Topbar widget area empty.
Aku, Mimpiku, dan Lelaki Tua di Tepi Jalan aku mimpi dan lelaki tua Tampilan penuh

Aku, Mimpiku, dan Lelaki Tua di Tepi Jalan

Oleh: Era Ari Astanto

 

 

Lelaki tua itu melangkah gontai menyusuri tepian jalan raya yang ramai. Langkahnya tersaruk-saruk entah oleh usia atau sakit pada kakinya. Aku tidak tahu pasti, karena posisinya masih cukup jauh dariku. Kondisiku membuatku tidak memungkinkan untuk menyongsongnya. Aku hanya bisa duduk di bawah lampu merah perempatan jalan ini, menanti dan berharap ada orang yang sukarela melempariku dengan receh atau uang kertas yang diremas-remas. Kondisiku tidak memungkinku menghampiri dan menengadahkan tangan kepada orang-orang yang terpaksa berhenti oleh lampu merah.

 

Lelaki tua itu masih melangkah gontai menyusuri jalan raya yang semakin ramai. Langkahnya tersaruk-saruk. Aku masih belum bisa memastikan penyebab langkahnya tersaruk demikian. Aku tidak mungkin berjalan dan menjemputnya dengan keadaanku yang seperti ini; kedua kakiku diamputasi sebatas lutut sebab penyakit gula yang akut. Aku juga kehilangan tangan kananku oleh anjing herderku sendiri. Ada kisah tragis dan dramatis tentang aku mengapa sampai mengemis seperti ini. Padahal aku sebelumnya adalah anggota dewan yang terhormat dan uang akan berjubelan masuk rekening cukup dengan kedipan mata, tidak perlu tanda tangan.

 

Tapi, nanti saja aku ceritakan. Aku sedang tidak bisa konsentrasi karena lelaki tua dengan langkah gontai itu sepertinya akan menuju ke tempatku ini. Aku bersyukur langkahnya tersaruk sehingga butuh waktu lama untuk sampai di sini. Tapi, tetap saja aku kuatir karena lambat atau cepat dia akan tiba di sini. Bukan. Bukan tiba di sini-nya yang aku kuatirkan melainkan jika dia juga berprofesi sama denganku. Itu artinya rejekiku harus dibagi dua dengannya setiap hari. Apakah penghasilanku yang tidak seberapa dan harus mencicil utang serta harus membayar aparat agar tidak diusir dari sini masih harus dibagi lagi dengan lelaki tua yang akan datang itu?

 

Lelaki tua itu sudah bertambah dekat. Langkahnya masih gontai dan tersaruk-saruk. Dari jarak ini aku belum bisa memastikan penyebab langkahnya harus tersaruk. Sayang penyakit gula sialan ini menyebabkan kakiku diamputasi. Ah, mungkin juga salahku. Aku tidak peduli dengan saran dokter agar hati-hati dalam memilih makanan. Aku merasa wajar waktu itu, karena uangku seolah tidak akan habis hanya untuk berobat.

 

Menjadi anggota legislatif memang memudahkan bisnis yang memang sudah aku rintis sejak sebelum menjabat. Belum lagi mendapatkan atau menciptakan proyek-proyek yang bisa kumanfaatkan mendapatkan uang.

 

Setelah lepas dari menjabat, bisnis property yang kujalankan tetap lancar. Semakin besar dengan modal yang aku kumpulkan dari banyak menyelipkan uang proyek yang aku ciptakan atau kudapatkan. Kolegaku bertambah banyak dan uangku juga melimpah. Mereka selalu mengajakku bertemu di tempat kuliner yang memiliki menu-menu makanan lezat yang sebenarnya tidak baik untuk penyakit gula yang kuidap. Aku tak bisa menolak ajakan dan makanannya. Tentu saja karena aku merasa malu jika kolegaku sampai mengetahui aku sakit gula. Kuterjang saran dan larangan dokter. Aku tak peduli dengan sakitku karena makanannya begitu nikmat di lidah. Aku terpedaya oleh lidahku.

