Topbar widget area empty.
Mereka Akhirnya Berdamai akhirnya Tampilan penuh

Mereka Akhirnya Berdamai

Oleh: Yulputra Noprizal

 

Matahari sudah hampir terbenam. Angin tidak lagi menyepoi. Dingin udara mulai datang ke rawa tempat lelaki itu memancing di pinggir bandar besar. Sudah saatnya ia pulang. Ia sudah mengikat ikan-ikan nila pada insangnya dengan lidi untuk dibawa pulang. Dulu, ia biasa memasukkan ke dalam ember kecil ikan-ikannya–hasil pancingan. Tapi karena sering ikan-ikan di dalam ember melompat keluar, ia sudi mendengar kata istrinya. “Dicucuk satu-satu insangnya pakai lidi. Lidi itu dilingkarkankan supaya mudah menjinjingnya,” kata istrinya suatu malam.

 

Tak jauh dari pinggir bandar besar tempat lelaki itu memancing, ada sebatang pohon kelapa yang tidak ditumbuhi semak di rumpunnya. Ke sanalah kakinya melangkah. Di bawah pohon kelapa itu tersandar sepeda motor bututnya. Sepeda motor yang ketika diengkol dan dinaikkan gasnya akan meraung-raung. Ketika sepeda motor itu sudah melaju pelan di jalan setapak menuju jalan beraspal bunyinya mengingatkan kita pada suara huller padi pada masa lampau.

 

Sebeleum sampai di jalan beraspal, sepeda motor Aris–begitu nama lelaki itu–akan melewati ladang Amri. Masih tetangganya–berjarak empat buah rumah–, teman sama sekolah dengannya dari sd sampai sma. Juga, ia dan Amri satu tempat mengaji semasa kanak-kanak dulu. Sesaat ia memandang ladang itu, memandang sebuah pondok di sudut pagar yang tampak kokoh dan sederhana dengan atap daun rumbia–tempat Amri biasa tidur siang di ladangnya. Lalu, memandang Amri yang sedang mencabut rumbut-rumput yang tumbuh di pematang lada. “Akan sampai malam dia di ladang. Sudah jam berapa ini. Belum juga pulang,” batin Aris sembari menaikkan gas sepeda motornya, yang nyata-nyata membuat Amri menengok ke arahnya.

 

Sebenarnya Aris bisa menitipkan sepeda motor di sudut pagar ladang Amri, diluar ladang dekat pondok. Ada luang di sana. Dengan begitu ia tak perlu membawa sepeda motor menempuh jalan setapak yang begitu rapat-rimbun semak-semak di kanan-kirinya, kadang semak-semak itu memberikan gores di betis Aris yang biasa bercelana selutut. Jika musim hujan, jalan setapak itu becek bukan main. Membuat sepeda motor Aris semakin meraung-raung saja menempuhkanya. Atau, ia bisa pulang bareng sama-sama menaiki sepeda motor dengan Amri.

 

Menitipkan sepeda motor atau pulang bareng memang tidak pernah Aris lakukan. Menurut Aris, buat apa berusan dengan Amri. Menyapanya pun ia enggan. Bahkan, tak pernah ia jawab sapaan Amri ketika lelaki itu duluan menyapanya saat lewat dengan sepeda motor menuju bandar besar.

 

Hubungan mereka belakangan tidak baik. Mulanya di kedai Sidar, tak jauh dari rumah mereka. Saat mereka sama-sama duduk minum kopi di sana. Amri bercanda sebenarnya. Bilang, kalau hidup Aris enak. Dapat mertua kaya. Saban hari hanya duduk di toko. Bukan lagi mencari uang, tapi uang yang mencarinya. Mengingat toko p&d Aris selalu ramai. Langsung saja Aris membalas. Bilang Amri orang yang sombong. Kerja cuma berladang tapi sering beli nasi bungkus dan duduk di kedai minum kopi.

 

“Malas aku bercanda dengan kau sebenarnya Ris. Ingat kau tinggal kelas dulu sewaktu sd. Sepanjang jalan kami menertawakan kau. Akhirnya kau memilih jalan sendiri pulang, jauh di belakang kami.”

