Topbar widget area empty.
Sebuah Lagu,  Semacam Kesedihan yang Samar sebuah lagu Tampilan penuh

Sebuah Lagu, Semacam Kesedihan yang Samar

Oleh: Tjak S. Parlan

 

Ketika A Whiter Shade of Pale[1] mengalun, ia mulai merasa ada yang salah. Lantas ia mencari-cari di tempat itu untuk memastikan bahwa kursi dan meja kayu, warna cat dinding, juga baling-baling kipas angin yang berputar, telah turut mendukung nuansa sepia di kafe itu.

 

Ia belum pernah datang ke kafe itu. Selain tempatnya yang jauh di ujung kota, ia juga kurang tertarik dengan varian menu yang disajikan. Kafe itu hanya menyediakan es krim bersama menu pelengkap lainnya yang biasa disebut sebagai pancake dan waffle. Tapi seorang teman dekatnya pernah berkata bahwa ia harus pergi ke kafe itu sekali waktu untuk mendinginkan kepalanya.

 

“Jangan terlalu keras berpikir,” kata temannya suatu saat. “Sesekali menjadilah lembut dan ringan dengan menikmati es krim di suatu tempat. Kujamin, kepalamu akan dingin.”

 

Dalam kepalanya selama bertahun-tahun, es krim adalah langit yang cenderung berwarna pink, bau wangi remaja, dan anak-anak yang larut dalam keriangan sari manisnya glukosa. Tapi bangunan bercorak art deco, foto-foto di dinding yang melulu bernuansa coklat-abu, dan sepotong lagu dari masa lalu, telah mengaburkan seluruh kesan semacam itu.

 

“Jadi pesan apa, Pak?” sapa seorang pramusaji.

 

Ia merasa tak enak, karena telah membuat pramusaji itu menunggu cukup lama di sampingnya. Lalu ia menunjuk sebuah menu yang dipilihnya sembarangan. Setelah pramusaji itu berlalu, ia merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebungkus kretek. Saat ia menyelipkan sebatang rokok di bibirnya dan mulai menyalakan pemantik, seorang pramusaji yang lainnya menegurnya dengan halus—dilarang merokok di ruangan itu. Ia tak ingin mendebatnya. Ia justru berusaha tersenyum dan mulai membatin bahwa es krim sepertinya memang kurang cocok disandingkan dengan asap rokok.

 

Yang bisa dilakukannya—saat menunggu pesanan—adalah menggaruk-garuk kepalanya, bergantian dengan mengetukkan jemarinya berkali-kali di atas meja. Ia juga sempat mengeluarkan gawai dari saku celananya dan menaruhnya begitu saja di atas meja. Sembari memandangi gawainya, ia mulai berpikir untuk mengabadikan momen itu—barangkali dalam satu atau dua gambar untuk dikirimkan kepada istrinya di rumah. Tapi tiba-tiba ia berubah pikiran. Ia teringat, pagi itu, seperti biasa ia pamit kepada istrinya untuk pergi ke kantor sebuah surat kabar harian yang hampir bangkrut. Ia memang pergi ke kantor, tapi sebentar saja, hanya sekadar menengok ruangannya yang dari hari ke hari semakin sepi. Setelah itu, ia hanya berputar-putar keliling kota, lalu singgah di kafe es krim itu karena ingin bertemu seorang teman lama.

 

“Selamat menikmati, Pak!”

 

Seorang pramusaji sudah berada di mejanya. Ia mengangguk, lalu mendesis ketika menatap  potongan es krim cokelat di depannya. Potongan itu berbentuk buah apel yang dibelah dua. Di dalam potongan itu terdapat segumpal es krim vanila dan irisan aneka buah. Saat ia menyesap sesendok pertamanya, giginya langsung terasa ngilu—ada bagian di giginya yang berlubang. Tapi ia berusaha menikmatinya, termasuk ketika Gary Brooker[2] menebarkan kesedihan yang samar di seluruh ruangan.

 

When we called out for another drink

The waiter brought a tray[3]

 

Tiba-tiba ia teringat seekor kucing yang hampir mati. Lagu itu selalu mengingatkannya pada seekor kucing yang hampir mati dan seorang perempuan yang telah menyelamatkannya. Ia menemukan kucing itu secara tak sengaja di mulut gang menuju rumahnya. Kucing itu berjalan pincang dan matanya hampir buta sebelah seperti baru saja dihantam benda keras. Ia hendak membawa kucing itu ke rumahnya, ketika seorang perempuan muda tiba-tiba menegurnya. Perempuan muda itu mengaku sebagai seorang dokter yang belum lama tiba di kota itu.

 

“Saya sendirian dan butuh teman,” kata perempuan muda itu. “Saya butuh seekor kucing.”

“Anda yakin dengan seekor kucing kurus, pincang dan hampir buta ini?”

 

Perempuan muda itu tersenyum seraya meyakinkan bahwa dirinya memang pantas mendapatkan seekor kucing yang sedang terluka.

 

“Hanya seorang dokter yang bisa merawatnya dengan baik, kan?”