 

Semua anggota keluargaku dan saudara-saudaraku tidak pernah melarangku soal makanan. Mungkin pendapat mereka sama dengan pendapatku: semua akan beres dengan uang. Hanya satu orang yang mengingatkanku, seorang kawan lama, sama-sama pengidap penyakit gula, katanya: seringkali kita takluk pada lidah dan mengabaikan kesehatan, padahal kita makan itu demi kesehatan bukan demi memanjakan lidah.

 

Aku tersenyum saja mendengar ucapannya. Aku baru merenungkan peringatan orang itu ketika sakit gulaku mulai menembus betis kanan, menciptakan luka kecil. Namun, makin hari makin lebar. Obat paling mahal tidak mampu mengendalikan pelebaran lukaku. Sejak itu aku tidak bisa menemui klien di luar. Mereka jarang ada yang mau menemuiku di rumah.

 

Anakku satu-satunya ternyata tidak bisa mengelola bisnis yang sudah besar ini. Laporan-laporan yang diberikannya padaku selalu kacau. Banyak variabel yang tercecer. Banyak laporan pengeluaran yang tidak jelas.

 

Aku frustasi. Belum juga sembuh luka di betis kanan kini sudah menembus kaki kiri. Aku heran, seharusnya obat semahal itu bisa mengendalikan penyakit gula ini. Semakin hari keuanganku semakin memburuk seiring kekacauan keuangan perusahaan dan klien yang pergi satu per satu.

 

Tidak ada kesembuhan bagi kakiku sehingga harus diamputasi. Baru saja keluar dari rumah sakit aku mendapat kabar anakku tewas. Dia mencoba lari ketika terjadi penggerebekan narkoba. Aku tahu dia ‘memakai’. Tapi, aku kira dia hanya ‘memakai’ di rumah saja.

 

Aku tidak ingat mendapat firasat apa. Pagi itu aku memberi makan Herder seperti biasa. Namun, sejak aku memakai kursi roda aku tidak pernah mengeluarkannya dari kandang. Semua kebutuhannya aku cukupi. Termasuk pagi ini. Kumasukkan makanannya ke dalam kandang. Tapi, tanpa kuduga dia menerkam tangan kananku dan menggigitnya keras-keras hingga kurasakan taringnya menembus tulang lenganku. Aku pingsang. Ketika sadar, tangan kananku sebatas lengan sudah tidak ada.

 

Sejak itu, praktis perusahaanku tidak ada yang mengurus. Istriku pun tidak bisa mengurusnya. Membeli manajemen pun tidak kunjung mendapatkan. Tidak ada jalan lain kecuali menjual perusahaan itu sebelum benar-benar kolaps.

 

Dulu aku mengira uangku tidak akan ada habisnya. Kini aku bisa menghitungnya, uangku akan habis jika tidak ada pemasukan. Hanya buka usaha kelontong yang mungkin bisa kami lakukan. Tapi, istriku tidak mau. Katanya malu.

 

“Gengsi, Pah. Masa sih istri mantan anggota dewan jualan kelontong. Usaha lain ah. Yang lebih keren!” ucap istriku waktu itu.

 

Kutemukan bisnis yang cocok untuknya; bisnis perhiasan. Dia bisa menjualnya pada istri kawan-kawanku dulu. Tapi, usaha ini pun gagal karena istriku tidak pandai mengelola keuangan dan waktu.

 

Satu detik yang tak terasa lama pun kini sudah menjelma menjadi tahun. Tabunganku kian tipis. Tinggal menunggu hitungan minggu saja kehabisannya. Kujual rumah dan mencari kontrakan. Istriku masih saja gengsi ketika aku memintanya membuka toko atau warung makan.

 

Aku hanya bisa pasrah. Dan, apa yang kutakutkan benar terjadi. Kami tidak lagi bisa membayar kontrakan. Kami diusir. Untunglah ada warga kolong jembatan berbaik hati memberikan rumah kumuhnya pada kami. Itu rumah temannya yang sudah meninggal beberapa waktu lalu.

 

Di sini istriku masih juga memelihara gengsinya. Dia tidak mau berbaur dan bekerja demi bisa mengisi perut. Atas saran tetangga baruku itu, aku menggantikan pekerjaan orang yang rumahnya aku tempati sekarang: mengemis. Tidak ada jalan lain, itu yang terbaik untukku. Hampir saja istriku tidak mau mengantarkanku ke tempat kerja itu. Andai aku bisa sendiri tentu aku tidak akan minta bantuan istriku. Tapi, aku tidak akan kuat memutar roda kursi hingga sampai di atas tanjakan jalan. Setelah kuberi nasihat yang cukup lama, istriku akhirnya mengerti. Dia bersedia mengantar jemput aku bekerja.