“Jaman ketumbar yang kau sebut. Dulu aku sering main. Malas belajar di rumah. Kinilah. Mana buktinya kau pernah juara sewaktu sd dulu. Kerja kau cuma berladang,” jawab Aris.

“Nah, berladang ndak ada sangkut pautnya dengan juara pas kelas IV sd. Mendingan daripada kau. Laki yang takut istri.”

“Jaga mulut kau Amri. Jangan sampai bawa-bawa istri,” Aris meludah dan segera membuang rokoknya yang masih ada setengah.

“Banyak orang menyebut. Kau pelit. Apa-apa harus minta izin istri. Sampai pergi memancing. Kalau ndak dapat ikan, istri kau marah di rumah. Jangan-jangan minum kopi di kedai ini harus minta uang dulu sama istri,” kata Amri yang lantas tertawa.

 

Di situlah mulanya Aris geram dan benci kepada Amri. Lalu, ia menjadi acuh saja kepada lelaki yang pernah jadi agen bus antar kota antar provinsi ke Jakarta itu. Memuncak pas tahu anak Amri juara kelas di sd, sedangkan anaknya tinggal kelas.

                             ***

 

Dulu, Aris hanyalah pemuda penganguran saja. Luntang-lantung di kampung. Kawannya banyak anak sma. Ketika anak sekolah tawuran, ia ikut pula membantu salah satu pihak yang kebetulan kenal dengannya. Aris juga sering minta belikan rokok kepada Amri. Namun, setelah Aris merantau ke Jakarta dan pulang dari Jakarta dengan cerita sukses–gaya dan logat bicaranya sudah berubah–ia pun menjadi pembicaraan orang-orang di kedai-kedai, dan pada saat makan malam bersama keluarga atau sedang nonton sinetron. Kawan-kawannya semasa di kampung terinspirasi oleh kisahnya di Jakarta. Bahkan ada yang persis melakukan apa yang ia lakukan. Aris di Jakarta mulanya jadi anak buah orang Betawi berjualan soto. Lalu, jadi anak buah orang Pariaman berjualan pakaian. Sampai Aris bisa punya modal dan memberanikan diri buka toko pakaian sendiri di Cipulir, Jakarta Selatan.

 

Ia pulang ke kampung bawa mobil. Tertariklah Lena denganya. Lena anak orang berada di kampung. Orang tuanya punya banyak toko. Setelah anaknya bermantu, orangtua Lena berikan sebuah toko lengkap dengan isinya kepada menantunya, Aris Rambo. Dengan syarat, ekonomi Aris tidak lagi di Jakarta, melainkan di kampung saja.   

 

Dulu Aris tidak suka memancing. Di saat sudah punya anak, ia jadi punya hobi mancing. Baginya memancing adalah latihan kesabaran dalam menghadapi realita kehidupan. Maksud Aris, ia sering sebal dengan pembeli yang suka berhutang, bagaimana pula ia menghadapinya kalau bukan dengan sabar–kalau tidak sabar, ia bisa saja mengusir si pembeli. Biasanya ia memancing sesudah ashar sampai waktu matahari hampir terbenam. Walau tak rutin setiap hari.

 

Setahun lalu, tak lama sesudah ia bertengkar mulut dengan Amri di kedai Sidar, ia melihat semak-semak dibakar di sebidang tanah di jalan menuju bandar besar tempat ia biasa memancing. Setelah semak dibakar, nampak Amri menyandang bambu tertatih-tatih. Bambu-bambu dibelah. Lalu didatangkan pancang-pancang. Di hari lain, Aris melihat ada istri Amri duduk di bawah sebatang pohon, sementara Amri mendirikan pancang. Empat hari berselang, tanah itu sudah dipagar dan ada pondoknya.

 

Malamnya Aris bertanya kepada istrinya.

“Apa ladang Amri, Lena?”

“Lada, Da. Tomat dan kacang pancang. Ada apa itu, Da. Mengapa kepada aku Uda tanyakan. Setiap hari Uda lewat di sana.”

“Ah, Amri. Sudah tahu aku sering memancing di bandar. Di sana pula ia berladang.”

“Memang tanah mertuanya itu, Da,” kata Lena sembari memakan kacang tojin.

“Ah….,” batin Amri pun berkecamuk.