“Benar, Andalah yang pantas mendapatkannya,” ujarnya seraya menyerahkan kucing itu.

 

Perkenalan itu berlanjut hingga ke pertemuan-pertemuan berikutnya. Kucing jantan itu sembuh, dan perempuan muda itu memberinya nama Procol Harum. Nama yang aneh, pikirnya ketika itu. Tapi ia menyukainya. Ia tak menyangka perempuan muda itu menamai kucing itu persis dengan nama sebuah kelompok musik dari Inggris— perempuan itu menyukai salah satu lagu mereka, ‘A Whiter Shade of Pale’. Perempuan muda itu pernah bercerita bahwa lagu itu telah membuatnya berhenti menjadi seorang pecandu alkohol.

 

“Nah, saya tahu sekarang!” selorohnya suatu kali. “Lagu itu pasti berisi ajakan untuk bertaubat. Atau, untuk mengutuki hidup. Iya, kan?”

“Ha ha, kau ini! Saya tak tahu lagu itu tentang apa. Saya hanya ingin mendengarnya, lalu ada perasaan sedih. Sedih yang datang dari sebuah tempat yang jauh, dan… seperti itulah, saya berusaha tak teler lagi.”

 

Hingga ia sampai di kafe es krim hari itu bertahun-tahun berikutnya, ia juga tak begitu paham, lagu itu bercerita tentang apa. Mungkin tentang seorang laki-laki yang sedang mabuk rindu dan merayu seorang perempuan. Mungkin hanya tentang seseorang yang ingin ‘tidur’ dengan seseorang yang lainnya. Mungkin tentang malam-malam yang pucat dan perasaan cinta yang sesungguhnya. Mungkin tentang yang lainnya. Ia hanya tahu bahwa dirinya merasa sedih ketika mendengarkan lagu itu. Tapi ia selalu ingin mengulanginya tanpa berusaha lebih jauh mencari alasannya.

 

Setelah menyesap es krim berkali-kali, ia merasa mulai terbiasa. Berangsur-angsur hawa segar-dingin merasuk ke tubuhnya. Tapi ada bagian lain di dalam dirinya yang tetap menolak untuk didinginkan. Ia butuh seseorang untuk diajak bicara. Seseorang itu berjanji akan menemuinya di kafe es krim itu.

 

Ia melirik arloji di tangannya. Seseorang yang ditunggunya belum juga muncul. Ia memeriksa gawainya. Sepi, tak ada pesan dari siapapun. Biasanya pada jam-jam seperti itu, istrinya akan bertanya apa ia akan pulang larut atau lebih cepat agar bisa menyiapkan hidangan untuknya. Ia membayangkan, istrinya mungkin sedang membaca sebuah majalah kuliner, memilih sebuah menu dan mencatat dengan teliti dalam sebuah block note kecil bahan-bahan yang akan diperlukan untuk memasak. Kadang-kadang ia berpikir bahwa istrinya terlalu gemar memasak. Masalahnya, istrinya tak begitu banyak makan. Jika sudah begitu, dirinyalah yang harus bertanggung jawab untuk menuntaskannya.

 

Tapi hari-hari itu sepertinya akan berbeda. Ia telah mewanti-wanti istrinya agar tak beraktifitas terlalu keras. Ia berjanji akan memberikan perhatian lebih pada istrinya yang tengah hamil untuk kedua kalinya. Tetapi di luar semuanya—di luar rencana mereka berdua—kehamilan itu telah membuatnya cemas. Tentu saja, ia tak boleh menampakkan kecemasan itu. Ia harus kuat, ia harus yakin bahwa tak akan terjadi hal-hal buruk pada kehamilan seorang perempuan di usia yang ke-46. Ilmu kedokteran sudah berkembang pesat, banyak hal bisa disiasati untuk menyelamatkan seorang perempuan dan bayinya.

 

“Kalau sudah begini, yang bisa kita lakukan adalah bersyukur, menerimanya sepenuh hati,” ujar istrinya, saat mereka memandangi sebuah test pack pada suatu pagi.

“Seharusnya kita lebih berhati-hati.”

“Jangan begitu! Apa salahnya kita punya bayi lagi?” tegur istrinya.

 

Tak ada yang salah dengan kehamilan seorang istri. Tapi ia merasa bersalah pernah melarang istrinya memasang alat kontrasepsi. Ia membayangkan sesuatu yang buruk ketika itu. Lantas, ketika istrinya dinyatakan positif hamil—dengan beberapa catatan—oleh seorang dokter, ia semakin sering tak bisa menyembunyikan rasa bersalah dan kecemasannya. Kecemasan-kecemasan itu membuatnya kerap mencari-cari penjelasan; baik melalui artikel-artikel seputar kehamilan, atau bertanya ini-itu kepada seorang dokter lainnya yang dikenalnya secara pribadi.

 

“Dibawa santai saja. Kau tahu, Halle Berry[4] saja pernah hamil di usia ke-46,” ujar seorang dokter yang dikenalnya dengan baik itu.

“Istri saya kan bukan Halle Berry, yang benar saja!” gerutunya saat itu.