 

Bukan tanpa konsekuensi bekerja sebagai pengemis. Aparat datang mengusirku. Mereka sama sekali tidak peduli kondisiku. Menjalankan perintah! Menertibkan! Dan lain sebagainya. Itu yang mereka katakan. Aku mau saja pergi. Tapi aku akan bekerja apa dengan mengandalkan tubuh tanpa kaki dan satu tangan? Mereka akhirnya mengerti, tapi syaratnya setiap hari aku harus setor padanya.

 

Sejak itu aku menyadari diriku sangat tega menggelapkan uang proyek negara ke dalam kantongku. Itu uang rakyat. Rakyat miskin. Bisa jadi rakyat yang seperti aku sekarang ini.Aaku memang tidak menghardik mereka. Tapi, hak mereka aku rampas. Aku sudah digaji waktu itu namun masih tega mencekik mereka. Mereka sudah susah masih saja aku rampas recehan di tangan mereka.

 

“Maaf, saudaraku. Ada apakah kamu menangis?”

 

Lelaki tua yang berjalan dengan gontai dengan langkah tersaruk tadi sudah berada di sampingku. Wajahnya memang kotor tapi senyumnya bersih dari keculasan dan kepura-puraan. Beda sekali dengan senyumku yang seringkali palsu ketika menjabat sebagai anggota dewan dan bernego dengan calon mitra.

 

“Apakah kamu akan mencari rezeki di sini?”

“Ya.”

“Kenapa mengemis?”

 

Dia menunjukkan tangan dan kakinya. Tangan kanannya yang kukira sedang mengait karung di atas bahu itu ternyata cacat, tidak bisa digerakkan. Kaki kanannya yang pincang itu karena otot besar pada tungkainya putus saat kecelakaan. Dia menjadi korban tabrak lari. Dia tidak mungkin membebankan hidupnya pada saudara-saudaranya yang juga miskin.

 

Aku merasa kasihan padanya tapi jika kubiarkan dia di dekatku, rezekiku akan terbagi dengannya. Kuminta dia menjauh dariku hingga sekitar sepuluh meter. Sampai sore, yang kudapatkan tidak berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Sedangkan, kulihat lelaki tua juga mendapatkan lemparan rezekinya sendiri.

 

Kini aku percaya rezeki sudah di atur-Nya. Itu kurasakan sendiri. Seminggu mengemis bersama lelaki tua tidak ada perubahan pada yang kudapatkan setiap harinya. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk memanggil dia agar duduk di sebelahku. Justru, hari ini semakin bertambah, karena uang setoran kami bagi dua. Aparat itu tidak protes karena aku memberi alasan jumlah pengemis bertambah sementara yang memberi belum tentu bertambah.

 

Selama kami bersama sekian hari aku merasa senang. Aku merasa punya saudara. Kadang dia mampir ke gubugku. Tapi aku belum pernah datang ke gubugnya. Bukan aku yang tidak mau, tapi dia mengatakan jika sudah tepat waktunya.

 

Hari ini kami tidak bisa bercanda seperti biasa. Lalu lintas sedemikian padat. Untuk mengusir jenuh kami membuat kesibukan; menghitung mobil pribadi yang di dalamnya hanya berisi satu atau dua orang saja, dan menghitung mobil yang membawa muatan berlebihan.

 

“Siapa yang paling banyak melihat, dia yang menang. Hadiahnya seribu rupiah,” katanya.

 

Aku setuju. Aku menghitung mobil yang di dalamnya hanya berisi satu atau dua orang saja. Dia menghitung yang berlebihan itu.

 

Sejak dimulai dari lepas tengah hari hingga menjelang senja aku berhasil menghitung 200 mobil pribadi. Dia juga berhasil menghitung 200.

 

“Bagaimana bisa sama?”

“Bisa saja. Karena yang sedikit itu belum tentu tidak berlebihan.”

“Aku bingung.”

