesuatu yang menurutnya adalah pilihan terbaik. Ia sudah siap menanggung risikonya. Dan ia yakin, kalau hidup di penjara lebih menyenangkan dan menenangkan ketimbang di rumahnya sendiri. Ia sudah tak peduli pada kelima anaknya. Kini, ia tinggal menunggu kedatangan Jusup. Target yang bisa membuatnya keluar dari neraka.

 

Asoka, 2018

Agus Salim
Ditulis oleh Agus Salim

Lahir di Sumenep tanggal 18 Juli 1980. Tinggal di jalan Asoka Pajagalan Sumenep Madura-Jawa Timur. Bergiat di Komunitas Rumah Literasi Sumenep