 

Dokter itu menyebutkan lagi beberapa nama lain; orang-orang yang mengalami kehamilan di masa usia menjelang 50 tahun, dan mereka baik-baik saja dengan kelahiran bayinya. Lalu ia kembali teringat proses kelahiran anak pertamanya yang tidak ‘se-baik-baik saja’ seperti yang ia bayangkan. Dalam usianya yang ke-40, istrinya berharap bisa melahirkan secara normal. Tapi dokter berkata lain—mengingat kondisi istrinya dan janin dalam kandungan. Ada mioma yang membesar mengikuti pertumbuhan si janin. Satu-satunya jalan yang paling aman adalah melalui proses operasi. Lagi pula, bayi laki-laki yang tangguh itu juga dalam posisi sungsang. Ia membayangkan kembali: bagaimana rasanya harus melihat luka sayat di perut istrinya untuk kedua kalinya. Belum lagi soal ketakutan-ketakutan akan risiko usia.  Bagaimana istrinya akan menjalaninya?

 

Oke. Kalau masih penasaran, saya akan menjelaskan detailnya kapan-kapan. Termasuk juga tips, agar istrimu, terutama kau, bisa lebih tenang menjalaninya,” janji dokter itu.

 

Ia memeriksa kembali gawainya. Masih sepi. Ia sempat terpikir untuk menghubungi dokter itu, tapi sejenak berikutnya ia kembali ragu. Mungkin dokter—yang teman dekatnya—itu sedang sibuk, ada kejadian mendadak, atau sedang dalam perjalanan untuk menemuinya. Ia memilih menunggu, sambil merasakan kesedihan yang samar menyusup kembali ke ruangan itu.

 

But i wandered through my playing cards

Would not let her be

One of sixteen vestal virgins

Who were leaving for the coast[5]

 

Lagu itu merenggutnya ke dalam nostalgia. Kadang-kadang—ketika tanpa sengaja mendengar kagu itu—ia membayangkan: dulu ia pernah mendengarkannya bersama istrinya. Tapi tentu saja, itu tak pernah terjadi. Jauh sebelum ia bertemu istrinya, lagu itu sudah sering didengarnya bersama seseorang. Ia pernah menaruh perasaannya di hati seorang perempuan dokter kandungan yang senang merawat kucing. Lantas, pada suatu hari ia harus menerima kenyataan bahwa perempuan itu lebih memilih hidup bersama seorang perempuan pelukis dan seekor kucing yang pernah dirawatnya. Ia merasa tak perlu menceritakan kisahnya itu kepada istrinya—meski kadang-kadang ia ragu bahwa istrinya tidak benar-benar tahu. Bagaimanapun, akhirnya mereka tinggal di kota yang sama dan ia pernah memperkenalkan perempuan itu sebagai teman lamanya kepada istrinya.

 

Lagu itu terus mengalun dan sebuah gawai pun bergetar. Ia segera mengangkatnya. Suara lembut seorang perempuan yang sudah lama dikenalnya, mencoba menjelaskan sesuatu: semacam permakluman atau permintaan maaf sewajarnya. Ia hanya mengangguk-angguk kecil, mencoba memaklumi.

 

Oke, tak apa-apa. Lain kali mungkin bisa,” katanya seraya meletakkan gawainya.

 

Saat ia menyesap es krim terakhirnya, lampu-lampu di ruangan itu mulai dinyalakan. Ia beranjak ke kasir seraya mengingat-ingat di mana kira-kira ada bar terdekat dari kafe es krim itu. Ia sempat ingin bertanya pada penjaga kasir, tapi cepat-cepat ia mengurungkannya. Saat ia melangkah ke luar melintasi pintu kafe, lagu yang sama—entah untuk yang ke berapa kalinya— masih mengalun, menjadi semacam kesedihan yang samar di balik punggungnya.

 

And so it was that later

As the miller told his tale[6]

 

Saat itu ia membatin, lagu itu mungkin sedang mengajak seseorang untuk segera mendapatkan gelas wiski pertamanya.

Pagesangan, 8 April 2018



  

Tjak S. Parlan lahir di Banyuwangi, 10 November 1975.  Cerpen dan puisinya sudah disiarkan di berbagai media. Buku kumpulan cerpennya Kota yang Berumur Panjang (Basabasi, 2017). Selain menulis, sehari-harinya mengerjakan ‘perwajahan’ untuk sejumlah buku dan sejumlah penerbitan lainnya. Mukim di  Pagesangan, Mataram-Nusa Tenggara Barat.  Email: tjaklana@gmail.com 

 

[1] Sebuah judul lagu dari band asal Inggris, Procol Harum

[2] Vokalis Procol Harum

[3] Potongan syair lagu ‘A Whiter Shade of Pale’, Procol Harum

[4] Seorang aktris, berkebangsaan Amerika Serikat

[5] Potongan syair lagu ‘A Whiter Shade of Pale’, Procol Harum

[6]  Potongan syair lagu ‘A Whiter Shade of Pale’, Procol Harum

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 5 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*