“Kamu bisa memikirkannya di rumah. Jika jawabanmu tepat aku akan memberimu lima ribu rupiah.”

Berarti seribu tambah lima ribu? Jangan ngawur kamu. Itu banyak sekali.”

“Untuk orang yang berhasil mengetahui orang-orang yang berlebihan pantas diberi hadiah.”

 

Aku setuju untuk mencari jawabannya.

 

Sudah lewat tengah malam aku belum menemukan jawaban dari teka-teki lelaki itu. Bahkan hari sudah pagi dan aku tidak menemukan jawaban yang pas. Dengan putus harapan mendapat lima ribu, aku berangkat mengemis.

 

Sepanjang jalan aku memperhatikan lalu-lintas yang ramai kali. Perkiraanku, sebentar lagi macet. Dugaanku benar. Sambil melihat kemacetan itu, aku merenungkan teka-teki lelaki tua yang belum aku ketahui namanya. Bukan aku tidak pernah menanyakan tapi dia yang tak pernah menjawab dengan benar. Dia memintaku untuk memanggilnya ‘Saruk’ karena langkahnya yang tersaruk-saruk.

 

Aku nyaris melonjak ketika merasa menemukan jawaban teka-teki Saruk. Menurut hasil pemikiranku, mobil pribadi atau dinas berkapasitas enam atau delapan orang tapi hanya ada satu sampai tiga orang saja adalah tindakan yang boros. Selain boros jalan juga boros bahan bakar. Bisa juga memicu kemacetan. Jika masih bisa dengan sepeda motor lebih baik menggunakan sepeda motor atau sepeda kayuh atau jalan kaki saja. Aku tersenyum memikirkan jawabanku. Aku yakin benar. Meskipun, tentu hal itu hanya bisa diterima oleh orang yang memiliki kesadaran, kebijaksanaan, dan kepedulian terhadap lingkungan yang sangat tinggi. Aku tahu banyak yang tidak peduli dengan tindakan salahnya dan selalu merasa benar. Karena aku dulu juga begitu.

 

Saruk tampak di kejauhan. Bagiku, dia tampak seperti lembaran lima ribuan yang melayang ke arahku. Aku yakin jawabanku benar meskipun aku tidak punya penjelasan yang baik. Dan, lima ribu ditambah seribu itu akan menjadi milikku.

 

Tiba-tiba, sebuah bus melaju kencang ke luar aspal di belakang Saruk. Tak pelak, tubuh Saruk tertabrak, terpental, jatuh, dan terlindas bus setan itu. Hatiku berdebar kencang. Kepalaku terasa pening melihat kengerian itu. Sekelilingku terlihat berputar. Dan, kupejamkan mata karena tak sanggup lagi melihat kengerian itu.

 

Sesuatu mengguncang tubuhku sehingga aku membuka mata.

 

“Pah…! Pah…!”

 

Ternyata istriku. Dia masih mengguncangku meski mataku sudah melek. Aku baru sadar ternyata apa yang aku alami tadi adalah mimpi. Mimpi yang buruk. Dalam lintasan singkat aku teringat proyek-proyek yang aku ciptakan dan uang-uang yang aku peroleh.

 



“Pah…!” seru istriku lagi dengan tangan gemetar dan wajah pucat panik.

“Iya. Ada apa?”

“Sunu, anak kita, tewas tertabrak mobil. Dia mencoba lari dari kejaran polisi.”

 

Aku membelalak. Seketika aku teringat mimpiku bersamaan kulihat ada luka lecet dan berdarah karena garukan tanpa sadar di kaki kananku. Nyaris tanpa sadar juga aku meraba tangan kananku.

 

Solo, Agustus 2017

 

 

Era Ari Astanto lahir di Boyolali. Alumnus Fakultas Pertanian program studi Peternakan UNS. Saat ini bekerja di sebuah penerbitan buku pelajaran di Solo. Karya yang sudah diterbitkan adalah Novel berjudul The Artcult of Love (2014), Jika sang Ahmad tanpa Mim Memilih (2013). Novel Bertutur Sang Gatholoco terbit 2018. Novel terbarunya yang akan terbit berjudul Di Pasujudan Bonang. Tinggal di Kelurahan Kenteng, Kecamatan Nogosari, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. e–mail: eraari19@gmail.com 

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 5 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*