“Bagaimana Uda. Ah terus. Ada masalah Uda kalau Amri berladang di sana.”

Ndak, Lena. Masalah lelaki.”

Lena tidak mengubris omongan suaminya lebih lanjut. Ia maklum saja. Suaminya memang kadang suka kekanak-kanakan.

                              ***

 

Senja itu, selesai memancing, seperti biasa Aris menuju sepeda motor bututnya. Ia gantungkan lidi yang melingkar yang mencucuk dua ekor ikan nila di setang sebelah kiri sepeda motornya. Malu juga ia melihat dua ekor ikan yang tercucuk insangnya itu. Hanya dua ekor untuk dibawa pulang. Itu pun kecil. Hanya alasan yang terus berputar-putar di kepala Aris yang akan ia katakan kepada istrinya nanti di rumah.

 

Setelah ia duduk di atas sepeda motor dan mengengkol, keanehan mulai ia temui. Sebanyak ia mengengkol sepeda motornya, sebanyak itu pula seperti tidak ada respon suara mesin. Ada mengangguk sekali sepeda motornya, lantas mati lagi. Aris mulai panik. Ia cek tali busi. Tersambung. Ia ingat aki. Tapi tak mungkin, batinnya. Aki sepeda motor ini tidak mungkin bermasalah. Ia lalu ingat pertalite yang ia isi full di pertamina sebelum berangkat memancing.

 

Ah…, hembusan napas Aris menjadi berat.

“Apa lagi. Walau sepeda motor ini butut, ndak pernah ia menyusahkanku,” batinya.

 

Jalan satu-satunya adalah mengiring sepeda motor itu menuju jalan aspal. Lalu mencari bengkel tak jauh dari sana.

Ia segera ingat jarak rumahnya yang biasa ia tempuh selama 20 menit. Terbayang olehnya uang di kantong tidak ada. Adanya rokok. Tapi tak mungkin mau upah orang bengkel dikasih rokok. Terbayang olehnya ia akan mengiring sepeda motor itu sampai ke rumah.

 

Ah…, hembusan napas Aris kian berat.

 

Aris mulai mengiring sepeda motornya di jalan setapak. Ketika tiba di jalan dekat ladang Amri, Aris seperti ingin menyembunyikan mukanya. Karena malu tiada kepalang, Amri melihat motornya mogok.

 

Amri sudah selesai mencuci tangan dan kaki di sumur ladang, bersiap-siap pulang. Ketika melihat Aris mengiring sepeda motornya dengan muka letih dan kikuk, ia serta-merta memanggil nama lelaki itu.

“Tunggu Aris,” kata Amri.

 

Tak berminat sebenarnya Aris berhenti. Ia benci Amri. Tapi setelah melihat Amri berlari dan sudah di belakang sepeda motornya, berjarak sekitar empat meter, ia akhirnya berhenti juga.

 

Aris cuma diam sembari memalingkan muka masamnya.

“Mogok?” kata Amri.

 

Lantas, segera mengambil kedua setang sepeda motor. Sesaat menucek-ucek kabel gas.

Amri pun mengengkol sepeda motor itu. Sekali engkol saja, langsung hidup.

Betapa malu Aris. Seketika, rasa geram dan bencinya kepada Aris berhamburan pergi. 

Tak ada kata-kata yang ia pantas ia ucapkan selain terima kasih.

“Biasa itu. Aku kan kawanmu,” kata Amri.

 

Hati Aris tersentuh. Muka masamnya pun segera berubah. Terasa anugerah olehnya ucapan Amri.



“Kau pulang,” katanya.

“Ada sepeda motorku. Dititipkan di tempat Medi.”

Aris pun me-standar sepeda motornya. Sesaat, kedua orang berkawan itu pun berangkulan.

 

Teringat oleh Aris keangkuhan selama ini yang mencabik-cabik perkawanan mereka. Sebenarnya ia tersiksa, tapi kekeraskepalaan lah yang menghalanginya untuk berdamai dengan Amri.

 

Yulputra Noprizal, penyuka dan penikmat sastra. Cerpennya sudah dimuat di Singgalang, Haluan, Rakyat Sumbar, dan takanta.id.

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 5 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*